Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Nikah Siri?


__ADS_3

Beberapa hari semenjak Benny menyatakan perasaannya telah berlalu. Hari demi hari dilalui Fina dengan perasaan yang tak karuan. Dia terus berusaha menghindari Benny karena belum siap jika harus membahas masalah serius yang menyangkut perasaannya. Bisa dikatakan jika Fina masih bersikap dingin dan menjaga jarak dengan duda tampan itu. Meski terkadang Elza sudah berusaha membantu kedekatan mereka.


"Kenapa sekarang Mbak Fina jarang tersenyum?" tanya Elza seraya menatap Fina yang sedang merapikan sabuk latihannya.


"Mbak selalu tersenyum kepada Elza, kapan Mbak pernah murung, hmm." Fina mengembangkan senyum tipis saat menatap Elza sekilas.


"Tapi kalau sama papa kok enggak. Aku lihat Mbak selalu cemberut di hadapan Papa," protes bocah kecil itu.


"Sebaiknya Elza fokus latihan saja, karena besok kan sudah mulai pertandingan. Tidak usah memikirkan urusan orang dewasa. Oke?" tutur Fina seraya mengusap kepala Elza, "ingat nasihat kang Aris, harus fokus, fokus dan fokus biar bisa mengalahkan musuh." Fina kembali mengingatkan Elza tentang hal penting yang sering kali disampaikan oleh Aris.


"Tapi Mbak Fina mau kan jadi Mamaku? Mau ya!" Lagi dan lagi Elza melayangkan pertanyaan ini kepada Fina. Tentu pengasuh Elzayin itu semakin pusing. Dia seperti diteror dua orang yang berbeda dan tentunya sampai saat ini, dia tidak tahu bagaimana jawabannya.


Ketika hati dan pikiran tak sejalan, maka akan ada persimpangan yang membuat bimbang.


"Ayo kita latihan!" ajak Fina setelah semuanya sudah siap. Gadis itu memilih untuk bungkam daripada salah menjawab.


Elza mengikuti langkah Fina keluar menuju teras. Ternyata Aris sudah menunggu di teras rumah. Kali ini pemuda berwajah manis itu datang seorang diri, karena latihan kali ini hanya untuk pematangan saja.


"Assalamualaikum," Sapa Fina dan Elza setelah berdiri di hadapan Aris.


"Waalaikumsalam. Bagaimana? Elza sudah siap latihan?" tanya Aris seraya menatap Elza dengan lekat.


"Siap, Kang!" Elza tampak bersemangat saat menjawab pertanyaan pelatihnya itu.


Sementara Fina tampak murung dan tidak bersemangat. Dia duduk di teras rumah sambil bersandar di pilar yang menjulang tinggi itu. Tatapan matanya tak lepas dari Elza dan Aris yang sedang berlatih tak jauh darinya. Gadis itu terus mengamati gerak-gerik Aris sambil memikirkan masalah yang dihadapinya akhir-akhir ini.


Fina sendiri bingung harus bagaimana, karena memilih Benny adalah yang sangat berat untuk dilakukan. Akan tetapi setiap melihat Elza, rasanya dia tidak sanggup untuk menolak perasaan cinta yang diucapkan duda satu anak itu.


"Tidak. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus bicara dengan kang Aris," gumam Fina setelah pikirannya teringat akan komitmen yang diucapkan Aris kepadanya kala itu.

__ADS_1


Selama beberapa hari ini, Benny menunjukkan perhatiannya kepada Fina. Duda tampan itu terus berusaha meyakinkan Fina jika dirinya layak untuk menjadi suami gadis berhijab tersebut, meski terkadang apa yang dilakukannya sering diabaikan Fina. Rumah yang biasa terasa nyaman bagi gadis tersebut, sekarang telah berubah suasana. Fina benar-benar tidak nyaman berada di sana.


"Hei. Kenapa terus melamun?" tanya Aris setelah latihan selesai. Sepanjang latihan malam ini, Aris pun terus mengawasi Fina dari jauh. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap gadis impiannya itu.


"El, bisa masuk sebentar gak? Mbak Fina ingin bicara dengan Kang Aris sebentar," ucap Fina seraya menatap anak asuhnya penuh harap.


"Ya ... waktu Mbak Fina bicara sama papa, aku disuruh pergi, sekarang Mbak Fina bicara sama kang Aris, aku disuruh masuk. Memangnya apa sih yang dibicarakan orang dewasa! Kenapa aku tidak boleh mendengarkan!" protes bocah kecil itu sambil menatap Fina.


