
Derai air mata tak henti mengalir seiring dengan rasa sesal yang menyelimuti diri. Suara isak tangis menggema di dalam mobil ambulance yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju Surabaya. Berkali-kali Fina merutuki dirinya sendiri ketika melihat wajah pucat yang sedang terbaring di atas bangkar yang ada di hadapannya itu. Selang infus terpasang di punggung tangan, sementara selang oksigen terpasang di hidung.
"Semoga kamu baik-baik saja, Nak," gumam Fina di sela-sela tangisnya. Selama itu pula Fina tak melepaskan genggaman tangannya dengan Elza.
Keadaan di GOR tempat kompetisi sempat ramai saat Elza tak sadarkan diri di pangkuan Fina. Tim medis pun langsung turun tangan dan akan membawa Elza ke rumah sakit yang ada di Malang. Akan tetapi Benny menolak dan meminta untuk dirujuk ke Surabaya saja, mengingat di ibukota tersebut ada rumah sakit cukup besar dan canggih. Setelah mendapatkan pertolongan pertama Elza langsung dibawa ke Surabaya. Hanya ada Fina yang menemani bocah kecil itu, sementara Benny membawa mobil di belakang ambulance.
"Sayang, Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Fina saat melihat Elza membuka kelopak matanya. Gadis berhijab itu mengusap sisa air mata yang membasahi pipi.
Elza hanya menggeleng pelan. Dia mendesis saat berusaha mengubah posisinya. Rasa sakit yang begitu hebat di tangan membuatnya mengurungkan niat tersebut, "aku gak papa kok," ujarnya dengan suara yang lirih. Akan tetapi air mata yang mengalir dari pelupuk matanya tidak bisa berbohong. Tentu bocah kecil itu sedang merasakan sakit yang begitu hebat.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Fina sambil mengusap kepala Elza dengan lembut, "Mbak Fina minta maaf ya, karena Mbak, Elza menjadi seperti ini." Suara Fina bergetar hebat saat mengucapkan hal ini.
"Mbak Fina gak salah. Aku sendiri yang salah karena mengabaikan nasihat Mbak Fina," ucap Elza dengan suara yang lirih. Tangan kirinya terulur hingga menyentuh pipi pengasuhnya itu. Lantas dia tak henti mengusap pipi yang dibasahi air mata, "jangan menangis, aku gak suka lihat Mbak menangis," ucap Elza dengan suara yang lirih.
Fina semakin tergugu setelah mendengar ucapan Elza. Rasa bersalah semakin memenuhi jiwanya. Ikatan batin yang sudah terjalin kuat membuat Fina ikut merasakan sakit yang dialami Elza. Andai saja semua ini bisa dirubah, dia sudah meminta kepada Tuhan untuk memindahkan rasa sakit itu kepadanya.
"Elza harus kuat ya! Sebentar lagi kita sampai." Fina menatap mata sayu anak asuhnya itu.
***
Sirine ambulance terdengar nyaring selama dalam perjalanan dari Malang menuju Surabaya. Setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam lamanya, akhirnya ambulance itu sampai di depan IGD rumah sakit terbesar di Surabaya tepat pukul delapan malam. Elza segera dikeluarkan dari mobil tersebut dan dibawa masuk ke dalam IGD. Sementara Fina menunggu di luar, dia masih menunggu Benny yang ada di tempat parkir.
"Bagaimana?" tanya Benny setelah menghampiri Fina di depan IGD.
"Masih diperiksa. Lebih baik Bapak saja yang masuk. Saya takut, Pak," ucap Fina dengan suara yang lirih.
"Baiklah. Kamu duduk saja di sana. Tidak usah panik karena Elza pasti baik-baik saja." Benny mencoba menenangkan pengasuh putranya itu. Dia tahu jika Fina sedang kacau saat ini.
__ADS_1
"Semoga saja begitu, Pak," ucap Fina sebelum Benny masuk ke dalam IGD untuk menemani Elza.
