Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Perkara Pesan


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti seiring dengan bergulirnya waktu. Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit pasca melahirkan, akhirnya Fina dan Shazia diizinkan pulang. Kondisi mereka berdua sehat dan tidak ada kendala apapun. Bayi menggemaskan itu pun sudah bisa menyesap ASI dengan lancar.


"Aduh ... aduh ... aduh! Kenapa si cantik ini rewel terus sih? Udah lapar lagi ya, Nak? Atau mungkin lagi pengen beli ice cream?" Fina bergumam sambil menatap putrinya yang sedang menggeliat di atas pangkuan. Dia tak segera membuka kancing blousnya meski suara tangisan Shazia menggema di sana.


"Ma, kenapa Adik Zia cengeng sekali sih?" protes Elza setelah menghampiri ibu sambungnya. Dia terganggu dengan suara tangisan Shazia.


"Adik Zia lagi haus Kak El," gumam Fina sambil menatap Elza dengan senyum tipis.


Fina membenarkan posisi Shazia di atas pangkuannya sebelum mengeluarkan sumber kehidupan putrinya itu. Tak lama setelahnya suara Shazia tak terdengar lagi karena bayi berusia empat hari itu telah mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Nih, Mbak! Pepaya," ujar Nisa saat meletakkan sepiring pepaya di meja.


"Terima kasih, Tante," gumam Fina tanpa menatap adik kandungnya karena sibuk mengamati putrinya.


"Tante, antar aku ke indoapril dong. Aku pengen jajan ke sana," ucap Elza dengan tatapan penuh harap.


"Ayo. Tante juga pengen beli sesuatu." Nisa beranjak dari tempatnya. Gadis berhijab itu meraih kunci motor Fina yang ada di atas bufet dan segera berangkat bersama Elza.


Setelah Shazia melepas puncak kendi dari bibir mungilnya, Fina memindahkannya di atas stroller dengan hati-hati agar putrinya itu tetap tidur nyenyak. Suara dering ponsel dari meja TV membuat Fina melangkahkan kakinya ke sana. Dia tahu jika itu ponsel milik Nisa, tetapi karena ponsel itu tak hanya sekali saat berdering, Fina memutuskan untuk melihat nama yang tertulis di layar ponsel itu.


"Aris?" Fina bergumam lirih ketika melihat nama itu di layar ponsel, "Aris pelatihnya Elza? Atau Aris yang lain?" lanjut Fina karena tidak ada foto profil di kontak tersebut.


Mungkin karena penasaran, Fina menggeser icon hijau itu agar panggilan segera terhubung. Dia ingin tahu siapakah 'Aris' yang ada dalam kontak adiknya.


"Hallo, Dek, kenapa belum dibuka pesanku?"


Fina menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya setelah mengenali suara itu. Dia menekan tombol merah yang ada di layar tersebut karena tidak mau melanjutkan pembicaraan itu.


"Kenapa Aris menghubungi Nisa? Pakai manggil 'dek' segala! Mereka ada hubungan apa coba?" gerutu Fina sambil menatap layar ponsel itu.

__ADS_1


Notifikasi pesan kembali terdengar. Fina bergegas membuka ponsel yang kebetulan tidak memakai sandi ataupun kunci rahasia. Fina sangat mudah membuka akses adiknya hingga dia nekat membuka aplikasi chat berwarna hijau yang ada di sana. Tanpa permisi, jempol itu menekan pesan paling atas yang ada di sana.


"Apa-apaan ini? Kenapa dia sok perhatian sama Nisa?" gumam Fina setelah membaca pesan dari Aris. Fina menggeser pesan itu hingga paling atas.


Fina terkejut setelah tahu jika Aris dan Nisa hampir setiap hari berbalas chat selama beberapa hari ini. Rayuan berbalut tutur kata bijaksana telah diberikan Aris untuk Nisa. Tentu saja hal ini berhasil membuat Fina meradang. Semua ini tidak benar karena Aris adalah pria beristri.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Fina seraya meletakkan ponsel itu di tempat semula.


Fina duduk kembali di sofa sambil menunggu Nisa kembali dari minimarket. Dia sudah tidak sabar ingin mencecar Nisa dengan beberapa pertanyaan. Mencoba bersikap tenang, tetapi tidak bisa karen banyak pikiran buruk bersarang di kepala.


"Assalamualaikum ...."


Terdengar suara Nisa dan Elza yang masuk melalui pintu penghubung ruang keluarga dan garasi. Mereka kembali dari minimarket dengan membawa kantong besar berisi beberapa barang.


"Ini untuk Mama," ujar Elza sambil menyerahkan dua coklat untuk ibu sambungnya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Terima kasih. El, Lebih baik mandi sekarang dulu deh. Nanti kalau Papa pulang biar Elza udah rapi." Fina mencoba mengatur situasi agar bisa bicara dengan Nisa.


"Ada apa, Mbak?" Putri bungsu Badiah itu merasa heran dengan perubahan ekspresi wajah kakaknya.


"Sejak kapan kamu berbalas chat dengan Aris?" tanya Fina tanpa basa-basi lagi.


"Mbak habis buka handphone ku ya!" tebak Nisa dengan tatapan tak suka, "sejak kapan Mbak seperti ini?" Nisa mengernyitkan keningnya.


"Tadi dia nelfon kamu dan aku sudah membaca semua pesan dia. Kamu ini polos atau pura-pura gak tahu sih?" tanya Fina dengan tatapan nyalang. Sementara suaranya terdengar lirih karena tidak mau didengar oleh Jumiatin.


"Apa sih, Mbak! Gak ada salahnya kali kalau berbalas chat saja. Tenang, aku gak akan pacaran sama dia. Aku tetap fokus kuliah kok." Nisa mencoba meyakinkan Fina mengenai hal ini karena dulu Fina sering mewanti-wanti mengenai hal ini.


"Kamu suka dengan dia?" sarkas Fina.

__ADS_1


Wajah cantik Nisa bersemu merah setelah mendengar pertanyaan itu. Dia menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari jawaban yang tepat. Hidungnya kembang kempis karena salah tingkah di hadapan kakaknya.


"Aku tertarik sih, Mbak, sama dia. Manis, cool terus jago bela diri juga," jawab Nisa dengan suara yang lirih.


Fina terkejut bukan main setelah mendengar jawaban adiknya. Tentu semua ini tidak boleh diteruskan, mengingat pria yang katanya manis itu sudah memiliki keluarga, "ceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan nomermu!" ujar Fina tanpa mengalihkan pandangan dari Nisa.


"Ya awalnya waktu aku nemenin Elza itu, Mbak. Kami berada di tempat yang sama selama pertandingan. Dia banyak menceritakan banyak hal dan aku nyambung dengan obrolan dia. Pas mau pulang dia minta nomorku, Mbak," jelas Nisa tanpa ada yang ditutupi.


Fina tercengang setelah mendengar cerita tersebut. Tentu dia tidak terima jika Aris sampai masuk ke dalam hidup adiknya. Apalagi, pria iru masih berstatus suami orang.


"Kamu tidak diberitahu tentang statusnya?" tanya Fina lagi dan Nisa hanya menggelengkan kepala.


"Astagfirullah haladzim! Kenapa kamu sebodo ini sih! Lain kali sebelum kenalan sama orang, tanyakan dulu statusnya!" Fina semakin kesal karena ulah Nisa.


"Memangnya kenapa sih, Mbak? Aneh deh Mbak ini!" cibir Nisa seraya menatap Fina dengan sinis. Dia tidak suka saja karena Fina kepo dan ikut campur mengenai kisahnya.


Fina sangat geram setelah mendengar ucapan Nisa. Rasanya ingin sekali dia mencengkram tangan Nisa dengan keras, tetapi dia tidak sampai hati jika sampai menyakiti fisik Nisa.


"Asal kamu tahu! Dia itu punya anak dan istri! Memangnya kamu mau dianggap sebagai perusak hubungan rumah tangga orang lain?" ujar Fina dengan jelas hingga membuat Nisa tercengang. Sepertinya gadis cantik itu belum bisa menerima kenyataan yang harus dia ketahui.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Maaf ya upnya malam karena author seharian ini oleng🀣...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi novel keren untuk kalian nih. Yuk baca karya author Reni.t dengan judul Istri Tanggung Milik Tuan Arogan.😍...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2