
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Tepat setelah adzan dzuhur berkumandang, pihak keluarga dari Surabaya pamit pulang. Sementara Benny dan keluarga inti masih di sana, karena Elza tidak mau beranjak dari pangkuan Fina. Bocah kecil itu tetap pada pendiriannya, ingin tinggal di sini bersama pengasuh yang tak lama akan jadi ibu sambungnya itu.
"Elza Sayang, dengarkan Uti. Sekarang kita pulang yuk, kalau Elza sudah sembuh main ke sini lagi," bujuk Ani seraya mengusap rambut tipis itu.
"Gak mau, Uti. Aku mau di sini," ucapnya dengan suara yang bergetar. Dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh ramping itu.
"Nanti Papa kalau di rumah sendiri terus ada nenek lampir bagaimana?" Kali ini Benny ikut membujuk putranya.
"Biarkan saja. Pokoknya aku gak mau pulang!" ujar Elza sambil menyembunyikan wajah di dada Fina. Tidak peduli meski wajahnya terkena hiasan brokat yang dikenakan Fina.
Ani menghela napas melihat sikap cucunya. Tentu dia merasa tidak enak hati jika sampai Elza tinggal di sini. Bocah kecil itu pasti tidak mau pulang jika Fina tetap tinggal di sini.
"Sebaiknya Ibu pulang dulu saja. Nanti biar aku bujuk pelan-pelan," ucap Benny setelah beberapa menit terdiam.
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu. Kasihan Bapak kalau terlalu capek," ucap Ani setelah melihat kondisi suaminya.
Ani menemui Badiah untuk pamit pulang bersama keluarga yang masih ada di sana. Hanya Benny dan seorang sopir yang masih ada di sana karena Elza masih tetap pada pendiriannya.
"Hati-hati, Pak, Bu," ucap Benny saat mengantar kedua orang tuanya sampai di depan mobil.
"Iya. Kamu harus pulang loh! Jangan sampai nginep di sini!" Ani mengingatkan putranya agar menjaga sikap.
"Iya. Tenang saja, Bu." Benny tersenyum simpul setelah mendengar ucapan ibunya.
Mobil hitam yang dikendarai adik ipar Benny itupun akhirnya bergerak menjauh hingga hilang dari pandangan. Benny kembali ke rumah Badiah untuk menemui putranya yang masih ada di ruang tamu bersama Fina.
"Bapak istirahat dulu saja, sepertinya ini masih lama karena harus menunggu Elza dulu," ucap Benny saat menemui sopir yang mengantarnya hari ini.
"Kalau begitu saya mau ke masjid dulu, Mas. Nanti telfon saya saja kalau mau pulang," ucap sopir tersebut.
Setelah berbicara di teras bersama sopirnya, Benny masuk ke dalam ruang tamu. Tentu di rumah tersebut masih banyak saudara dan tetangga yang membantu Badiah sejak kemarin, maka dari itu di sana keadaannya cukup ramai.
"El, duduk sini sama Papa dulu ya. Mama mau ganti baju terus sholat. Sebentar saja," bujuk Fina seraya mengusap rambut tipis itu.
Bocah kecil itu menengadahkan kepala. Dia menatap lekat wajah cantik itu, seperti sedang menimbang apakah Fina sedang berbohong atau berkata jujur, "Mama enggak bohong 'kan? Nanti Mama ninggalin aku lagi," tanya bocah kecil itu.
"Memangnya Mama pernah bohong sama El?" Fina bertanya balik kepada Elza.
__ADS_1
"Tidak. Tapi aku takut ditinggal Mama lagi," ujar Elza.
"Mama hanya ganti baju sama sholat sebentar. Enggak lama kok," bujuk gadis cantik itu sekali lagi.
Pada akhirnya Fina berhasil membujuk Elza. Dia segera beranjak dari sana meninggalkan Benny dan Elza di ruang tamu. Duda tampan itu ditemani beberapa kerabat Fina agar tidak kesepian di sana. Obrolan para pria pun terdengar di sana. Benny harus beradaptasi dengan keluarga calon istrinya itu.
Cukup lama Fina berada di dalam karena harus menghapus make-up sebelum mandi dan melaksanakan kewajiban empat rakaatnya. Tentu dalam hal ini, Nisa ikut membantu kakaknya itu.
"Ya ampun Mbak, banyak banget peningsetnya," ucap Fina ketika melihat barang-barang yang ada di atas tempat tidur Fina.
"Iya alhamdulillah. Padahal aku gak minta loh itu," jawab Fina sambil menghapus make-upnya.
"Berarti Mbak itu termasuk beruntung karena bisa mendapatkan jodoh seperti Pak Benny. Belum apa-apa saja biaya kuliahku ditanggung beliau," ucap Nisa sambil menatap wajah kakaknya, karena dia sendiri sedang berkutat dengan kapas untuk menghapus riasan yang masih ada.
