Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Senam Hamil


__ADS_3

"Mas, ayo buruan!" teriak Fina sambil mengetuk pintu kamar mandi, "nanti aku bisa telat, Mas!" lanjutnya.


Pagi ini Fina akan mengikuti senam hamil pertamanya di kehamilan kedua ini. Padahal, dokter sudah menyarankan sejak usia kandungannya memasuki minggu ke dua puluh empat. Dia belum percaya diri saat bergabung dengan para wanita hamil yang lainnya karena perubahan bentuk tubuh yang semakin berisi. Bahkan, pipinya saja mengembang seperti adonan donat.


Usia kandungan Fina saat ini sudah memasuki bulan ke tujuh. Kondisi ibu dan bayi sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Fina telah menjaga kandungannya dengan baik selama ini. Apalagi, dia memiliki Benny dan Elza yang super perhatian kepadanya. Ayah dan anak itu secara bergantian menjaga Fina.


"Sabar, Sayang. Ini masih jam tujuh pagi. Senamnya kan jam delapan," sanggah Benny setelah keluar dari kamar mandi.


"Iya, tapi ini kan hari pertamaku, Mas. Aku gak mau sampai telat!" ujar Fina seraya membenarkan kancing kemeja suaminya.


Benny mengembangkan senyum tipis setelah mendengar suara manja istrinya. Lantas, dia mengusap perut buncit itu beberapa kali, "nak, ini Papa. Coba tunjukkan tendangannya jika kamu mendengar suaranya Papa," ucap Benny setelah berlutut di depan perut itu.


"Dia nendang di sini, Mas! Coba rasakan!" Fina sangat antusias ketika merasakan tendangan di sisi kiri perutnya, "terasa 'kan? Mungkin dia menyapa balik Mas deh!" gumam Fina dengan senyum ceria.


"Hallo anak Papa. Baik-baik di dalam ya. Jangan buat Mama sakit ya, Nak," ucap Benny dengan suara yang lirih. Lantas, dia memberikan kecupan mesra di perut tersebut.


"Ayo berangkat sekarang," ajak Benny setelah berdiri di hadapan Fina.


Benny meraih tangan Fina untuk digandeng saat berjalan keluar dari kamar. Sepasang suami istri itu tersenyum bahagia saat menapaki satu persatu anak tangga dengan hati-hati. Tanpa mengeluh, Benny mendampingi Fina berjalan lambat saat menapaki anak tangga itu. Sesekali dia berhenti karena napasnya mulai memburu dan pada akhirnya mereka berdua sampai di ruang keluarga.


"Mbok saya mau senam hamil, nanti tolong disiapkan makan siang untuk Elza ya, barangkali saya belum pulang karena nanti sekaligus periksa kandungan." Fina memberikan pesan kepada asisten rumah tangganya sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Iya, Bu. Nanti akan saya siapkan," jawab Jumiatin.


Benny membukakan pintu mobil untuk istrinya dengan diiringi senyum manis. Semua dilakukan agar mood ibu hamil itu tetap terjaga. Akhir-akhir ini Fina suka dimanja, diperhatikan dan diberikan sikap romantis seperti yang dilakukan oleh ABG. Tak jarang Elza harus menahan rasa mual ketika melihat orang tuanya bersikap berlebihan.


Detik demi detik terus berlalu begitu saja, tanpa mau berhenti ataupun berlari. Mobil yang dikendarai Benny akhirnya sampai di halaman rumah sakit setelah membelah kepadatan kota.

__ADS_1


"Mas, aku beneran cantik 'kan? Pakaianku udah cocok 'kan?" tanya Fina sebelum keluar dari mobil. Dia memastikan bagaimana penampilannya sebelum bertemu dengan ibu hamil yang lain.


"Iya, Sayang. Kamu terlihat sangat cantik pagi ini. Apalagi, dengan pakaian ini. Hmmm ... gak ada tandingannya deh," puji Benny dengan tatapan penuh arti, "ayo keluar, aku antar sampai di depan ruangan," ajak Benny sambil membuka pintu mobil.


Langkah demi langkah telah dilalui sepasang suami istri itu sampai tiba di aula rumah sakit yang ada di lantai tiga. Sepertinya banyak sekali yang ikut senam di sini karena terkenal enak dan instrukturnya sabar.


