Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Dunia Serasa Hancur


__ADS_3

Suara lantunan adzan yang dikumandangkan Benny terdengar pilu karena beriringan dengan tangisnya. Pria tiga puluh tiga tahun itu tak kuasa membendung tangis setelah tahu bagaimana kondisi putranya saat ini. Setelah iqomah selesai dikumandangkan, bayi yang ada dalam gendongan bidan itu dikembalikan ke dalam inkubator.


"Tolong berikan yang terbaik untuk anak saya," ucap Benny penuh harap. Dia masih shock setelah mengetahui bagaimana kondisi putranya saat ini.


"Pasti, Pak. Sekarang lebih baik Bapak fokus dengan kesembuhan Bapak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk putra Bapak," ucap bidan tersebut setelah meletakkan bayi mungil itu ke dalam inkubator. Bayi laki-laki yang mirip sekali dengan Fina.


Hingga detik ini bayi yang sudah dilahirkan Fina beberapa puluh menit yang lalu itu belum menangis meski jantungnya masih berdetak. Bayi tersebut masih bernapas normal meski setelah lahir keadaannya sempat mengkhawatirkan. Dokter memperkirakan jika saluran pernapasan bayi tersebut menghirup banyak cairan air ketuban. Setelah ini dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisinya.


Setelah selesai membubuhkan tanda tangan di atas surat persetujuan dari rumah sakit, Benny harus kembali ke IGD untuk mendapatkan perawatan intensif, mengingat luka yang ada di tubuhnya mulai mengering. Tim medis hanya takut jika terlambat menangani luka yang ada di tubuh Benny.


"Ibu," ucap Benny setelah melihat Ani berdiri di depan meja dokter yang ada di IGD.


Wanita paruh baya itu seketika mengalihkan pandangan setelah mendengar suara yang sangat familiar di indera pendengaran. Ani ditemani dengan suami Dita segera menghampiri Benny yang hampir sampai di bilik asal.


"Bagaimana kondisimu, Nak? Istrimu di mana?" cecar Ani seraya menatap putranya dengan air mata yang mengalir deras.


"Fina sudah melahirkan, Bu. Anak kami laki-laki, tapi ...." Benny tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.


"Kenapa, Ben? Katakan!" Ani sepertinya ingin pingsan saat membayangkan hal buruk terjadi kepada cucunya.


"Dia harus mendapatkan perawatan. Tolong temani Fina saja. Aku gak masalah di sini sendiri. Apa Bu Badiah dan Nisa ikut ke sini?" tanya Benny.


"Ya, mereka menunggu di depan bersama seorang pemuda. Elza ada di rumah bersama Dita," jelas Ani sambil mengusap rambut berantakan putranya.


Setelah selesai berbicara, Ani dan Dani keluar dari IGD karena tim medis akan melakukan rangkaian pemeriksaan kepada Benny untuk memastikan kondisi tubuh ayah Elzayin itu. Mungkin akan ada pemeriksaan lengkap dari kepala, tangan dan kaki untuk memastikan tidak ada luka serius di tubuh.


Sementara itu di ruang tunggu yang ada di depan IGD ada Badiah, Nisa dan juga pemuda yang mengantar Benny hingga tiba di rumah sakit ini. Nisa terus bertanya bagaimana kronologi dari kejadian naas yang menimpa kakaknya dan pemuda itu menceritakan semuanya dengan detail.


"Berhubung sudah ada keluarga yang menemani di sini, saya mau pamit pulang. Semua barang-barang korban ada di koper hitam, tetapi mobil yang dikendarai mungkin dibawa polisi ke kantornya," ucap pemuda tersebut setelah menjelaskan kronologi yang menimpa Benny dan Fina.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Mas. Boleh saya minta kontak Mas? Siapa tahu nanti kakak saya butuh untuk menghubungi Mas," cegah Nisa ketika melihat pemuda itu beranjak dari tempatnya.


Nisa segera memberikan ponselnya kepada pemuda tersebut memberikan isyarat agar Nisa menyerahkan ponselnya. Tak lama setelah itu dia mengembalikan ponsel Nisa.


"Ardi," ucap pemuda tersebut setelah Nisa menerima ponselnya.


"Terima kasih sudah menolong anak dan menantu saya, Nak," ucap Badiah saat Ardi bersalaman dengannya.


Ardi hanya mengembangkan senyum tipis sambil menatap Badiah. Lantas, pemuda itu pun pergi dari rumah sakit karena merasa sudah selesai melakukan tugasnya sebagai makhluk sosial. Nisa hanya bisa menatap punggung pemuda itu hingga hilang dari pandangan.


"Bu Bad, ternyata Fina sudah melahirkan. Mari kita lihat bagaimana kondisinya," ucap Ani setelah keluar dari IGD.


"Melahirkan? Lalu bagaimana kondisinya?" Badiah shock mendengar kabar tersebut.


"Saya belum tahu, maka dari itu mari kita lihat, Bu," ajak Ani sambil menepuk bahu besannya itu.


