
Sikap romantis yang ditunjukkan Benny semakin bertambah dari biasanya. Dia menunjukkan perhatiannya kepada Fina di hadapan Renata. Tentu semua ini adalah bentuk jawaban atas sikap buruk mantan kekasihnya itu kepada Fina. Benny merasa geram meski belum tahu detail bagaimana Renata membuat mood istrinya berantakan.
"Mas, jangan gitu ih! Malu," tolak Fina saat Benny menyuapkan siomay kepadanya. Wajahnya bersemu merah karena Benny menunjukkan perhatiannya di hadapan Renata.
"Wah istrimu makannya banyak juga ya, pasti sekarang lebih berisi." Renata berkomentar setelah mengamati sepasang suami istri itu, "kalau berat badannya terlalu banyak naik, bakal susah loh dietnya. Bentuk tubuh gak bisa ideal lagi," imbuh Renata. Sepertinya dia sedang mempengaruhi Benny dengan mengatakan bentuk tubuh Fina.
"Justru aku yang memaksanya makan dengan porsi banyak. Aku tidak mau anakku sampai kekurangan asupan yang akan mempengaruhi pertumbuhannya. Dulu saat hamil pertama Fina juga lebih berisi, tetapi aku lebih suka sih. Makin betah lihat dia montok. Aku melarang Fina diet meski nanti setelah melahirkan."
Jawaban Benny seperti sebilah pisau yang menghujam hati Renata. Niat hati ingin membuat mental Fina down, ternyata dia sendiri yang dipatahkan oleh statment Benny. Sampai saat ini Renata belum terima jika Benny lebih memilih gadis bau kencur itu dari pada dirinya yang memiliki segalanya. Maka dari itu setiap ada waktu, dia selalu mencibir Fina dengan kata-kata yang kasar karena merasa iri.
"Oh iya, kenapa gak ngundang aku waktu nikah?" tanya Benny setelah teringat jika belum bertanya apapun tentang perjalanan hidup mantan kekasihnya itu.
"Sengaja. Takutnya gak bakal datang meski aku undang." Renata tersenyum kecut saat menjawab pertanyaan Benny.
"Suamimu orang mana?" tanya Benny lagi.
"Sidoarjo," jawab Renata singkat. Dia mulai merasakan hawa panas di sana.
"Oh, aku pikir kamu nikah sama Dedi." Benny tersenyum tipis saat menerka siapa suami biduan itu.
"Enggak lah! Suamiku asli Sidoarjo, punya pabrik juga." Sepertinya biduan cantik itu tidak mau terlihat rendah di depan Benny dan Fina.
"Mas, aku ke toilet sebentar ya, aku pengen pipis," pamit Fina saat beranjak dari tempatnya. Obrolan Benny dan Renata harus terhenti karena interupsi dari Fina.
"Mau diantar gak?" Benny menawarkan bantuan kepada Fina.
__ADS_1
Sementara Renata rasanya ingin mual melihat sikap yang ditunjukkan Benny kepada Fina. Selama mereka berpacaran, ayah Elzayin itu hampir tidak pernah bersikap romantis dan perhatian seperti yang ditunjukkan kepada Fina saat ini.
"Sepertinya kamu sangat bahagia dengan dia," ucap Renata sambil setelah Fina pergi dari sana.
"Tentu. Seperti yang kamu lihat. Aku sangat bahagia hidup dengan dia. Elza pun merasakan hal yang sama. Itu poin yang paling penting, anakku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu," ucap Benny saat menanggapi komentar Renata.
"Aku pikir dulu Fina adalah pelarianmu di saat bosan bersamaku. Aku tidak menyangka sih, jika kalian menikah dan bisa harmonis sampai saat ini. Ya ... secara aku kan tahu bagaimana kamu." Renata tersenyum smirk.
"Menurutmu kenapa aku tidak bahagia bersama Fina?" Benny menatap Renata dengan intens.
"Ya, dalam bayanganku sih dia kurang liar dan kurang memuaskan gitu. Tidak bisa dipungkiri jika kebutuhan seksualitas sangat dibutuhkan untuk keharmonisan dalam rumah tangga 'kan?" Renata mengembangkan senyum tipis.
