Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tersudut


__ADS_3

Perut yang biasa terlihat ramping kini terlihat mulai membuncit. Usia janin yang ada dalam kandungan Fina sudah memasuki bulan ketiga. Acara tiga bulanan baru saja digelar tiga hari yang lalu. Keluarga dari Mojokerto pun turut menghadiri acara syukuran tersebut. Ada beberapa tetangga dekat yang ikut serta menghadiri undangan dari Benny.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu. Jangan terlalu lelah di rumah," pamit Benny setelah selesai bersiap. Seperti biasa, penampilan mantan duda itu terlihat tampan dan menawan.


"Hati-hati, Mas. Jaga keselamatan, hati, mata dan pikiran. Jangan sampai macam-macam!" Fina memberikan peringatan kepada suaminya itu.


"Ma, aku juga mau berangkat," pamit Elza sambil meraih tangan Fina. Bocah kecil itu mengecup punggung tangan Fina dengan takzim.


"Semangat sekolahnya. Tetap fokus saat mengerjakan soal ujian," tutur Fina setelah mendaratkan kecupan di kepala putra sambungnya itu.


Hari ini Elza akan mengikuti ujian semester akhir. Bocah berusia lima tahun itu sebenarnya sudah menguasai semua pelajaran di TK. Mungkin ujian kali ini untuk menentukan dia tetap melanjutkan pendidikan di TK ataukah bisa langsung naik SD. Mengingat, kemampuannya di atas rata-rata teman sekelasnya. Banyak hal yang sedang dipertimbangkan pihak sekolah mengenai Elza. Mengingat tidak mungkin dia akan masuk SD di usia saat ini.


"Oh iya Mas, bagaimana kalau Elza pulang nanti? Aku jemput saja ya biar Mas tidak perlu bolak-balik di jalan," tanya Fina setelah teringat bagaimana nanti putra sambungnya itu.


Akhir-akhir ini Fina tidak lagi menunggu Elza sekolah karena putra sambungnya itu sudah bisa berinteraksi normal. Tidak pernah memukul ataupun berkelahi dengan teman sebayanya. Jadi, Fina pun mulai melepaskan Elza di sekolah agar bisa menjadi mandiri.


"Aku saja yang menjemputnya. Lagi pula aku juga cuma ngecek barang saja kok di toko. Enggak ke pabrik," cegah Benny. Dia tidak mau Fina pergi sendirian apalagi naik motor karena bisa membahayakan keselamatannya.


"Papa yang baik," gumam Fina sambil mengusap rahang suaminya.


"Ih! Mama pacaran sama Papa terus!" protes Elza sambil berlalu dari teras rumah. Bocah kecil itu memutuskan masuk ke dalam mobil.


"Lihatlah, Mas. Anak kita sudah bisa menyebut kita pacaran. Aiih ... semoga saja jika sudah besar nanti dia tidak seperti kamu! Playboy!" ujar Fina sambil mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Kok jadi aku yang kena?" Benny mengernyitkan kening setelah mendengar ujaran istrinya, "aku berangkat dulu," pungkas Benny sebelum pembahasan ini melebar kemana-mana. Perasaan sensitif yang dirasakan Fina akhir-akhir ini membuat Benny lebih berhati-hati saat bersikap di hadapan istrinya itu.


Fina bergegas masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai suaminya berlalu pergi. Seperti hari-hari biasanya, setiap pagi Fina menghabiskan waktunya di teras belakang. Dia memiiki beberapa tanaman dan bunga yang tersusun di dekat kolam koi. Sepetak tanah yang tersisa dari rumah Benny itu telah dirubah menjadi asri dan nyaman bagi siapapun yang menempati salah satu kursi di teras belakang.


"Bu Fina, ada ibunya pak Benny datang," lapor Jumiatin ketika menghampiri Fina di teras belakang.


"Ibu Ani?" Fina meyakinkan maksud asisten rumah tangganya itu, "tolong dibuatkan teh hangat dulu ya, Mbok. Saya mau cuci tangan sebentar," ucap Fina setelah Jumiatin menjawab pertanyaannya.


Seusai membersihkan tangan dan kaki, Fina bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui ibu mertuanya. Dia pun penasaran perihal apa yang membuat ibu mertuanya itu sampai datang ke rumah ini, karena baru kemarin lusa Ani berada di rumah ini untuk mengatur acara tiga bulanan.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Fina tatkala sampai di ruang keluarga, "Ibu datang sama siapa?" tanya Fina sambil mencari keberadaan seseorang yang mungkin mengantar ibu mertuanya itu.


