
Gemerlap bintang bertaburan menghiasi gelapnya malam. Suasana khas pedesaan terasa menyejukkan. Kedatangan sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu disambut semilir angin malam yang membuat kulit meremang. Mereka tiba di halaman rumah baru Badiah tepat pukul sembilan malam. Acara syukuran baru saja selesai digelar.
Air mata bahagia terus berjatuhan kala bola mata itu mengamati semua hal yang ada di sana. Rasa haru dan bahagia membaur menjadi satu ketika Fina menginjakan kaki di teras rumah itu. Tentu kedatangannya disambut para saudara yang masih berkumpul di sana.
"Assalamualaikum," ucap Benny dan Fina serempak.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruang tamu.
"Bagaimana, Nak? Apa yang kamu rasakan sekarang?" cecar Badiah ketika Berhadapan dengan putrinya.
"Bu, Mbak biar masuk dulu," Sahut Nisa ketika melihat wajah Fina yang terlihat masih pucat itu.
"Oh iya, astagfirullah ... Ibu sampai lupa," ucap Badiah, "ayo, Nak. Masuk dulu."
Sepasang suami istri itu duduk di ruang tamu bersama keluarga yang lain. Badiah pun ikut duduk di samping putrinya. Tentu janda dua anak itu merasa khawatir setelah melihat Fina pingsan dua kali. Dia menggenggam tangan Fina sambil menunggu penjelasan putrinya.
"Nis, buatkan kopi untuk Mas mu," titah Badiah setelah melihat putri bungsunya masuk ke dalam ruang keluarga.
"Fin, bagaimana kondisi mu sekarang?" tanya Badiah seraya menatap putrinya dengan penasaran.
"Jauh lebih baik, Bu, alhamdulillah," jawab Fina sambil tersenyum tipis.
"Terus kamu kenapa kok bisa pingsan begitu? Biasanya kamu kan wanita super, Fin," tanya salah satu kerabat Fina yang masih ada di sana.
"Saya shock, Bude, ketika melihat perubahan rumah ini. Selama ini saya tidak tahu jika diam-diam Mas Ben merencanakan semua ini," jelas Fina seraya menatap kakak dari Badiah itu.
"Terus kata dokter bagaimana? Kok pingsannya lama dan harus diinfus?" sahut Badiah karena masih penasaran dengan kondisi putrinya itu.
"Satu minggu yang lalu, Fina sakit, Bu. Asam lambung naik karena terus kepikiran Ibu. Sebenarnya saat berangkat ke sini tadi Fina belum sembuh total. Masih muntah terus, eh ternyata kata dokter Fina bukan sakit maag, tapi sedang hamil muda," jelas Fina sambil mengembangkan senyum yang sangat manis.
"Alhamdulillah," jawab serempak semua kerabat yang ada di ruang tamu. Sementara Badiah hanya termangu setelah mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Ibu kenapa? Apa Ibu tidak suka dengan kabar ini?" tanya Fina karena ibunya hanya diam saja dengan tatapan yang tak lepas darinya.
"Kali ini Ibu yang terkejut, Fin. Apa benar berita yang kamu sampaikan itu?" Badiah masih belum percaya atas kabar baik dari putrinya.
"Iya, Bu. Benar sekali. Fina memang sedang hamil muda. Kami berdua pun baru tahu setelah di rumah sakit tadi." Kali ini Benny ikut menjawab pertanyaan dari mertuanya itu.
Seketika Badiah meraih tubuh putrinya ke dalam dekapan. Dia merasa bahagia karena mendapatkan rezeki besar dari Sang Pencipta. Dia tidak pernah menyangka jika akan sampai pada titik ini.
"Ibu bahagia, Nak. Ibu sangat bahagia. Semoga Allah selalu melindungi keluargamu," ucap Badiah dengan suara yang bergetar karena menahan isak tangisnya.
Semua orang berbahagia atas kabar baik dari Fina. Mereka berdoa agar segala urusan Fina dan Benny dilancarkan. Kehidupan Badiah telah berubah seratus delapan puluh lima derajat setelah Benny masuk ke dalam keluarganya.
****
Tepat pukul sepuluh malam, semua keluarga pamit pulang. Kini, keadaan di rumah tersebut terasa sepi karena hanya ada keluarga inti. Elza pun sudah tidur pulas di kamar Nisa setelah seharian bermain bersama keponakan Badiah yang hadir di sana. Bocah kecil itu sengaja meminta tidur bersama Nisa karena terlanjur cocok dengan adik dari ibu sambungnya itu.
"Sayang, aku tidak menyangka jika hasil usaha kita selama ini sudah tumbuh di sini," ucap Benny seraya mengusap perut datar istrinya.
