
Malam telah hadir setelah ditinggalkan sang raja sinar. Gemerlap bintang mulai menghiasi hamparan gelap gulita, karena sang dewi malam memilih menyembunyikan kecantikannya.
"Papa, tadi Mama nangis karena Tante Dita jahat!" Elza mengadukan perihal yang terjadi tadi siang kepada ayahnya.
"Enggak, Sayang. Tante itu tidak jahat." Tentu saja Benny tidak mau ikut memprovokasi putranya.
"Jahat, Pa! Suaranya keras sekali, sampai aku terkejut," ujar Elza seraya menatap ayahnya dengan lekat, "boleh ya aku pukul Tante kalau sudah bertemu? Biar tidak jahat lagi sama Mama!" ujar Elza dengan suara yang meninggi.
"Loh, gak boleh begitu dong! Gak boleh jahat sama orang yang lebih tua. Tante Dita pasti minta maaf kepada Mama kok. Jadi, Elza tidak perlu melakukan semua itu," tutur Benny sambil mengusap rambut putranya.
Obrolan di antara anak dan ayah itu harus terhenti ketika Fina datang ke ruang keluarga. Wanita cantik itu membawa piring keramik berwarna putih dan diletakkan di atas.
"Pudding cokelat ala chef Fina siap dihidangkan!" ujar Fina dengan senyum ceria, "siapa yang mau ini?" tanya Fina sambil menatap wajah anak dan ayah bergantian.
"Aku!" teriak Elza dan Benny serempak. Mereka segera mengambil puding yang sudah dipotong-potong di atas piring keramik itu.
Kehangatan keluarga terasa di sana. Suara gelak tawa Elza terdengar nyaring karena merasa terhibur dengan gurauan ayahnya. Bocah kecil itu terlihat ceria karena pada akhirnya bisa merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orang tua.
"Sudah jam sembilan malam, waktunya Elza bobo nih," ucap Fina setelah melihat jam dinding yang ada di sana, "mari Mama temani," ucap Fina seraya beranjak dari tempatnya.
"No! Aku mau ke kamar dan tidur sendiri, Ma! Karena aku sudah besar," sergah Elza seraya menahan pergelangan tangan ibu sambungnya itu.
"Widih ... anaknya Mama pinter banget kalau begitu. Memangnya kata siapa kalau Elza sudah besar?" tanya Fina tanpa melepaskan pandangan dari wajah putranya itu.
"Tadi kata bu Guru begitu, Ma. Kalau sudah sekolah berarti sudah besar dan harus belajar bobo sendiri. Terus kata bu Guru anak laki-laki itu wajib sunat kalau sudah berani. Memangnya sunat itu sakit ya, Ma?" jelas Elza sekaligus bertanya kepada Fina.
"Wah ... berarti Elza udah pinter sejak kecil dong. Dari dulu kan udah tidur sendiri. Tapi ... akhir-akhir ini kok jadi manja, maunya tidur sama Mama terus! Berarti Elza belum besar dong," ujar Fina sambil menoel pipi putranya itu.
__ADS_1
"Maka dari itu mulai malam ini aku mau bobo sendiri. Kalau aku punya adek bayi, nanti bobo sama adek bayi ya, Ma," ucap Elza dengan antusias.
"Tentu dong." Fina mengembangkan senyumnya yang manis.
"Jadi bagaimana, Ma? Sunat itu sakit kah?" Elza sepertinya masih belum paham tentang bagaimana sunat yang sebenarnya.
"Kalau untuk itu mending Elza tanya Papa saja, karena sunat itu khusus untuk laki-laki," jelas Fina sambil menatap Benny penuh arti.
Tentu pria tampan itu hanya tersenyum tipis saat mendapat lemparan tugas menjelaskan kepada Elza. Dia mulai menggaruk tengkuknya saat menanti pertanyaan sulit yang akan dilontarkan putranya setelah ini.
"Jadi bagaimana, Pa? Apa rasanya sunat itu sakit?" tanya Elza saat berdiri di hadapan ayahnya.
"Tidak. Sunat tidak sakit," jawab singkat Benny seraya menatap putranya dengan senyum manis.
"Memangnya Papa sudah sunat ya? Kok bisa bilang kalau sunat itu gak sakit?" cecar Elza tanpa melepaskan pandangan dari wajah ayahnya.
"Kalau begitu aku boleh lihat gak, Pa, bagaimana kalau selesai disunat?"