Benny terkekeh saat mendengar praduga mantan kekasihnya itu. Semakin lama bukannya semakin pintar, Renata justru terlihat bodo di mata Benny. Mantan duda itu sampai tidak berhenti tertawa karena hal ini.
"Jadi begini ya, Re. Kamu salah jika menilai Fina seperti itu. Jangan dilihat dari covernya saja. Memang tidak bisa dipungkiri, jika di awal pernikahan dia begitu kaku, tetapi seiring berjalannya waktu, dia semakin pro dan bisa mengimbangiku kok."
Renata seperti tertampar dengan jawaban dari Benny. Wajahnya bersemu merah karena menahan rasa malu yang begitu besar. Menggoyah rumah tangga mereka rasanya percuma karena Benny yang dia kenal dulu tidak sama dengan Benny yang sekarang.
"Wah ... lagi bahas apa nih? Sepertinya seru banget," ujar Fina setelah kembali dari toilet.
"Renata minta tips tuh biar bisa rumah tangga awet. Mending kamu saja deh yang memberitahu dia," jawab Benny dengan asal sambil menatap Fina dengan senyum yang manis, "mau cilok gak? Itu sepertinya enak ciloknya," tunjuk Benny pada gerobak cilok yang ada di tempat parkir cafetaria.
"Aku mau dong, Mas," ucap Fina dengan wajah yang dibuat semanis mungkin, "mungkin Mbak Renata mau?" tawar Fina saat beralih menatap Renat.
"Enggak. Aku sedang diet," tolak Renata dengan tegas.
__ADS_1
Benny beranjak dari tempatnya untuk membeli cilok sesuai pesanan istri tercinta. Dia sampai rela antri berama beberapa wanita demi memenuhi keinginan istrinya.
"Jadi bagaimana Mbak Re? Suami saya sangat baik 'kan?" Fina tersenyum smirk saat bertanya tentang hal itu.
"Biasa saja sih," jawab Renata dengan wajah bersemu merah karena merasa malu.
"Apa suami saya terlihat genit di depan Mbak?" sarkas Fina untuk menjawab nyinyiran Renata saat dirinya senam tadi.
Renata menghela napasnya berat karena kalah telak dengan wanita yang dulu dianggap bau kencur itu. Dia membereskan barang-barangnya ke dalam tas dan setelah itu memilih pergi dari sana.
"Aku harus pergi. Suamiku sudah menjemputku di depan," pamit Renata sebelum meninggalkan Fina seorang diri di sana. Dia sudah tidak tahan berada di antara sepasang suami istri itu.
Senyum penuh kemenangan terlukis jelas di wajah cantik itu setelah melihat kepergian Renata dari sana. Fina terus mengamati Renata hingga berhenti di dekat Benny. Sepertinya ada yang sedang dibicarakan Benny dan Renata.
"Aku harap setelah ini kamu tidak membuat kekacauan lagi. Apalagi sampai berani merusak mood istriku. Aku bisa nekat melakukan apa saja jika terjadi sesuatu kepada Fina karena ulahmu. Pikirkan dengan matang sebelum bertindak. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tanggaku. Sampai di sini paham 'kan?" Benny tersenyum smirk sebelum Renata berlalu dari hadapannya tanpa sepatah katapun.
Pembicaraan Benny dan Renata tentu mengundang rasa curiga wanita berbadan itu. Dia penasaran meski pembicaraan hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Dia tidak suka melihat suaminya berdekatan dengan wanita yang dianggapnya ulat bulu itu, karena bisa membuat orang yang ada di sekitarnya merasa gatal-gatal.
"Awas saja kamu, Mas! Akan aku pastikan malam ini kamu gak tidur di kamar! Terus saja ngobrol di sana tanpa melihat ke arahku! Nyari perkara namanya," ujar Fina dengan suara yang lirih. Tangannya terkepal erat, seperti ingin menarik rambut seseorang untuk dimangsa.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...βββββββββββββββ...
...Ada rekomendasi bacaan keren nihπYuk baca karya author Yayuk Triatmaja dengan judul Suamiku Buruk Rupa Dan Lumpuh. Jangan sampai gak baca!!...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...