
Butuh waktu dua hari untuk mengurus segala hal yang terjadi selama di Jakarta. Berkat bantuan Johan dan temannya, Benny bisa mengambil barang senilai delapan ratus juta itu kembali ke Surabaya. Ayah dua anak itu sendirian di Jakarta karena kedua pendampingnya ikut pulang mengawal barang tersebut agar sampai tujuan dengan selamat. Tentu Benny tidak seceroboh itu dalam mengirim barang. Dia rela menyewa polisi agar mengawal barang tersebut sampai di Surabaya. Entah berapa ratus juta yang dikeluarkan ayah dua anak itu dalam hal ini. Setidaknya dia masih bisa menyelamatkan delapan ratus juta meski harus kehilangan seratus juta dalam mengurus kelancaran semua ini.
"Terima kasih atas semua bantuanmu, Jo," ucap Benny seraya menatap pemuda bertubuh gagah itu. Mereka berdua sedang menikmati malam di salah satu cafe outdoor yang ada di Jakarta Selatan.
"Tidak perlu berterima kasih, Bang. Selagi saya mampu membantu, pasti saya akan melakukannya," jawab Ardi setelah mengepulkan asap rokok elektrik di udara.
"Lalu bagaimana dengan pria bernama Gatot kemarin?" tanya Johan setelah teringat tentang pria berusia tiga puluh lima tahun yang masih mendekam di tahanan polda.
"Biarkan saja dulu sampai barangku sampai di Surabaya," jawab Benny dengan santainya.
"Abang tidak mau naik ke pengadilan agar dia jera?" Johan mengangkat cangkir berisi cappuccino late miliknya.
"Tidak perlu. Setelah barangku sampai aku akan mencabut laporannya. Setidaknya tidak ada yang mengganggu pengirimanku. Lagi pula hanya buang-buang duit jika kasus ini terus berlanjut. Paling dia dipenjara beberapa tahun saja, itu pun nanti dapat remisi. Kali ini dia aku loloskan saja, kasihan dia juga punya keluarga. Kalau dia sampai mengulang untuk yang kedua kalinya, aku tidak tinggal diam," jelas Benny panjang lebar mengenai rencananya.
"Seharusnya kalau bergelut di dunia bisnis tidak perlu terlalu memakai hati, Bang. Orang seperti dia pasti akan mengulang kesalahan yang kedua kalinya. Mungkin kalau bukan Abang sasaran, ya orang lain. Terkadang kita perlu bersikap tegas agar tidak diremehkan orang lain, Bang." Johan memberikan pendapatnya mengenai masalah ini.
Benny hanya tersenyum tipis mendengar pendapat dari Johan. Dia menyulut rokok dan mengepulkan asapnya terlebih dahulu, sebelum menjawab pendapat tersebut. Tak lupa ayah dua anak itu menyeruput kopi arabica yang dia pesan.
"Mungkin jika kasus ini menimpaku dulu sebelum aku menikah dengan istriku, aku akan melakukan tindakan tegas, bahkan cenderung ke arah menyakiti. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, setelah aku hidup bersama istriku ... semua kebiasaanku berubah total. Dia sudah membuatku menjadi sosok yang lebih baik. Terkadang aku sendiri sampai heran, kok bisa gitu aku berubah seperti ini. Padahal dulu hidupku kacau banget." Benny mengungkapkan hal ini dengan senyum manis. Entah mengapa tiba-tiba saja dia seperti berhadapan dengan Fina yang sedang tersenyum.
__ADS_1
Ardi hanya bisa manggut-manggut setelah mendengar penuturan panjang yang disampaikan oleh Benny. Dia mendadak teringat wajah cantik gadis desa yang sudah mencuri hatinya. Ya, mungkin Nisa pun tak jauh beda dengan Fina.
"Berarti benar kata orang, jika pasangan kita bisa mempengaruhi perubahan dalam diri kita ya, Bang," gumam Johan dengan pandangan lurus ke depan.
"Ya, memang benar seperti itu. Terkadang pasangan bisa mempengaruhi perubahan dalam diri kita. Aku pernah memiliki kekasih yang gak karuan tingkah lakunya, aku pun terpengaruh. Aku acuh pada anakku, bahkan terkesan tak peduli. Akan tetapi setelah Fina hadir di rumahku, perlahan dia membawa dampak positif bagi aku dan anakku."
"Dulu anak pertamaku sangat liar, tidak ada yang bisa menaklukkan dia. Bahkan aku sendiri tidak yakin anakku bisa hidup normal. Akan tetapi semua itu tidak berlaku bagi Fina. Dia yang bisa menaklukkan keliaran anakku. Dia pawangnya Elza. Sebelum aku, Elza dulu yang mencintai Fina. Dari situ aku tertarik untuk mengenal Fina lebih jauh, ternyata dia menyimpan banyak cinta dan kebaikan yang bisa membuatku takluk juga. Dia pengasuhh idaman untuk aku dan anakku."
