Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kacau!


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena hanya tekanan darahnya saja yang turun. Mungkin kecapekan dan kurang tidur. Setelah ini harus istirahat yang cukup ya, Mas, biar cepat sembuh dan bisa melaksanakan tugasnya," ucap dokter bernama Singgih itu sambil mengulum senyum. Tentu ada maksud tersembunyi di balik nasihat yang diberikan dokter umum tersebut.


Setelah melewati malam dengan kepala yang terus berdenyut, akhirnya pagi-pagi sekali Fina memanggil dokter untuk memeriksa Benny di rumah. Kebetulan sekali ada dokter umum praktek di depan gang masuk rumahnya. Maka dari itu tidak perlu lagi ke rumah sakit dan puskesmas.


"Saya minta obat yang paling bagus, Dok," pinta Benny seraya menatap dokter tersebut penuh arti.


"Iya, Mas. Sudah saya berikan obat terbaik ini. Insyaallah setelah minum satu kali sudah ada hasilnya, ya ... meski masih butuh waktu untuk pulih seperti sebelumnya," ucap dokter tersebut, "Banyak minum air kacang hijau, Mas. Jangan sampai telat makan," tutur dokter Singgih sebelum beranjak dari tepian ranjang.


"Terima kasih, Dok," ucap Benny sebelum Singgih keluar dari kamar pengantin itu.


Fina mengantarkan dokter Singgih hingga keluar dari rumah. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan untuk Benny. Sepanjang malam, Fina tidak bisa tidur nyenyak karena mendengar suara rintihan Benny. Tadi malam suhu badannya pun naik hingga membuat mantan duda itu terus merintih.


"Mas, sarapan dulu gih. Terus minum obat seperti yang dianjurkan dokter Singgih tadi," ucap Fina setelah kembali ke dalam kamar dengan membawa sepiring makanan untuk suaminya. Dia duduk di tepian tempat tidur sambil memberikan piring tersebut kepada Benny.


"Aku pengen disuapin," ucap Benny dengan suara manjanya. Dia menirukan gaya Elza ketika meminta disuapi Fina.


"Lagi sakit begini tetep aja ngeselin ternyata!" ujar Fin dengan tatapan sinis. Dia merasa geli saja setelah mendengar suara manja suaminya itu.


"Ayolah, Sayang. Suapin aku," ucapnya lagi.


Fina bergidik ngeri setelah mendengar permintaan Benny sekali lagi. Tanpa banyak protes lagi dia segera melakukan permintaan suaminya. Wanita yang masih perawan itu dengan telaten memberikan pelayanan terbaiknya.


"Ini obatnya sekalian diminum," ucap Fina setelah menyiapkan beberapa butir obat dari dokter Singgih, "lebih baik sekarang Mas istirahat dulu. Aku mau bantu-bantu Ibu sebentar," ucap Fina setelah mengurus keperluan Benny.


"Jangan terlalu lama loh," pesan Benny sebelum Fina meninggalkan kamar tersebut.


*****


Waktu semakin cepat berlalu hingga tiba waktu dzuhur. Tepat saat itu pula Fina keluar dari kamar mandi. Dia baru saja membersihkan diri seusai membantu Badiah dan kini sedang bersiap menunaikan kewajiban empat rakaat. Dia masuk ke dalam mushola kecil yang ada di dekat dapur untuk beribadah.


Setelah beberapa menit berada di sana, Fina bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi suaminya. Ternyata Benny masih tertidur pulas di balik selimut tebal itu.


"Mas, bangun dulu gih," ucap Fina sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuh itu.

__ADS_1


"Mas ... sholat dzuhur dulu, terus makan siang." Fina menepuk bahu Benny beberapa kali.


Mantan duda itu menggeliatkan tubuh dan perlahan kelopak matanya terbuka lebar. Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibirnya ketika melihat istri barunya itu.


"Kamu udah sholat?" tanya Benny seraya bangun dari tempat tidur. Dia duduk di tepian ranjang sama seperti Fina.


"Sudah, Mas. Sekarang Mas lebih baik sholat dulu deh. Nanti lanjut istirahatnya," ucap Fina sambil menepuk bahu suaminya dan setelah itu dia beranjak dari sana. Wanita cantik itu duduk di depan meja rias untuk merapikan rambutnya.


Setelah kesadarannya penuh, Benny segera keluar dari kamar untuk membersihkan diri sekaligus menunaikan kewajiban empat rakaatnya. Sejak kemarin dia belum mandi sama sekali, karena dilarang oleh orang-orang di sekitarnya. Sementara Fina setelah menyelesaikan rutinitasnya di depan meja rias, dia beranjak dari sana. Wanita cantik itu merapikan tempat tidur yang berantakan sebelum Benny kembali ke kamar ini.


"Sayang, orang-orang pada kemana? Rumah kok sepi?" tanya Benny setelah kembali ke kamar. Tak lupa dia mengunci pintu kamar tersebut.


"Ibu sama Nisa baru saja istirahat di kamar. Para saudara udah pulang, Mas," jawab Fina seraya meletakkan ponselnya. Dia duduk bersandar di sana seraya menatap Benny, "bagaimana keadaan Mas? Udah ada perubahan belum? Mau makan sekarang?" cecar Fina pada sosok yang baru saja duduk di tepian ranjang.


"Aku belum lapar. Nanti saja," ucap Benny seraya mengubah posisinya, "keadaanku sudah lebih baik. Gak demam dan gak seberapa pusing lagi," jawab Benny dengan tatapan penuh arti.


Tentu hal ini berhasil membuat Fina harus menelan ludah setelah melihat tatapan suaminya itu. Degup jantungnya semakin berdebar kencang saat melihat Benny menepuk tempat yang ada di sisinya. Sebuah kode untuk istrinya agar duduk di sana.


