
Pesan ini saya kirim untuk Kang Aris dan Pak Benny secara siaran. Saya sudah memutuskan pilihan dengan kepala dingin. Siapa pun yang hari ini datang terlebih dahulu menemui ibu saya, dialah yang saya pilih. Saya tunggu di rumah Mojokerto.
Pesan masuk yang baru terbaca itu, berhasil membuat Aris kelabakan. Pemuda manis itu sedang berada di kelas, mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh profesornya. Dia bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Satu hal yang pasti, dia tidak mau jika sampai Fina dimiliki oleh Benny.
"Aku harus nekat ke Mojokerto. Aku tidak boleh kalah sama pak Benny. Lagi pula, dia pasti masih sibuk menjaga Elza," batin Aris setelah berpikir beberapa menit lamanya.
Untung saja kelas yang dia ikuti kali ini kurang beberapa menit akan berakhir. Aris sendiri sudah tidak sabar ingin segera berangkat karena waktunya tidak banyak. Kali ini dia sedang berperang dengan waktu demi mendapatkan permata indah itu.
Tolong kirim alamat lengkap rumahmu serta share lokasinya.
Setelah mengirim pesan kepada Fina, Pemuda manis itu beranjak dari tempatnya setelah Profesor keluar dari kelas. Dia berlari menuju tempat parkir agar waktunya tidak terbuang sia-sia. Namun, baru saja dia naik di atas motor sport kebanggaannya ada seorang gadis cantik menghampirinya.
"Ris, jalan yuk! Lagi free nih!" Gadis itu bersikap manja di sisi motor Aris.
"Minggir, Mir! Aku lagi buru-buru!" ujar Aris setelah memakai helmnya, "kita jalan lain waktu. Sekarang biarkan aku pergi!" ujarnya setelah menghidupkan motor sport itu. Sementara gadis bernama Mira itu hanya mendengus kesal setelah mendapat penolakan dari Aris. Dia merasa heran saja karena tidak biasanya Aris menolak ajakannya.
Berbekal keberanian dan nekat, Aria berangkat ke Mojokerto tanpa pamit kepada orang tuanya. Dalam pikirannya saat ini hanya ada Fina dan restu ibu dari gadis cantik itu. Tanpa membawa cincin ataupun materi yang bisa mengikat gadis pujaannya dalam sebuah hubungan, Aris melajukan motornya ke arah luar kota. Doa-doa terus dipanjatkan pemuda tampan itu agar takdir berpihak padanya.
Kepadatan lalu lintas di Surabaya tak menyurutkan usaha pemuda manis itu. Beberapa jalur alternatifpun sudah dia lewati agar cepat sampai di kota sang gadis impian. Namun, Aris harus menghentikan motornya ketika di depan ada pemberhentian lalu lintas
"Jalan di tutup, Mas! Balik arah saja karena ada container oleng," ujar seorang warga yang kebetulan ada di sana.
"Waduh!" Aris berdecak setelah mendengar pemberitahuan tersebut, "terima kasih, Pak," ucap pemuda manis itu sebelum putar balik.
Tentu keadaan ini membuat Aris cukup kesal karena waktunya akan habis dipakai mencari jalan lain. Akan tetapi semangat untuk mengejar gadis impiannya itu tetap berkobar. Dia semakin menambah kecepatan laju motornya melalui jalur yang lain. Dia berharap setelah ini tidak ada kendala yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
Lagi dan lagi sepertinya usaha atlet bela diri itu tak semulus jalan tol. Tanpa diduga dan dibayangkan sebelumnya, ban belakang motor tersebut mendadak kempes. Tentu ini adalah hambatan besar untuknya. Terlebih di sekitar sana tidak ada tukang tambal ban, dia harus berjalan kaki sambil mendorong motor tersebut.
"Ah sial! Kenapa pakai bocor segala sih!" umpat Aris sambil mendorong motor sport tersebut. Dia mulai kesal karena rintangan yang dia hadapi, "semoga saja pak Benny tidak bisa datang ke Mojokerto," ucap Aris penuh harap.
****
Lain Aris lain Benny. Kedua pria yang sedang berusaha mendapatkan Fina itu memiliki keadaaan yang berbeda. Jika Aris langsung gerak cepat pergi ke Mojokerto, justru Benny kebalikannya. Setelah membaca pesan yang dikirim Fina, duda satu anak itu tak segera berangkat karena harus menunggu Ani datang untuk menggantikan dirinya di rumah sakit.
