Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tidak sesuai Ekspektasi


__ADS_3

Cuaca panas dirasakan semua orang yang ada di kawasan Seminyak Bali, karena matahari sedang menunjukkan kuasanya. Semilir angin berhembus mesra mengiringi cuaca siang itu, hingga sebagian orang memilih untuk bersembunyi di dalam gedung. Tepat seusai makan siang, sepasang pengantin baru itu sampai di Villa yang sudah dipesan sebelumnya. Pertama kali mereka berdua memasuki pintu villa itu, disambut dengan kolam renang mini yang terlihat nyaman karena ada beberapa tanaman hias yang berjajar rapi di sisi kolam.


"Kamu suka dengan tempat ini?" tanya Benny setelah petugas travel pamit undur diri.


"Suka, Mas. Bagus dan nyaman," jawab Fina setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling villa tersebut.


Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga yang menghadap langsung ke kolam renang itu. Tempat ini cocok untuk disewa bagi pengantin baru seperti Benny dan Fina, karena tempat ini tertutup dan nyaman. Tak hanya villa ini saja yang disewakan, tetapi ada banyak villa lainnya yang berjajar rapi di sana dan masing-masing memiliki kolam renang pribadi.


"Mau renang?" tanya Benny seraya menatap Fina.


"Enggak ah, panas. kita istirahat dulu saja, Mas," tolak Fina, mengingat saat ini dia sedang merasa lelah, "di mana kamar kita?" tanya Fina.


"Ada di atas. Mari kita ke sana," ucap Benny seraya meraih tangan Fina. Mereka berdua menapaki satu persatu anak tangga menuju kamar utama.


"Hmmm ... ternyata luas juga," gumam Fina begitu pintu kamar utama dibuka. Dia masuk ke dalam sambil mengamati desain interior kamar tersebut, tak lupa dia membuka pintu kamar mandi untuk memastikan kebersihannya.


"Ternyata ada bathupnya, Mas," ucap Fina setelah keluar dari kamar mandi.


"Ya memang aku sengaja menyewa yang ada bathupnya. Besok kita coba main di sana." Benny menatapnya penuh arti.


"Dasar omes!" sarkas Fina sambil tersenyum tipis. Dia meninggalkan Benny yang masih ada di depan kamar mandi. Wanita cantik itu menghempaskan diri di atas tempat tidur.


"Silahkan tidur siang dulu. Nanti sore kita ke pantai," ucap Benny saat menghampiri Fina.

__ADS_1


Mengumpulkan energi jauh lebih baik saat ini daripada harus melakukan aktivitas, karena waktu masih panjang dan tentunya di saat malam akan membutuhkan energi besar. Gelora cinta di antaranya begitu besar dan tentunya penuh cinta.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Tepat pukul delapan malam waktu indonesia bagian tengah, sepasang suami istri itu sampai di villa, setelah menghabiskan waktu sore di pantai terdekat. Mereka menikmati momen romantis yang tercipta sambil menyaksikan matahari tenggelam.


"Mas, mau dibuatkan kopi kah?" tanya Fina setelah mereka sampai di ruang keluarga.


"Boleh, kopi susu saja," jawab Benny dengan diiringi senyum manis.


Fina segera berlalu menuju dapur minimalis yang tak jauh dari ruang keluarga. Dia membuka kulkas untuk mengambil makanan yang yang tersimpan di sana. Pikiran wanita cantik itu mulai berkelana jauh, menimbang semua hal yang sudah dia pelajari di internet. Dia ingin mempersembahkan yang terbaik, tetapi rasa malu dalam diri masih begitu besar.


"Mas, aku ke atas dulu ya. Mau nge charger hape," pamit Fina setelah meletakkan secangkir kopi dan brownis cokelat lumer untuk Benny.


"Silahkan saja," ucap pria tampan itu.


"Aku harus membuang jauh rasa malu ini. Kalau aku tidak mencoba, seterusnya aku akan malu di hadapan mas Benny. Lalu bagaimana kalau di luar sana banyak yang lebih menggoda? Tidak ... tidak. Ini tidak boleh dibiarkan. Mas Benny adalah pria berpengalaman. Kalau sampai aku tidak memberikan yang terbaik bagaimana?"


