Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Stasiun Penuh Drama


__ADS_3

"Hati-hati di jalan. Jangan sibuk nonton film korea saja, fokus sama keadaan sekitar!" Badiah memberikan nasihat kepada Nisa sebelum berangkat ke Surabaya. Ibu dan anak itu berada di depan stasiun kereta api Mojokerto.


Nisa hanya mengembangkan senyum tipis setelah mendengar nasihat ibunya. Wanita paruh baya itu sudah bagaimana kebiasaan putrinya. Jika Fina jarang sekali menonton film, lain hanya dengan Nisa. Putri bungsu Badiah itu benar-benar pencinta drama korea. Entah itu romantis ataupun action.


"Iya, Bu. Siap beres!" jawab Nisa dengan diiringi senyum jenaka.


"Tetep hafalan, jangan sampai lupa itu ayat-ayatnya. Biar gak sia-sia mondok bertahun-tahun!" Badiah kembali memberikan petuahnya


Nisa hanya mengacungkan kedua jempolnya sebagai jawaban. Setelah bersalaman dan pamit kepada ibunya, Nisa segera masuk ke dalam stasiun untuk mengurus masalah tiket keberangkatan.


"Semoga aja dia gak mengikutiku!" Nisa mengedarkan pandangan ke sekelilingnya untuk memastikan jika Ardi tidak mengikutinya, "sepertinya aman!" gumam Nisa setelah tidak menemukan batang hidung pria yang selalu mengikutinya.


Kereta tujuan Surabaya telah tiba. Semua penumpang bergegas masuk karena tidak lama lagi kereta akan berangkat. Nisa masuk ke dalam gerbong kereta nomor dua. Pagi itu penumpang kereta api melonjak dari biasanya karena sekarang adalah hari libur.


"Waduh, penuh." Nisa bergumam karena tidak menemukan tempat duduk di gerbong dua. Dia melanjutkan langkahnya menuju gerbong tiga.


Nisa menemukan satu tempat duduk di sana. Kebetulan dia duduk bersebelahan dengan seorang pria. Sebelum duduk di sana, gadis cantik itu membungkukkan badan sebagai tanda pamit jika menempati bangku tersebut. Dia enggan untuk berjalan ke gerbong empat dan seterusnya.


"Mau kemana, Neng?" tanya pria yang ada di sisinya.


"Surabaya, Pak," jawab Nisa dengan sopan.


Tidak ada pembicaraan lagi di antara kedua penumpang tersebut. Kereta api tujuan Surabaya akhirnya berangkat setelah menunggu di stasiun beberapa menit. Perjalanan panjang akhirnya dimulai. Nisa memutuskan tidur sekejap daripada menonton drama korea karena situasi yang tidak memungkinkan. Dia menutup kelopak matanya dengan kedua tangan memeluk erat tas ransel yang ada di bagian depan tubuhnya.


Namun, baru saja gadis cantik itu terlelap, dia merasakan ada tangan yang meraba pahanya. Dia tak segera membuka kelopak mata agar mengetahui sikap pria yang ada di sisinya.


"Jangan kurang ajar ya!" teriak Nisa setelah merasakan tangan tersebut menelusup dibalik tas ransel. Hampir saja tangan tersebut mer3mas bongkahan padat yang tertutup hijab itu. Nisa terhenyak dari tempatnya.


"Berani sekali kamu melecehkan seorang wanita! Akan aku patahkan tanganmu!" teriak Nisa setelah berdiri dari tempatnya. Suara teriakan Nisa berhasil membuat gaduh seisi gerbong tersebut.

__ADS_1


Nisa mengangkat tangannya dan bersiap memukul pria yang masih bersikap tenang di sisinya itu. Akan tetapi tangannya dicekal oleh seseorang yang ada di balik badannya. Nisa menoleh ke belakang dan ternyata ada Ardi di sana.


"Jangan kotori tanganmu karena pria brengsek seperti dia," ujar Ardi seraya menarik tangan Nisa hingga gadis berhijab itu berada di balik punggungnya.


Tanpa banyak bicara lagi, Ardi menarik pria tersebut dari tempatnya. Hanya dengan sekali gerakan saja, dia berhasil memiting pria tersebut. Sekali pria jahat tersebut bergerak, maka bisa dipastikan tangan kanannya bisa patah.


"Ampun, ampun, ampun!" teriak pria tersebut karena tidak bisa bergerak.


"Ada keributan apa ini?" tanya petugas keamanan kereta api yang datang ke gerbong tiga.


"Dia melakukan pelecehan, Pak!" ujar Nisa sambil menunjuk pria yang ada di hadapan Ardi itu.


