
"El, kita pulang yuk!" bujuk Fina seraya mengusap rambut tipis putra sambungnya itu.
Sementara sang empu hanya menggelengkan kepala. Sepertinya Elza nyaman berada di rumah ini. Selain dari suasana cukup ramai, dia pun ada teman bermain, tak lain adalah putra pertama Dita yang berusia empat tahun.
"Enggak mau, Ma! Aku mau tinggal di sini aja. Lagi pula setelah ini aku mau diajak uti jalan-jalan ke Malang," jawab Elza dengan tegas. Bocah berusia lima tahun itu duduk di atas pangkuan Fina.
"Mama kangen sama Elza. Apa Elza gak kangen bobo bareng Mama?" bujuk Fina sekali lagi.
Wanita cantik itu merasa kesepian di rumah megah suaminya karena tidak ada siapapun di sana. Lagi pula kehadiran Elza di rumah, mungkin bisa menjadi alasan untuknya berisitirahat malam ini. Dia merasa lelah karena Benny terus mengajaknya untuk menjalankan sunnah rosul.
"No, Ma! Aku gak mau pulang sebelum perut Mama besar! Kata Papa dan Uti, kalau aku ada di rumah, nanti adonan adek bayiku gak matang-matang. Jadi, aku pulang kalau adek bayi nya ada di sini," jelas Elza sambil mengusap perut rata ibu sambungnya itu.
Penjelasan bocah kecil itu berhasil membuat Ani dan Benny salah tingkah. Mereka tidak menyangka jika Elza akan menjelaskan hal itu kepada ibu sambungnya. Sementara Fina, dia sempat tercengang karena penjelasan Elza.
"Eemmm ... Mama jadi bingung harus ngomong apa lagi," gumam Fina sambil menggaruk kepala yang tertutup kerudung.
"Nak, sebaiknya kamu makan malam dulu deh sama suamimu," ucap Ani seraya menatap menantunya, "Ben, ajak istrimu makan." Ani menatap Benny penuh arti.
"Lain kali saja, Bu. Aku mau makan di luar. Elza mau ikut Papa jalan-jalan?" tanya Benny seraya menatap putranya.
"Tidak mau, Pa. Aku di sini aja sama adek Galang," tolak Elza dengan tegas.
Perbincangan hangat mulai terdengar di sana karena kedua anak dan menantu keluarga tersebut sedang berkumpul. Mereka bergurau dan suara gelak tawa pun terdengar di ruang keluarga tersebut. Hingga pada akhirnya, Benny mengajak istri cantiknya itu pulang dari sana.
"El, Mama pulang loh! Serius gak mau ikut?" Fina memastikan sekali lagi.
"Gak mau, Ma! Pokoknya Mama harus segera bikin adonan dedek bayi nya ya, Ma," ucap Elza dengan sorot mata penuh harap.
__ADS_1
Fina hanya mengembangkan senyumnya setelah mendengar pesan tersebut. Setelah berpamitan kepada semuanya, sepasang pengantin baru itu segera pergi dari rumah.
"Mas kenapa Elza didoktrin seperti itu sih? Kasihan loh dia. Lagi pula gak ada salahnya dia tinggal sama kita," gerutu Fina setelah keluar dari rumah mertuanya. Dia segera naik ke atas motor matic hitam itu. Kali ini mereka sengaja memakai motor karena hanya menempuh jarak yang dekat.
"Sudahlah, biarkan saja. Tidak ada jalan lagi untuk membujuk Elza. Kamu tidak tahu betapa keras kepalanya dia, saat bersikukuh ingin ikut menginap di Mojokerto," ucap Benny sambil mengarahkan setir motornya keluar dari halaman rumah orang tuanya, "pegangan dulu! Biar romantis," ucap Benny seraya menarik tangan Fina.
Fina mengembangkan senyumnya setelah mengeratkan kedua tangannya di perut Benny. Merasakan setiap udara yang berbeda dari biasanya. Momen ini adalah yang ditunggu Fina sejak dulu. Bisa merasakan betapa indahnya berada di atas motor yang sama dengan kekasih halal yang dikirim Tuhan dalam hidupnya.
