
"Elza Sayang ... bantu Mama membawa piringnya ke depan dong!" teriak Fina dari dapur.
Tak berselang lama, putra sulung Benny itu datang menghampiri Fina di dapur. Dia membawa piring berisi banana roll yang baru saja selesai dibuat. Beberapa hari terakhir ini Fina lebih suka menghabiskan waktu di dapur dengan segala peralatan pembuatan kue untuk mencoba resep-resep yang dipelajari di internet.
"Ma, aromanya enak banget ini! Kalau bikin lagi dikasih toping cokelat ya, Ma," ujar Elza setelah sampai di ruang keluarga.
"Oke. Lain waktu Mama kasih toping cokelat sesuai permintaan Elza," jawab Fina sambil mengacungkan jempolnya.
"Dedek bayi nya pengen makan apa lagi, Ma? Nanti aku yang akan beli deh," tanya Elza sambil mengusap perut yang terlihat membuncit itu.
Usia kandungan Fina memasuki bulan keempat. Kondisinya cukup sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Wanita cantik itu baru kemarin sore melakukan pemeriksaan di salah satu klinik bersalin yang ada di Surabaya.
"Ah Mama tahu! Pasti Elza mau cari alasan biar bisa naik sepeda ya!" tebak Fina sambil memicingkan mata, "ingat kata Papa, kalau sudah sore tidak boleh main sepeda. Harus di rumah main sama Mama," ucap Fina saat memperingatkan putra sambungnya itu.
"Ya ... Mama gak seru! Padahal aku pengen beli jajan di warungnya bu Mina," ujar Elza seraya mengerucutkan bibirnya karena merasa kecewa.
Bersamaan dengan itu, suara derap kaki terdengar dari ruang tamu. Ternyata Benny baru saja pulang kerja, "assalamualaikum," ucapnya ketika sampai di ruang keluarga. Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari Fina dan Elza.
"Waalaikumsalam," jawab serempak ibu dan anak itu. Mereka tersenyum bahagia setelah melihat kehadiran Benny di sana.
"Pa, coba deh banana roll nya! Ini Mama yang bikin," ucap Elza seraya mendekatkan piring bersisi banana roll itu ke tempat Benny.
"Wah ... sepertinya enak banget ini!" ujar Benny setelah melihat makanan buatan istrinya.
"Pasti dong! Mas mau minum apa? Teh hangat, jus, kopi atau air putih saja?" tawar Fina seraya berdiri dari tempatnya.
"Teh hangat saja, tadi aku habis ngopi di pabrik," jawab Benny seraya mengambil banana roll yang ada di piring.
Fina bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan minuman sesuai dengan permintaan Benny. Meski ada Jumiatin yang menyiapkan segala keperluan di rumah ini, tetapi untuk urusan Benny, tetaplah Fina yang menghandle. Mantan duda itu hanya suka minuman buatan Fina.
__ADS_1
"Astagfirullah," gumam Fina tatkala merasakan remas•n di pinggulnya, "kebiasaan!" ujar Fina setelah merasakan remas•n itu sekali lagi di tempat yang berbeda.
"Seksi banget sih sore ini," bisik Benny sambil mengecup tengkuk Fina karena rambut panjang itu terkuncir kuda.
"Ih! Apaan sih! Nanti kepergok Elza loh!" Fina memberi peringatan kepada suaminya itu.
"Nah gini dong. Gak pakai celdam! Aku suka," bisik Benny setelah meraba bagian tubuh Fina.
"Dasar mesum! Sekarang aku sudah tahu kenapa Mas menyuruhku pakai daster ketika sedang di rumah. Hmmm ternyata alasannya gak jauh dari adonan bayi!" cibir Fina sambil mengaduk teh hangat untuk suaminya.
Benny hanya mengulum senyum setelah mendengar cibiran Fina. Dia tak segera menjawab karena harus kembali ke ruang keluarga setelah mendengar teriakan Elza. Momen romantis yang ingin dibangun harus hilang begitu saja karena salah tempat dan waktu.
