Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Menahan Sakit.


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Segala perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit sudah siap di dalam mobil. Tinggal menunggu hari bahagia untuk menyambut kehadiran buah hati tercinta. Perasaan was-was, trauma dan khawatir tentu terus menyelimuti sepasang suami istri itu. Badiah dan Nisa sendiri sudah standby di Surabaya sejak kemarin karena ingin mendampingi Fina. Apalagi, hari ini Elza akan mengikuti pertandingan pertamanya setelah vakum beberapa waktu lamanya.


"Nak, meskipun Mama gak bisa mengantar kamu sampai di gelanggang gak papa ya. Elza harus semangat dan fokus. Mama sebenarnya juga pengen ikut tetapi takut adek bayinya keluar di sana," jelas Fina sambil mengusap rambut putranya. Wanita berbadan dua itu sedang membantu Elza bersiap di kamar.


"Aku jadi sedih dan takut, Ma. Aku takut Mama dan Papa kecelakaan lagi," ucap Elza dengan sorot mata sendu.


"Insyaallah tidak akan terjadi. Elza gak boleh mikir seperti itu. Pokoknya Elza hanya boleh memikirkan tentang pertandingan. Mama hanya bisa berdoa dari rumah agar Elza menang," tutur Fina dengan tenang.


Sejak usia kandungannya memasuki bulan ke sembilan, Fina berubah seperti sebelum hamil. Dia lebih kalem, sabar dan tentunya tidak menjadi pemarah lagi. Karakter dan emosi yang sempat terpengaruh karena hormon kehamilan, kini mulai berangsur kembali.


"Meskipun Mama gak ikut kan ada Tante Nisa dan Papa. Nanti jangan lupa bawa medali pulang ya, biar nanti kalau adek bayinya udah keluar, bisa melihat medali kemenangannya kak Elza yang hebat ini." Fina memberikan semangat kepada putranya.


"Oke, aku gak sedih lagi! Aku pasti semangat demi dedek bayi." Elza menatap Fina dengan binar bahagia, "dedek bayi, doakan kakak biar menang ya. Kalau menang nanti kakak belikan ice cream deh. Selama Kakak tidak ada di rumah, Dedek gak boleh nakal ya!" Elza berucap di depan perut Fina.


Senyum tipis mengembang dari bibir Fina setelah melihat bagaimana perhatian Elza kepadanya. Tak lama setelah itu mereka berdua telah selesai bersiap. Elza telah rapi dengan sakral lengkap Pagar Bangsa. Sementara Fina menenteng ransel berisi beberapa perlengkapan putra sambungnya itu.


"Sekarang kita sarapan dulu, El. Biar kuat menghadapi musuh," gumam Fina saat menginjakkan kaki di undakan pertama. Satu persatu anak tangga itu telah dilewati Fina dengan hati-hati.


Napasnya mulai terengah setelah bersusah payah melewati anak tangga itu. Dia berhenti di undakan anak tangga terakhir ketika merasakan kontraksi. Tangannya mencengkram erat pagar pembatas tangga saat rasa sakit yang begitu hebat menghantam perutnya.


"Sayang. Ada apa?" tanya Benny saat menghampiri Fina di sana. Menantu Badiah itu baru saja selesai menyiapkan mobil di garasi.


"Kontraksi, Mas," jawab Fina dengan suara lirih.

__ADS_1


"Hah kontraksi? Sejak kapan?" Benny terkejut bukan main setelah mendengar jawaban itu. Pasalnya tidak ada keluhan apapun dari istrinya.


"Sebenarnya aku mengalami kontraksi sejak subuh tadi. Akan tetapi aku diam karena tidak mau membuat keadaan panik. Lagi pula kontraksinya gak terlalu sering," jelas Fina sambil menundukkan kepala hingga kepalanya menyentuh pagar besi tersebut.


"Mama kenapa, Pa?" Elza kembali ke ruang keluarga karena sudah lama menunggu Fina di ruang makan, tetapi tak kunjung datang. Bocah kecil itu mengamati kedua orang tuanya yang sedang berjalan menuju sofa.


"Sepertinya Mama mau melahirkan, El," jawab Benny sambil menatap Fina yang sedang mendesis kesakitan, "wah ... bagaimana ini? Elza juga mau berangkat lomba. Aku gak bisa memilih di antara mereka," batin Benny ketika menatap anak dan istrinya bergantian.


