Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kedatangan Renata,


__ADS_3

Perubahan demi perubahan terus terjadi pada diri pria yang menyandang status duda itu. Seiring dengan berjalannya waktu, Benny sering meluangkan waktu untuk putranya. Apalagi semenjak kejadian di mana Fina dan Elza dihadang oleh anggota perguruan yang lain, Benny semakin perhatian kepada anak serta pengasuhnya. Hubungan asmara bersama biduan dangdut pun masih tetap berjalan, tetapi Benny jarang sekali keluar malam seperti malam-malam sebelumnya. Setiap Elza ada kegiatan selain sekolah, pasti duda satu anak itu mengantar sekaligus menemani putranya.


"Papa!" teriak Elza setelah keluar dari pintu padepokan. Dia berlari ke tempat ayahnya yang sedang menunggu di gazebo yang ada di halaman.


"Di mana Mbak Fina?" tanya Benny setelah pengasuh putranya tak kunjung keluar dari padepokan.


"Masih bicara dengan kang Aris di dalam, Pa," ucap bocah berusia lima tahun itu.


Seketika wajah tampan itu berubah menjadi murung setelah mendengar pengakuan Elza. Setiap kali mendengar jika Fina berbicara dengan Aris, hatinya merasa resah dan gelisah. Pasalnya, sebagai sesama lelaki, tentu Benny tahu jika pria bernama Aris itu menaruh perasaan kepada Fina. Beberapa kali sejak mengantar Elza latihan, Benny sering melihat interaksi di antara keduanya.


"Panggil mbak Fina. Udah mau magrib!" titah Benny kepada putranya.


"Gak mau, Pa. Nanti kalau selesai pasti mbak Fina kesini kok!" tolak Elza dengan tegas. Sepertinya bocah kecil itu sudah paham apa yang dilakukan oleh pengasuhnya.


Benar saja, tidak lama setelah itu sosok yang ditunggu Benny keluar dari pintu padepokan diikuti dengan Aris di belakangnya. Benny mengalihkan pandangan ke arah lain setelah melihat bagaimana kedua anak muda itu saling melempar senyum penuh rasa sebelum Fina menjauh dari tempat itu.


"Kenapa lama sekali?" tanya Benny setelah Fina menghampirinya.


"Tadi ada yang harus dibahas mengenai kompetisi yang akan diikuti Elza, Pak," jelas Fina sambil menatap bocah kecil yang ada di samping ayahnya, "Elza sedang dipersiapkan untuk ikut kompetisi tingkat kabupaten. Kemungkinan dia ikut kelas usia dini. Tadi kang Aris memberi arahan apa saja yang dipersiapkan oleh Elza. Setelah ini mungkin Elza akan sering berlatih, Pak." Fina menjelaskan apa saja yang dibahas bersama Aris.


"Oh." Hanya itu saja yang diucapkan Benny untuk menanggapi penjelasan panjang dari Fina.


Seketika wajah cantik itu berubah menjadi murung setelah mendengar tanggapan dari Benny, "ih! Nyebelin banget sih ini orang! Astagfirullah haladzim!" batin Fina seraya menatap Benny yang sedang sibuk bicara dengan Elza.


Akhirnya setelah beberapa menit duduk di gazebo itu, mereka masuk ke dalam mobil untuk bertolak dari tempat latihan tersebut. Fina mengernyitkan keningnya ketika Benny mengarahkan setir mobil bukan ke arah tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Pak, ini mau kemana ya?" tanya Fina.


"Beli makan lah!" jawab Benny tanpa mengalihkan pandangannya. Dia fokus menatap jalanan padat yang ada di hadapannya.


"Tapi saya dan Elza belum mandi, Pak. Masih pakai sakral juga." Fina keberatan karena mendadak mengajak makan di luar.


"Gak papa. Lagi pula kita hanya akan makan saja tanpa harus jalan-jalan. Kamu hari ini puasa kan? Nah, sekarang udah magrib jadi sekalian buka puasa aja," jelas Benny karena teringat jika hari ini adalah hari kamis.


Bukannya senang, Gadis yang memakai jilbab hitam itu malah memutar bola matanya jengah, "sok tahu banget sih ini orang! Siapa juga yang puasa! Aku lagi datang bulan kok puasa," gerutu Fina di dalam hati. Seringkali pengasuh cantik itu merasa kesal karena sikap sok tahu majikannya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit lamanya. Mereka pun sampai di salah satu cafe dan resto yang cukup terkenal di Surabaya. Benny memilih tempat yang ada di dekat kaca bagian depan dengan pemandangan jalan raya yang di padati lalu lalang kendaraan bermotor.