"Maafkan aku karena sudah membuat kamu sakit," ucap Benny sekali lagi. Sepertinya mantan duda itu benar-benar menyesal atas apa yang sudah dia lakukan kepada Fina.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf kepada Mas, karena sudah berprasangka buruk kepada Mas." Fina mendaratkan kecupan mesra di pipi Benny dengan mesra.
"Terima kasih, karena Mas sudah membuatkan kamar yang sangat nyaman untukku. Lihatlah, ini sangat jauh berbeda dengan kamarku sebelumnya. Ranjangnya lebih empuk dan tentunya lebih besar," ucap Fina sambil mengamati sekeliling kamar barunya.
"Bukan hanya itu saja, Sayang. Kamar ini pun kedap suara. Jadi, meskipun kamu berteriak saat merasakan getaran, Nisa tidak akan mendengar suaramu," jelas Benny sambil menaik turunkan alisnya.
"Dasar Mesum! Masih aja kepikiran soal itu," cibir Fina sambil menoyor lengan suaminya.
Rasa bahagia yang menyelimuti jiwa tak kunjung membuat mereka berdua merasakan kantuk. Sepasang suami istri itu masih bercengkrama dengan ekspresi wajah ceria. Benny tak henti mengusap perut yang masih rata itu.
"Bagaimana kalau aku mengalami ngidam seperti orang lain?" tanya Fina setelah Benny menceritakan bagaimana dulu saat dirinya tahu ada jika Elza tumbuh dalam kandungan Nurmala.
__ADS_1
"Aku pasti bisa memberikannya untukmu, asal jangan ngidam bertemu pria lain," jawab Benny dengan tegas.
"Kalau itu bukan ngidam, Mas. Tapi nyari kesempatan. Ya ... kalau memang diizinkan aku mau ngidam bertemu artis korea saja, Ji Chang Wook," seloroh Fina dengan senyum manis yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Ngimpi!" ujar Benny seraya mencubit dagu istrinya itu.
Suara gelak tawa pun terdengar di sana setelah pembahasan mengenai masalah ngidam, "Mas, harus bagaimana aku berterima kasih kepada Mas atas semua ini?' tanya Fina seraya menatap suaminya itu.
"Apakah aku sekarang aku harus berada di atas seperti beberapa hari yang lalu?" tanya Fina dengan sorot mata penuh arti.
"No! Kita tidak akan melakukan itu, Sayang. Terlalu bahaya buat Utun," sergah Benny sambil mengusap perut Fina.
Fina tercengang setelah melihat penolakan suaminya. Baru kali ini Benny menolak tawaran menarik dari Fina. Bahkan, tanda-tanda munculnya sesuatu yang ada di balik celana kolor pun belum ada. Tentu kali ini Fina merasa heran melihat penolakan suaminya itu.
"Mas, aku gak salah dengar kan?" Fina memastikan jawaban Benny, "tumben, Mas? Lagi sakit?" selidik Fina dengan tatapan yang tak lepas dari bola mata suaminya itu.
Benny hanya mengembangkan senyum tipis setelah melihat ekspresi wajah istrinya. Dia membenarkan letak bantal Fina dan memberikan kode agar istrinya itu segera berbaring di sana. Dekapan hangat telah diberikan Benny untuk istri yang sedang mengandung benihnya itu.
"Sayang, saat seorang istri sedang hamil muda, akan jauh lebih baik jika tidak terlalu sering berhubungan. Terlalu banyak gaya pun tidak dianjurkan oleh dokter kandungan karena bisa membahayakan keselamatan si Utun," tutur Benny sambil menatap bola mata istrinya.
"Lah kalau aku pengen banget gimana? Dosa loh kalau nolak permintaan istri! Apalagi itu hakku loh, Mas," ujar Fina dengan sorot mata penuh arti. Dia sengaja menggoda suaminya karena ingin rahu seberapa kuat benteng pertahanannya.
Benny hanya bisa membuang napasnya kasar setelah mendapatkan kode keras dari Fina. Dia merasa bimbang karena semua yang ada dalam tubuhnya tidak sejalan, "ya ... mau bagaimana lagi. Keinginan Ibu hamil kan harus terpenuhi agar tetap bahagia. Jadi, kita bisa melakukannya dengan kelembutan. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati seperti kedelai hitam malika," jawab Benny dengan tangan yang sudah bergerak cepat menemuka pusat vulkano.
"Aku sudah menduga jika kamu tidak akan bisa jauh dari semua ini. Dasar suami mesum!" sarkas Fina ketika Benny semakin melancarkan aksinya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Enaknya ngidam apa nih biar Benny kapokπ...
...π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1