
Rasa haru menyelimuti hati gadis cantik yang sedang terbaring lemah itu, setelah mendengar betapa perhatian anak yang selama ini diasuhnya. Fina tidak pernah menyangka jika karakter yang ada diri bocah yang belum genap lima tahun itu semakin berkembang. Bocah yang dulu bertingkah tanpa aturan, kini menjadi sosok anak yang cukup dewasa di usianya saat ini.
"Apa benar yang dikatakan Papa? Bagaimana Elza bisa mengambil teh dan gula yang ada di rak atas?" tanya Fina dengan suara yang lirih. Dia membelai pipi Elza dengan penuh kasih.
"Aku tadi naik di kursi terus naik meja agar bisa mengambil gula dan teh di atas. Terus aku ambil cangkir dan tatakan di laci. Kalau airnya aku pakai air panas dispenser. Aku pencet yang warna merah. Tanganku jadi begini karena tadi waktu di awal airnya keluar gak panas, terus aku pencet lagi, eh jadi panas," jelas Elza dengan rinci sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Fina.
Tentu gadis cantik itu merasa bersalah ketika melihat ruam merah di jari putih itu. Dia meraih pergelangan tangan Elza dan diarahkan di wajahnya. Fina beberapa kali mengecup tangan Elza dengan mata yang berembun.
"Terima kasih karena sudah peduli kepada Mbak. Maaf ya karena membuatkan Mbak Teh panas, tangan Elza jadi sakit begini," gumam Fina dengan suara yang bergetar.
"Mbak Fina jangan sedih dong! Aku kan kuat! Jadi tangan ini enggak sakit," kilah Elza dengan diiringi senyum yang manis.
Tentu kedekatan di antara Elza dan Fina semakin membuat Benny yakin jika gadis asal Mojokerto itu bisa menjadi ibu yang baik. Semangat duda satu anak itu untuk mendapatkan Fina semakin berkobar. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"El, jujur Papa iri banget sama kamu. Papa juga mau dikecup gitu sama mbak Fina," batin Benny ketika mengamati interaksi tersebut.
Suara ketukan dari pintu depan berhasil membuat Benny tersadar dari lamunan. Dia segera beranjak dari tempatnya dan berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Tidak lama setelah itu Benny kembali ke ruang keluarga bersama seorang pria yang mengekor di belakangnya.
"Ini, Dok, yang harus diperiksa," tunjuk Benny pada sofa panjang, tempat Fina berada.
Pria paruh baya itu segera mengeluarkan steteskop dan beberapa peralatan medis dari dalam tasnya. Pemeriksaan berlangsung selama beberapa menit lamanya.
"Apa rasanya sakit bila ini ditekan?" tanya dokter tersebut seraya menekan ulu hati Fina.
"Iya, Dok. Sakit. Saya jadi pengen muntah," gumam Fina dengan suara yang lirih. Dia meringis karena perutnya terasa tidak nyaman.
Tak berselang lama, pemeriksaan itu akhirnya selesai. Dokter tersebut membereskan kembali peralatan medis ke dalam tas, "diagnosa sementara asam lambung Mbak naik dan ada gejala typus yang menyebabkan Mbak demam tinggi. Saya akan memberikan obat yang bagus, tetapi setelah obatnya habis dan masih demam, maka Mbak harus periksa ke rumah sakit," jelas dokter tersebut sebelum menyiapkan obat untuk Fina.
__ADS_1
"Apa ada pantangan soal makanannya, Dok?" tanya Benny.
"Selama dalam masa penyembuhan makan yang halus-halus saja. Misalnya nasi tim atau bubur. Tolong hindari pedas, asam dan minuman dingin. Buah jangan terlalu sering dan kalau bisa dihindari dulu," jelas dokter tersebut sambil menyiapkan obat untuk Fina.
"Ini obatnya, tolong diminum sampai habis. Jangan lupa banyak istirahat, batasi aktivitas untuk sementara waktu," ucap dokter tersebut seraya menyerahkan beberapa obat kepada Fina.
Setelah semua urusan kesehatan Fina selesai, Benny mengantar dokter tersebut hingga sampai di teras rumah. Duda tampan itu mengeluarkan beberapa lembar rupiah dari dalam dompetnya untuk membayar biaya pengobatan.
"Terima kasih, Dok," ucap Benny sebelum dokter tersebut berlalu dari hadapannya.
Benny segera kembali ke ruang keluarga setelah menutup pintu ruang tamu. Dia duduk di salah satu sofa yang tak jauh dari tempat Fina berada. Dia mengamati Fina beberapa menit lamanya sambil memikirkan bagaimana sikapnya setelah ini.