"Sayang, nge mall yuk! Aku mau cari kaos buat ke Bali," ajak Benny.
"Buat apa lagi? Kaos di rumah bukannya udah banyak ya," tanya Fina.
"Tapi kan belum ada yang baru," jawab mantan duda itu.
Motor matic yang dikendarai Benny akhirnya sampai di salah satu mall terdekat dengan kawasan tempat tinggalnya. Pria tampan itu segera meraih tangan Fina setelah turun dari motor. Tangan halus itu saling bertautan dan digenggam dengan erat.
"Kok aku? Yang mau beli kan Mas," jawab Fina seraya menatap wajah tampan itu sekilas.
"Sekalian beli, Sayang," ucapnya sambil masuk ke dalam salah satu outlet merk pakaian ternama.
Sepasang suami istri itu akhirnya sibuk memilih pakaian yang ada di sana. Benny pun ikut memilihkan pakaian yang cocok untuk istri tercintanya itu. Banyak pakaian baru yang dipilihkan Benny untuk Fina. Bahkan dia sendiri belum mendapatkan pakaian yang cocok.
****
Detik demi detik telah berlalu. Waktu telah membawa sepasang suami istri itu tepat di angka sepuluh malam. Bersamaan dengan itu, mereka masuk ke dalam kamar setelah sholat berjamaah. Paper bag berisi barang belanjaan pun masih utuh di atas tempat tidur.
"Ayo buka barang belanjaan kita tadi, biar besok pagi kita bisa langsung paking," ucap Benny setelah naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Memangnya gak dicuci dulu?" tanya Fina saat mengikuti Benny naik ke atas ranjang.
"Iya besok pagi biar dicuci Mak Jum. Sore pasti kan sudah kering, kita bisa paking terus berangkat ke Bali," jelas ayah Elzayin itu sambil membuka salah satu paperbag yang ada di sana.
"Oh ya, apa Mas gak pengen cerita tentang mbak Dewi? Jujur aku tuh penasaran kenapa beliau dipecat," tanya Fina setelah teringat tentang masalah Dewi dan suaminya.
"Mas." Fina menepuk paha Benny karena pria itu tak kunjung menjawab.
Bukan tanpa sebab Benny bungkam setelah mendengar permintaan Fina. Dia takut istrinya itu jadi salah paham setelah mendengar apa ysng sudah terjadi di rumah ini, "tapi janji dulu, jangan marah dan dengarkan ceritaku sampai selesai. Jangan membuat spekulasi yang menjadikan pikiranmu tidak tenang!" ujar Benny seraya menatap Fina penuh arti.
"Iya, janji aku gak akan marah," ucap Fina dengan tegas.
"Dewi mencoba mencari perhatianku." Benny menatap Fina dengan intens.
"Mencari perhatian? Memangnya kenapa dia harus melakukan itu, Mas?" cecar Fina karena belum paham arah pembicaraan tersebut.
"Astaga ...." Benny bergumam lirih sambil menepuk keningnya.
"Cerita yang jelas dong, Mas. Biar aku ini mengerti dan tidak salah paham. Kalau Mas Ben ceritanya seperti teka teki aku ya gak ngerti," kilah Fina.
Helaan napas berat terdengar di sana. Mantan duda itu sepertinya harus merangkai kata agar istrinya itu mengerti tanpa harus marah. Mantan duda itu merasa jijik saat mencoba mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Dewi kala itu.
"Dewi sempat berusaha mencari perhatianku, karena dia ingin menjadi memilikiku. Dia sudah melakukan hal gila dan membuatku merasa jijik kepadanya. Dia juga menabur garam, terkadang serbuk bunga di atas dan di bawah tempat tidur ini. Mungkin dia sedang berusaha memikatku dengan pelet dari dukun," ujar Benny seraya menatap Fina dengan lekat. Dia hanya menceritakan garis besar dari peristiwa yang sudah terjadi.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Info resep adonan dedek bayi dong say🤣Komen dong komen😍mohon maap telat up karena othor baru pulang healing tipis🤣...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...