Fina duduk di salah satu bangku kosong yang ada di sana. Dia hanya bisa menundukkan kepala agar orang-orang yang ada di sana tidak melihat wajahnya yang sembab. Sampai saat ini Fina hanya bisa menangis karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada anak asuhnya itu. Gadis berhijab itu tak henti berdoa untuk keselamatan Elza, dia berharap Elza tidak mengalami cidera fatal.
"Fin." Suara Benny terdengar di sana setelah beberapa puluh menit lamanya berada di dalam IGD.
Mendengar suara bariton itu, membuat Fina segera menegakkan kepala. Dia menatap sosok yang ada di sisinya dengan lekat. Berharap ada kabar baik tentang kesehatan Elza.
"Bagaimana, Pak? Apa Elza baik-baik saja?" tanya Fina seraya menatap Benny penuh arti.
Hembusan napas berat terdengar di sana. Benny menyandarkan tubuh dan kepalanya di dinding. Kepalanya menengadah, seperti sedang menyusun jawaban yang tepat.
"Elza harus dioperasi," gumam Benny dengan suara yang lirih.
"Operasi? Kenapa harus operasi? Memangnya apa yang terjadi, Pak? Apakah kondisinya terlalu buruk sehingga harus di operasi?" cecar Fina seraya menatap Benny dengan sorot mata penasaran.
Fina membekap mulutnya setelah mendengar kabar mengejutkan itu. Dia tak kuasa menahan tangis yang sempat reda karena hal ini, "Ya Allah," rintih Fina. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya.
"Sudah, jangan menangis, Fin. Kita berdoa saja supaya Elza bisa melewati semua ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa dan pasrah kepada Allah," ucap Benny saat menenangkan Fina.
Suara tangis Fina terdengar pilu hingga membuat perasaan Benny semakin tak karuan. Tentu Benny merasa takut akan keadaan putranya saat ini. Memori pikirannya kembali menembus masa lalu, di mana dia merawat Nurma di akhir hayatnya. Jujur saja sebenarnya duda tampan itu trauma dengan rumah sakit. Perasaannya menjadi tak karuan setiap mendengar ruang operasi, karena sang istri tercinta meregang nyawa setelah keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana ini, Pak? Saya takut," keluh Fina dengan segala keresahan di dalam hatinya.
"Sudahlah. Berpikir positif saja untuk saat ini," tutur Benny seraya menyentuh punggung tangan Fina.
Tak berselang lama, perawat IGD memanggil Benny untuk mengurus segala administrasi yang dibutuhkan rumah sakit sebelum masuk rawat inap di sana. Benny mengajak Fina untuk masuk ke dalam IGD, mengingat keadaan di luar mulai sepi. Dia tidak mau terjadi sesuatu kepada gadis itu.
__ADS_1
"Masuklah ke dalam bilik itu! Temani Elza di sana. Aku akan mengurus administrasinya," ucap Benny seraya menunjuk bilik berwarna merah.
Fina segera melangkah menuju bilik yang dimaksud Benny. Dia membuka tirai merah itu dan masuk ke dalamnya. Beberapa alat medis sudah terpasang di tubuh tak berdaya itu. Fina pun semakin merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Elza.
"Mbak Fina," gumam Elza setelah melihat kehadiran pengasuhnya di sana.
"Iya, Sayang. Apa yang Elza rasakan saat ini? Mana lagi yang sakit?" tanya Fina seraya menyentuh pipi Elza.
Bocah kecil itu hanya menggelengkan kepala. Dalam kondisi seperti ini pun dia tidak menunjukkan sisi manjanya kepada Fina. Dia hanya mendesis ketika merasakan nyeri yang begitu hebat di lengan dan bahunya.
"Aku sayang Mbak Fina. Jangan menangis terus. Aku kan anak kuat!" gumamnya seraya menatap Fina dengan sorot mata sendu.
...๐นTo Be Continue๐น...
...Maaf ya kemarin hanya up satu bab๐ Hapenya othor lagi eror๐ช Doakan segera sembuh agar semakin lancar nulisnya๐...
...โโโโโโโโโโโ...
...Rekomendasi karya keren untuk kalian nih๐ kuy baca karya author Muda Anna dengan judul Khan, Kamulah Jodohku. ...
...
...
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...
__ADS_1