
Senja perlahan hilang setelah sang surya kembali ke peraduan. Warna jingga mulai pudar karena kegelapan mulai menguasai cakrawala. Adzan magrib adalah tanda persimpangan waktu siang dan malam. Burung-burung telah kembali ke sarang, sementara hewan malam mulai bersiap untuk menguasai kegelapan.
"Ingat! Gak usah menatap Aris!" Benny kembali memperingatkan Fina sebelum masuk ke dalam mobil.
"Apa sih, Mas. Gak usah berlebihan begitu ih!" Fina mengulum senyum karena sikap posesif suaminya. Sejak tadi Benny sudah memberikan peringatan tentang hal ini.
Setelah membahas perkembangan Elza mengenai bakat yang sempat terpendam itu, Benny terpaksa mengalah demi prestasi putranya. Penjelasan panjang yang disampaikan Fina nyatanya mampu meyakinkan Benny, jika semua akan baik-baik saja. Malam ini mereka akan pergi menemui Syakur di padepokannya.
"Ma, aku seneng banget karena boleh latihan lagi. Aku pasti bisa ikut kompetisi ya, Ma!" ujar Elza setelah semuanya masuk ke dalam mobil. Bocah berusia enam tahun itu sangat semangat setelah tahu jika dirinya diizinkan berlatih.
"Pasti dong! Kalau Elza semangat dan terus belajar, pasti nanti masuk seleksi lagi. Masih ingat 'kan nasihat Mama dulu?" Fina mengingatkan kembali bagaimana dulu saat dia membimbing Elza.
"Harus konsisten dan fokus!" jawab Elza dengan antusias.
"Pinter banget anaknya Mama ini!" puji Fina seraya menatap Elza yang ada di kursi belakang.
"Oh iya, Mama ikut latihan juga 'kan?" tanya bocah kecil itu.
"Tidak. Papa tidak mengizinkan Mama latihan bela diri!" sahut Benny dengan sinis.
"Memangnya kenapa, Pa?" Elza penasaran dengan alasan ayahnya.
"Setelah ini Mama mau punya adek bayi lagi!" jawab Benny asal, karena tidak mungkin jika dirinya mengungkap alasan yang sebenarnya.
"Serius, Pa? Wah ... berarti setelah ini aku harus jadi pendekar biar bisa melindungi adek bayi!" Elza terlihat bahagia setelah mendengar jawaban ayahnya, "memangnya Papa dan Mama sudah bikin adonannya ya? Aku kok enggak tahu?" celetuk Elza.
Tentu hal ini membuat Fina dan Benny saling pandang untuk sesaat. Mereka tidak menyangka jika Elza menanyakan hal ini. Benny hanya mengedikkan bahu sambil fokus dengan kemudinya. Dia tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena takut salah memberikan jawaban.
__ADS_1
"Sudah, Nak. Oh iya, ngomong-ngomong Elza nanti kalau latihan sendiri di padepokan gak masalah 'kan? Papa yang akan mengantar jemput Elza kalau latihan." Fina mengalihkan pembicaraan karena tidak mau memperpanjang adonan bayi.
"Ya ..." Elza terlihat kecewa setelah mendengar pertanyaan itu, "aku kira nanti latihannya di rumah. Tadi aku sudah mengajak Putra dan yang lain, Ma. Mereka mau ikut latihan di rumah," jelas Elza.
"Nanti Papa usahakan latihan di rumah," sahut Benny setelah mendengarkan penjelasan putranya, "Papa juga setuju jika latihannya di rumah. Biar Papa bisa mengawasi pelatihnya," ujar Benny dengan sinis. Dia sempat melirik Fina untuk sesaat.
Fina hanya mengembangkan senyum tipis ketika mendengar ucapan sinis dari suaminya. Ada rasa bahagia ketika tahu jika Benny cemburu kepada pria lain. Tentu ini pertanda jika ayah Elzayin itu sangat mencintai dan tidak mau kehilangannya.
"Mas, jangan bersikap begitu. Ada Elza," ucap Fina dengan diiringi senyum tipis.
Setelah berkendara selama beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil yang dikendarai Benny sampai di halaman padepokan perguruan bela diri milik Syakur. Mereka bertiga bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk untuk bertemu dengan sang pemilik.
"Assalamualaikum," ucap ketiganya begitu masuk ke dalam padepokan tersebut.
Semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk setelah mendengar ucapan salam. Sang pemilik padepokan ini pun berdiri untuk menyambut kehadiran Benny sekeluarga.
Mereka bertiga ikut bergabung bersama beberapa pria yang memakai seragam latihan dan ternyata di sana ada Aris. Pria beristri itu terkejut melihat kehadiran Fina di sana. Dia terpaku pada sosok yang terlihat semakin cantik itu. Akan tetapi tak lama setelahnya dia sadar jika pandangannya tak luput dari pengawasan Benny.
"Wah, saya tidak menyangka jika akan mendapat tamu spesial malam ini," ucap Syakur setelah duduk di sisi Benny. Terlihat jelas jika Syakur sangat bahagia melihat kehadiran keluarga itu.
"Iya, Pak Syakur. Saya memang sengaja datang silahturahmi ke sini. Saya ingin bertemu Bapak," jawab Benny dengan diiringi senyum tipis. Dia menatap Syakur dengan intens.
"Wah, pasti ada sesuatu yang penting ini," ucap Syakur sambil mengubah posisi duduknya.
Benny menyampaikan maksud kedatangannya ke padepokan ini. Dia mengatakan jika Elza ingin masuk ke perguruan ini lagi. Benny pun meminta agar Elza dilatih ke jalur prestasi untuk melanjutkan kemampuan yang sempat tertunda karena cidera.
"Tentu dengan senang hati kami menerima Elza, Pak. Kami pasti akan membimbing Elza sampai dia mendapatkan prestasi yang dia inginkan. Bapak tidak perlu khawatir mengenai hal itu karena di sini banyak pelatih yang berkompeten," jelas Syakur sambil menepuk lengan Benny.
__ADS_1
"Jika saya meminta latihan di rumah seperti dulu kira-kira bisa atau tidak, Pak? Karena ada beberapa teman Elza yang mau ikut jika latihan di rumah," tanya Benny tanpa mengalihkan pandangan dari Syakur.
"Wah kalau untuk itu, saya belum bisa menjawab, Pak. Lebih baik untuk sementara Elza dan temannya latihann di sini dulu. Nanti kita akan lihat bagaimana ke depannya. Saya usahakan bisa latihan di rumah agar Pak Benny tidak khawatir," jawab Syakur setelah berpikir beberapa detik.
"Saya berharap keinginan saya ini bisa terwujud, Pak, karena terkadang saya masih kerja. Jadi, tidak bisa mengantar Elza." Ayah dari Elzayin itu masih berharap keinginannya dikabulkan.
"Loh memangnya Bu Fina tidak latihan juga, Pak?" tanya Syakur. Dia sengaja memanggil Fina dengan sebutan 'Bu' karena saat ini anak didiknya itu sudah menjadi istri Benny.
"Tidak, Pak. Saya memang tidak mengizinkan istri saya latihan lagi, Pak. Kami sedang berencana untuk memiliki momongan lagi," jelas Benny. Dia menatap Aris sekilas saat menjelaskan itu.
Syakur menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah mendengar jawaban Benny, "semoga setelah ini ada kabar baik, Pak. Saya turut berduka atas musibah yang sempat menimpa," ucap Syakur sambil menggenggam tangan Benny untuk sesaat, sebagai tanda kepedulian.
Berita kecelakaan naas yang dialami Beny dan Fina sempat menjadi pembahasan di Surabaya. Mengingat, saat kejadian itu berlangsung, ada wartawan yang kebetulan melintas di sana. Apalagi, nama Benny pun cukup ternama di sana. Dia dikenal sebagai bos AlasKa, pemilik industri alas kaki cukup besar di sana.
"Terima kasih, Pak," ucap Benny dengan diiringi senyum tipis.
Sementara Aris hanya bisa diam dan menyimak semua pembicaraan itu. Dia tak henti mencuri pandang ke arah Fina karena tertarik dengan pesona kecantikan Fina yang semakin menjadi setelah menikah dengan Benny.
"Kamu semakin cantik, aku menyesal sudah melepaskanmu dulu. Andai kita bisa bersama, pasti aku menjadi pria paling beruntung di dunia ini," batin Aris dengan kepala tertunduk.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...ββββββββββββββ...
...Selamat hari mingguπAda rekomendasi karya yang wajib kalian baca untuk mengisi hari libur nih. Kuy mampir di karya author Crazy_Girl dengan judul Duda Tampan Misterius. Jangan sampai gak baca karya sahabat othor ini yaπ...
__ADS_1
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉ...