
"Pak, es oyen empat, bungkus ya," ucap Benny setelah berdiri di samping gerobak pedagang es buah cukup terkenal di Surabaya.
Cuaca panas seperti saat ini sangatlah cocok menikmati es oyen yang banyak dijumpai di Surabaya. Campuran alpukat, kelapa muda, kental manis dan beberapa pelengkap lainnya siap menyegarkan tenggorokan di siang hari. Setelah menikah, setiap jam makan siang Benny selalu menyempatkan makan di rumah bersama anak dan istrinya. Membawa buah tangan saat pulang, tentu membuat Fina merasa bahagia.
"Monggo, Mas. Semuanya tiga puluh ribu," ucap pedagang es oyen sambil memberikan kantong kresek putih kepada Benny.
"Ini, Pak. Terima kasih," ucap Benny setelah menyerahkan uang pembayaran es tersebut.
Mobil putih yang dikendarai Benny melaju di jalanan kota yang cukup ramai. Setelah berada di jalan selama beberapa puluh menit, akhirnya dia sampai di rumah. Mantan duda itu segera masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong berisi minuman favorit istrinya.
"Assalamualaikum. Sayang ... Elza," ujar Benny setelah sampai di ruang keluarga.
"Maaf, Pak. Bu Fina ada di atas," ucap Jumiatin yang tak lain adalah ART harian yang bekerja di sana. Kebetulan saat itu Jumiatin sedang mempersiapkan makan siang di ruang makan.
"Oh, terima kasih, Mak. Ini ada es untuk Emak," ucap Benny seraya memberikan satu bungkus es untuk wanita empat puluh lima tahun itu.
Benny bergegas naik ke lantai dua. Dia tahu jika di siang hari, Fina pasti sedang menemani Elza di kamar. Setelah menapaki satu persatu undakan tangga itu, akhirnya dia sampai di depan kamar putranya. Bertepatan dengan itu, pintu kamar terbuka. Fina keluar dari sana dan terkejut setelah melihat kehadiran suaminya.
"Aku bawa es oyen, Sayang," ucap Benny dengan wajah ceria. Namun, keceriaan itu hilang begitu saja ketika melihat wajah sembab istrinya, "ada apa? Apa yang membuatmu menangis? Apakah ada masalah?" cecar Benny seraya menatap lekat wajah cantik istrinya.
"Hah? Masa sih?" Fina belum tahu bagaimana wajahnya saat ini, dia mencoba meraba matanya, "emmm ... mungkin terlalu lama tidur kali, Mas," kilah Fina karena dia tidak mau Benny mengetahui semua ini.
"Bohong! Pasti ada sesuatu yang sedang kamu tutupi!" Benny tidak percaya dengan alasan sang istri.
"Kalau begitu ayo kita minum es oyennya sambil bicara." Benny meraih tangan Fina dan membawa istri cantiknya itu kembali ke ruang keluarga yang ada di bawah.
__ADS_1
Fina berlalu menuju dapur mengambil mangkuk untuk es oyen dari suaminya. Dia menghempaskan diri di sofa setelah meletakkan dua mangkok tersebut di atas meja, "monggo, Mas," ucap Fina sambil menyerahkan mangkuk berisi es oyen tersebut kepada Benny.
"Ada apa?" tanya Benny lagi, "jangan dipendam sendiri, karena aku tidak akan tahu jika kamu tidak bicara denganku, Sayang," desak Benny seraya meraih tangan istrinya itu.
"Aku tadi ke rumah ibu sama Elza. Terus di sana ...."
Fina akhirnya menceritakan bagaimana kejadian saat berada di rumah mertuanya. Kejadian sepele yang berhasil membuatnya menangis pilu saat menemani Elza tidur. Benny meletakkan mangkuk tersebut di atas meja dan setelah itu meraih tubuh ramping itu ke dalam rangkulan hangatnya. Beberapa kali Benny mengecup puncak rambut sang istri sambil mendengarkan keluh kesah istrinya itu.
"Sabar ya. Dita memang anaknya seperti itu. Suaranya keras, ceplas ceplos kalau bicara. Tapi setelah selesai mungkin dia sudah lupa dengan yang dia ucapkan. Jangan diambil hati," tutur Benny sambil membelai rambut sang istri.
"Tapi aku takut, Mas. Hanya kesalahan kecil saja aku dimaki sama dia. Astagfirullah," gumam Fina sambil mengeratkan tubuhnya, "seharusnya bicara baik-baik kan bisa, Mas. Jangan marah ke Elza apalagi sampai menghardikku di depan ibu dan Elza," lanjut Fina.
