
Hari bahagia di Mojokerto telah berlalu begitu saja. Satu minggu Nisa dan Johan menjalani hari sebagai pengantin baru. Tak ada hari dilewati tanpa senyum bahagia karena bunga asmara tengah bermekar indah di hati keduanya.
Seperti janji yang pernah diucapkan Benny kepada putranya, hari ini tanpa ada pesta perayaan, Elza dikhitankan seperti permintaannya. Sejak pagi keluarga besar sudah berkumpul untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk tasyakuran nanti sore. Selepas itu, akan ada dokter yang datang untuk melaksanakan khitan.
"Nak, jangan lari-lari. Sebaiknya istirahat saja biar nanti gak kecapekan," tutur Fina ketika melihat Elza bermain bersama Shazia dan Galang, "Shazia ... duduk, Nak!" teriak Fina sambil mengamati apa yang dilakukan oleh anak-anaknya.
"Elza kalau gak nurut Mama, gak usah sunat! Batal saja!" ancam Fina karena Elza tak menghiraukan peringatannya.
"Aku duduk, Ma. Aku duduk!" Langsung saja bocah kelas empat SD itu menghempaskan diri di sofa, "Zia, duduk sini sama adek Galang!" ujar Elza sambil menepuk sofa yang ada di sisinya.
Waktu terus berputar dan langitpun mulai berubah. Siluet jingga terbentang di cakrawala, pertanda tak lama lagi matahari akan kembali ke singgasana. Satu persatu tamu undangan telah hadir memenuhi kediaman megah milik Benny. Ada tenda yang dipasang di halaman rumah karena banyak sekali tamu undangan yang akan hadir. Seorang Ustadz ternama di Surabaya akan mengisi tasyakuran walimatul khitan tersebut. Setelah tamu undangan berkumpul, acara pun dimulai.
"Mari kita mulai dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim acara tasyakuran walimatul khitan ananda Elzayin Rayyan Suherman," ucap Ustadz tersebut.
****
Rasa takut mendadak hadir dalam diri Elza ketika dokter yang akan mengkhitannya tiba di rumah. Dia gelisah karena membayangkan bagaimana proses yang wajib dilakukan oleh anak laki-laki muslim. Dia resah saat membayangkan jarum suntik yang pastinya akan dia rasakan nanti.
"Nak, ayo masuk kamar, pak dokternya sudah siap," ajak Fina saat menghampiri Elza di ruang keluarga.
"Aku mau ikut boleh, Ma?" sahut Shazia.
"Gak boleh!" sergah Elza dengan tegas.
__ADS_1
"Zia ikut Tante sama Om aja ya, kita beli ice cream di depan yuk!" Kali ini Nisa pun harus bertindak agar Shazia tidak memperkeruh keadaan. Sudah bisa dipastikan jika gadis kecil itu akan ikut serta ke dalam kamar jika tak segera dibujuk.
Setelah Shazia aman bersama Nisa, Fina segera membawa Elza ke kamar untuk bersiap. Keringat dingin mulai terasa setelah Elza membaringkan diri di atas tempat tidur. Dia gemetar saat membayangkan betapa sakitnya dikhitan.
"Berhubung sudah ada Papa yang menemani Elza, Mama keluar dulu ya," pamit Fina setelah dokter dan Benny masuk ke dalam kamar.
"Jangan, Ma! Tetap di sini saja karena aku mau ditemani Mama dan Papa," cegah Elza saat melihat Fina beranjak dari tempatnya.
Ada rasa tidak tega jika Fina tetap menemani Elza di kamar ini. Dia tidak sanggup apabila Elza nanti sampai menangis kesakitan karena jarum suntik. Fina hanya bisa menutup kelopak matanya saat proses tersebut berlangsung. Dia tidak tega saat mendengar Elza merintih kesakitan saat obat bius lokal mulai disuntikkan.
"Jagoan Papa harus kuat dong. Gak boleh nangis, oke?" Benny mencoba menghibur putranya agar tidak tegang dan takut.
"Sakit, Pa. Ngilu," keluh Elza.
