Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Orang Tua Jaman Now


__ADS_3

"Setelah ini Elza jangan tinggal di rumahnya Uti lagi ya. Mama sedih karena gak ada Elza di sini," bisik Fina tanpa melepaskan dekapan hangat bocah lucu itu.


"Mama jangan sedih ya. Aku gak akan ninggalin Mama lagi," ucap Elza sambil menatap Fina penuh arti.


Wanita berbadan dua itu bernapas lega setelah Elza kembali ke rumah. Dia benar-benar tidak rela jika putra sambungnya itu berada dibawah pengawasan Dita ataupun Ani. Ya ... meski mereka adalah keluarga inti dari bocah lucu yang ada dalam dekapannya itu, tetapi cara didik mereka tidak cocok untuk Elza. Mereka membiarkan Elza berbuat semaunya asal tidak rewel dan merepotkan. Tidak ada pengawasan yang ketat untuk membatasi setiap yang dilakukan Elza. Fina pun bisa memastikan jika cara berpikir Elza pasti kacau apabila satu bulan saja dalam asuhan Dita. Mungkin yang paling fatal adalah Elza berubah menjadi liar seperti dulu.


"Ma, aku tadi dipukul Tante," ucap Elza seraya menunjukkan tangannya.


"Kenapa bisa dipukul? Mungkin Elza melakukan kesalahan?" Inilah cara yang diterapkan Fina dalam mendidik Elza dan tentunya sangat berbeda dengan Dita.


Fina mencoba untuk menggali informasi terlebih dahulu daripada harus terbawa emosi karena ingin membela Elza. Lain halnya dengan Dita, dia tersulut emosi ketika melihat putranya disakiti tanpa tahu pokok permasalahan. Tentu yang ada hanya penyesalan atas perbuatannya.


Pendidikan seputar parenting yang didapatkan Fina dari mengikuti seminar-seminar online, ternyata membuat dia berhasil membentuk karakter Elza. Memang pada dasarnya Fina sendiri memiliki kesabaran dan ketelatenan yang besar.


"Adek Galang yang mulai duluan, Ma." Bocah kecil itu pun menjelaskan bagaimana kronologi kejadian tadi pagi.


Fina hanya bisa menghela napas setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh putra sambungnya itu. Tentu dia pun sebenarnya tidak terima setelah tahu pokok permasalahan putra sambungnya itu. Akan tetapi mau bagaimana lagi, Fina hanya bisa menahan gemuruh di dalam dada.


"Tadi aku mau balas Tante Dita, Ma. Aku mau pukul dia pakai pukulan silat, tetapi aku selalu ingat kata-kata Mama. Aku harus hormat kepada orang yang lebih tua dan gak boleh cengeng. Aku juga sudah minta maaf kepada Tante Dita karena udah mukul Adek Galang. Benar begitu 'kan Ma?" tanya Elza setelah menceritakan apa saja yang dialaminya.


Fina mengembangkan senyum yang sangat manis di hadapan Elza. Dia benar-benar bangga melihat sikap yang ditunjukkan putranya itu, "Iya, Nak. Benar begitu. Mama sangat bangga sama Elza, karena sudah menjadi anak yang baik," ucap Fina seraya mendekap Elza dengan penuh kasih. Beberapa kecupan penuh kasih sayang pun mendarat di pipi bocah lucu itu.


Sementara Benny hanya bisa menyimak interaksi di antara istri dan anaknya. Dia masih emosi setelah tahu apa saja yang dilakukan Dita terhadap putranya. Namun, semua itu perlahan hilang tatkala mendengar bagaimana sikap yang ditunjukkan Elza. Jujur saja Benny merasa malu karena dia belum bisa menyikapi keadaan seperti yang sudah dilakukan oleh putranya.

__ADS_1


"Maaf, Nak, karena dulu Papa sempat tak menghiraukan kamu. Papa mengabaikan kamu di tangan pengasuh. Setelah ini Papa janji, Papa akan memberikan semua waktu untuk kamu dan Mama. Kalian benar-benar harta paling berharga dalam hidup Papa," batin Benny seraya menatap anak dan istrinya.


"Aku sudah menemukan emas permata di rumah ini, Nurma. Terima kasih karena kamu sudah mengingatkanku untuk mempertahankan emas permata ini. Aku harap kamu selalu bahagia di sana. Aku tahu jika kamu pasti bisa melihat bagaimana putra kita tumbuh sampai detik ini," batin Benny ketika wajah Nurmala terlintas dalam pandangan walau untuk sesaat.


Benny mengusap wajah setelah semua angan hilang begitu saja. Dia bangkit dari tempatnya dan pindah tempat di sisi Fina, bergabung bersama anak istri yang membuat hidupnya terasa bahagia. Dia seperti berada di taman sorga bersama bidadari cantik yang sengaja dikirim Tuhan untuknya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu adalah ibu terbaik di dunia ini. Aku bangga memilikimu," ucap Benny saat mendekap tubuh itu dari samping. Dia mendaratkan kecupan mesra di rambut wangi yang tergerai itu.