"Nanti akan aku tegur dia kalau ketemu," ucap Benny agar Fina lebih tenang, "lebih baik sekarang tidak usah memikirkan Dita. Biarkan saja," lanjut Benny.
"Jangan! lebih baik Mas diam saja. Jangan sampai membahas perkara ini dengan Dita agar tidak semakin runyam," sergah Fina seraya menatap wajah suaminya itu.
"Tidak, Sayang. Kamu adalah ibu yang terbaik untuk Elza. Semua yang sudah kamu lakukan membawa perubahan besar kepada Elza. Dia semakin disiplin dan tentunya terkendali. Sebaiknya kamu fokus pada rumah tangga kita saja, tidak perlu memikirkan masalah dengan Dita ataupun yang lainnya," tutur Benny seraya membenarkan helaian rambut yang menutupi kening sang istri.
Serangkaian kata penyejuk hati terdengar di sana. Benny tak henti memberikan nasihat kepada Fina. Mereka berdua berbicara dari hati ke hati sambil menikmati segarnya es oyen di tengah cuaca panas. Beberapa puluh menit kemudian, mereka berdua melanjutkan makan siang tanpa Elza, karena bocah kecil itu sedang tidur siang.
"Aku berangkat dulu, Sayang. Jangan lupa istirahat," ucap Benny sebelum mendaratkan kecupan mesra di kening Fina. Seusai makan siang, Benny memutuskan langsung kembali ke tempat kerja.
"Hati-hati, Mas. Kalau pulang malam jangan lupa kabari aku," ucap Fina saat mengantar suaminya itu hingga di depan teras rumah.
Mobil putih yang dikendarai Benny mulai meninggalkan halaman luas rumah megah itu. Suara klakson terdengar satu kali, sebuah tanda pamit dari Benny. Mantan duda itu mengarahkan setir mobilnya ke arah orang tuanya karena harus bertemu dengan Dita. Dia harus membicarakan masalah ini agar tidak ada kesalahpahaman di antara istri dan adiknya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Benny setelah masuk ke dalam rumah orang tuanya. Dia baru saja sampai di sana setelah menghabiskan waktu beberapa puluh menit lamanya.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Mas? Tumben?" Bertepatan dengan itu muncullah Dita dari dapur. Dia membawa segelas susu cokelat di tangannya.
"Kebetulan sekali aku ketemu kamu. Ada yang. mau aku bicarakan sama kamu," ucap Benny seraya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Ada masalah penting kah?" tanya anak bungsu Sukirman itu.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memberitahumu saja, jika bicara dengan Mbak mu jangan seperti itu. Dia itu biasanya kalem, bukan bar-bar sepertimu." Benny memberi peringatan kepada adiknya.
"Oh, ngadu ke kamu toh, Mas!" jawab Dita dengan entengnya, "Kamu kan udah tahu toh, Mas, bagaimana aku? Tadi aku emosi maka dari itu gak kontrol waktu ngomong sama Mbak," jawab Dita.
"Kalau bukan karena matanya yang sembab, aku juga gak tahu masalah ini. Awalnya dia gak mau ngaku tapi setelah aku desak akhirnya dia mau cerita. Lain kali jangan seperti itu, Dit. Kalau bicara itu dijaga, jangan sampai menyakiti hati orang lain. Apalagi jika sampai hubungan persaudaraan renggang karena masalah sepele. Fina itu belum tahu bagaimana karaktermu, lagi pula kamu juga seharusnya lebih sopan karena Fina itu istriku. Jangan sampai diulangi lagi. Apalagi kamu menyalahkan cara dia mendidik Elza, karena bagiku cara dia mendidik Elza sudah benar," tutur Benny kepada adiknya itu.
"Kalau kamu dan Fina tidak bisa rukun, Ibu dan Bapak yang sedih. Kamu ini sudah dewasa loh! Seharusnya berubah." Tatapan Benny terlihat tidak suka kepada adiknya itu.
"Ck. Masalah gini aja diperpanjang." Dita berdecak kesal setelah mendengar tausiah panjang dari kakaknya itu.
Benny geram sendiri melihat respon Dita. Dari dulu hingga sekarang Dita tak juga berubah. Kalau bicara kurang hati-hati dan parahnya dia tidak sadar jika sudah menyakiti perasaan orang lain. Jika belum paham bagaimana karakternya, maka bisa dipastikan akan murka setelah mendengar ucapannya.
"Kapan-kapan aku minta maaf deh ke Mbak. Kalau sekarang, pasti dia masih takut sama aku," ucap Dita dengan entengnya.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Karakter seperti Dita ini ada loh😆Kalau di sekitar kalian ada gak?🤣...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...