"Waalaikumsalam. Tadi ibu bersama Sari, tapi sekarang dia pergi ke pasar," jawab wanita paruh baya itu.


"Monggo diminum dulu, Bu, teh hangatnya." Fina mengambilkan secangkir teh hangat tersebut untuk mertuanya, "Ibu ada perlu apa kok sampai datang ke sini? Padahal kalau ada yang penting, Ibu bisa telfon. Nanti saya dan Mas Benny yang datang ke sana," tanya Fina sambil menepuk paha mertuanya itu.


"Kalau boleh tahu tentang apa ya, Bu?" Fina semakin penasaran dibuatnya.


"Ini tentang Benny dan Dita," ucap Ani tanpa ada keraguan.


"Memangnya ada apa dengan Mas Benny dan Dita, Bu? Jujur saya tidak tahu apa-apa," jawab Fina dengan tatapan yang tak lepas dari wajah ibu mertuanya.


Helaan napas yang berat terdengar dari wanita paruh baya itu. Ani mengubah posisinya hingga duduk menyamping dan menatap Fina penuh arti, "kamu istrinya Benny. Masa kamu tidak mengetahui apa saja yang sudah terjadi?" tanya Ani.

__ADS_1


"Sungguh, Bu, saya tidak tahu apa-apa. Mas Benny tidak pernah membahas masalah Dita," jelas Fina.


"Semenjak kejadian Dita memukul Elza kala itu, Benny tidak lagi mengirim jatah jajan untuk Dita. Uang bulanan yang biasa dipakai bayar angsuran mobil tidak diberikan suamimu. Apakah kamu tidak tahu masalah ini?" jelas Ani dengan tegas.


"Bu, selama saya menikah dengan Mas Benny ... saya tidak tahu bagaimana keuangannya. Satu bulan pendapatannya berapa saja saya tidak tahu. Saya hanya diberikan jatah jajan saya, kebutuhan Elza, kebutuhan rumah dan yang lain. Semua sudah dimasukkan ke dalam amplop masing-masing. Jadi untuk urusan Dita yang lain, saya tidak tahu menahu." Fina menjelaskan kebenaran yang selama ini dia alami.


"Mas Benny hanya bilang jika ada kebutuhan mendadak ataupun saya menginginkan sesuatu, tinggal bilang saja ke dia," imbuh Fina.


Ani hanya menghela napas setelah mendengar jawaban menantunya. Antara percaya dan tidak percaya setelah mendengar penjelasan panjang itu, karena tidak mungkin jika Fina tidak tahu urusan keuangan keluarga ini.


"Kamu sedang tidak berbohong 'kan?" cecar Ani dengan tatapan tajamnya.


"Astagfirullah haladzim. Tidak, Bu. Saya sudah menceritakan apa yang sebenarnya," ujar Fina dengan suara yang bergetar. Dia sedih karena tuduhan ini.


Kedua wanita berbeda generasi itu terus berbicara. Beberapa kali Fina harus menahan rasa sesak di dada saat mertuanya itu beberapa kali melayangkan sindiran. Lebih parahnya lagi, Ani sampai berani membandingkan Nurmala dengannya.


"Bu, saya tidak pernah melakukan semua hal yang menjadi prasangka Ibu. Jika memang ada masalah di antara Mas Benny dan Dita, kenapa saya yang harus disalahkan?" tanya Fina dengan mata yang sudah berembun.


Wanita paruh baya itu berdiri dari tempatnya. Dia gusar karena memikirkan masalah ini. Ani termenung dengan posisi membelakangi Fina dengan segala pikiran yang berkecamuk. Entah apa yang membuat Ani melakukan semua ini terhadap menantunya.


"Fin, Ibu tidak bermaksud menyalahkan kamu atau membandingkan kamu. Sebagai seorang ibu, jujur saja Ibu sedih melihat Benny dan Dita tidak akur. Ibu hanya tidak tega melihat Dita kelabakan karena harus mencari uang tambahan. Ya ... meski Ibu tahu jika semua ini bukanlah tanggung jawab suamimu, tetapi mau bagaimana lagi. Selama ini Benny tidak pernah melakukan hal ini kepada Dita, tetapi sekarang dia melakukannya. Suatu saat kamu pun akan tahu bagaimana rasanya menjadi Ibu. Kamu pasti sedih jika melihat anak-anakmu tidak akur," jelas Ani panjang lebar hingga membuat Fina semakin tersudut.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Jangan mencari konflik berat di sini yes😀Karena othor hanya membuat konflik sederhana yang biasa dialami rumah tangga di dunia nyata😎...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2