Sungguh, pertanyaan Elza kali ini membuat Benny terbelalak. Dia tidak menyangka jika putranya memiliki daya pikir sejauh itu, "gak boleh! Di masa depan Elza pasti tahu sendiri kalau emang sudah sunat. Memangnya Elza minta sunat kapan sih?" Benny mencoba mengalihkan pembahasan.
Sementara Fina hanya bisa mengulum senyum setelah menyimak pembicaraan ayah dan anak itu. Ingin tertawa lepas tapi masih menjaga sikap di hadapan Elza. Dia sampai menoleh ke arah lain agar Elza tidak banyak bertanya kepadanya.
"Bagaimana kalau Papa sunat lagi biar kita bisa barengan, Pa? Aku gak takut kalau ada temannya." Sungguh, pertanyaan ini berhasil membuat kepala Benny berdenyut. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana lagi karena jika pembahasan ini dilanjutkan, maka akan melebar kemana-mana. Pemikiran cerdas putranya tidak akan berhenti sebelum dia benar-benar paham dan mengerti.
"Elza Sayang. Sebaiknya sekarang Elza bobo gih. Tuh lihat sudah jam berapa? Kali ini Elza telat bobo loh." Kali ini Fina mencoba membantu suaminya agar tidak terjebak pertanyaan Elza.
"Oh iya. Aku sampai lupa kalau harus tidur. Maaf ya, Ma," ucap Elza seraya menghampiri Fina. Dia mengecup pipi mulus ibu sambungnya itu sebagai tanda permintaan maaf, "aku ke kamar dulu ya, Ma ... Pa. Good night," pamit Elza sebelum pergi dari ruang keluarga.
__ADS_1
Setelah memastikan Elza sampai di lantai dua. Benny dan Fina saling pandang dan tertawa bersama. Tentu saja pembahasan yang sempat terjadi di sana telah menggelitik sepasang suami istri itu.
"Jadi bagaimana, Sayang? Apakah aku harus mengikuti permintaan Elza? Sunat yang kedua kalinya?" tanya Benny sambil menatap Fina penuh arti. Dia tersenyum jenaka karena merasa lucu saja dengan putranya.
"Coba aja kalau Mas mau. Siapa tahu bisa ganti model helmnya," seloroh Fina hingga membuat Benny semakin tertawa lepas. Semakin hari istrinya itu semakin berani saat membahas hal-hal seperti ini.
"Serius nih? Kamu gak nyesel? Nanti ukurannya jadi berkurang loh!" cecar Benny di sela-sela gelak tawanya.
"Nanti kalau kurang panjang ya gampang. Bisa disambung pakai kantung semar." Fin semakin terkekeh karena pembahasan ini semakin lama semakin tak karuan.
Hingga beberapa waktu ke depan, sepasang suami istri itu bercanda di ruang keluarga. Mereka tidak lagi membahas masalah sunat yang berhasil membuat sakit perut. Banyak hal yang mereka bicarakan hingga larut malam. Tidak ada aktivitas apapun malam ini karena jalan menuju gua garba tidak bisa dilewati.
"Oh, ya, Mas ... kapan nih kita main ke Mojokerto? Aku kangen banget sama Ibu. Sekalian ambil foto pernikahan kita. Kata Nisa udah dikirim kok sama pihak WO," tanya Fina setelah teringat pesan dari adiknya tadi pagi.
"Emmm ... kapan ya? Lain waktu dulu deh," jawab Benny dengan ragu.
"Loh memangnya kenapa, Mas? Kalau Mas sibuk kita ke sana hari minggu saja deh, pagi datang sorenya pulang. Pengen ketemu Ibu sama Nisa aku, Mas," cecar Fina.
Benny tak segera menjawab pertanyaan itu. Dia sepertinya sedang memikirkan permintaan istrinya. Entah apa yang membuat mantan duda itu berpikir dua kali. Padahal biasanya dia paling semangat bila pergi ke Mojokerto untuk menemui mertuanya itu. Mungkinkah karena dia sudah berhasil memiliki Fina sehingga tidak ada lagi misi merebut hati mertua?
"Aku belum bisa menentukan kapan kita akan pergi ke sana. Nanti jika memang ada waktu kita langsung pergi ke sana. Untuk sementara lebih baik kamu video call saja jika kangen Ibu dan Nisa," ucap Benny seraya menatap Fina dengan lekat, tanpa senyuman ataupun wajah ceria.
{*Sunat\=Khitan}
...๐นTo Be Continued ๐น...
...Mau konflik berat atau ringan nih? Kuy komen๐...
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...