"Kamu mau pesan apa, Fin?" tanya Benny setelah ada seorang waiter datang membawa buku menu.


"Pak Ben saja yang pesan, karena saya tidak tahu menu apa saja yang tertulis di situ," ujar Fina. Dia sengaja pura-pura tidak mengerti karena tidak mau ribet untuk urusan makanan di tempat seperti ini.


Hingga berpuluh menit kemudian, pesanan Benny telah terhidang di atas meja berbentuk bundar itu. Seperti biasa, Fina menyiapkan makanan untuk Elza terlebih dahulu sebelum dia makan. Setelah urusan Elza selesai, gadis cantik itu mulai menyentuh piring miliknya.


"Selamat berbuka puasa, Fin," ucap Benny dengan diiringi senyum yang manis.


"Terima kasih, Pak." Fina melebarkan senyumnya setelah mendengar ucapan selamat dari Benny. Bukan senyum karena tersipu akan perhatian dari duda tampan itu, tetapi senyum palsu untuk membuat Benny merasa bahagia dan tidak malu jika tahu dirinya sedang tidak berpuasa.


"Ya Allah, maafkan hamba karena sudah menertawakan kang sirup marijon ini, meski hanya di dalam hati," batin Fina dengan kepada yang tertunduk.


Keheningan terasa di sana, karena ketiga sibuk dengan makanan masing-masing. Elza pun tak banyak tingkah, karena asyik dengan gadget canggih miliknya. Dia tak menghiraukan keadaan yang ada di sekitar. Begitu pun dengan Fina, setelah makan dia membuka ponsel miliknya meski hanya melihat pesan yang masuk.

__ADS_1


"Hallo, Mas."


Suara merdu seorang wanita tiba-tiba saja terdengar di sana hingga membuat penghuni meja nomor dua itu menengadahkan kepala untuk melihat siapa yang datang. Tentu Benny terkejut setelah tahu siapa yang sedang menyapanya.


"Renata? Ngapain di sini?" tanya Benny sambil menatap wajah cantik kekasihnya itu.


"Kenapa memangnya? Kaget ya?" Nada bicara biduan cantik itu terdengar ketus. Dia menarik bangku kosong yang ada di sisi kiri Benny dan duduk di sana tanpa permisi, "oh, ini kah yang dinamakan sibuk dengan pekerjaan? Lagi makan bersama ternyata," sindir Renata sambil menatap sinis ke arah Benny.


"Apa sih, Re. Aku tadi menjemput Elza di padepokan, pulangnya sekalian aku ajak makan bersama," jelas Benny tanpa ada yang ditutupi


"Lalu kenapa aku gak diajak? Justru pengasuhnya Elza yang diajak," protes Renata dengan senyum smirk, "mana pakai senyum-senyum sambil mencuri pandang lagi," lanjutnya.


"Kamu suka dengan Fina?" sarkas Renata tanpa basa-basi lagi.


Mendengar hal itu, Fina menjadi salah tingkah. Tentu dia tidak mau jika diikut campurkan dalam asmara mereka. Situasi mendadak panas meski Renata tidak mengeluarkan suara tinggi. Dia pun cukup tahu jika harus menjaga image, mengingat dirinya cukup terkenal di kota ini.


"Pak, saya dan Elza menunggu di mobil saja." Fina berinisiatif untuk membawa Elza pergi dari tempat ini sebelum emosi bocah kecil itu memuncak.


Benny mengangguk pelan sebelum Fina mengajak Elza keluar. Tanpa pamit kepada Renata, dia membawa Elza pergi begitu saja. Akan lebih baik jika menjauh dari singa betina yang sedang terbakar emosi itu. Mereka pun sampai di tempat parkir, karena pintu mobil masih terkunci. Fina pun mengajak Elza duduk di belakang mobil, kebetulan ada tempat untuk beristirahat.


"Mbak Fina, kenapa Papa ditinggal di dalam? Nanti kalau Papa digigit nenek lampir itu bagaimana? Aku gak punya Papa nanti!" protes Elza seraya menatap Fina.


...๐ŸŒนTo Be Continue ๐ŸŒน...


...Hadeh Mas Marijon sih kebanyakan wanita๐Ÿ˜‚...

__ADS_1


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2