Pada akhirnya keempat anggota keluarga Benny dan Fina itu pergi dari ruang tunggu. Mereka mencari ruangan sesuai dengan arahan perawat yang bertugas di IGD. Perasaan kedua ibu itu tak karuan karena pikiran buruk terus menghantui. Nisa pun memilih ikut masuk ke dalam PONEK bersama Ani dan Badiah. Sementara Dani memilih menunggu di luar karena tidak tega jika melihat Fina kesakitan.


"Fin," gumam Badiah setelah membuka tirai merah yang menutupi bilik tempat Fina berada.


"Ibu." Fina membuka kelopak matanya setelah mendengar suara ibunya di sana.


Tangis wanita yang terlihat lemah itupun akhirnya pecah setelah melihat kehadiran keluarganya di sana. Dia menangis pilu dalam dekapan hangat ibunya untuk mencurahkan segala rasa yang membuncah di dada.


"Aku takut terjadi sesuatu kepada anakku, Bu," gumam Fina dengan napas yang tersengal, "aku belum melihatnya sama sekali karena kata dokter masih diobservasi," jelas Fina hingga membuat Ani dan Badiah saling pandang.


"Keluarga Ibu Fina Imaniyah." Terdengar suara perawat yang bertugas di sana memanggil salah satu keluarga Fina.


"Biar saya saja yang menemui perawatnya," cegah Nisa ketika melihat Ani bersiap pergi dari bilik tersebut, "mungkin ini urusan administrasi, Bu," imbuh gadis berhijab itu.

__ADS_1


Setelah kepergian Nisa dari bilik tersebut, kedua ibu itu berusaha menguatkan Fina. Mereka tak henti memberikan semangat kepada wanita yang terlihat lemah itu agar tidak berpikir buruk. Pada akhirnya Ani pamit untuk menemui perawat karena tidak tega melihat Fina tak henti meminta bertemu dengan bayinya.


"Sabar ya, Nak. Biar Ibu bicara dulu dengan perawatnya. Siapa tahu setelah ini kamu bisa melihat bayimu," pamit Ani sebelum meninggalkan bilik tersebut.


Setelah beberapa puluh menit lamanya berunding bersama perawat, akhirnya Ani kembali ke bilik yang ditempati Fina bersama seorang perawat yang membawa kursi roda.


"Apakah Bu Fina sanggup duduk di kursi roda?" tanya perawat tersebut setelah menyampaikan jika Fina diizinkan untuk melihat putranya dalam batas waktu tertentu.


"Sanggup!" ujar Fina tanpa berpikir panjang. Dia tidak peduli meski rasa nyeri terasa di sekujur tubuhnya.


Semua orang yang ada di sana membantu Fina turun dari bangkar. Beberapa kali wanita itu mendesis saat merasakan sakit di perut dan pusat tubuhnya. Setelah berjuang turun dari bangkar, akhirnya Fina berhasil duduk di kursi roda. Badiah dan Ani mengikuti langka perawat tersebut hingga sampai di ruangan khusus.


"Astagfirullah haladzim," gumam Fina setelah melihat bayi yang ada di dalam inkubator khusus. Air mata mengalir deras setelah tahu ada beberapa alat medis terpasang di tubuh mungil itu.


"Kenapa anak saya harus mendapatkan perawatan seperti ini? Apa yang sedang terjadi? Bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Fina sambil menyentuh inkubator tersebut. Ingin sekali dia meraih tubuh mungil itu, tetapi semua itu tidak mungkin dia lakukan.


Perawat tersebut menatap Ani dan Badiah sebelum menjawab pertanyaan Fina. Tentu perawat tersebut harus memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat setelah mendapatkan kode dari Ani dan Badiah agar tidak memberi tahu keadaan yang sesungguhnya.


"Bayi Ibu menelan banyak air ketuban yang pecah, jadi untuk sementara harus dirawat dulu di sini. Kalau keadaannya sudah membaik, pasti kami akan memindahkan di ruangan yang sama dengan Ibu," jelas perawat tersebut dengan hati-hati.


"Anda tidak berbohong 'kan?" Fina meyakinkan jawaban perawat tersebut karena belum bisa menerima kondisi putranya. Dia hanya bisa menangis saat melihat bayi mungil itu.


"Iya, Bu. Sekarang Ibu harus semangat sembuh. Nanti Ibu pun akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada keadaan yang membahayakan," jelas perawat tersebut.


Waktu yang diberikan perawat tersebut telah habis dan mereka harus keluar dari sana. Hati dan pikiran Fina semakin kacau karena memikirkan buah hati dan juga suaminya. Dunianya seakan hancur atas rangkaian kejadian yang menimpanya hari ini.


"Tolong antar saya ke IGD untuk bertemu suami saya," ucap Fina penuh harap kepada perawat tersebut. Beberapa kali dia memohon kepada kedua ibunya agar bersedia memenuhi permintaannya, "saya ingin melihat langsung bagaimana kondisi Mas Benny," gumamnya dengan suara yang bergetar.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Aduh gak kebayang gimana rasanya jadi Fina😭...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2