"Dasar suami mesum!" gerutu Fina setelah Benny pergi dari dapur.
Tak lama setelah itu, Fina pun kembali ke ruang keluarga untuk memberikan secangkir teh hangat untuk Benny. Dia kembali duduk di tempat semula untuk menemani Elza bermain game.
****
Malam telah hadir setelah sang mentari menggulung langit cerah karena sinarnya. Waktu makan malam akhirnya tiba dan suara dentingan sendok pun terdengar di ruang makan. Ketiga penghuni rumah berlantai dua itu sedang menikmati makan malam bersama.
"Sayang, tolong ambilkan pepaya yang di kulkas dong," pinta Benny setelah melihat Fina telah selesai makan.
"Sebentar, aku mau minum dulu," jawab wanita berbadan dua itu sebelum berdiri.
Tak lama setelah itu, Fina kembali dari dapur dengan membawa piring berisi pepaya merah yang terlihat segar. Wanita berbadan dua itu berdiri di samping Benny saat meletakkan piring tersebut di atas meja.
"Mas!" gumam Fina setelah merasakan tangan Benny menelusup ke dalam daster yang dipakainya. Fina melebarkan mata ke arah Benny dan setelah itu beralih menatap Elza.
"El, tolong ambilkan handphone nya Papa di kamar dong," pinta Benny setelah melihat putranya telah selesai makan. Mantan duda itu tersenyum manis ketika melihat Elza beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
Fina menghela napas yang berat setelah tahu maksud terselubung suaminya itu. Apalagi, setelah merasakan tangan itu kembali menelusup ke dalam daster. Meraba paha mulus hingga sampai pada pusat vulkano yang di tumbuhi rumput tipis.
"Mas! Mesum banget sih!" protes Fina karena mulai merasa resah.
"Bukan mesum, Sayang ... tetapi aku sedang menikmati sensasinya," kilah Benny seraya menatap wajah cantik istrinya, "lebarkan kakimu," ujar Benny dengan tatapan penuh arti.
"Astagfirullah," gumam Fina sambil mengedarkan pandangan untuk memastikan keadaan di sekitar.
Jari telunjuk Benny telah menemukan mainan baru yang ada di pusat vulkano. Dia tersenyum smirk ketika merasakan lava yang mulai keluar dari sana. Namun, aktifitas di balik daster itu harus terhenti ketika derap kaki Elza terdengar saat menuruni tangga.
"Mas, aku inu sedang hamil loh! Kenapa makin mesum begitu sih?" protes Fina setelah duduk di kursi yang ada di samping Benny.
"Semenjak hamil kamu terlihat semakin menggoda. Apalagi, sekarang kamu terlihat semakin berisi. Pinggul dan dada mu selalu menantangku," jawab Benny dengan senyum penuh arti.
"Oh, jadi maksudnya Mas, aku sekarang lebih gendut begitu?" tanya Fina dengan tatapan yang tak lepas dari wajah suaminya.
"Berisi, Sayang. Kamu terlihat semakin cantik jika berisi seperti ini. Setelah melahirkan nanti gak perlu diet, oke," tutur Benny seraya tersenyum manis.
"Gak ah! Nanti Mas lihat yang lebih sexy di luar. Pasti itu tadi bukan pujian, tetapi sindiran 'kan!" tuduh Fina setelah mendengar penuturan suaminya.
Benny mulai merasakan perubahan suasana di sana. Dia belum menyadari jika ucapannya yang menjadi pemicu perubahan ekspresi wajah istrinya. Andai saja waktu bisa diulang kembali, pasti dia akan menarik semua pujian yang sudah dia ucapkan. Padahal, mantan duda itu mengatakan yang sebenarnya, tetapi pembahasan tentang bentuk tubuh memang sangat sensitif bagi wanita hamil.
"Duh salah strategi nih! Pasti setelah ini dia ngambek dan susah untuk dibujuk. Aku harus mencari cara untuk meluluhkan hatinya," batin Benny saat mengamati perubahan ekspresi wajah istrinya.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Aiih misteri di balik daster😆...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1