
Liburan penuh kebahagiaan telah usai. Setelah melewati hari minggu yang melelahkan seusai family gathering, kini semua orang menyambut hari senin dengan penuh senyum ceria. Sama halnya dengan Fina, sejak pagi dia sudah bersiap karena hari ini Benny akan mengajaknya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli segala kebutuhan gadis itu untuk seserahan.
"Pa, nanti aku beli mainan ya," ucap Elza setelah menghabiskan segelas susu cokelat.
"Elza di rumah saja ya sama Uti. Nanti tangannya sakit lagi kalau kecapekan," tutur Benny seraya menatap putranya.
"Enggak mau! Aku mau ikut! Aku enggak sakit!" tolak Elza dengan tegas.
"Ya sudah tapi harus duduk di stroller traveling ya! Harus nurut sama Papa!" ujar Benny seraya menatap putranya.
"Ya ... aku seperti adek bayi dong, Pa! Aku kan sudah besar," jawabnya dengan bibir yang mengerucut.
"Sayang. Duduk di stroller itu bukan berarti adek bayi. Elza kan punya yang biasa dipakai waktu pergi ke mall dulu. Jadi, Elza gak perlu capek berjalan, oke?" Fina membantu menjelaskan maksud Benny kepada bocah kecil itu.
"Oke, Ma. Aku mau," jawab Elza dengan senyum yang manis. Kalau pawangnya yang bicara, pasti bocah kecil itu tidak akan menolak.
Setelah sarapan selesai, mereka bertiga berangkat menuju pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Seharusnya Ani ikut hari ini, tetapi karena ada acara keluarga yang mendadak, wanita paruh baya itu menyerahkan segala urusan seserahan kepada Benny. Lagi pula putranya itu pun sudah paham apa saja yang harus dibeli untuk Fina.
Mobil hitam yang dikendarai Benny akhirnya sampai di basement mall yang menjadi tempat tujuan duda tampan itu. Setelah keluar dari mobil, dia segera mempersiapkan kereta dorong untuk putranya. Tak lama setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mall tersebut.
"Sebaiknya kita beli alat make-up dulu," ucap Benny ketika melihat counter kosmetik. Dia mengajak Fina ke sana untuk memilih apa saja yang dibutuhkan.
"Fin, kamu mau beli makeup merk apa?" tanya Benny setelah masuk ke dalam counter tersebut.
"Terserah Bapak saja deh. Saya jarang makeup, jadi tidak tahu apa saja peralatannya," jawab Fina dengan suara yang lirih.
Tanpa banyak bertanya lagi, Benny menghampiri salah satu SPG produk kosmetik ternama di Indonesia. Dia memesan satu paket perlengkapan makeup dari produk tersebut. Setelah menunggu beberapa menit di sana, akhirnya Benny mendapatkan semua peralatan makeup untuk Fina.
"Ayo kita pergi mencari yang lain," ajak Benny setelah keluar dari counter kosmetik. Dia mengajak Fina dan Elza masuk ke dalam ruko yang menjual khusus pakaian tidur dan segala perlengkapan dalam.
__ADS_1
"Sebaiknya Bapak nunggu di luar deh, saya malu kalau Bapak ikut memilih," ucap Fina tanpa berani menatap Benny.
"Sudahlah, gak perlu malu. Kita bagi tugas saja biar cepat karena masih banyak barang yang harus kita beli," ucap Benny.
Pada akhirnya gadis cantik itu mengikuti ide yang disampaikan oleh Benny. Dia memilih pakaian inti sedangkan Benny memilihkan handuk dan beberapa barang lainnya. Hingga beberapa puluh menit lamanya mereka pun selesai belanja di sana. Beberapa paperbag pun ada dalam genggaman tangan duda tampan itu.
Kegiatan itu pun terus berlanjut sampai pada akhirnya mereka mendapatkan semua barang untuk seserahan. Tas, sepatu, high heel, peralatan sholat, bed cover, kebaya, kain dan segala perlengkapan lainnya telah didapatkan. Kini, tinggal masuk ke gerai jewelry untuk memesan cincin tunangan.
"Fin, kamu di sini saja bersama Elza ya. Pilih saja cincin yang kamu suka. Aku mau menaruh semua barang ini di mobil dulu," ucap Benny setelah sampai di dalam gerai, "Mbak, tolong layani dia dengan baik," ucap Benny seraya menatap SPG yang bekerja di sana.