Setelah menggerutu sendiri, Fina beranjak dari tempatnya. Malam ini dia bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk Benny. Berbekal pengetahuan dari artikel di internet, Fina mulai menyiapkan penampilannya. Dia segera membuka koper untuk mengambil satu set pakaian seksi yang diinginkan oleh Benny. Dia sempat bingung memilih antara warna merah atau hitam.


"Lebih baik aku pakai yang hitam saja lah," gumam Fina sambil menggenggam satu set pakaian yang katanya kekurangan bahan itu. Wanita cantik itu segera masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa semua perlengkapannya.


Warna hitam yang melekat di tubuh indah itu terlihat kontras dengan warna kulit yang bersih dan mulus milik Fina. Wanita cantik itu bergidik ngeri setelah melihat bagaimana penampilannya di cermin yang ada di sana. Sungguh, Fina merasa risih memakai pakaian serba terbuka itu. Apalagi ditambah dengan penutup bukit tanpa busa yang membuat keindahan puncak yang dia miliki terlihat jelas.

__ADS_1


"Kira-kira Mas Benny suka atau malah jijik ya?" gumam Fina sambil memakai hand body lotion agar tubuhnya harum. Tak lupa dia menyemprotkan parfum terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi. Wajah cantik itupun sudah berhiaskan make-up tipis seperti biasanya.


Gugup. Mungkin itulah yang dirasakan Fina saat ini. Degup jantungnya berdetak tak karuan karena membayangkan bagaimana reaksi Benny nanti. Seusai merapikan tempat tidur, Fina menyalakan lilin aromaterapi di kamar tersebut. Dia mendapat rekomendasi dari internet tentang semua ini. Bertepatan dengan itu, pintu kamar terbuka lebar. Fina sempat terkejut, tetapi setelah tahu siapa yang ada di tengah pintu, di mengembangkan senyumnya.


"Mas," ucapnya dengan suara yang lirih.


Tatapan mata mantan duda itu tak lepas dari objek indah yang ada di sisi meja yang terletak di dekat jendela. Dia menelan ludah melihat mangsa yang menggoda kejantanannya. Sungguh, dia kagum akan ciptaan Tuhan yang semakin dekat dengannya itu.


"Jadi ini yang disebut charger hape? Hmmm, istriku kalau sudah begini bukan lagi solehah, tapi solehot," gumam Benny sambil menatap Fina dari ujung rambut sampai ujung kaki, "semua ini lebih dari ekspektasiku, Sayang," lanjut mantan duda itu sambil tersenyum penuh arti.


"Jadi bagaimana, Mas? Apa kamu suka dengan penampilanku saat ini? Atau malah kamu jijik karena aku terlihat aneh?" tanya Fina. Dia merasa nervous saat ini.


"Kalau bisa setiap malam pakai baju seperti ini. Setelah pulang ke Mojokerto, aku akan mengisi almari dengan pakaian seperti ini. Buang semua piyamamu, Sayang," ucap Benny dengan tangan yang tak henti membelai rambut hitam yang tergerai itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Benny mulai melancarkan aksinya. Menyusuri setiap lekuk indah yang ada di hadapannya. Gelora cinta mulai membara, seperti api yang terkena angin kencang. Tangannya mulai menari-nari di atas puncak bukit teletubbies hingga sang empu mengeluarkan suara manja.


"Bersiaplah, Sayang. Kita akan menghabiskan waktu berharga ini. Aku tidak akan membiarkanmu mencapai puncak hanya sekali saja," bisik Benny seraya menarik tali yang ada di leher tersebut.


Pengalaman yang mumpuni, membuat Benny dengan mudah membawa sang istri terbang jauh menembus sorga. Malam itu, dia mencoba beberapa spot yang ada di kamar. Dia melakukan di atas meja, sofa, di dekat jendela dan berakhir di atas tempat tidur.


"Besok pagi kita akan berendam di bathup berdua, Sayang. Nikmati segala rasa yang ada saat ini," bisik Benny sambil menggigit daun telinga Fina hingga membuat sang empu mencengkram erat rambut tipis itu.


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...

__ADS_1


...Cukup segini aja ya, biar gak terlalu panas๐Ÿคฃ...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2