
Hari-hari gelap dengan kesedihan yang menyesakkan dada telah dilalui keluarga besar Benny dan Fina. Mereka memberikan dukungan penuh kepada sepasang suami istri itu agar segera bangkit dari keterpurukan. Rasa sesal yang membelenggu mantan duda itu perlahan pudar karena dukungan dari Fina.
"Mas, rumah rasanya sepi banget ya," gumam Fina setelah merasakan keheningan yang terasa di dalam rumah megah itu.
"Sebentar lagi kalau Elza pulang sekolah pasti ramai." Benny mengembangkan senyum tipis.
Penyemangat hidup Fina dan Benny masih berada di sekolah. Nisa baru saja berangkat menjemput bocah kecil yang sedang mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Sejak kejadian naas itu, Nisa belum pulang ke Mojokerto karena ditugaskan Badiah untuk menemani Fina di Surabaya. Sementara Badiah pulang ke Mojokerto setelah kondisi anak dan menantunya membaik.
"Nisa belum masuk kuliah kah?" tanya Benny seraya menatap Fina.
"Belum. Katanya bulan depan. Dia memang sedang libur kuliah setelah ujian," jawab Fina. Sebenarnya dia sendiri tidak tega melihat Nisa berada di sini membantu merawat dirinya dan juga Elza.
Setelah satu bulan berada di atas kursi roda dalam masa penyembuhan, akhirnya mantan duda itu dinyatakan sembuh. Tulang ekor kembali normal dan tidak ada kondisi buruk yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja Benny belum diperbolehkan melakukan aktivitas berlebihan seperti mengangkat beban berat.
"Mas, apa kita gak menghubungi pemuda itu? Kita sudah pulih kan?" tanya Fina setelah teringat tentang pemuda yang sudah menolongnya dulu.
"Nanti tunggu Nisa pulang saja, aku tidak menyimpan kontaknya," jawab Benny.
Tak lama setelah itu, tepat pukul sepuluh pagi ... Nisa dan Elza sampai di rumah. Suara bocah kecil itu menggema di dalam rumah. Senyum ceria dipersembahkan untuk kedua orang tuanya.
"Tadi aku dapat nilai seratus! Kata bu guru aku sangat pintar!" ujar Elza setelah duduk di antara kedua orang tuanya.
"Wah ... anak Papa hebat banget sih!" puji Benny seraya mengusap kepala putranya.
"Mama bangga sama Elza." Fina mengembangkan senyum yang manis saat memuji anak sambungnya itu.
"Nis, masih nyimpan nomor Ardi kah?" tanya Benny saat melihat Nisa berjalan dari ruang tamu.
"Masih, Mas. Memangnya ada apa?" Nisa mengurungkan niat masuk ke dalam kamar dan memilih bergabung bersama ketiga orang yang ada di ruang keluarga.
"Coba telfon. Aku mau bicara," pinta Benny setelah melihat adik iparnya itu duduk di sofa tunggal.
__ADS_1
Nisa mulai menghubungi kontak tersebut dan tak lama setelah itu panggilan terhubung. Nisa segera memberikan ponselnya kepada Benny, sementara dirinya memilih pergi ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas.
"Mau kemana, Nis?" tanya Fina setelah melihat gadis berhijab itu beranjak dari tempatnya.
"Ambil minum, Mbak," jawab Nisa tanpa menghentikan langkah kakinya.
Setelah berkutat di dapur selama beberapa menit lamanya, akhirnya Nisa kembali ke ruang keluarga dengan membawa sepiring melon yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong. Dia meletakkan piring tersebut di atas meja.
"Bagaimana? Apa orangnya masih kenal sama Mas dan Mbak?" tanya Nisa setelah bergabung di sana.
"Masih. Nanti sore kita akan ketemu dia cafe Loodst karena dia tidak mau memberikan alamat rumahnya," jelas Benny.
"Misterius amat! Alamat rumah aja enggak dikasih." Nisa menggerutu setelah mendengar penjelasan Benny.
"Ya wajar sih, Nis. Mungkin dia takut jika kita mengganggu privasinya," sahut Fina.
"Nanti aku boleh ikut 'kan Ma?" tanya Elza setelah menyimak obrolan orang dewasa yang ada di sekitarnya.
