Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Pembicaraan Anak Muda


__ADS_3

Satu pengakuan yang diucapkan Nisa berhasil membuat suasana mendadak hening. Tak ada pembahasan apapun di sana karena Ardi sendiri terkejut mendengar berita itu. Dia tidak menyangka jika istri Hasanuddin Ibrahim itu tidak memberikan restu untuk hubungan ini.


"Kenapa ibumu sampai tidak merestui hubungan ini?" tanya Ardi seraya tanpa melepas pandangan dari Nisa.


"Karena pekerjaanmu," jawab Nisa tanpa berpikir panjang.


"Apa ada yang salah dengan pekerjaanku? Bukankah ibumu juga pernah menjadi istri dari seorang perwira?" Ardi sepertinya belum bisa menerima kenyataan yang ada.


"Justru karena kamu seorang perwira, ibu tidak setuju jika aku menikah denganmu." Helaan napas berat terdengar di sana. Nisa sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk ibunya.


Nisa pun menceritakan bagaimana penolakan Badiah mengenai hubungan ini. Suaranya bergetar karena sedih menghadapi situasi ini sendiri selama berbulan-bulan. Nisa mengeluarkan semuanya di hadapan Ardi hingga membuat pemuda itu terenyuh sekaligus shock dengan penolakan Badiah.


"Tapi ibumu hanya tidak suka dengan pekerjaanku 'kan? Bukan denganku?" tanya Ardi sambil menatap Nisa dengan intens.


"Aku tidak tahu persis apa alasan ibu tidak suka denganmu. Satu hal yang aku tangkap dari penjelasannya selama ini, ibu hanya tidak mau aku merasakan apa yang beliau rasakan dulu. Ibu tidak mau kejadian di masa lalu menimpaku," jelas Nisa dengan diiringi derai air mata.


Gadis berhijab itu menumpahkan segala sesak yang dia pendam selama ini di hadapan Ardi. Dia mulai menceritakan semua yang dia alami ketika Ardi tidak ada di sekitarnya lagi. Hingga beberapa puluh menit kemudian, Nisa harus menghentikan ucapannya setelah mendengar suara nada dering ponselnya. Gadis cantik itu segera menggeser icon hijau yang ada di layar setelah tahu jika Badiah yang menghubunginya.


"Iya, Bu. Aku masih mengerjakan tugas ini di rumah teman. Mungkin sore sih baru pulang," ucapnya setelah panggilan terhubung, "ya sudah gak masalah aku gak ikut. Ibu hati-hati di jalan ya." Nisa segera mengakhiri panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Ardi setelah Nisa menyimpan ponselnya di dalam ransel.


"Ibu mau pergi, ikut ke rumah saudara yang ada di Jombang karena ada selamatan orang meninggal," jelas Nisa.


"Sekarang lebih baik kita tidak perlu memaksakan restu dari ibumu dulu. Kita jalani dulu sambil mencari solusi yang tepat," ujar Ardi setelah berpikir beberapa saat lamanya, "ayo sambil dinikmati makanan penutupnya. Jangan terlalu dipikirkan karena nanti bisa tertekan," lanjut Ardi seraya mengambil udang rambutan yang dia pesan.


"Aku sendiri belum bisa menikah dalam waktu dekat ini karena masih kuliah. Jika memang kamu serius ingin menikahi ku, maka tunggulah sampai aku lulus kuliah. Aku tidak mau mengecewakan Mbak Fina dan suaminya yang sudah membiayai pendidikanku selama ini," jelas Nisa setelah teringat pesan yang disampaikan oleh Fina.

__ADS_1


"Itu bisa diatur nanti," jawab Ardi tanpa berpikir panjang.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya, aku ini seharusnya memanggilmu siapa sih? Ardi atau Johan?" tanya Nisa setelah teringat nama pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Bagaimana kalau kamu memanggilku 'Sayang' saja? Atau Baby, Honey, Papa, Daddy gitu?" seloroh Ardi hingga membuat Nisa berdecak kesal.


"Ck. Memangnya aku ini siapamu sehingga aku harus memanggilmu 'Sayang'?" Nisa bergumam tanpa berani menatap Ardi.


Sementara Ardi hanya mengernyitkan kening setelah mendengar jawaban Nisa. Dia tidak mengerti kenapa pertanyaan itu bisa dilontarkan oleh Nisa, sementara dia dan keluarganya sudah menginginkan sebuah ikatan resmi.


"Hei, kenapa kamu melontarkan pertanyaan itu? Lalu menurutmu hubungan kita sejauh apa?" cecar Ardi dengan tatapan intens.