"Suatu saat jika Elza sudah dewasa pasti tahu. Sekarang Elza masuk sebentar ya. Mbak Fina mau bicara sama kang Aris. Please," ucap Fina dengan suara yang lirih.


"Orang dewasa memang ribet! Aku gak mau jadi orang dewasa kalau begitu. Aku mau jadi anak kecil aja!" ujar Elza sebelum pergi meninggalkan pengasuhnya itu. Dia masuk ke dalam rumah.


Aris semakin penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi gadis pujaannya itu. Dia tahu jika Fina sedang memendam masalah besar dalam hidupnya. Semua bisa terlihat dari sorot matanya.


"Ada apa?" tanya Aris setelah duduk di samping Fina dengan jarak beberapa centimeter saja.


Fina menundukkan kepala sementara tangan kanannya menopang kening. Gadis itu tak segera menjawab karena bingung harus dari mana dia mengawali cerita tentang masalahnya.


"Ada masalah yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini," jawab Fina dengan suara yang lirih.


"Katakan saja. Jika kamu hanya diam, aku tidak akan tahu apa yang membuatmu seperti ini," ucap Aris tanpa melepaskan pandangan dari ciptaan Tuhan yang indah itu.


Fina menegakkan tubuhnya. lantas dia beralih menatap Aris dengan lekat. Tatapan keduanya saling bersirobok untuk menyelami perasaan yang ada di sana, "bisakah kita menikah secepatnya?" tanya Fina dengan serius.


Tentu Aris terkejut setelah mendengar pertanyaan itu. Dia mencoba berpikir untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan itu. Tentu dia tidak siap jika harus menikah dalam waktu dekat, mengingat dirinya mulai memasuki semester akhir. Lagi pula dia belum memiliki biaya yang cukup untuk melamar gadis yang ada di hadapannya itu.


"Aku tidak salah dengar 'kan Fin?" Aris meyakinkan apa yang baru saja didengarnya.


"Tidak. Saya serius, Kang," tegas Fina dengan sorot mata yang terlihat serius.

__ADS_1


"Kenapa harus secepatnya? Bukankah aku sudah mengatakan jika aku melamarmu setelah lulus S2? Lalu kenapa sekarang harus buru-buru? Apa kamu tidak percaya denganku, Fin?" cecar Aris.


"Bukan seperti itu, Kang. Ada alasan lain yang membuat saya ingin Kang Aris meresmikan hubungan kita," sanggah Fina dengan suara yang bergetar.


"Lalu apa?" Aris semakin bingung dibuatnya.


"Pak Benny ternyata memiliki perasaan kepada saya ...." Akhirnya Fina menceritakan semua yang terjadi di antara dirinya dan sang majikan.


Lagi dan lagi Aris dikejutkan dengan kabar yang disampaikan oleh gadis pujaannya itu. Tangannya terkepal karena tidak terima dengan keputusan Benny, "sudah aku katakan bukan, jika pak Benny suka denganmu. Kamu saja yang tidak tahu jika beliau memiliki niat lain dibalik kebaikannya," ujar Aris setelah menghempaskan napasnya yang berat.


"Maka dari itu, mari kita menikah, Kang! Meskipun saya tidak pernah menjanjikan apapun dengan Kang Aris, tetapi saya tidak siap jika harus menikah dengan beliau." Suara Fina mulai meninggi.


"Kamu bisa menolaknya, Fin!" sergah Aris dengan tegas.


"Menolak tanpa alasan dan diikuti bukti yang kuat tidak berarti bagi beliau. Saya tidak sanggup, karena Elza pun meminta hal yang sama. Kang Aris tahu bukan jika saya sangat menyayangi Elza. Saya tidak sanggup jika melihat dia kecewa," jelas Fina dengan suara yang cukup tinggi.


Aris memejamkan mata serta helaian napasnya terdengar berat setelah mendengar penjelasan Fina. Dia tidak tahu harus bagaimana karena satu hal yang pasti, dia belum ada biaya meski hanya sekadar untuk melamar gadis pujaannya itu, "bagaimana kalau untuk sementara waktu kita nikah siri dulu?" usul Aris tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Dia hanya takut jika Benny benar-benar mengambil Fina darinya. Mengingat duda tampan itu memiliki banyak kelebihan daripada dirinya.


"Jangan harap kamu bisa melakukan itu! Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi!" Tiba-tiba saja Benny muncul dari balik pintu ruang tamu.


...🌹To Be Continue 🌹...


...Wah wah wah πŸ˜‚ dah mulai masuk konflik hati nih😍...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Hallo ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😍Yuk kepoin karya author Dhevy Yuliana dengan judul (Bukan) Anak Di Luar Nikah. Jangan sampai ketinggalan yak❀️...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2