Elza adalah pelipur lara bagi Fina. Bocah kecil itu menjadi hiburan di kala rasa sesak melanda hati. Mungkin jika tidak ada Elza di tengah keluarga itu, sudah bisa dipastikan jika Fina terus terpuruk dalam kesedihan. ASI pun tidak bisa keluar karena awal-awal melahirkan Fina mengalami setres berat, apalagi saat pertama pulang ke rumah dan melihat barang-barang yang sudah dia siapkan untuk buah hatinya.
****
Siluet jingga terbentang di cakrawala tuk mengiringi sang mentari yang bersiap kembali ke peraduan. Suasana cafe yang menjadi tempat bertemunya Benny dan Ardi cukup sepi sehingga terasa sangat nyaman.
"Hadiahnya untuk Ardi tidak ketinggalan 'kan?" tanya Benny seraya menatap Nisa, karena adik iparnya itu lah yang diberikan tugas menyiapkan kado untuk Ardi.
"Enggak dong! Ini hadiahnya udah aku bungkus rapi," Nisa mengangkat paper bag berwarna cokelat yang berisi kotak kado.
Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya orang yang dinanti telah tiba. Ardi segera menghampiri meja yang ditempati Benny dan keluarganya. Tentu pemuda berpostur gagah itu masih ingat dengan jelas bagaimana perawakan Benny.
"Selamat sore," sapanya setelah berada di sana.
__ADS_1
"Selamat sore. Mas Ardi ya?" tanya Benny untuk memastikan tidak salah orang karena dia tak seberapa ingat dengan perawakan Ardi, "silahkan duduk," ucap Benny setelah Ardi mengangguk pelan.
Pemuda bertubuh tegap itu duduk di bangku kosong yang ada di sisi Nisa. Tak lupa pemuda itu bersalaman kepada semua orang yang ada di sana, "bagaimana kabar Pak Benny sekeluarga?" tanya pemuda itu setelah merasakan kecanggungan di sana.
"Alhamdulillah, Baik. Ya ... meskipun selam satu bulan harus duduk di kursi roda," jawab Benny seraya tersenyum tipis, "Mas Ardi sendiri bagaimana kabarnya?" Mantan duda itupun ikut bertanya.
"Seperti yang Bapak lihat." Seulas senyum tipis mengembang dari kedua sudut bibirnya.
Obrolan ringan mulai terdengar di sana. Benny dan Fina mulai mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemuda bertubuh tegap tersebut. Tentu hal ini membuat Ardi tak enak hati karena menurutnya keluarga ini terlalu berlebihan dalam bersikap.
"Nis." Benny memberikan kode kepada adik iparnya agar memberikan hadiah yang sudah disiapkan.
Gadis berhijab itu segera memberikan paper bag tersebut kepada Ardi dengan diiringi senyum yang sangat manis, "mohon diterima ya," ucap Nisa saat menyerahkan hadiah tersebut.
"Tidak perlu repot seperti ini. Saya benar-benar ikhlas menolong Bapak dan keluarga," ucap Ardi saat menerima kado tersebut, "kalau begini saya tidak enak hati jadinya," lanjut pemuda gagah itu.
"Tolong diterima saja. Semua ini tidak seberapa dengan jasa yang sudah kamu berikan. Saya benar-benar berterima kasih atas semuanya," ucap Fina seraya menatap pemuda tersebut.
Pembicaraan terus berlanjut hingga beberapa puluh menit lamanya. Mereka makan bersama seusai adzan magrib berkumandang di sekitar cafe tersebut. Suasana mulai mencair karena Elza ikut berperan di sana. Beberapa kali Ardi mengembangkan senyum ketika melihat kelucuan bocah kecil itu.
"Boleh aku simpan nomormu?" tanya Ardi setelah Benny dan Fina pamit mencari mushola untuk menunaikan kewajiban tiga rakaatnya.
"Boleh. Silahkan saja," jawab Nisa dengan diiringi senyum tipis.
Ardi mengeluarkan ponsel dari dalam tas kulitnya untuk menyimpan kontak wanita berhijab itu. Entah karena tertarik atau memang memiliki tujuan lain. Satu hal yang pasti, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah adik kandung Fina itu.
"Nisa," jawabnya dengan senyum tipis.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Maaf ya othor telat upðŸ˜hari ini wara wiri rumah sakit🙂...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...