Nisa hanya mengedikkan kedua bahunya dengan bibir yang mengerucut sempurna, "entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa status hubungan kita. Aku sendiri tidak berpengalaman dalam hubungan asmara. Akan tetapi setahuku jika seseorang melangkah ke jenjang pernikahan, sebelumnya kan melalui proses hubungan pendekatan dulu." Sepertinya Nisa sedang memberikan kode keras untuk Ardi.


Sang empu hanya mengulum senyum setelah menangkap maksud dari semua penjelasan Nisa. Ternyata putri bungsu Badiah itu ingin merasakan bagaimana rasa berdebar saat pujaan hati mengungkapkan rasa cintanya.


"Belum paham juga ya? Lupakan saja kalau begitu! Jadi, aku harus memanggilmu Johan atau Ardi?" Nisa terlihat kesal karena Ardi hanya diam saja sambil mengamatinya.


Sementara Ardi berusaha menahan tawanya karena melihat kekesalan yang begitu besar dari ekspresi wajah Nisa. Dia semakin gemas melihat gadis itu. Ingin sekali dia menggigit bibir yang sedang mengerucut itu.


"Panggil saja Johan. Aku tidak memakai nama Ardi lagi," jawab Ardi tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu.


"Nyebelin banget sih ini orang! Dia ini gak peka atau bagaimana sih!" gerutu Nisa dalam hati ketika Ardi tak kunjung mengungkapkan kata-kata cinta yang dia inginkan.


Kekesalan Nisa semakin bertambah karena Ardi mengalihkan pembicaraan dengan membahas masalah kuliahnya. Nisa menanggapinya dengan malas dan tak bersemangat dalam menjawab. Cukup lama mereka berada di sana dengan membahas hal yang tidak penting hingga semua makanan yang ada di atas meja habis tak tersisa.


"Bagaimana kalau setelah ini kita jalan ke Mall sebentar?" tawar Ardi seraya memakai topinya.

__ADS_1


"Memangnya keadaan sudah aman ya? Kamu gak takut kah berkeliaran di tempat umum?" tanya Nisa.


"Tenang saja. Semuanya sudah aman," jawab Ardi dengan yakin.


"Oke kalau begitu. Akan tetapi jangan terlalu lama karena aku harus pulang sore," jawab Nisa dengan tegas.


Ardi segera beranjak dari tempatnya setelah mendengar jawaban Nisa. Dia kembali menggandeng tangan Nisa saat berjalan menuju kasir untuk membayar semua tagihan. Setelah selesai, mereka segera keluar dari rumah makan tersebut. Nisa terkesima dengan sikap yang ditunjukkan Ardi. Apalagi saat Ardi membukakan pintu untuknya, dia merasa tersanjung akan hal itu.


"Terima kasih," ucap Nisa sebelum masuk ke dalam mobil civic hitam yang dikendarai oleh Ardi.


Mobil hitam itu keluar dari halaman luas rumah makan tersebut. Ardi mengarahkan setir mobilnya ke arah kota, di mana mall satu-satunya di kota kecil itu berada. Keduanya beberapa kali melempar senyum karena merasa bahagia bisa jalan berdua dengan lancar.


"Oh ya, apa kamu datang dari Jakarta mengendarai mobil ini sendiri?" tanya Nisa.


"Tidak. Aku diantar sopir pribadinya Papa. Dia sekarang sedang tidur di hotel," jawab Ardi tanpa menoleh ke samping. Dia sedang fokus dengan kemudinya agar selamat hingga sampai tujuan.


"Aku pikir kamu menempati rumah lama," gumam Nisa dengan suara yang lirih.


"Tidak. Aku sudah menyerahkan kuncinya kepada pemilik rumah. Aku tidak akan lama berada di kota ini, karena harus dinas di Jakarta," jelas Ardi hingga membuat Nisa harus merasakan kecewa.


Helaan napas berat berhembus dari indra penciuman Nisa. Jika Ardi kembali ke Jakarta maka dia kembali merasakan kesepian. Rasanya dia tidak sanggup berjauhan dengan Ardi dalam waktu yang cukup lama.


"Kamu tidak perlu khawatir. Kita sudah bisa berhubungan lewat telfon setelah ini," ucap Ardi setelah mengamati perubahan ekspresi Nisa, "Oh ya, aku besok ingin main ke rumahmu untuk bertemu ibumu langsung. Besok kamu tidak ke kampus 'kan? Karena besok kan tanggal merah," ungkap Ardi setelah bertekad untuk bertemu Badiah.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Oalah Nisa ... Nisa ... aya aya wae pengen ditembak ala-ala anak muda🤣...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2