Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Melaksanakan Kewajiban


__ADS_3

Bunga-bunga cinta bermekar indah di ladang pengantin baru. Setelah menunggu hampir satu minggu lamanya, kini Benny berhasil melihat keindahan lekuk tubuh yang selama ini tertutup rapat. Dia berdecak kagum melihat kulit mulus tanpa noda sedikitpun. Dia merasa sangat beruntung karena mendapatkan kemurnian yang ada di hadapannya.


"Jangan dilihatin begitu, Mas! Aku malu!" Fina menutup wajah dengan kedua tangannya. Wajahnya bersemu merah karena ini adalah pengalaman pertamanya. Tubuh indah itu terpampang jelas tanpa penutup apapun.


"Sempurna," gumam Benny seraya melepas kaos oblong dan celana pendek yang melekat di tubuh.


Mantan duda itu segera naik ke atas tempat tidur untuk menjelajah setiap keindahan dari ciptaan Tuhan itu. Merasakan kelembutan setiap jengkal jalur yang dia telusuri dengan lidah. Suara-suara manja mulai terdengar di sana. Sang pemilik keindahan tidak peduli lagi, meski suaranya menggema di kamar bernuansa abu-abu itu. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.


Rasa berbeda yang baru saja dia rasakan berhasil menggetarkan seisi tubuhnya. Mencengkram setiap apa yang ada di dekat tubuh saat merasakan sesuatu yang membuatnya serasa terbang melayang. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana, karena hanya ada satu rasa yang saat ini dia rasakan. Apalagi ketika sang pendaki mulai bermain-main dalam lembah suci yang belum pernah tersentuh.


"Mas Ben," desisnya sambil mencengkram rambut sang empu.


"Sabar, Sayang. Ini belum seberapa," ucap Benny setelah melepaskan diri dari himpitan kaki sang istri.


Fina kembali menjerit ketika rasa sakit itu kembali hadir. Akan tetapi kali ini dia mencoba bertahan demi merasakan keindahan sorga. Dia mencengkram lengan bergelombang itu dengan kuat. Semakin Benny mencoba menerobos palang pintu dari gua suci itu, semakin kuat pula cengkraman tangan Fina.


"Yes! Berhasil!" ujar Benny setelah sanca berhasil masuk ke dalam sarangnya. Bersamaan dengan itu, dia merasakan ada sesuatu yang pecah.


"Seratus persen ori!" batinnya setelah menarik sanca keluar. Dia hanya ingin memastikan sesuatu berharga yang sudah dia hancurkan dengan ketangguhan sanca.


Sebelum melanjutkan permainan inti, mantan duda itu membersihkan benteng pertahanan suci yang sudah hancur itu. Lantas, dia kembali melanjutkan aksinya. Membawa istri tercinta terbang menembus nirwana.


Malam itu, dinginnya AC tak berarti lagi karena keringat bercucuran seiring dengan suara dua benda yang saling bersentuhan. Berkali kali wanita cantik itu menjerit ketika sampai pada puncak nirwana. Tenaga seperti hilang tak tersisa, tetapi permainan tak kunjung berakhir.


"Sayang, bersiaplah! Akan ada guncangan besar setelah ini," bisik Benny di sela-sela napas yang memburu.

__ADS_1


Benar saja, tanpa menunggu lebih lama lagi, pria tampan itu mempercepat ritme permainan. Sama seperti sang istri, dia pun mengeluarkan suara baritonnya ketika sampai di puncak tertinggi sebuah rasa. Malam penuh warna akhirnya terlewati dengan indah.


"Terima kasih, Sayang, kamu sudah menjaganya untuk suamimu ini. Aku sangat mencintaimu," bisik Benny sebelum menggigit daun telinga sang istri. Dia mengecup seluruh wajah yang berkeringat itu.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Malam panjang penuh rasa telah berlalu. Kini, sang mentari telah hadir di cakrawala, memberi kehangatan kepada semua makhluk yang bergelut dengan cuaca dingin tadi malam. Kilau cahaya itu masuk ke dalam kamar bernuansa abu-abu setelah sang pemilik membuka tirai berwarna putih itu.


"Kasihan sekali dia. Wajahnya terlihat kelelahan," gumam Benny seraya berkacak pinggang di sisi ranjang. Dia mengamati sang istri yang masih terlelap dalam selimut tebal itu.


