Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

"Kenapa Mas Benny makin ke sini kok ngeselin banget sih! Masa aku minta pulang ke Mojokerto saja gak boleh!" gerutu Fina sambil mengaduk kopi susu yang diminta oleh Benny.


Beberapa hari ini, Fina menyimpan kekesalan yang begitu besar kepada suaminya itu. Pasalnya sudah lebih dari satu bulan ini dia meminta pulang ke Mojokerto, tetapi tidak dikabulkan. Banyak alasan yang diucapkan mantan duda itu untuk menolak permintaan kecil Fina. Padahal tidak ada kesibukan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan. Justru minggu lalu mereka bertiga baru saja liburan ke pantai yang ada di Malang selatan. Hubungan di antara Fina dan Dita pun berangsur membaik seiring berjalannya waktu.


"Ini kopinya," ucap Fina dengan ketus setelah meletakkan secangkir kopi tersebut di atas meja, "El, bagaimana kalau kita main di kamar saja? Nanti kita main puzzle seperti waktu itu." Fina sengaja mengajak Elza pergi dari ruang keluarga karena tidak ingin bicara dengan suaminya itu.


"Papa gak diajak, Ma?" tanya Elza seraya menatap ayahnya.


"Tidak usah, Sayang. Biarkan Papa sendiri di sini, Papa lagi ada kerjaan. Jadi sibuk banget gak bisa diganggu," sindir Fina tanpa menatap Benny yang sedang memperhatikannya.


Ayah dari Elzayin itu hanya bisa menghela napas setelah melihat perubahan sikap istrinya. Sejak tadi malam, sepertinya Fina sedang mogok bicara dengannya. Tidak ada senyum manis serta tatapan cinta seperti biasanya. Ya, Benny sadar jika perubahan sikap Fina memang karena ulahnya sendiri.


"Ah sudahlah masa bodo," gumam Benny seraya membuang napasnya kasar.


Benny meraih ponsel yang ada di atas meja. Kedua jempol pria tampan itu menari-nari di atas layar ponsel, sepertinya dia sedang berbalas pesan dengan seseorang. Sesekali dia mengerucutkan bibir saat membaca pesan masuk di ponselnya.


Sementara itu, di dalam kamar yang dipenuhi banyak karakter robot itu, Fina merenung di sudut kamar. Dia mengawasi putra sambungnya yang sedang asyik menyusun puzzle. Tatapan wanita cantik itu menerawang jauh memikirkan keluarga yang ada di Mojokerto.


"Kenapa Mas Benny berubah begini sih? Padahal dulu kelihatannya sayang banget sama keluargaku. Akan tetapi sekarang malah seperti ini. Ternyata yang aku lihat selama ini hanya topeng," batin Fina sambil menatap Elza.


"Mama? Kenapa menangis?" tanya Elza ketika tidak sengaja melihat Fina menghapus air mata yang membasahi pipi.

__ADS_1


"Gak Papa kok, Nak. Mama hanya sakit kepala," ucap Fina seraya tersenyum tipis.


"Mama sakit? Kenapa gak bilang dari tadi?" tanya Elza seraya berdiri dari tempatnya saat ini. Bocah kecil itu berdiri di hadapan Fina. Lantas dia mengulurkan tangan hingga menyentuh kening Fina, "Mama lagi demam ya? Udah minum obat, Ma?" tanya Elza setelah merasakan suhu tubuh ibu sambungnya itu.


"Sudah kok. Tadi setelah sarapan Mama minum obat," jawab Fina dengan jujur, karena memang benar, sejak tadi malam dia mulai merasakan jika asam lambungnya naik. Akan tetapi dia lebih memilih diam dari pada berkeluh kesah kepada pria yang membuat pikirannya kacau.


"Kalau begitu kita tidur aja yuk, Ma. Biar Mama cepat sembuh," ajak Elza sambil menunjuk tempat tidurnya.


Fina beranjak dari tempatnya dan setelah itu dia naik ke atas tempat tidur Elza. Bocah kecil itu terlihat khawatir meski hanya demam biasa yang sedang dirasakan oleh Fina. Dia terus memeluk Fina karena takut terjadi sesuatu kepada wanita yang sangat disayanginya itu.


