Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Petuah Badiah


__ADS_3

Makan malam bersama telah selesai beberapa menit yang lalu. Sederhana tapi cukup mengesankan bagi Benny. Dia merasakan kehangatan keluarga yang dirindukan selama ini. Apalagi ditambah dengan menu sederhana yang jarang sekali Benny temui di Surabaya.


Daun ubi jalar yang dikukus, ditambah dengan sambal terasi serta irisan jeruk sunkist semakin menggugah selera makan duda satu anak itu. Apalagi ditambah dengan lauk Ikan asin serta nila bakar sebagai pelengkap makan malam dikediaman Badiah kali ini.


"Bagaimana masakannya, Pak? Enak kan?" tanya Fina setelah Benny kembali ke ruang tengah. Dia baru selesai mencuci tangan di dapur.


"Mantap, Fin. Kalau di Surabaya masakin aku seperti tadi ya!" pinta Benny setelah duduk di samping Elza yang sedang sibuk bermain game.


"Saya tidak bisa masak. Minta mbak Dewi saja, Pak," jawab Fina tanpa menatap Benny karena dia sibuk membereskan piring kotor dan sisa makanan.


Pembicaraan itu harus terhenti ketika Fina berlalu dari ruang keluarga. Dia sedang berkutat di dapur bersama Badiah. Tidak lama setelah itu, mereka berdua kembali ke ruang keluarga. Ada rasa canggung yang dirasakan oleh wanita paruh baya itu, karena Benny ada di sana. Dia sungkan kepada majikan putrinya karena harus duduk di atas karpet tipis ala kadarnya.


"Saya mau mencari hotel dulu, Bu. Besok saya kembali ke sini lagi," pamit Benny setelah menyimpan ponselnya di dalam tas.


"Maaf sekali karena sudah merepotkan pak Benny. Saya sebenarnya tidak enak hati, tetapi mau bagaimana lagi, jika Pak Ben menginap di sini, saya sungkan dengan tetangga. Mengingat di sini ada anak gadis, Pak. Maklum di desa memang begini." Dengan berat hati Badiah menjelaskan alasannya tidak menawarkan Benny untuk menginap di rumahnya.


"Tidak masalah kok, Bu. Lagi pula hotelnya dekat dari sini. Terima kasih loh, Bu, atas jamuan makan malamnya, sangat lezat. Kalau begini saya jadi pengen sering datang ke sini, hehe," jawab Benny dengan diiringi senyum lebar.


"Dengan senang hati, Pak. Silahkan saja sering datang kemari. Nanti saya masakin yang gak ada di Surabaya deh," jawab Badiah dengan semangat.


"Kalau begitu bagaimana kalau saya jadi menantu ibu saja." Sebuah kode keras dari Benny. Duda satu anak itu melirik Fina yang sedang melotot ke arahnya.


Badiah mengulum senyum mendengar hal itu, "aduh Pak Benny ini bisa saja," jawab Badiah dengan seulas senyum manis.


"Resek banget sih ini duda!" umpat Fina dalam hati. Tatapan matanya tajam dan tepat sasaran pada sosok yang sedang tertawa itu.

__ADS_1


"El, Papa mau tidur di hotel. Elza mau ikut Papa atau di sini saja sama Mbak Fina?" tanya Benny setelah berdiri dari tempatnya.


"Aku di sini aja sama Mbak Fina. Papa hati-hati ya!Awas ada nenek sihir datang menculik Papa!" Elza menatap Ayahnya penuh arti.


"Pasti. Papa akan hati-hati. Nanti setelah Papa sampai di kamar hotel, kita video call, oke?" Benny membungkukkan tubuh sambil mengusap rambut putranya.


Badiah dan Fina beranjak dari tempatnya untuk mengantarkan Benny sampai di teras rumah. Mereka berdua menatap kepergian mobil pajero hitam itu hingga hilang dari pandangan. Kini tinggal kedua wanita berbeda generasi itu yang ada di teras rumah.


"Kamu harus banyak bersyukur, Fin, karena punya majikan baik seperti pak Benny," ucap Badiah setelah duduk di kursi yang ada di teras.


"Iya, Bu. Apalagi setelah ini Nisa harus kuliah. Fina akan bekerja lebih keras lagi agar bisa membantu biaya kuliah Nisa." Fina menyandarkan tubuhnya di tiang beton yang ada di teras.


