Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Rahayu dan Wiratama,


__ADS_3

Hampir tiga puluh menit lamanya Nisa menunggu


di ruang tamu yang nyaman dan membuatnya ingin merebahkan diri di sofa empuk itu. Nisa menguap beberapa kali karena merasa kelelahan. Kepalanya pun terasa semakin nyeri dan berdenyut-denyut.


"Maaf, kami sudah meninggalkan kamu sendirian terlalu lama di sini," ucap pria paruh baya tersebut setelah kembali ke ruang tamu.


"Tidak masalah, Pak," jawab Nisa dengan senyum tipis.


"Begini saja. Berhubung ini sudah malam dan kamu seorang gadis, sebaiknya menginap dulu di sini. Saya yakin kamu pertama kalinya menginjakkan kaki di Jakarta. Demi menjaga keselamatanmu tolong jangan menolak keinginan saya," ucap Pria tersebut dengan tegas.


"Iya, Nak. Jangan kembali sekarang. Sebaiknya malam ini kamu istirahat dulu di rumah ini. Kamu kelihatan jika kelelahan. Kita bisa berkenalan dan melanjutkan obrolan besok pagi," sahut wanita tersebut sambil menatap Nisa penuh arti. Sepertinya wanita tersebut lebih tenang dari sebelumnya.


Nisa sempat menolak permintaan tersebut karena merasa sungkan dan tentunya takut berada di tempat yang salah. Akan tetapi karena desakan kedua orang yang duduk berhadapan dengannya itu, dia menerima tawaran untuk beristirahat di rumah megah ini.


"Mari saya antar ke kamar tamu," ucap wanita tersebut setelah beranjak dari tempat duduknya. Dia membawa Nisa menuju salah satu kamar yang ada di lantai satu.


"Ini kamarmu. Silahkan beristirahat. Nanti akan ada ART yang mengantar makanan ke kamar ini. Apa kamu membutuhkan sesuatu?" jelas wanita tersebut.


"Tidak, Bu. Saya diperkenankan istirahat di sini saja sudah lebih dari cukup. Terima kasih," ucap Nisa sambil membungkukkan badan.


Setelah berbincang untuk sesaat, Nisa segera masuk ke dalam kamar yang akan dia tempati tepat ketika sang pemilik rumah pergi. Dia mengembangkan senyum tipis setelah melihat tempat tidur. Dia segera menghempaskan diri di sana karena merasa lelah.


"Akhirnya ketemu kasur," gumam Nisa dengan suara yang lirih.


Tak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu beberapa kali. Nisa beranjak dari tempat nyaman itu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata seorang wanita muda dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Selamat menikmati, Nona," ucap wanita tersebut sambil menyerahkan nampan tersebut kepada Nisa.


"Terima kasih," ucap Nisa sebelum wanita muda itu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Nisa meletakkan nampan tersebut di atas meja dan setelah itu dia duduk di kursi yang ada di sana. Nisa tak segera menikmati makanan itu karena masih ragu dan takut jika ada racun di dalam makanan yang terlihat sangat lezat itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja pemilik rumah ini tidak punya niat jahat kepadaku," gumam Nisa saat mengambil tissu yang membungkus sendok tersebut.


"Sepertinya aman," gumamnya setelah mencicipi satu sendok nasi tersebut.


Hampir lima belas menit Nisa menunggu reaksi dalam dirinya. Setelah dirasa aman, gadis berhijab itu melanjutkan hingga isi piring tersebut tandas. Dia merasa kelaparan karena sampai lupa jika belum mengisi perut selama seharian ini. Nisa keluar dari kamar dengan membawa nampan tersebut ke dapur. Akan tetapi langkahnya harus terhenti di ruang keluarga karena bertemu wanita muda yang tadi mengantar makanan untuknya.


"Saya kembali ke kamar dulu, Mbak," pamit Nisa sebelum meninggalkan wanita tersebut.


Nisa memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum beristirahat. Dia hanya membasuh wajah dan sikat gigi saja karena malas mandi di waktu seperti ini. Setelah berada di dalam kamar mandi selama beberapa menit lamanya, gadis cantik itu kembali ke tempat tidur. Dia melepas kerudungnya dan diletakkan asal di atas ranselnya. Dia duduk bersandar di headboard ranjang sambil menatap layar televisi yang ada di sana. Nisa meraih remote yang ada di atas nakas dan setelah itu televisi pun menyala.