"Fin, lebih baik kamu pindah ke kamar saja. Jangan khawatir dengan Elza. Dia akan bersamaku," ucap Benny tanpa mengalihkan pandangan dari sosok yang bersembunyi di balik selimut tebal itu.
"Terima kasih, Pak. Kali ini saya benar-benar tumbang. Saya sebenarnya tidak enak hati sama Pak Ben karena meninggalkan pekerjaan saya," jawab Fina dengan suara yang lirih.
"Mau aku antar ke kamar? Atau kamu istirahat di kamarnya Elza saja?" tawar Benny seraya berdiri dari tempatnya ketika melihat Fina berusaha bangkit dari sofa.
Elza berinisiatif mengantar pengasuhnya itu hingga sampai di dalam kamar. Setelah itu dia keluar dan tak lupa menutup pintunya. Bocah kecil itu kembali ke ruang keluarga dan mengempaskan diri di sisi ayahnya.
"Pa, apa Mbak Fina bisa cepat sembuh?" tanya Elza seraya menatap ayahnya.
"Pasti bisa. Kita akan menjaga Mbak Fina bersama selama sakit. Oke?" Benny memberikan semangat kepada putranya.
Pada akhirnya Benny menemani putranya di sana. Elza sendiri sudah paham apa saja jadwal kegiatannya sehari-hari. Dia mengeluarkan isi ransel yang dipakai sekolah untuk mencari buku dan pensil. Dia harus mengerjakan PR yang harus dikumpulkan di hari esok.
"Papa! Aku sudah bisa menulis huruf yang dirangkai. Lihat ini, Pa!" Elza menunjukkan buku menulisnya kepada Benny.
__ADS_1
"Wah ... jagoan Papa hebat banget ya!" Benny memberikan semangat kepada Elza setelah mengetahui pencapaian secara akademik di sekolah.
Benny menggantikan pekerjaan Fina untuk sementara. Dia fokus mengawasi putranya yang sedang belajar hingga selesai. Buku-buku tersebut kembali dirapikan di dalam tas seperti yang biasa diajarkan oleh Fina.
"Bagaimana kalau setelah ini Elza menemani Papa membuatkan mbak Fina bubur? Mau gak?" Ide cemerlang tercetus begitu saja dari pikiran duda satu anak itu.
"Memangnya Papa bisa ya?" tanya Elza heran. Bocah kecil itu sepertinya meragukan kemampuan ayahnya.
"Kita buka tutorial di internet, dong!" Benny menunjukkan ponselnya kepada Elza.
"Kalau begitu ayo sekarang, Pa! Kasian Mbak Fina belum makan." Bocah kecil itu turun dari sofa dan segera berlari menuju dapur, tanpa menunggu ayahnya.
Akhirnya ayah dan anak itu bekerja sama di dapur. Setelah mencari bahan yang kebetulan tersedia di dalam kulkas, mereka pun segera mulai membuat bubur seperti yang ada di internet. Suara berisik terdengar di dapur tersebut. Entah apa saja yang dilakukan mantan kekasih Renata itu hingga beberapa puluh menit lamanya.
"Pa, sepertinya itu sudah matang buburnya. Coba cicipi dulu, Pa!" ujar Elza setelah melihat bubur yang mengental.
"Sebentar, Papa kecilin dulu apinya," ucap Benny tanpa berhenti mengaduk bubur tersebut.
"Rasanya agak aneh, El," gumam Benny setelah mencicipi bubur buatannya, "tapi gak papa deh, maklum saja ini kan baru pertama kalinya Papa membuat bubur." Benny mematikan kompor tersebut karena dirasa sudah cukup.
Bubur beras yang dibuat dengan sepenuh hati dan diisi dengan cinta kasih, akhirnya selesai dihidangkan di dalam mangkuk bening. Benny menyiapkan mangkuk berisi bubur itu di atas nampan. Tak lupa dia membuatkan Fina teh hangat untuk menemaninya saat menikmati bubur ini.
"Ketuk pintunya, El!" ujar Benny setelah berdiri di depan kamar Fina.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya terdengar suara kunci yang diputar dari dalam. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lebar. Sosok penghuni kamar tersebut pun berdiri di sana, "ada apa, El?" tanya Fina sambil menatap Elza dan setelah itu beralih menatap Benny.
"Aku dan Papa baru saja selesai membuatkan bubur untuk Mbak Fina. Sekarang Mbak Fina harus makan dan minum obat, agar cepat sembuh." Elza menunjuk nampan yang dibawa ayahnya, "kata Papa, ini adalah bubur rasa cinta untuk Mbak Fina," ujar Elza hingga membuat Benny terbelalak karena terkejut dengan pengakuan dari putranya.
__ADS_1
...πΉTo Be Continue πΉ...
...π·π·π·π·π·π·...