Tak lama setelah itu, akhirnya Fina keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar mandi. Segala rutinitas telah dilakukan gadis cantik itu hingga selesai. Dia memakai gamis santai untuk menemui Benny di depan.
"Fin,"
Sang pemilik nama menghentikan langkah ketika baru sampai di ruang tamu. Dia menoleh ke belakang karena Badiah yang memanggilnya, "iya, Bu. Ada apa?" tanya Fina.
"Pak Ben, mau kopi atau teh?" tanya gadis itu.
"Loh kok manggilnya 'Pak' sih, Fin? Mas Benny begitu loh," sahut paman Fina yang biasa dipanggil lek Har itu.
"Iya nih. Ganti panggilannya, Fin. Kamu itu sudah mau jadi istrinya Nak Benny, masa masih panggil begitu, dirubah dong." Badiah pun ikut memprotes Fina.
Benny hanya mengulum senyum mendengar hal itu. Keadaan ini tentu saja menguntungkan dirinya. Duda tampan itu pun sebenarnya risih karena Fina masih memanggilnya dengan sebutan 'Pak', "saya minum kopi saja, Bu," jawab Benny dengan senyum manis yang mengiringi.
Setelah Fina berada di ruang tamu, kerabat yang sempat menemani Benny pun pamit pulang. Mengingat waktu pun semakin bergulir, mereka harus istirahat karena sejak subuh sudah berada di sini untuk membantu Badiah.
"Ma, aku boleh ya bobo sama Mama di sini?" tanya Elza setelah Fina duduk di sana. Dia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Fina.
"Elza harus pulang sama Papa, karena harus kontrol ke rumah sakit dan sekolah," jelas Fina saat memberikan pengertian kepada Fina.
"Aku sekolah sama siapa kalau tidak ada Mama?" tanya bocah kecil itu lagi.
"Elza bisa diantar Mbak Dewi, Uti Ani atau Tante Dita," bujuk Fina.
__ADS_1
Obrolan itu harus terhenti karena ada Badiah yang membawakan kopi untuk calon menantunya. Tak lama setelah itu Badiah kembali ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
"Aku mau pulang tapi nanti sore saja. Aku masih kangen Mama. Tapi kalau hari minggu kita main ke sini ya, Pa! Awas saja kalau Papa gak mau!" ancam bocah kecil itu seraya menatap ayahnya.
"Iya, nanti kita kesini kalau hari minggu." Benny menyanggupi permintaan putranya dengan senang hati, tanpa penolakan sedikitpun.
Bocah kecil itu tak lagi bersuara setelah keinginannya disanggupi oleh ayahnya. Dia sibuk bermain ponsel yang baru saja diminta dari ayahnya. Sejak Fina pulang ke Mojokerto, Dewi lah yang menghandle segala urusan Elza.
"Fin, jangan lupa apa kata ibu tadi." Benny mengingatkan calon istrinya itu.
"Apa sih, Pak!" Seperti biasa, gadis itu mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu.
"Mas, Sayang! Mas! Kok masih 'Pak' saja!" protes Benny mengingatkan gadis pujaannya itu.
"Ih malu tahu!" Fina berdecak kesal karena Benny.
Sementara calon suaminya itu hanya mengulum senyum setelah melihat bagaimana ekspresi wajah Fina. Duda tampan itu tersenyum bahagia karena satu langkah awal menuju pernikahan telah terlewati. Setidaknya hari ini dia berhasil mengikat gadis cantik itu menjadi miliknya.
"Kalau tidak dibiasakan dari sekarang, pasti kalau sudah nikah lebih malu, Fin. Maka dari itu mulai dari sekarang latihan manggil 'Mas', kalau sudah nikah biar terbiasa," tutur Benny seraya menatap Fina penuh arti.
Duda tampan itu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Fina. Sebuah ide gila muncul dari kepalanya untuk menggoda gadis cantik yang akan menjadi miliknya itu, "Sayang, kita kan udah jadi calon suami istri, boleh dong kalau sekarang aku cium kamu seperti waktu di pantai dulu?" tanya Benny sambil menaik turunkan satu alisnya. Bibirnya mengembangkan senyum yang manis.
"Boleh kok! Boleh banget malahan!" ujar Fina sambil melipat lengan gamisnya. Tatapannya terlihat sinis dan tangannya mengepal erat, "asal Pak Benny merasakan dulu bagaimana pukulan tangan saya!" Tatapan tajam terlihat jelas dari sorot mata gadis itu sehingga Benny tidak bisa lagi menahan tawanya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Cielaah ... dikasih bogem mentah baru tahu rasa kau pakπ€£Bagi yang pengen lihat video visual othor, silahkan cek di IG othor ya @tie_tik dan jangan lupa difollowπ...
...ββββββββββββββββ...
...Sambil nunggu othor up, kuy baca karya author Morata dengan judul Hasrat Tuan Muda Arrogant. Jangan sampai gak baca yaπ
...
...π·π·π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1