"Jangan lama-lama," ucap Fina sebelum Benny pergi meninggalkannya.
Gadis itu pun membawa Elza mengikuti SPG tersebut sampai pada deretan display cincin yang terlihat berkilau. Fina sendiri sampai bingung harus memilih yang mana, padahal SPG tersebut sudah membantunya untuk memilih cincin tunangan.
"Hai Elza," sapa seorang wanita yang ada di belakang Fina. Tentu gadis itu pun segera menoleh ke belakang untuk melihat siapakah yang menyapa Elza.
"Mbak Renata," gumam Fina setelah tahu siapa yang sedang berdiri di belakangnya.
"Iya, sebentar lagi kami akan tunangan, insyaallah akhir bulan ini," jawab Fina dengan sikap yang sopan meski sedikit terganggu dengan kehadiran biduan cantik itu.
"Hmmm ... memangnya kamu sudah mikir dengan matang kah, kok mau menikah sama duda, anaknya nakal banget lagi," bisik Renata dengan senyum smirk, "sayang banget loh gadis baik-baik seperti kamu dapat bekas banyak orang. Dia juga bekasku loh," lanjutnya dengan suara yang lebih lirih.
"Saya tidak ada masalah dengan itu sih Mbak. Ya jelas lah kalau bekas orang, pak Benny kan memang duda. Jadi, wajarkah kalau memang bekas orang, punya anak lagi. Untuk Elza saya rasa dia bukan anak nakal kok. Tergantung penilaian orang sih kalau itu." Entah keberanian dari mana hingga gadis cantik itu berani menjawab komentar pedas dari Renata.
Fina tersenyum manis dengan tatapan penuh arti ke arah Renata. Dia teringat bagaimana nasihat dari Benny tentang pengganggu hubungannya. Ya, termasuk Renata ini salah satunya.
"Lagi pula saya menikah bukan karena saya yang menawarkan diri, tetapi saya dipilih oleh pak Benny. Mungkin beliau tahu mana emas permata dan mana yang sepuhan," sarkas Fina sambil tersenyum penuh arti.
"Apa katamu?" bentak Renata dengan suara yang meninggi. Dia tidak terima dengan sindiran pedas dari Fina.
__ADS_1
"Tante! Jangan bentak-bentak mamaku! Aku tendang baru tahu rasa ya!" Elza tidak terima melihat tindakan Renata.
Biduan cantik itu mendengus kesal melihat orang-orang yang disayangi mantan kekasihnya itu. Dia segera pergi meninggalkan keduanya tanpa sepatah katapun. Biduan itu kena telak gadis yang dianggapnya masih bau kencur itu.
"Udah dapat cincinnya?" tanya Benny setelah kembali ke gerai tersebut, "jadi yang mana?" Benny menatap Fina penasaran.
"Belum dapat," jawab gadis itu dengan ketus. Dia masih kesal dan moodnya mendadak berubah setelah bertemu dengan Renata.
"Tadi anak tante jahat di sini, Pa! Dia bentak Mama!" Elza mengadukan perihal tentang Renata.
"Siapa?" Benny semakin penasaran.
"Renata," jawab Fina dengan singkat.
Benny menautkan kedua ujung alisnya setelah mendengar nama itu. Dia bisa menebak apa yang sudah dilakukan mantan kekasihnya itu. Pasti dia melayangkan cemoohan kepada Fina, "lupakan masalah dia, sekarang kita fokus memilih cincinnya saja," ucap Benny sambil menepuk bahu Fina.
"Mbak tolong tunjukkan keluaran terbaru," ucap duda tampan itu seraya menatap SPG yang sejak tadi menemani Fina memilih cincin.
Cukup lama mereka berada di sana hingga menemukan cincin yang cocok untuk mereka berdua. Setelah menyelesaikan transaksi, akhirnya mereka bertiga keluar dari sana. Kembali menyusuri pusat perbelanjaan itu untuk mencari barang yang belum lengkap.
"Setelah ini kita mampir ke butik ByKia.id untuk fitting baju. Katanya sih kebayanya sudah selesai. Nanti ditunggu ibu di sana," ucap Benny setelah teringat pesan yang disampaikan oleh Ani.
...πΉTo Be continued πΉ...
...Otewe nihπ€£Siapkan seragam untuk menyambut kedatangan pak Benny di Mojokertoπ€£...
...ββββββββββββββββ...
...Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih π kuy baca karya author Ashire dengan judul Sang Ratu Malam. Jangan sampai gak baca yaπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...