"Mbah Bad, Tante Nisa! Mama mau keluar adek bayinya," teriak Elza dengan suara yang kencang.


Tak lama setelah itu, Badiah dan Nisa berjalan dari arah belakang. Mereka berdua panik ketika melihat Fina duduk bersandar di sofa, "sejak kapan, Fin, rasa sakitnya?" tanya Badiah sambil mengusap punggung putrinya.


"Tadi subuh, Bu," jawab Fina.


"El, ambilkan handphone nya Papa!" titah Benny sambil menatap Elza.


"Iya, Mas. Aku sendiri gak masalah kok. Aku tahu di mana tempatnya," ujar Nisa sebelum pergi daei ruang keluarga untuk bersiap.


Semua orang yang ada di rumah tersebut mendadak sibuk karena Fina akan melahirkan maju dari HPL yang ditentukan dokter kandungan. Perkiraan dokter sesuai dengan hasil pemeriksaan USG masih dua hari lagi. Akan tetapi saat ini Fina sudah merasakan kontraksi, mungkin saja bayi yang ada dalam kandungan itu sudah tidak sabar melihat keindahan dunia.


"Dit, buruan kesini bawa mobil. Antar Elza dan Nisa ke GOR karena aku gak bisa mengantar. Mbakmu mau melahirkan. Ajak Ibu sekalian," ucap Benny saat menghubungi Dita.


Beberapa puluh menit kemudian, semua keluarga sudah siap berangkat sesuai dengan tugas masing-masing. Benny dan Badiah berangkat ke rumah sakit untuk menemani Fina. Sementara Dita dan Nisa mengantar Elza ke gelanggang pertandingan. Ani di rumah saja karena menjaga Sukirman dan putra semata Wayang Dita.


"Pak, kalem saja. Tidak perlu ngebut," ucap Fina setelah masuk ke dalam mobil. Kali ini mereka memang sengaja minta diantar Sopir dari industri sepatu milik Benny.

__ADS_1


Semua sudah dipikirkan dengan matang. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan seperti dulu, Fina dan Benny sepakat memakai jasa sopir. Benny benar-benar takut mengendarai mobil saat perut Fina mulai membesar. Rasa trauma telah membuat nyali mantan duda itu ciut.


Semua orang yang berada di dalam mobil tak ada yang bersuara. Fina hanya mendesis pelan saat rasa sakit itu datang kembali. Dia tidak mau membuat panik sopir ataupun suami dan ibunya.


"Ya Allah, sakit, Bu!" rintih Fina sambil mencengkram ujung daster Badiah.


"Istighfar terus, Fin. Semua akan baik-baik saja." Badiah mencoba menenangkan putrinya.


Padahal, sebenarnya wanita paruh baya itu tidak tega melihat Fina merintih kesakitan. Andai saja bisa ditukar, Badiah pun siap menggantikan posisi Fina agar putri yang dia sayangi tidak kesakitan. Akan tetapi semua itu tidak mungkin terjadi. Badiah hanya bisa menahan gemuruh di dalam dada dan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Dia tidak boleh terlihat sedih dan menangis di hadapan Fina karena semua itu bisa membuat Fina semakin sedih.


"Biar Ibu gosok ya pinggangnya. Mungkin kamu akan lebih tenang," tutur Badiah sambil mengusap pinggang tersebut dengan gerakan yang lembut.


Bulir air mata mengalir dari pelupuk mata wanita yang sedang menahan rasa sakit itu. Tentu keadaan ini membuatnya teringat akan kesalahan yang pernah dia lakukan. Fina menoleh ke samping. Dia menatap wajah yang mulai berkerut itu dengan sendu.


"Bu, aku minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan. Sekarang aku tahu, Bu, bagaimana rasanya berjuang melawan rasa sakit di saat seperti ini," ucap Fina saat menyandarkan kepala di bahu ibunya.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Hayo kira-kira cewek apa cowok nih😍Kuy siapin kadonya onti😎...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya keren untuk kalian nih 😍 Yuk baca karya author Santi Suki dengan judul Cinta Tak Pernah Salah. Jangan sampai gak baca ya😎...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2