Detik demi detik terus berlalu. Hampir tiga puluh menit Fina mencoba tidur, tetapi masih saja terjaga. Kekesalan yang terpendam di hati telah mempengaruhi moodnya. Sementara Elza saja sudah tidur pulas sejak beberapa menit yang lalu.


"Sepertinya aku harus pulang sendiri saja. Gak masalah lah naik kereta ataupun bus umum. Naik taksi online kan bisa juga," gumam Fina dengan suara yang lirih karena tidak bisa menahan kerinduan yang begitu besar dalam hatinya.


"Mau kemana?" tanya Benny setelah Fina berada di ruang keluarga. Lebih tepatnya berdiri di sisi sofa.


"Aku minta izin pergi ke Mojokerto sendiri. Mas tidak perlu khawatir, aku sudah terbiasa naik kendaraan umum sendiri!" ucap Fina dengan datar. Dia menatap Benny sekilas, itupun dengan sorot mata penuh amarah.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke Mojokerto sendirian!" jawab Benny dengan tegas.


"Terus Mas maunya itu bagaimana? Aku minta pulang ke Mojokerto udah satu bulan lebih loh. Tapi apa? Mas gak bisa memenuhi itu, banyak alasan gak jelas! Sekarang aku mau pulang sendiri malah dilarang!" Fina mengeluarkan kekesalannya kepada Benny.

__ADS_1


"Sudahlah. Kamu ini tidak perlu merengek seperti anak kecil. Biasanya kamu jarang pulang juga gak ada masalah. Kenapa sekarang dipermasalahkan sih!" protes Benny dengan tatapan tak suka.


"Mas! Keadaannya sekarang berbeda! Dulu aku menahan rindu kepada ibu karena tuntutan pekerjaan. Sekarang aku ini istri kamu, Mas. Ibuku otomatis menjadi ibumu juga. Kok pemikiranmu begini sih, Mas? Apa sih salahnya jika aku minta pulang sebentar saja?" cecar Fina dengan suara bergetar.


"Kok kamu ngomongnya begitu? Kenapa harus menyangkut pautkan posisi?" Sepertinya Benny mulai terpancing emosinya.


"Memang seperti itu 'kan keadaannya? Kenapa? Aktingnya ketahuan ya? Aku pikir dulu Mas benar-benar sayang dengan keluargaku, tetapi apa sekarang? Mas sudah menunjukkan yang sesungguhnya!" ujar Fina lagi.


"Masalah ini gak perlu diperdebatkan lagi. Lebih baik kamu istirahat sana daripada marah-marah karena masalah sepele! Oke lah, kita akan pergi ke Mojokerto, tapi tidak dalam waktu dekat ini." Suara Benny mulai merendah, agar tidak terjadi perdebatan panjang di rumah ini.


"Terus kapan? Nunggu lebaran monyet?" Sepertinya Fina semakin emosi setelah mendengar ucapan Benny.


"Kalau kamu bersikap tidak sopan seperti ini, mending gak usah pulang ke Mojokerto sekalian!" sarkas Benny seraya menatap lekat wajah istrinya yang sudah berlinang air mata.


Fina sakit hati setelah mendengar sendiri bagaimana ucapan suaminya itu. Dia tidak menyangka sama sekali jika Benny berubah dalam waktu beberapa bulan setelah pernikahan. Andai saja melawan suami bukanlah sebuah dosa, maka saat ini wanita yang selalu bersikap lembut itu, pasti akan mendaratkan pukulan di tubuh suaminya. Fina benar-benar kesal melihat ekspresi wajah suaminya itu.


"Aku kecewa sama kamu, Mas!" teriak Fina sambil membuang tas selempangnya ke lantai. Setelah itu dia berlari melewati satu persatu undakan anak tangga sambil menangis pilu, "dasar suami gila!" ujar Fina setelah masuk ke dalam kamarnya. Pintu tak bersalah itu pun ikut menjadi korban.


Brak!


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Oke, sesuai dengan permintaan, othor akan kasih konflik kehidupan rumah tangga sehari-hari saja. Biar gak terlalu berat. Mau aku kasih pelakor atau pebinor, eh gak kuat mental sebelum mencoba. Takut diserang emak-emak pendukungnya Benny nih🤣...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2