Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Permintaan Benny,


__ADS_3

Langit malam terlihat cerah karena sang dewi malam menunjukkan wujud sempurna, hingga bintang memilih bersembunyi karena kalah dengan pesona sang dewi. Semilir angin semakin menambah syahdunya suasana malam di padepokan tempat Elza dan Fina berlatih bela diri. Hembusan mesra itu menyapa sosok pria yang sedang duduk di depan padepokan tersebut dengan ditemani sebatang rokok untuk mengusir sepi.


Suara dering ponsel beberapa kali membuat lamunan Benny hilang begitu saja. Nama wanita yang menjadi kekasihnya selama ini muncul di layar ponsel itu. Sementara sang pemilik ponsel enggan untuk menerima telfon tersebut.


"Ada apa?" tanya Benny dengan malas setelah dia menerima panggilan itu, "ya, nanti aku jemput setelah Fina dan Elza selesai latihan," ucapnya tanpa rasa semangat, ketika kekasihnya itu meminta dijemput di gedung resepsi, seusai mengisi acara pernikahan di sana.


Benny mulai menjaga jarak dengan Renata agar biduan cantik itu mencari pria lain yang lebih perhatian. Benny masih memikirkan cara yang tepat untuk mengakhiri hubungan tersebut.


"Makin lama si Renata makin bawel aja!" gerutu Benny setelah panggilan tersebut terputus.


Setelah menghabiskan beberapa batang rokok di teras padepokan, Benny memutuskan masuk ke dalam aula. Dia ingin bertemu dengan pelatih Elza untuk membicarakan perihal penting. Tatapan mata duda satu anak itu tertuju kepada Fina yang sedang serius berlatih dan setelah itu dia mengalihkan pandangan ke arah Elza yang sedang dilatih khusus oleh Aris.


"Jadi seperti ini suasana latihan di sini," gumam Benny setelah duduk di lantai yang tak jauh dari tempat latihan. Dia mengamati apa saja yang dilakukan oleh Elza dan Fina di sana.


Duda satu anak itu duduk bersila dengan punggung yang disandarkan di salah satu pilar besar yang ada di sana. Tatapan matanya tak lepas dari sosok gadis cantik yang terlihat serius dengan gerakan yang dipelajari. Namun, tak lama setelah itu, ada pemandangan yang membuat hatinya meradang. Benny melihat Aris datang ke tempat Fina. Pemuda yang dianggap sebagai rival itu sedang membenarkan posisi kuda-kuda gadis idamannya. Tatapan tak suka terlihat jelas dari sorot mata duda anak satu itu karena jarak di antara keduanya sangatlah dekat. Apalagi, Fina tersenyum manis saat menatap Aris sekilas.


"Apa-apaan mereka ini!" batin Benny tanpa melepaskan pandangan dari objek yang membuat hatinya meradang, "sepertinya rencanaku harus dilaksanakan. Jika mereka tetap seperti ini, aku bisa tersingkir," lanjutnya.


Hingga beberapa puluh menit lamanya, Benny masih fokus mengamati latihan itu. Namun, tatapan mata itu harus beralih ketika ada seseorang yang datang dan duduk di sebelahnya. Seorang pria seusia dengan pamannya.


"Mas," sapa pria tersebut yang tak lain adalah ayahnya Aris. Syakur.

__ADS_1


"Iya, Pak. Maaf saya menunggu Elza di sini," ucap Benny dengan sikap yang sangat sopan, karena dia tahu pria yang ada di sampingnya adalah pelatih senior di sini.


"Saya malah senang, Mas. Saya harap Mas Benny terus mendukung Elza. Sayang sekali jika bakatnya tidak tersalurkan," ucap Syakur dengan senyum tipis.


"Sebenarnya saya ingin bicara serius dengan Bapak," ucap Benny sambil mengubah posisinya hingga berhadapan dengan Syakur.


"Monggo, Mas." Syakur mengubah posisinya sambil menatap Benny dengan intens.