Duda satu anak itu merasa cemas karena takut kalah dengan Aris. Dia tak henti berdoa agar Tuhan memberikan kemudahan untuk dirinya. Dia mondar-mandir di sisi bed pembaringan pasien dengan kepala yang tertunduk.
"Papa ini kenapa? Kok mondar-mandir terus?" protes Elza setelah melihat pergerakan ayahnya.
"Papa sedang memikirkan Mbak Fina," gumamnya tanpa menatap Elza.
"Memangnya kenapa, Pa?" tanya Elza penasaran, "Mbak Fina benar-benar ninggalin aku ya Pa?" tanya Elza dengan suara yang bergetar.
"Justru sekarang Papa mau jemput Mbak Fina, tapi nunggu uti datang dulu," jawab Benny setelah duduk di kursi yang ada di sisi bed.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan tersebut terbuka. Ani bersama Dewi masuk ke dalam ruangan tersebut. Wanita paruh baya itu sengaja mengajak ART putranya untuk membantu menjaga Elza.
"Bu, kalau begitu aku berangkat sekarang saja," ucap Benny setelah bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, hati-hati di jalan, Ben. Semoga berhasil," ucap Ani sambil menepuk bahu putranya. Tentu wanita paruh baya itu hanya bisa berdoa yang terbaik untuk putranya.
Setengah berlari Benny keluar dari gedung raksasa ini. Dalam pikirannya saat ini hanya ada satu titik fokus yang tidak bisa dilepaskan. Tentu dia harus berhasil dalam perjuangan terakhir ini. Setelah masuk ke dalam mobil kesayangannya, Benny segera melajukan mobil hitam itu keluar dari tempat parkir yang luas itu.
__ADS_1
"Semoga saja Aris tidak datang ke sana! Semoga alam berpihak kepadaku," gumamnya dengan tatapan mata fokus ke jalan padat yang ada di hadapannya.
"Sial! Kenapa pakai macet segala sih!" umpat Benny ketika terjebak macet di jalur luar kota.
"Setelah ini lebih baik aku lewat tol saja biar lebih cepat," gumamnya lagi.
Pada kenyataannya jalan kedua pria berbeda status itu tidaklah mulus. Mereka memiliki rintangan masing-masing untuk mendapatkan permata indah yang menjadi idaman.
Keadaan yang sedang berlangsung ini tentunya adalah bagian eliminasi dari seorang ibu, karena putrinya sedang berada di persimpangan hati yang cukup rumit. Hanya ini keputusan yang tepat untuk menentukan jodoh seorang gadis bernama Fina itu.
Benny semakin cemas karena masih terjebak macet panjang yang tak kunjung usai. Ada rasa takut dalam diri duda satu anak itu setelah melihat waktu yang ada di dalam mobilnya. Waktu serasa terbuang sia-sia karena dia harus sabar menanti mobil-mobil yang ada di depan terurai. Hingga beberapa puluh menit lamanya, mobil hitam yang dikendarai Benny pun berhasil memasuki gerbang tol Surabaya-Mojokerto.
Setelah melewati loket masuk tol, Benny menginjak pedal gas semakin dalam. Mobil pajero hitam itu pun melaju kencang di jalur kanan. Benny seperti seseorang yang sedang kalap karena melajukan mobil hingga batas maksimal kecepatan jalan tol. Padahal, sebelumnya dia jarang sekali mengemudi dengan kecepatan seperti saat ini.
"Semoga saja aku sampai lebih cepat dari Aris. Ya Tuhan, tolong beri perlindungan hamba hingga sampai di Mojokerto. Semoga Aris tidak berhasil datang lebih cepat!" Hanya itu yang mampu diucapkan Benny selama dalam perjalanan yang masih panjang itu.
...πΉTo Be continued πΉ...
...Nanti siang mari kita lihat, siapa yang sampai di Mojokerto duluanπ€£...
...βββββββββββββββ...
...Ada rekomendasi bacaan untuk kalian sambil menunggu othor up. Jangan lupa baca juga karya author Lena Laiha dengan judul Salah Masuk Kamar....
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·π·...