"Sudah jam delapan pagi. Seharusnya dia sudah sarapan," gumamnya lagi. Benny menatap dua porsi bubur ayam yang dia beli di depan komplek.


Pria tampan itu terlihat segar pagi ini. Gurat wajahnya menampilkan sesuatu yang berbeda. Tatapan matanya terlihat memancarkan cinta yang begitu besar. Dia mengambil satu porsi bubur ayam itu dan membawanya ke dekat tempat tidur. Dia duduk di tepian tempat tidur yang ada di sisi istrinya.


"Sayang, kamu gak mau bangun dulu? Kita harus sarapan," ucap Benny sambil mengusap rambut yang berantakan itu.


"Memangnya ini udah pagi ya, Mas?" tanya Fina dengan suara paraunya.


"Sudah jam delapan pagi," jawab Benny sambil tersenyum tipis.


Seketika Fina bangkit dari tempatnya. Dia menepuk keningnya karena bangun terlambat. Wanita cantik itu menarik selimut untuk menutupi bagaian atas tubuhnya yang terbuka, "aku melewatkan sholat subuh!" gumamnya.


"Aku juga bangun kesiangan kok," timpal Benny. Karena dia sendiri memang bangun tidur pukul enam, "sarapan dulu gih, biar asam lambungnya gak naik," ucap Benny seraya menunjukkan bubur ayam yang sudah dia siapkan.


Fina mengembangkan senyum yang manis saat menerima bubur ayam tersebut. Sementara Benny beranjak dari sana untuk mengambil bubur ayam untuknya. Pagi itu sepasang pengantin baru itu sarapan di atas tempat tidur dan yang paling parah adalah Fina, tanpa membersihkan diri ataupun sekadar cuci muka, dia menghabiskan satu porsi bubur ayam.

__ADS_1


"Aduh!" keluh Fina setelah mengubah posisinya karena merasakan perih di pusat tubuhnya.


"Kenapa, Sayang?" Benny mengernyitkan keningnya.


"Aku gak bisa berdiri. Sakit banget rasanya," keluhnya lagi.


Dengan sigap Benny membantu sang istri berdiri. Dia membopong tubuh mulus itu ke dalam kamar mandi. Terjadi perdebatan di antar keduanya karena Benny tetap bersikukuh berada di kamar mandi. Sementara Fina, masih malu jika Benny melihat keindahan tubuhnya.


"Gak usah malu kali. Kita bahkan sudah melakukannya beberapa kali tadi malam," ucap Benny dengan tatapan penuh arti. Dia segera keluar setelah Fina selesai mandi dan tak lama setelah itu, dia kembali lagi dengan membawa bathrobe putih dan handuk untuk mengeringkan rambut sang istri.


"Aku bisa jalan sendiri!" sergah Fina saat Benny bersiap mengangkat tubuhnya.


Meski masih merasakan sakit, Fina tetap berjalan sendiri dengan menahan rasa perih. Sesampainya di sisi tempat tidur, dia tercengang melihat keadaan tempat tidur itu. Berantakan. Tentu pandangannya tertuju pada bercak merah di sprei berwarna abu-abu itu.


"Astagfirullah, berantakan sekali," gumamnya sambil berkacak pinggang.


Helaan napas berat terdengar di sana. Dia bingung harus mulai dari mana dulu membereskan semua kekacauan ini. Tissu bekas berserakan di lantai serta pakaian terlempar di beberapa tempat.


"Jangan khawatir, aku akan membantumu, Sayang," ucap Benny sambil tersenyum penuh arti. Dia mulai memungut tissu bekas yang ada di lantai. Sementara Fina memilih untuk memakai pakaian terlebih dahulu.


Sepasang suami istri itu bekerja sama untuk membereskan segala kekacauan yang terjadi. Setelah beberapa puluh menit lamanya, akhirnya kamar tersebut kembali rapi dan enak dipandang.


"Seharusnya gak usah dirapikan. Nanti pasti berantakan lagi," gumam Benny setelah duduk di sofa yang ada di sana.


...๐ŸŒนTo Be continued ๐ŸŒน...

__ADS_1


...Nih lunas yaaa ... selamat malam minggu๐Ÿคฃ...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2