"Maaf ya Fin jika kamu harus ikut menanggung beban keluarga. Terkadang ibu sedih memikirkan nasibmu. Sampai kapan akan seperti ini terus. Kamu pun berhak bahagia dan menata masa depan," gumam Badiah seraya menatap putri sulungnya.


Fina berjalan mendekat ke tempat Badiah saat ini. Dia duduk di kursi tunggal yang ada di sana. Lantas Fina mengembangkan senyumnya, sebelum menanggapi keluh kesah ibunya.


Obrolan sempat terhenti ketika Elza datang menghampiri Fina di teras rumah. Bocah kecil itu hanya meminta izin masuk ke dalam kamar Fina untuk bermain game di handphone dengan menikmati kipas angin yang ada di sana. Tentu kebiasaan baik ini adalah hasil didikan Fina.


"Oke, Elza boleh masuk ke kamarnya Mbak Fina. Nanti kalau butuh sesuatu panggil Mbak Fina, oke?" ujar Fina sebelum Elza kembali ke dalam rumah.


"Elza sangat dekat denganmu, Fin. Dia seperti anakmu saja," celetuk Badiah ketika mengamati interaksi di antara Fina dan Elza.


"Duh Ibu ini ada-ada aja! Masa iya Fina dapat duda," sahut Fina tidak terima dengan pendapat ibunya.


Badiah hanya mengulum senyum setelah melihat respon yang ditunjukkan putrinya. Tentu sebagai seorang ibu, Badiah tahu jika ada sesuatu di antara putrinya dan Benny. Namun, wanita yang menyandang status janda itu belum tahu apa kiranya sesuatu tersebut. Badiah bisa melihat dengan jelas lewat sorot mata Benny, jika majikan putrinya itu memiliki perasaan lebih.

__ADS_1


"Selama di Surabaya kamu tidak pernah pacaran kan, Fin?" selidik Badiah seraya menatap putrinya.


"Tidak lah, Bu! Fina tidak pernah melakukan hal itu!" sergah Fin dengan tegas, "tapi Bu ... ada pria yang suka dengan Fina. Dia sudah mengatakan jika akan datang melamar jika sudah selesai wisuda pasca sarjana," jelas Fina seraya menatap ibunya.


"Siapa namanya?" tanya Badiah penasaran.


"Aris. Dia pelatih khusus Pagar Bangsa dan atlet pencak silat ...." Akhirnya Fina menceritakan bagaimana hubungannya bersama Aris.


Badiah terus mengamati putrinya saat menceritakan bagaimana sosok Aris kepadanya. Tentu Badiah ikut senang mendengar berita baik itu, dia hanya berharap Fina akan hidup bahagia di masa depan bersama suaminya nanti. Namun, ada satu hal yang membuat Badiah ragu tentang perasaan putrinya kepada pria bernama Aris itu. Dia tidak menemukan sorot mata yang sama seperti saat Fina menceritakan tentang Benny.


"Fin, apa kamu yakin suka dengan Aris? Bukan pria yang lain?" tanya Badiah dengan tatapan yang tak lepas dari putrinya.


"Yakin, Bu. Memang siapa lagi pria yang Fina kenal?" tanya Fina heran.


"Apa kamu tidak suka dengan pak Benny?" Badiah langsung pada intinya.


Fina terkesiap setelah mendengar pertanyaan tersebut. Dia menautkan kedua ujung alisnya karena merasa aneh dengan pertanyaan tersebut, "tidak mungkin, Bu. Fina tidak mungkin suka dengan pak Benny," sergah Fina tanpa menatap ibunya, "selain karena statusnya duda, pak Ben itu udah punya pacar, Bu. Dia sepertinya playboy," jelas Fina dengan helaian napas yang berat.


"Baguslah kalau begitu. Lagi pula meskipun kamu suka dengan pak Benny, kamu harus berpikir dua kali, Fin. Status sosial kita jauh berbeda dengan dia. Jangan sampai kamu menjadi omongan orang karena disangka menggoda majikan. Jika memang pria bernama Aris itu serius, tunggu saja sambil berdoa karena belum tentu juga jika Aris itu jodohmu." Badiah memberikan petuah kepada putrinya agar tidak salah dalam melangkah.


Obrolan itu terus berlanjut hingga malam semakin merangkak naik. Udara dingin karena hembusan angin malam membuat kedua wanita itu pindah dari teras rumah. Tak lupa Badiah mengunci pintu rumah sebelum beristirahat.


"Fin, kita tidur bertiga yuk! Ibu kangen tidur sama kamu," ucap Badiah setelah berada di ruang keluarga.


...🌹To Be Continue 🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2