Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Permohonan Elza,


__ADS_3

"Mbak, Bagaimana? Mau ya jadi Mamaku?" Elza memastikan jawaban Fina sekali lagi, karena sejak tadi pengasuhnya itu hanya bungkam. Hanya air mata yang membasahi pipinya. "Jangan pergi meninggalkan aku dan Papa ya, Mbak. Apalagi sampai kang Aris yang membawa pergi Mbak," gumam bocah kecil itu dengan suara yang lirih.


Fina semakin terenyuh mendengar permintaan anak asuhnya itu. Permintaan yang sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan, tidak mudah memutuskan untuk menjawab pertanyaan sulit ini. Perlu waktu beberapa jam atau bahkan beberapa hari untuk memikirkannya.


"Sayang, untuk menjadi Mamanya Elza, banyak hal yang harus Mbak pikirkan. Semua itu tidak mudah, karena Mbak harus menikah dulu sama Papa. Sedangkan menikah itu butuh perasaan saling suka dan mencintai," jelas Fina seraya menangkup wajah bocah kecil itu.


"Tapi ...." Elza menghentikan ucapannya karena bingung harus bagaimana. Dia sudah berjanji untuk tidak membocorkan rencana ayahnya, tetapi sekarang dia terdesak dengan jawaban Fina, "tapi ... emmm ... Papa kan juga suka sama Mbak Fina. Papa juga ingin menikah dengan Mbak." Akhirnya Elza mengatakan sesuatu yang pernah diceritakan oleh ayahnya.


Fina tertegun setelah mendengar pengakuan Elza. Dia merasa ragu karena tidak mungkin jika Benny memiliki perasaan itu kepadanya. Fina mencoba berpikir positif, jika Benny mengutarakan hal itu kepada Elza karena terdesak. Mungkin saja saat itu Elza meminta penjelasan terkait tentang sosok ibu. Begitu pikir Fina.


"Bukan hanya itu saja yang harus dipikirkan, El. Menikah bukan sekadar saling suka saja karena harus minta izin dulu kepada orang tua. Jadi Papa harus minta izin ke uti, sedangkan Mbak harus minta izin ke ibu Badiah. Ribet 'kan?" jelas Fina panjang lebar agar Elza tidak membahas hal ini lagi, "lagi pula Mbak Fina sudah berkomitmen dengan kang Aris untuk menikah. Meski nanti Mbak menikah dengan kang Aris. Elza tetap bisa bermain sama Mbak kok, itupun masih lama. Elza udah keburu besar," tutur Fina.


"Nanti aku dan Papa akan bilang ke uti dan ke bu Badiah deh! Pasti mereka mengizinkan. Mau ya Mbak?" Elza masih kukuh pada pendiriannya, "aku mau sama Mbak terus. Aku gak mau pisah, apalagi jauh sama Mbak," ucap Elza dengan suara yang bergetar. Dia memeluk Fina dengan erat agar wajahnya yang memerah tidak dilihat oleh pengasuhnya itu.


Fina semakin bingung menghadapi situasi ini. Dia sedih setelah melihat bagaimana cara Elza membujuknya. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiran gadis berhijab itu. Meski dia tahu jika Elza tergolong anak cerdas di usianya, tidak mungkin bocah kecil itu bisa lancar dalam membahas soal pernikahan.


"Apa mungkin pak Benny yang mengajari Elza berbicara seperti ini? Tapi untuk apa? Bukankah dia sudah memiliki banyak wanita dalam hidupnya?" batin Fina. Dia hanya bisa menerka kemungkinan yang terjadi.


"Mbak, mau ya! Mulai sekarang aku mau memanggil Mbak dengan sebutan Mama deh," rayu Elza seraya menengadahkan kepala.

__ADS_1


Sorot mata bocah kecil iptu semakin membuat Fina menjadi tidak tega. Akan tetapi tidak mungkin jika dirinya menyetujui permintaan itu. Bayang-bayang wajah manis Aris berkeliaran dalam pikiran. Tidak mungkin dia meninggalkan pria tersebut demi menikah dengan duda anak satu.


"Nanti Mbak pikirkan lagi ya. Setelah Mbak tahu jawabannya, nanti pasti akan Mbak sampaikan kepada Elza. Sekarang lebih baik kita istirahat saja yuk! Waktunya bobo siang," bujuk Fina sambil tersenyum manis setelahnya.


...๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ...


Malam telah datang setelah kegelapan menggulung sinar. Suara hewan malam terdengar saling bersahutan meski adzan isyak baru saja berkumandang. Hujan selama satu hari penuh membuat suasana di komplek perumahan terasa sepi mencengkam. Latihan pun diliburkan untuk sementara waktu, mengingat cuaca sedang tidak baik-baik saja.


"Elza ke masjid kok lama banget ya! Apa pak Benny gak salah tuh jumlah rakaat sholatnya," gumam Fina yang sedang menunggu kedatangan anak dan ayah itu di ruang keluarga. Pasalnya hingga satu jam setelah adzan isya berkumandang, Benny tak kunjung membawa putranya pulang.


"Apa pak Benny lupa jalan pulang ya? Ini kan baru pertama kalinya dia ke masjid," gumam Fina lagi setelah mengingat selama bekerja di sini, Dia tidak pernah melihat Benny ke masjid. Hanya ketika sholat idul fitri dan idul adhah, duda tampan itu menginjakkan kaki di masjid.


"Wah ... wah ... wah! Elza kelihatannya kok bahagia sekali ya!" ujar Fina setelah bocah kecil itu berlari ke tempatnya berada saat ini.


"Aku tadi habis ke rumahnya uti! Kata uti aku ganteng karena pakai sarung ini!" Elza menunjuk setelan pakaian yang dibelikan Benny kemarin malam.


"Cowok kalau pakai sarung itu kelihatan lebih ganteng, El! Apalagi kalau mau pergi ke Masjid. Pasti gantengnya semakin bertambah. Kalau udah besar, Elza harus sering pergi ke Masjid ya!" tutur Fina sambil tersenyum manis.


Apa yang diucapkan Fina, nyatanya berhasil membuat duda satu anak yang baru saja tiba di ruang keluarga menjadi salah tingkah. Benny beranggapan jika Fina sedang memujinya, karena saat ini dia sedang memakai sarung dan baju koko. Tak lupa ada peci yang menutupi rambutnya sebagai pelengkap.

__ADS_1


"Apa berarti aku termasuk cowok ganteng karena pakai sarung dan mau pergi ke masjid," gumamnya dalam hati.


Suasana ruang keluarga yang semula terasa sepi, kini berubah menjadi ramai, karena Elza tak henti bercerita. Dia terlihat bahagia saat menceritakan apa saja yang terjadi di rumah neneknya.


"Oh ya. Apa Mbak Fina sudah memikirkan permintaanku tadi siang?" tanya Elza tiba-tiba hingga membuat Fina mengernyitkan kening. Begitu pun dengan Benny, duda satu tampan itu penasaran apa kiranya yang diinginkan oleh putranya.


"Memangnya Elza minta apa dari Mbak Fina?" sahut Benny seraya menatap Fina dengan lekat, "jangan meminta apapun kepada Mbak Fina! Kalau minta apa-apa ke Papa saja," ujar Benny dengan tatapan tak suka. Dia hanya tidak mau merepotkan Fina, jika putranya meminta barang-barang tanpa sepengetahuannya.


Elza mendekat ke tempat ayahnya berada saat ini. Dia menatap lekat sosok yang selama ini dipanggilnya dengan 'papa' itu, "tadi siang aku sudah minta Mbak Fina buat jadi Mamaku, Pa. Tapi Mbak Fina gak mau, Pa ...." Elza pun menceritakan bagaimana pembicaraannya bersama Fina tadi siang.


Seketika hal itu membuat Benny terkejut bukan main. Rahasia itu akhirnya terbongkar di depan Fina hingga membuat Benny kelabakan dibuatnya. Tentu ini bukanlah momen yang tepat untuk membahas masalah serius ini.


"Papa suka 'kan sama Mbak Fina? Tolong bilang langsung ke Mbak Fina, Pa. Biar mau menjadi Mamaku," ujar Elza hingga membuat Benny harus menelan ludah.


...๐ŸŒนTo Be Continue ๐ŸŒน...


...Maaf ya othor belum bisa up teratur, soalnya masih ada kegiatan di RL๐Ÿ˜€Othor lagi down juga karena ada perubahan nilai author di sini๐Ÿ˜ญKuy dukung terus karya othor biar makin semangat nulis๐Ÿ˜...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2