
Motor yang dikendarai Nisa melaju di jalanan desa menuju kediaman Zulaikah yang ada di depan gang. Emosi wanita cantik itu sudah memuncak di kepala sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Fina tidak terima atas kejahatan yang dilakukan oleh Zulaikah. Selain karena sudah menjadi penyebab Badiah jatuh sakit, dia tidak terima difitnah dengan menumbalkan darah dagingnya sebagai tumbal pesugihan.
"Mbak, mau ngapain sih ke rumah si radar gosip?" tanya Nisa sambil menatap Fina dari kaca spion. Gadis berhijab itu belum tahu jika Fina akan melabrak Zulaikah.
"Jangan banyak tanya. Tambah kecepatan motornya!" ujar Fina dengan ketus.
"Ini orang kesurupan apa sih!" gerutu Nisa dalam hatinya.
Setelah berkendara melewati jalan desa, akhirnya mereka berdua sampai di halaman luas kediaman Zulaikah. Fina tersenyum smirk karena kebetulan di sana ada Neneng dan beberapa anggota jamaah ghibah yang sedang menikmati sore sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain.
"Momen yang tepat! Aku akan mendapatkan dua mangsa sekaligus!" gumam Fina setelah turun dari motor, "kamu tunggu di sini saja, Nis. Tidak perlu ikut aku!" ujar Fina seraya menatap Nisa sekilas dan gadis cantik itu hanya menganggukkan kepala.
Tatapan mata putri sulung Badiah itu terlihat dingin dan menakutkan. Dia membidik dua mangsa yang sedang tertawa bahagia tanpa menyadari kehadirannya. Fina melangkah dengan tubuh tegap dan tak lupa membawa buku piutang untuk orang-orang julid yang sebentar lagi akan ditemuinya.
"Assalamualaikum," ucap Fina setelah kakinya menginjak teras rumah Zulaikah.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di sana. Mereka membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang.
"Eh, ada Fina," celetuk salah satu anggota jamaah ghibah dengan senyum yang manis, "sini loh, gabung," ajak wanita tersebut dengan ramah.
"Iya, Fin, sini. Wah pasti ada keperluan penting nih sampai kamu datang ke sini," sahut Zulaikah sambil berdiri dari tempatnya. Dia mengajak Fina duduk di bangku bambu yang ada di samping jamaah ghibah.
"Iya. Kebetulan saya ada perlu sama bu Zul dan bu Neneng. Ini benar-benar kebetulan yang tepat," jawab Fina dengan senyum sinis.
Wanita bernama Neneng itu segera beranjak dari tempatnya dan pindah tempat di bangku yang sama dengan Fina. Tentu kedua wanita ini tidak tahu maksud kedatangan Fina menemui mereka di waktu seperti ini.
"Ada apa nih? Kok aku deg degan begini ya. Pasti ada keperluan yang sangat penting ini," tanya Neneng dengan antusias.
__ADS_1
Fina mengembangkan senyum tipis setelah mendengar pertanyaan itu. Lantas, dia segera membuka buku yang ada di atas pangkuannya untuk mencari nama Zulaikah dan Neneng. Tatapan Fina terlihat serius saat mencari dua nama keramat itu.
"Kedatangan saya ke sini untuk menagih hutang bu Zulaikah dan bu Neneng yang udah numpuk segunung ini. Jadi, Ibu mau bayar hutang belanjaan atau hutang uang pribadi dulu? Soalnya Ibu saya ini hanya mencari rezeki bukan mesin pencetak uang untuk memasok kebutuhan gaya kalian," ujar Fina dengan berani. Dia menatap kedua wanita glowing itu bergantian.
"Jangan sembarang kamu, Fin! Aku tidak mungkin punya hutang!" sergah Zulaikah dengan wajah yang bersemu merah. Dia sepertinya malu karena banyak tetangga di sana.
"Iya nih. Ngawur kamu! Kapan aku hutang ibumu?" Neneng pun tidak terima saat Fina menagihnya.
"Apa perlu saya bacakan dengan lantang berapa jumlah hutang kalian?" Suara Fina meninggi karena sudah tidak tahan dengan dua orang yang duduk bersebelahan dengannya.
"Kalian berdua ini sudah membuat Ibu saya menderita. Apa kalian pikir selama ini saya tidak berani begitu melawan kalian? Udah hutang banyak, ditagih mengelak, jahat dan suka fitnah, masih saja banyak gaya! Kalian berdua ini gak tahu malu! Banyak gaya tapi gak punya duit!" ujar Fina seraya berkacak pinggang di hadapan kedua wanita itu.
"Hei jangan belagu! Baru kaya saja sudah berani sama orang tua!" Neneng pun tidak terima karena dipermalukan oleh wanita yang dianggapnya lemah dan bau kencur itu.
"Saya tidak peduli ya dengan semua ucapan Anda! Satu hal yang pasti, kembalikan semua uang Ibu saya atau saya akan mengadu ke pak RW jika istrinya memalukan. Sok kaya, sok cantik, sok hedon padahal modal hutang! Kalau Anda tidak membuat Ibu saya menderita, saya juga tidak mungkin menemui Anda dengan cara seperti ini!" Fina semakin meradang melihat wanita bernama Neneng itu.