"Wah, cocok banget nih untuk mengusir sepi," gumam Nisa setelah melihat tampilan menu. Dia bisa menonton drama korea di sana untuk mengusir rasa sepinya.


*****


"Selamat pagi, Jakarta." Nisa bergumam lirih sambil menyematkan jarum pentul di jilbabnya. Kali ini dia terlihat lebih segar dari kemarin. Pakaian kotor dan beberapa barang miliknya sudah masuk ke dalam tas ransel, karena Nisa memutuskan untuk pulang hari ini juga.


Hampir tiga puluh menit lamanya gadis berhijab itu bersiap di dalam kamar. Setelah memastikan jika kamar ini rapi seperti semula, Nisa keluar dari kamar tersebut. Dia mengedarkan pandangan untuk mencari penghuni rumah ini. Senyum tipis mengembang dari kedua sudut bibirnya ketika menemukan wanita pemilik rumah ini sedang merangkai bunga hias di ruang keluarga.


"Selamat pagi, Bu," sapa Nisa setelah berdiri di belakang wanita tersebut.


"Selamat pagi," jawab wanita tersebut setelah membalikkan badan, "mau kemana kok bawa ransel?" tanya wanita tersebut.


"Saya mau pulang, Bu," jawab Nisa dengan tutur kata yang terdengar lembut.


"Jangan sekarang. Sebaiknya kamu sarapan dulu dan setelah itu mari kita bicara." Wanita paruh baya itu menunjuk ruang makan.


Mau tidak mau Nisa harus mengikuti sang pemilik rumah. Hampir lima belas menit lamanya gadis asal Mojokerto itu berada di ruang makan seorang diri karena wanita tersebut sudah sarapan sejak beberapa puluh menit yang lalu.

__ADS_1


"Bu,"


"Ya, silahkan duduk dulu," ucap wanita tersebut sambil menunjuk sofa yang ada di sana.


"Oh iya, pasti kamu bingung ya, karena kita belum berkenalan sebelumnya," gumam wanita tersebut seraya menatap Nisa dengan diiringi senyum manis.


"Kamu bisa memanggilku Bu Rahayu dan pria yang kemarin kamu lihat itu adalah suamiku. Kamu bisa memanggilnya Pak Wiratama atau Pak Wira," jelas Rahayu dengan sikap yang ramah.


"Baik, Bu." Nisa menganggukkan kepalanya.


"Apakah kamu yang bernama Fina?" tanya Rahayu.


"Bukan, Bu. Nama saya Nisa. Kalau Fina itu kakak saya," jawab Nisa dengan heran karena Rahayu mengenal nama kakaknya.


Pada akhirnya wanita bernama Rahayu itu menceritakan bagaimana bisa keluarga ini mengenal ayahnya. Nisa sempat shock setelah tahu bagaimana masa lalu orang tuanya. Rahasia sebesar ini telah dipendam Badiah selama puluhan tahun hingga tidak ada siapapun yang mengetahui. Bahkan, mungkin saja Fina pun tidak tahu tentang siapa sebenarnya sosok Hasanuddin Ibrahim itu. Satu hal yang Nisa ketahui, jika sejak dia kecil hingga saat ini, hidupnya sangat jauh dari hidup layaknya anak seorang perwira.


"Sebenarnya Ibu sendiri tidak mau Johan memilih jalan ini. Akan tetapi dia sangat keras kepala karena memegang satu amanah dari ayahmu. Ya ... memang tidak bisa dipungkiri, jika semua jasa ayahmu yang membuat kami berada di posisi saat ini. Maka dari itu Johan nekat mengikuti pendidikan militer demi mewujudkan mimpi ayahmu. Akan tetapi, sepertinya dia gagal seperti yang terjadi kepada pak Hasan," jelas Rahayu dengan wajah yang terlihat sedih.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Nanti kita urai satu persatu ya, setelah ini kita balik ke keluarga pak Benny dan neng Fina duluπŸ˜€...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya keren untuk kalian baca nih😎Kuy intip karya author Emak Gemoy dengan judul Suamiku (Calon) Adik Iparku. Nah loh judulnya aja udah bikin penasaran kan??...



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2