Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Dua Kejutan


__ADS_3

Para tetangga yang melihat Fina tak sadarkan diri di halaman rumah bergegas menghampiri. Suasana bahagia yang terasa di sana mendadak berubah menjadi tegang karena kondisi yang dialami oleh Fina.


"Fin, bangun," ucap Benny saat berusaha membuat istrinya sadar.


Badiah dan Nisa pun datang menghampiri Fina setelah melihat keributan yang ada di depan rumah. Tentu Badiah pun merasa shock setelah tahu bagaimana kondisi putrinya.


"Nak, Bangun, Nak!" Badiah menepuk pipi Fina beberapa kali. Wanita paruh baya itu merasa khawatir karena selama ini Fina tidak pernah pingsan.


Perlahan kelopak mata itu terbuka setelah Nisa mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidung kakaknya itu. Fina bangkit dari dekapan Benny ketika melihat kehadiran Badiah di hadapannya.


"Bu, Fina tidak salah tempat 'kan Bu?" tanya Fina sambil mengamati bangunan yang tak jauh darinya.


"Tidak, Nak. Ini rumah kita yang dulu. Suamimu yang merubah semua ini menjadi lebih baik. Lihatlah ... sekarang ada toko kelontong di depan rumah kita, ibu tidak perlu berjualan di pasar lagi. Hari ini Ibu menggelar syukuran menempati rumah baru dan toko itu," jelas Badiah dengan mata yang berembun karena terharu atas pemberian menantunya.


"Semua ini adalah pemberian suamimu, Nak," ucap Badiah seraya menatap menantunya sekilas.


Seketika Fina mengalihkan pandangan ke samping. Semua rasa membaur menjadi satu di dalam hati. Rasa bersalah yang sangat besar mendominasi perasaannya saat ini, Apalagi saat melihat senyum manis dari pria tampan itu.


"Mas ... Mas ...." Fina hanya bisa memanggil suaminya dan setelah itu ....


Bruk.


Fina kembali tak sadarkan diri dalam dekapan hangat Benny. Semua orang kembali panik melihat kondisi Fina. Tanpa banyak bicara lagi, Benny segera mengangkat Fina ke dalam mobil. Kali ini Benny harus membawa Fina ke rumah sakit karena takut terjadi sesuatu yang tidak diiinginkan.

__ADS_1


"Elza di rumah saja ya sama Mbah Bad. Biar Papa sendiri yang membawa Mama ke rumah sakit," ucap Benny saat menemui Elza yang sedang berdiri di depan Nisa, "titip Elza dulu, Bu, Nis," pamit Benny sebelum pergi meninggalkan Elza di sana.


Kejutan yang sudah disiapkan Benny selama ini berujung pada kekhawatiran semua orang. Dalam bayangan pria tampan itu, istrinya akan bahagia setelah melihat perubahan yang terjadi di tempat dia dibesarkan selama ini. Rumah lama Badiah diam-diam telah direnovasi Benny menjadi lebih bagus dan tentunya lebih besar. Mantan duda itupun membangunkan toko untuk Badiah. Tak lupa dia ikut andil mengisi barang dagangan di toko tersebut. Semua ini dilakukan karena Benny kasihan melihat mertuanya harus mencari nafkah di tengah gelapnya malam. Lagi pula tidak ada salahnya dia mempersembahkan semua ini untuk seorang ibu yang sudah berhasil menjaga dan mendidik putrinya menjadi sosok yang mendekati sempurna. Tanpa bicara dengan Fina, dia pergi menemui Badiah untuk merencanakan semua ini.


"Semoga kamu baik-baik saja, Sayang," gumam Benny dengan sorot khawatir setelah melihat istrinya tak kunjung sadar di jok belakang.


****


Embun masih menutupi bola mata seorang pria yang duduk di sisi bangkar yang ada di IGD. Pria itu tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari wajah cantik yang tak kunjung sadar itu. Padahal hampir satu jam lebih mendapatkan tindakan medis.


"Sayang, bangunlah. Ada kabar bahagia yang harus kamu dengar," ucap Benny sambil mengusap pipi mulus istrinya itu, "aku harap kamu tidak pingsan lagi setelah kabar mengejutkan ini." Benny mengembangkan senyum tipis.