Duda satu anak itu akhirnya menyampaikan keinginannya. Dia mau latihan Elza dan Fina dipindahkan di rumah saja dengan mendatangkan pelatih untuk mereka. Benny pasrah siapa saja pelatih yang akan dikirim ke kediamannya.


"Mas, latihan itu kan harus ada beberapa temannya agar bisa diajak praktek ketika selesai materi. Kalau latihan private ya tidak bisa, apalagi treatment untuk Elza ini kan khusus. Ada kebutuhan materi tambahan untuk naik ke pertandingan," jelas Syakur seraya menatap Benny.


"Jika memang seperti itu, Bapak boleh membawa anak-anak yang lain latihan di rumah saya. Halaman saya cukup luas, Pak. Cukup jika dipakai latihan sepuluh orang." Benny masih berusaha agar keinginannya dikabulkan oleh Syakur.


Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah tampan duda satu anak itu. Tentu ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi Syakur untuk memutuskan permintaan tersebut. Dia tak segera menjawab karena memikirkan hal ini terlebih dahulu. Alasan yang diucapkan Benny pun bisa diterima. Tentu sebagai orang tua wajar sekali jika mengkhawatirkan hal itu. Apalagi, Elza masih terlalu kecil dan belum cukup umur bila harus menghadapi peristiwa yang berbahaya.


"Saya boleh saja, Mas. Akan tetapi saya harus bertanya dulu kepada Aris selaku pelatih khusus Elza. Mengingat kita harus menyusun ulang jadwal latihan." Syakur menatap Benny penuh harap saat mengatakan hal itu.


"Ris! Aris!" Setengah berteriak Syakur memanggil putranya yang sedang memberikan arahan kepada Elza, "kemarilah!" ujarnya.


Pemuda dengan postur tinggi dan bentuk tubuh yang padat itu berjalan ke tempat Benny berada. Dia duduk di sana dan setelah itu bersalaman dengan ayah dari Elzayin itu.

__ADS_1


"Ada apa, Yah?" tanya Aris sambil menatap ayahnya.


Syakur menceritakan pembicaraan yang baru saja terjadi bersama Benny. Dia meminta putranya agar menyusun jadwal latihan di kediaman Benny. Meski sulit untuk mencari waktu yang tepat, tetapi Aris menyanggupi permintaan itu. Dia berjanji akan memberikan keputusan secepatnya dan berdalih akan menghubungi Fina jika jadwal selesai disusun.


"Jangan menghubungi Fina. Lebih baik kamu menghubungiku saja," sergah Benny, "catat saja nomorku," ucap Benny dengan tegas dan setelah itu dia menyebutkan berapa nomor ponselnya kepada Aris.


Hingga beberapa menit kemudian pembicaraan itu akhirnya membuahkan hasil yang membuat Benny tersenyum penuh kemenangan. Setelah ini dia bisa memantau putranya di rumah dan tentunya bisa mengawasi Fina dan Aris. Latihan pun akhirnya berakhir tepat pukul sepuluh malam dan mereka akhirnya pamit pulang.


"Saya pulang dulu, Kang," pamit Fina sambil menganggukkan kepala di hadapan Aris. Tentunya dengan diiringi senyum yang sangat manis hingga membuat Benny meradang.


"Ayo, Fin." Benny meraih tangan gadis cantik itu dan tanpa sadar dia menggenggam pergelangan tangannya.


"Pak, tangan saya tolong dilepas, Pak," protes Fina saat berjalan menuju mobil majikannya.


"Oh ya, aku sampai lupa. Maaf, Fin." Benny tersenyum tipis saat mendengar protes dari Fina.


Gadis berhijab itu duduk di kursi belakang karena Elza ingin di sana. Sepertinya dia kelelahan malam ini karena semakin hari latihan semakin berat, mengingat pertandingan tidak lama akan dilaksanakan.


"Mbak Fina aku pengen bobok. Aku ngantuk." Elza merebahkan kepala di atas pangkuan Fina, "aku pengen dengar suara Mbak Fina," pinta putra semata wayang Benny itu.


...🌹To Be Continue 🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2