"Apa kamu tidak merasa gerah siang hari begini memakai pakaian tertutup seperti ini?" tanya Benny seraya meraih tangan kanan Fina dan setelah itu jari jemari itu saling bertautan.


"Jangan terlalu formal begitu dong. Hubungan kita bukan lagi mengenai pekerjaan. Biar enggak kaku dalam berkomunikasi, sebaiknya kita memakai bahasa biasa saja. Aku bukan atasanmu lagi," jelas Benny seraya menatap sang istri dengan senyum yang sangat manis.


"Baiklah. Nanti akan saya coba," jawab Fina sambil tersenyum tipis.


Benny mengubah posisinya hingga dia bisa menghadap tubuh yang sedang menyamping itu. Nalurinya sebagai seorang pria mulai muncul setelah mengamati bibir tipis berwarna merah muda itu. Mantan duda itu membimbing Fina agar mengubah posisi yang lebih tepat dan mempermudah setiap gerakannya.


Fina menutup kelopak matanya setelah Benny mendorong tengkuknya dengan gerakan yang sangat lembut. Wanita cantik itu bisa merasakan hembusan napas yang menerpa sebagian wajahnya. Detak jantungnya semakin tak beraturan kala bibirnya merasakan gigitan kecil dari suaminya itu.


Untuk pertama kalinya, putri sulung Badiah itu merasakan betapa indahnya bercumbu dengan seorang pria. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti setiap bimbingan dari suaminya itu. Tubuhnya mulai merasakan getaran aneh, hawa panas mendadak terasa di sana, apalagi saat tangan Benny mulai menjelajah dua bukit teletubbies yang belum pernah terjamah itu.


"Jangan ditahan. Lepaskan saja jika ingin bersuara," bisik Benny sambil menggigit daun telinga itu dengan pelan.


Benny merasakan kenikmatan yang ada dalam setiap detik yang dia lalui siang itu. Kemahirannya dalam menjelajah keindahan alam membuatnya tak butuh waktu lama untuk membuat sang ratu terhanyut dalam lautan cintanya. Perlahan tapi pasti, dia telah berhasil menemukan gua suci yang belum pernah dilalui oleh siapapun. Sementara tangan kirinya masih berusaha melepas blous yang dikenakan Fina.

__ADS_1


"Jangan dilepas semuanya, aku malu," cegah Fina sambil menahan tangan suaminya itu.


"Baiklah, kali ini aku maklumi," jawab mantan duda itu dengan senyum tipis, "Setelah pengalaman pertama ini, tidak akan ku biarkan sehelai benang menutupi keindahan yang sudah menjadi milikku ini," ucap Benny seraya tersenyum smirk.


Mantan duda itu segera mengatur posisi agar jalan menuju gua suci lebih mudah dan tentunya terasa nyaman. Sebelum mengarahkan sanca ke sarangnya, Benny mengambil napas dalam, karena jujur saja, dia pun saat ini sedang gugup.


"Awww! Sakit!" teriak Fina ketika sanca mulai berusaha mencari jalan yang masih tertutup itu.


"Ssst ... jangan terlalu keras kalau berteriak. Bisa-bisa tetangga datang ke sini," bisik Benny saat memperingatkan Fina. Percobaan pertama akhirnya gagal. Dia sendiri merasa kesusahan karena benteng pertahanan cukup kuat.


"Kita coba sekali lagi. Tahan sebentar saja, oke?" ucap Benny setelah memberikan jeda waktu kepada Fina.


"Aduh ... aduh ... sakit!" ujar Fina dengan diiringi air mata, "udah ... stop dulu! Itu pasti buntu gak ada jalan masuknya! Mas salah jalan kali!" protes Fina sambil meringis kesakitan.


"Sayang! Pelan-pelan aja!" Benny membekap mulut Fina agar tidak berisik lagi karena kamar ini bersebelahan dengan kamarnya Nisa, "memang rasanya sakit, tolong tahan sebentar saja rasa sakitnya," bujuk Benny sebelum menegakkan tubuhnya lagi.


Mantan duda itupun sudah tidak sabar ingin merasakan betapa indahnya sarang sanca yang belum juga terbuka itu. Dia kembali menghentakkan sanca agar bisa menembus pintu masuk tersebut. Akan tetapi dia harus menghentikan kegiatan itu lagi karena Fina kembali mengerang kesakitan.


"Udah Stop! Sakit, Mas!" Fina memberikan peringatan kepada Benny, "kita coba lain kali lagi deh. Jangan diteruskan dulu, Mas!" ujar Fina.


"Udah nanggung, Sayang!" Benny tidak setuju dengan keinginan istrinya itu. Tanpa persetujuan dia kembali menghentakkan sanca dengan gerakan lebih keras.


"Awww! Sakit!" teriak Fina. Sungguh kali ini Benny dibuat kesal dengan ulah istrinya. Dia takut Nisa ataupun Badiah mendengarkan suara jeritan itu.


Tok ... tok ... tok


"Mbak ... ada apa? Mbak Fina baik-baik saja 'kan?" Suara Nisa terdengar dari luar kamar tersebut.


Napas Fina memburu karena degup jantung yang tak beraturan. Dia menggigit bibirnya karena keributan yang dia lakukan telah membuat adiknya khawatir. Sungguh, siang ini suasana pengantin baru menjadi kacau karena ulah konyol Fina.


"Mbak gak papa, Nis. Tadi kaki Mbak kesandung meja," jawab Fina asal.


...🌹To be continued 🌹...

__ADS_1


...Jangan tanya ini pengalaman siapa! Cukup segini dulu deh ya🤣othor masih mencoba mengingat bagaimana awal menikah dulu😆...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2