"Loh kenapa saya diusir? Anda malu ya karena banyak tetangga di sini? Anda pasti takut ya digunjingkan oleh orang satu desa! Makanya punya mulut itu jangan kebanyakan fitnah orang!" Emosi Fina semakin memuncak setelah teringat bagaimana cerita ibunya tentang fitnah yang disebar Zulaikah.
"Pergi!" usir Zulaikah sekali lagi. Dia pun sangat marah kepada Fina.
"Gak akan! Anda pun sama halnya dengan dia!" sarkas Zulaikah sambil menunjuk Neneng, "udah hutang banyak, gak mau bayar pakai nyebar fitnah lagi! Manusia macam apa Anda ini?" ujar Fina dengan berani. Dia benar-benar tidak dapat mengontrol emosinya lagi.
"Anda punya bukti apa sehingga berani menyebar fitnah jika saya dan suami saya melakukan pesugihan! Asal Anda tahu, anak saya meninggal karena kecelakaan bukan karena ditumbalkan! Lagi pula urusan Anda ini apa sih? Gak terima ya kalau kehidupan kami bahagia, adem ayem dan rukun? Mulut Anda itu menjijikkan karena sudah memprovokasi orang-orang yang tidak bersalah agar menjauhi keluarga saya!" ujar Fina tanpa jeda. Napasnya memburu serta kelopak matanya semakin terbuka lebar.
"Kurang ajar!" Zulaikah geram dan tangannya sudah terangkat, bersiap untuk menampar Fina.
"Apa? Ibu mau menampar saya? Yakin? Gak takut tangan ini patah?" cibir Fina sambil menahan tangan Zulaikah.
__ADS_1
"Pergi dari sini!" ujar Zulaikah dengan napas yang memburu setelah tangannya dihempaskan Fina.
"Jangan dipikir saya tidak berani menghadapi Anda berdua ya! Selama ini saya diam bukan berarti takut! Saya hanya ingin melihat sejauh mana mulut kalian berulah dan sekarang saya sudah tidak tahan karena kalian sudah membuat Ibu saya sakit!" Fina menunjuk Neneng dan Zulaikah bergantian.
"Aku akan membayar semua hutangku! Tunggu saja di rumah!" ujar Zulaikah seraya berkacak pinggang, "apa kalau bukan pesugihan dan ilmu hitam jika seseorang mendadak sukses dan kaya! Kamu pikir saya tidak tahu hal-hal seperti itu!" Zulaikah tersenyum smirk sambil menatap Fina dengan sinis.
"Waw! Jangan-jangan Anda yang melakukan pesugihan? Kok Anda sampai tahu hal-hal yang terkait dengan pesugihan?" sarkas Fina sambil tersenyum smirk.
"Jaga bicaramu!" Zulaikah menuding Fina dengan mata yang melebar sempurna, "Demi Allah, aku tidak pernah melakukan hal musyrik itu!" Zulaikah berusaha membela diri karena sudah salah menjawab ucapan Fina.
"Saya gak peduli dengan urusan Anda!" Fina mendekatkan diri kepada Zulaikah, "Asal Anda berdua tahu, hutang tetaplah hutang meski Anda berusaha untuk melupakannya. Apa Anda pikir hidup akan terasa tenang jika memiliki hutang tetapi tidak mau membayar?"
"Oke, kalau Anda tidak mau membayar hutang-hutang itu, tetapi jangan sampai setelah ini Anda berbuat jahat kepada Ibu saya dan membuat Fitnah yang keji terhadap keluarga saya!" Fina memberi peringatan kepada Neneng dan Zulaikah.
"Puas kau sudah membuat kami malu di hadapan semua orang? Puas!" Neneng berkacak pinggang sambil menatap Fina dengan sorot mata penuh kebencian.
Bukannya takut, Fina malah tertawa lepas melihat wajah merah Neneng dan Zulaikah. Dia benar-benar puas setelah mengeluarkan emosi terhadap dua biang kerok yang selama ini hanya bisa dipendam itu.
"Gak usah marah seperti itu, Bu! Ini adalah buah dari benih yang Ibu tanam selama ini. Sudah berapa tahun Anda menggunjingkan satu persatu warga di desa ini? Ya ... anggap saja sekarang Anda mendapat balasan. Mungkin saja setelah ini banyak orang-orang yang tahu jika hidup mewah Ibu selama ini adalah modal hutang dari seorang janda!" sarkas Fina dengan tegas, "untuk Anda Ibu Zulaikah yang terhormat, tolong diperbaiki lah lisan Anda agar tidak terlalu busuk. Mungkin, setan saja tidak akan mau, jika Ibu ditumbalkan menjadi budaknya!"
Sungguh, kali ini Fina benar-benar hilang kendali sehingga semua kata yang keluar dari bibirnya seperti sebilah pisau yang melukai hati. Nisa tidak berkutik di tempatnya setelah melihat dari jauh bagaimana kakaknya. Dia shock karena melihat sisi lain yang tidak pernah ditunjukkan oleh Fina selama ini. Wanita yang selama ini terlihat sabar, kalem dan anggun, nyatanya lebih berbahaya jika sudah tersulut emosi.
"Mbak, aku takut, Mbak," ucap Nisa dengan suara yang bergetar setelah Fina datang menghampirinya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Widih, Mbak Fina berubah jadi reog nih!π...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...