"Cie ... cie ... cie ... Papa sama Mama pacaran nih!" kelakar Elza seraya menatap kedua orang tuanya.


"Memangnya Elza tahu dari mana kalau Mama dan Papa pacaran? Memangnya pacaran itu seperti apa?" tanya Benny sambil menatap putranya.


"Emmm ... bagaimana ya? Pokoknya kalau ada perempuan sama laki-laki duduk berdua sambil cium-cium itu pacaran, Pa! Begitu kata teman-teman waktu di sekolah," jelas Elza dengan tatapan tak lepas dari wajah ayahnya.


"Kok mereka bisa tahu pacaran, Mas?" bisik Fina setelah mendengar jawaban Elza.


"Berarti kalau tadi Mama cium dan peluk Elza gitu disebut pacaran kah?" tanya Fina. Dia masih penasaran sejauh mana pengetahuan putranya tentang hal ini.


"Bukanlah, Ma! Kalau pacaran itu umurnya harus sama, Ma. Mama pacaran sama Papa. Kalau anak TK ya pacaran sama anak TK lah!" jelas Elza dengan tegas.


"Berarti Elza sudah punya pacar di sekolah?" sahut Benny sambil mengulum senyum.


"Mas!" Fina menatap Benny dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Aku disuruh teman-teman pacaran sama Nabila. Aku gak mau, tapi Nabila selalu dekat-dekat sama aku. Padahal aku gak suka dekat Nabila, dia cengeng! Jadi, teman-teman selalu bilang kalau aku pacarnya Nabila!" Gurat kekesalan terlihat jelas di wajah bocah tampan itu.


"Terus Elza sukanya sama siapa?" tanya Benny lagi.


"Aku tuh sukanya sama Freya anak TK B. Dia cantik dan gak suka nempel-nempel aku, Pa. Kalau Nabila selalu ngikutin aku terus!" ungkap Elza tanpa ada yang dilebihkan.


Benny tertawa lepas melihat ekspresi lucu putranya ketika menceritakan hal-hal yang seperti ini. Tentu keadaan ini berbanding terbalik dengan Fina, wanita berbadan dua itu justru bersikap datar dan tanpa ekspresi. Entah itu hanya drama ataukah respon yang sesungguhnya.


"Sayang. Dengarkan Mama bicara ... Elza masih kecil, belum boleh pacaran karena pacaran itu dilakukan oleh orang dewasa. Kalau masih TK itu namanya berteman. Nabila itu teman satu kelasnya Elza, jadi gak boleh sampai gak diajak main. Kasihan dia," jelas Fina seraya menatap putranya.


"Sekarang sebaiknya Elza ambil mainan di kamar gih! Kita main sama-sama di sini," titah Fina sambil mengembangkan senyum penuh arti. Dia tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut.


Setelah kepergian Elza dari ruang keluarga. Fina menghela napas panjang. Dia duduk bersandar sambil menengadahkan kepala. Sepertinya dia sedang melepaskan gemuruh yang ada di dalam dada.


"Aku tuh heran deh, Mas, melihat perkembangan jaman sekarang. Dari tingkatan anak TK saja udah bisa membahas tentang pacaran. Ya, aku tahu jaman sekarang tuh pacaran seperti hal biasa. Akan tetapi aku kurang setuju deh kalau anak TK yang membahas masalah ini," gerutu Fina seraya menatap suaminya.


Sementara Benny hanya bisa mengembangkan senyumnya setelah mendengar keluh kesah Fina. Pria tampan itu tak segera menjawab, dia meraih tangan Fina dan digenggamnya dengan erat.


"Jaman sekarang tuh serba digital. Konten-konten romantis yang notabene untuk konsumsi orang dewasa, sekarang mudah diakses anak-anak juga. Nah, di sini lah peran orang tua begitu diperlukan. Tugas kita sebagai orang tua jaman now itu lebih susah karena harus lebih ketat mengawasi anak-anak dari konten dewasa. Aku harap kamu tidak seperti istri teman-temanku, Sayang," jelas Benny panjang lebar.


"Aku tidak mau kamu sibuk main ponsel sendiri dan membiarkan Elza bermain ponsel tanpa pengawasan. Jangan seperti istrinya Anwar, sibuk live tok tik, pasar online, stalking cowok keren sampai gak tahu apa aja yang dilihat anaknya. Si Anwar sendiri yang tahu jika anaknya bisa mengakses tontonan dua satu plus," tutur Benny setelah teringat cerita dari temannya di pabrik.


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...

__ADS_1


...Bener gak sih, Mak? Pendapatnya mantan dud itu? Kalau pengalaman emak gimana? Yuk tulis dikolom komentar๐Ÿ˜...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2