Petugas keamanan mengambil alih pria tersebut dari tangan Ardi. Petugas tersebut memberikan interuksi agar ketiga orang tersebut mengikutinya ke bagian gerbong depan untuk dimintai keterangan. Cukup lama Nisa berada di sana untuk dimintai keterangan dari petugas keamanan di kereta tersebut. Nisa diberikan hak penuh untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, tetapi gadis cantik itu tidak mau berurusan dengan hukum. Dia hanya meminta pelaku ditahan selama dalam perjalanan ini dan meminta agar di blacklist sebagai penumpang kereta api.


"Saya harap masalah seperti ini tidak terulang lagi," ucap Nisa sebelum pergi meninggalkan gerbong paling depan yang ditempati saat interogasi.


Langkah Ardi terhenti saat melihat Nisa termenung diambang pintu penghubung dari gerbong depan ke gerbong satu. Sepertinya gadis cantik itu merasa malu setelah kejadian ini.


"Ayo ikut aku! Pakai maskermu!" Ardi meraih tangan Nisa untuk digenggamnya. Pemuda berwajah manis itu menarik tangan Nisa agar mengikutinya menuju gerbong terakhir.


Beberapa pasang mata yang ada di gerbong satu, dua dan tiga terus menatap Nisa dan Ardi. Tentu mereka sangat penasaran terhadap Nisa. Mereka terus memandang Nisa yang sedang berjalan dengan kepala tertunduk.


"Duduklah!" ujar Ardi setelah sampai di bangku kosong. Suasana di sana tak seberapa ramai daripada gerbong depan.


"Sudah aku katakan, berhati-hatilah!" ujar Ardi setelah duduk di samping Nisa, "kenapa kau ini ceroboh sekali dengan memilih tempat duduk di sisi pria!" ujar Ardi seraya menatap Nisa dengan intens.


"Kenapa kamu mengikutiku lagi? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain?" tanya Nisa dengan suara yang lirih.


"Aku tidak mengikutimu. Kebetulan saja kita satu perjalanan. Tujuanku ke Bandara," jelas Ardi tanpa menatap Nisa. Dia duduk bersandar dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menolongku," ucap Nisa.


"Tidak ada kereta jurusan ke Bandara. Alasanmu tidak masuk akal," ucap Nisa dengan lirih. Gadis cantik itu sebenarnya masih shock atas kejadian yang baru menimpanya. Akan tetapi dia berusaha terlihat tegar dan kuat.


"Terkadang kita perlu melakukan hal yang tidak masuk akal demi tercapainya tujuan. Keselamatan jauh lebih penting dibandingkan segalanya. Kamu tidak perlu tahu alasanku memilih jalan ini," jelas Ardi dengan pandangan lurus ke depan.


"Jika kamu ingin menangis, menangislah! Selagi masih ada bahu untuk bersandar," ucap Ardi dengan sikapnya yang dingin.


Tanpa dikomando, bulir air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata. Nisa tergugu di bahu kokoh pria yang dianggapnya aneh itu. Sekuat apapun dia berusaha terlihat kuat, tetapi air mata tidak bisa diajak kompromi. Nisa terisak karena tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu sebelumnya.


Sementara Ardi hanya bisa terpaku karena tidak berani menyentuh gadis yang ada di sisinya itu. Dia tahu batasan-batasan terhadap gadis yang membuatnya penasaran itu. Tak ada pembahasan apapun selama dalam perjalanan hingga sampai di stasiun tujuan.


"Kamu turun di sini juga?" tanya Nisa ketika Ardi mengajaknya turun dari gerbong.


Pemuda berparas manis itu tak segera menjawab. Dia berjalan di sisi Nisa dengan wajah masam. Pemuda itu sepertinya sedang menanggung beban berat dalam hidupnya. Mereka berdua pada akhirnya keluar dari stasiun kereta api tanpa sepatah katapun.


"Sebenarnya aku tidak turun di sini. Aku akan mengantarmu sampai di tempat tujuan dan setelah itu aku akan melanjutkan perjalanan." Ardi berbicara sambil berkutat dengan ponselnya, "sebentar lagi taksi online akan datang. Tunggu di sini sebentar," ucapnya lagi. Tentu semua ini semakin membuat Nisa bingung harus bagaimana bersikap di hadapan Ardi.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Jangankan kamu, authornya aja bingungπŸ™„ Mau dibikinin rumah sendiri atau numpang di siniπŸ™„ Jangan lupa bagi vote deh biar authornya lancar mikir😎...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya super keren untuk kalian😍Kuy baca karya author Emak Gemoy dengan judul Suamiku(Calon) Adik Iparku. Jangan sampai gak baca ya😎...



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2