"Aku tinggal gak masalah 'kan? Aku mau ke toko bahan sepatu dulu. Gak sampai satu jam aku pasti kembali lagi ke sini," pamit Benny sebelum Fina masuk ke dalam aula tersebut.


"Hati-hati ya, Mas," ucap Fina sambil menepuk bahu suaminya.


Setelah Benny hilang dari pandangan, Fina membuka pintu yang tertutup rapat itu. Ada beberapa ibu hamil yang sudah hadir di sana. Fina pun memberanikan diri bergabung dengan mereka. Tak lupa dia mengajak berkenalan semua yang sudah hadir di sana. Kehadiran Fina mendapat sambutan hangat dari mereka.


"Ini sudah berapa bulan, Mbak?" tanya seorang wanita yang ada di hadapan Fina. Dia mengusap perut buncit Fina beberapa kali.


"Baru masuk tujuh bulan, Mbak," jawab Fina dengan diiringi senyum tipis, "Mbak udah berapa bulan nih?" Fin bertanya balik kepada wanita yang dianggapnya ramah itu.


"Sama nih, aku juga baru tujuh bulan," jawab wanita tersebut.


"Hallo, selamat pagi." Terdengar suara sapaan dari pintu masuk. Suara ini sangat familiar di indera pendengaran Fina. Rasa penasaran yang besar membuatnya beranjak dari tempatnya. Dia membalikkan badan agar tahu siapa yang datang.


"Hah? Kenapa dia senam di sini? Ternyata dia hamil besar. Kapan nikahnya coba," batin Fina setelah tahu jika sosok tersebut adalah Renata.


Fina kembali membalikkan badan setelah tatapannya tidak sengaja bersirobok dengan mantan kekasih suaminya itu. Dia berharap Renata tidak tahu kehadirannya di tempat ini. Namun, sepertinya harapan itu hanya sekadar angan karena Renata sudah berdiri di belakang tubuhnya.


"Hallo Nyonya Benny," sapa Renata dengan gayanya yang sok ramah dan akrab dengan Fina.


Tentu sapaan Renata berhasil membuat pandangan ibu-ibu yang ada di sana beralih ke arah mereka. Renata mengembangkan senyum smirk sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Aku member lama di sini, kamu baru hari ini ya?" tanya Renata dengan sikap yang membuat Fina semakin tidak suka dengannya.


"Amit-amit jabang bayi lanang wedok, ojo sampek anakku koyok ngunu!"


Batin Fina sambil mengusap perutnya beberapa kali sebelum menerima uluran tangan Renata, "aku member baru di sini," ucap Fina saat bersalaman dengan Renata. Dia mendadak malas mengikuti senam ini.


"Semoga betah," ucap Renata sebelum pergi meninggalkan Fina.


Istri pengusaha muda itu hanya bisa menghela napas setelah Renata menjauh darinya. Dia kembali bergabung bersama ibu-ibu yang pertama kali dia temui ketika datang ke sini.


"Kenal sama Mbak Renata kah?" tanya Ibu hamil bernama Anna itu.


"Kenal cuma enggak akrab, Mbak," jawab Fina dengan senyum yang dipaksakan.


Tak lama setelahnya, senam khusus ibu hamil itu pun akhirnya dimulai karena instruktur senam telah hadir di sana. Fina memilih tempat di samping Anna agar tidak bersanding dengan Renata. Namun, siapa sangka jika ternyata Renata menggeser tempat ibu hamil yang ada di sisi kanannya.


"Jangan sungkan bertanya kepadaku ya kalau gak bisa gerakannya," ucap Renata dengan senyum yang dibuat semanis mungkin hingga membuat Fina merasa muak.


Fina seperti kehilangan kata-kata untuk menjawab ucapan Renata. Entah mengapa dia menjadi kesal karena gaya sok manis mantan kekasih suaminya itu. Dia hanya mengembangkan senyum tipis sebagai jawabannya.


"Dari sekian banyak orang di dunia ini. Kenapa harus dia yang aku temui di sini. Astagfirullah haladzim," batin Fina setelah mengalihkan pandangan ke depan.


...🌹To Be Continued 🌹...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Hallo Semua😍Ada rekomendasi karya untuk kian nih😎Kuy baca karya dari author Lady Mermad dengan judul The Last Vampir Hunter. Nah, judulnya aja udah bikin penasaran kan😎...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2