"Iya, nanti pasti hilang rasa sakitnya," jawab Benny seraya mengusap rambut tipis putranya.
"Kamu tetap cantik dalam situasi apapun. Aku sangat bersyukur memiliki istri sepertimu," batin Benny saat menatap Fina.
...🌼🌼🌼🌼🌼🌼...
Keramaian serta kebersamaan keluarga besar perlahan hilang dari kediaman Benny dan Fina. Baik Badiah ataupun Ani, mereka membawa keluarga masing-masing bertolak dari sana. Tak ada yang menginap di rumah Benny karena masih ada kegiatan di hari esok.
"Sayang, Elza mencari kamu terus tuh. Coba lihat sebentar biar aku yang menjaga Shazia," ucap Benny saat menghampiri Fina di kamar. Sepasang suami istri itu sedang begadang karena harus membagi tugas menjaga kedua anaknya.
__ADS_1
Shazia mendadak demam tinggi seusai acara khitanan. Entah karena kelelahan atau karena salah makan. Satu hal yang pasti, keadaan ini membuat Fina dan Benny sedikit kerepotan. Mengingat, Elza pun mulai rewel karena merasakan panas dan perih di jahitan bekas khitan. Pengaruh obat bius mulai hilang saat tengah malam.
"Ada apa, Nak?" tanya Fina setelah sampai di kamar Elza. Dia duduk di tepian ranjang sambil menatap putranya.
"Perih, Ma. Ini anunya panas," keluh Elza dengan mata yang berembun, "aku gak bisa tidur, Ma," ujar Elza seraya menatap Fina.
"Iya, tahan dulu. Memang sunat rasanya seperti ini, Nak. Besok pasti udah reda rasa sakitnya. Setelah ini minum obat lagi ya. Elza kan anak hebat, jadi pasti bisa dong melewati rasa sakit ini,"
tutur Fina seraya menatap putra sambungnya.
Elza masih merintih kesakitan meski beberapa kali Fina mencoba menenangkan. Dia tidak mau ditinggal Fina karena ingin bermanja bersama ibu sambungnya itu.
"Bagaimana kalau Elza pindah ke kamarnya Mama saja. Adik Zia juga lagi sakit. Bobok bareng di sana saja yuk!" ajak Fina seraya membantu Elza bangkit dari tempat tidur.
Berada dalam satu kamar jauh lebih baik agar mereka berdua bisa memantau Elza dan Shazia tanpa harus mondar-mandir ke kamar yang berbeda. Benny pun harus mengambil matras di kamar sebelah dan ditempatkan di sisi kanan tempat tidurnya, karena tidak mungkin tidur berempat di sana.
"Ma, coba lihat deh Ma itunya. Ada yang salah kali, Ma. Rasanya perih banget loh!" ujar Elza dengan entengnya hingga membuat Benny dan Fina saling pandang.
Ada rasa tidak nyaman dalam diri wanita dua anak itu ketika mendengar permintaan putra sambungnya. Jika dulu masih balita, Fina tak keberatan, bahkan setiap hari dia melihat bentuk original milik Elza. Akan tetapi setelah Elza masuk SD, Fina sudah membiasakan agar Elza mandi ataupun ganti baju sendiri. Setelah beberapa tahun lamanya, tentu dia merasa aneh jika disuruh Elza untuk melihat bentuk yang baru dimodifikasi itu.
"Nak, Mama kan perempuan, jadi Mama tidak mengerti tentang sunat. Biar Papa saja ya yang merawat Elza, Mama nyiapin tempat tidur yang ini," jelas Fina sambil menepuk matras yang sedang dia duduki itu.
Benny hanya mengulum senyum ketika melihat ekspresi wajah istrinya. Andai saja Shazia tidak sakit dan rewel, pasti dia tertawa lepas melihat Fina yang sedang tersenyum kikuk di hadapan Elza.
__ADS_1
"Kalau punya Bapaknya aja ditengok tiap hari tanpa sungkan. Lebih suka yang lebih gede ya?" bisik Benny dengan senyum smirk. Fina pun sampai memukul pahanya dengan keras.
...🌹To Be Continued 🌹...