Benny terus tersenyum saat menceritakan bagaimana sesungguhnya Fina. Entah mengapa, dia merasa nyaman saja menceritakan semua ini kepada Johan. Dia sangat bangga memiliki Fina dalam hidupnya.
"Tunggu, Bang. Aku jadi bingung deh. Jadi anak pertama Abang bukan sama Mbak Fina?" Johan mengernyitkan keningnya.
"Statusku saat menikah dengan Fina adalah duda anak satu. Istri pertamaku meninggal karena terkena kanker. Aku mengenal Fina karena dia jadi pengasuh putraku. Dia bekerja keras karena saat itu perekonomian keluarganya sedang terpuruk. Dia butuh pekerjaan untuk membiayai sekolah Nisa," jelas Benny hingga membuat Johan termangu.
"Andai saja Nisa belum dijodohkan dengan anak dari sahabat mertua, pasti aku menyarankan kamu untuk bersamanya. Dia gadis yang baik dan tak jauh beda dengan Fina. Cuma dia lebih keras kepala dari istriku," ucap Benny seraya menatap Johan.
"Dijodohkan? Sama siapa, Bang?" Tentu Johan terkejut setelah mendengar ucapan Benny.
"Aku juga tidak tahu pastinya. Akan tetapi beberapa bulan yang lalu ada sahabat mertua yang datang meminta Nisa. Akan tetapi sepertinya perjodohan tidak semulus itu sih. Mertua dan Nisa sempat berseteru. Aku juga tidak bertanya lebih lanjut bagaimana ceritanya karena ... eh tunggu!" Benny menghentikan ucapannya setelah teringat cerita yang disampaikan Fina beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Dulu kata istriku Nisa dijodohkan dengan Ardi. Itu berarti kamu 'kan orangnya?" tunjuk Benny ke arah Johan.
Johan bernapas lega setelah tahu jika yang dimaksud Benny adalah dirinya. Dia takut jika tiba-tiba Badiah menjodohkan Nisa dengan orang lain. Pemuda itu menyesap rokoknya sebelum menjawab pertanyaan Benny.
"Iya. Orang tuaku memang sudah menemui bu Bad. Akan tetapi beliau sepertinya kurang suka dengan pekerjaanku karena dianggap bisa membahayakan Nisa. Padahal aku ingin menikah dengan Nisa, tetapi Bu Bad ingin dia lulus kuliah dulu," jelas Johan dengan tatapan lurus ke depan.
"Ya sekarang lamaran saja dulu, nikahnya nanti nunggu Nisa lulus kuliah. Kamu harus meluluhkan hatinya Ibu, Jo. Beliau orangnya sangat baik dan berhati lembut sebenarnya. Bahkan, aku akui ibuku sendiri sangat berbeda dengan beliau. Cuma sekarang bagaimana caramu saja meyakinkan Ibu. Lagi pula sepetinya kamu juga tidak bisa membawa Nisa ke Jakarta, ibu sendirian di rumah," jelas Benny seraya menatap lekat pemuda yang ada di hadapannya.
"Kalau menurut Abang saya harus bagaimana?" tanya Johan dengan sorot mata penuh harap.
Benny tak segera menjawab pertanyaan itu. Dia sedang memikirkan bagaimana solusi atas kerumitan hubungan Johan dan Nisa. Baginya masalah restu adalah yang paling berat dalam sebuah hubungan. Apalagi hubungan pernikahan yang akan dijalani seumur hidup.
"Kalau menurutku, kamu jangan terlalu buru-buru. Ini kalau bisa ya, cari dinas yang ada di Mojokerto atau sekitar Surabaya, karena dengan begitu kamu tetap bisa dekat dengan Ibu dan Nisa. Tunggulah sampai Nisa lulus. Gak lama juga kan? Sambil menunggu, kamu juga harus meningkatkan progres pekerjaanmu saat ini," tutur Benny seraya menatap lekat pemuda yang sedang dilanda keresahan itu.
Saran yang disampaikan Benny tidaklah salah. Johan merenungkan tutur kata pria berpengalaman yang ada di hadapannya saat ini. Tentu jika dibandingkan dengan dia, jam terbang mengenai asmara kalah jauh dari mantan casanova dari Surabaya itu.
"Terima kasih atas sarannya, Bang. Nanti coba aku pikirkan lagi," ucap Johan setelah beberapa saat lamanya termenung.
...πΉTo Be Continued πΉ...
__ADS_1
...Dikasih restu gak nih? Kasih gak ???...
...π·π·π·π·π·π·...