Tak berselang lama, Kelopak mata itu perlahan mengerjap pelan. Beberapa kali mengedipkan mata untuk menyesuaikan cahaya lampu di sana. Setelah benar-benar sadar, Fina menoleh ke samping. Dia menatap suaminya itu dengan mata yang berembun. Rasa bersalah semakin memenuhi hati tatkala melihat senyum tipis mengembang di wajah tampan itu.


"Mas," gumam Fina seraya berusaha bangun dari bangkar. Dia duduk di sana sambil menatap Benny yang ikut bangkit dari tempat duduknya.


Benny meraih tubuh ramping itu ke dalam dekapannya. Kecupan mesra mendarat beberapa kali di puncak kepala itu. Sementara tangannya mengusap lembut punggung yang tertutup sebagian kerudung berwarna dark olive itu.


"Aku sengaja memberikan kejutan ini agar kamu bahagia. Sikapku akhir-akhir ini hanya drama untuk mengulur waktu agar kita pulang di saat semuanya sudah selesai. Aku juga minta maaf karena sempat bersikap tidak baik hingga membuatmu tertekan dan sakit. Jujur saja aku merasa bersalah karena hal ini," ucap Benny dengan suara yang lirih karena mereka sedang berada di salah satu bilik IGD.


"Aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih kepada Mas atas semua yang aku lihat tadi," gumam Fina tanpa menatap Benny. Dia masih menangis di dada sang suami karena rasa yang membaur menjadi satu.


"Kamu tidak perlu berterima kasih karena keluargamu adalah tanggung jawabku juga," jawab Benny seraya mengurai tubuh sang istri.

__ADS_1


Fina tak henti menangis karena menyesal atas semua yang sudah dia lakukan. Bola matanya mengamati tangan yang kiri, di mana ada perban yang membalut selang infus.


"Mas, apakah keadaanku parah? Kok sampai diinfus segala?" selidik Fina seraya menatap Benny.


"Tidak, Sayang. Keadaanmu baik-baik saja, cuma tensimu turun. Terus kamu terlihat lemah, jadi dokter memutuskan untuk memberikan infus. Kita bisa pulang setelah infus itu habis," jelas Benny seraya meraih tangan kanan Fina.


"Lagi pula ada kondisi lain yang membuat dokter jaga memutuskan untuk memberikan infus kepadamu. Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan kamu karenaβ€”" Benny menghentikan ucapnya dengan bola yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Sepertinya dia sedang merangkai kata yang tepat untuk masalah ini.


"Karena apa, Mas? Apa aku sakit parah?" Fina mencoba menerka kepingan kata-kata yang belum tuntas itu.


"Tenang dulu. Jangan menerka yang buruk dulu." Benny mencoba menenangkan istrinya.


"Dokter melakukan tindakan ini karena ternyata kamu sedang hamil empat minggu, Sayang," jelas Benny seraya mengambil sesuatu yang ada di saku jaketnya, "lihat hasil tes ini. Kata dokter bagian kecil ini adalah janin yang baru tumbuh di rahim kamu. Tadi saat kamu belum sadar dokter melakukan USG karena curiga kamu hamil dan ternyata memang benar begitu." Benny tersenyum manis saat menjelaskan hal itu.


"Aku hamil, Mas? Kamu serius, Mas?" Fina kembali terkejut dengan kabar ini. Dia mengambil gambar gelap itu dari tangan suaminya. Air mata kembali luruh ketika Fina mengamati hasil USG itu.


"Iya, Sayang. Serius. Kata dokter mual yang kamu alami beberapa hari yang lalu bukan karena asam lambung, tetapi karena kamu sedang hamil muda." Benny menyampaikan penjelasan dokter jaga yang memeriksa Fina.


Wanita cantik itu tak sanggup lagi untuk bicara. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya jika hari ini akan mendapatkan dua kabar bahagia yang mengejutkan. Sungguh, dia tidak tahu harus bagaimana lagi berterima kasih kepada Sang Kuasa.


"Ya Allah, terima kasih atas semua hal yang Engkau berikan kepada hamba," batin Fina sambil memeluk tubuh suaminya.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Duh senengnya ternyata Mbak pina hamidun 😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2