Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Aneh!


__ADS_3

Mojokerto.


Kereta api eksekutif jurusan Surabaya-Mojokerto telah sampai di stasiun Mojokerto setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam. Semua penumpang bergegas turun karena kereta tak lama lagi akan melanjutkan perjalanan. Begitu pun dengan Nisa, gadis berhijab itu keluar dari gerbong tiga diikuti dengan Ardi.


"Loh turun di Mojokerto juga?" tanya Nisa setelah melihat Ardi berdiri di sisinya.


"Menurutmu?" Ardi mengernyitkan keningnya setelah mendengar pertanyaan itu.


"Nyebelin banget sih ini orang!" umpat Nisa dalam hatinya. Dia membuang muka ke arah lain karena malas dengan pria yang dianggapnya menyebalkan itu.


"Oke, kalau begitu aku lanjut dulu. See you!" pamit Nisa sebelum melangkahkan kaki.


"Kamu tidak ingin bertanya kepadaku?" tanya Ardi hingga berhasil menghentikan langkah gadis berhijab itu.


"Berharap banget ya?" tanya Nisa dengan sinis. Pasalnya dia terlanjur kesal dengan pemuda yang ada di hadapannya itu.


Nisa membalikkan badan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. Akan tetapi tanpa disadari, ternyata Ardi mengekor di belakangnya. Nisa terkejut ketika tak sengaja menoleh ke belakang karena mendengar derap langkah seseorang.


"Ngapain sih ngikutin aku?" tanya Nisa dengan ketus.


"Aku orang baru di sini. Jadi, aku tidak tahu arah dan tujuan di kota ini." Ardi menjelaskan dengan sikap yang tetap terlihat cool. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


Nisa memicingkan mata setelah mendengar penjelasan tersebut. Dia mengamati Ardi dari ujung topi hingga ujung sepatu. Lantas, dia mendekatkan diri kepada Ardi untuk mengamati pemuda itu dari dekat.


"Kenapa?" tanya Ardi karena merasa risih dengan sikap Nisa.


"Aku curiga, jangan-jangan kamu ini penjahat yang kabur dari penjara ya!" tuduh Nisa sambil menunjuk Ardi.


"Sembarangan!" Ardi menautkan ujung alisnya setelah mendengar tuduhan Nisa, "antarkan aku ke hotel terdekat di kota ini," pinta Ardi dengan ekspresi wajah datar.


"Hei orang aneh! Sekarang zaman sudah modern. Kamu bisa memesan ojek online dan minta antar ke hotel. Kenapa harus aku yang disuruh mengantar coba!" protes Nisa dengan ketus.

__ADS_1


"Dah lah! Aku mau pulang. Ini sudah malam, tidak baik gadis sepertiku jika masih berkeliaran di luar rumah. Apalagi, sampai mengantar pria ke hotel. Duh, gak kebayang gimana pandangan orang!" cerocos Nisa sebelum meninggalkan Ardi begitu saja.


Tak tinggal diam, pemuda berusia dua puluh lima tahun itu mengikuti langkah Nisa hingga sampai di halaman stasiun. Dia melihat Nisa naik ke atas motor ojek online berjaket hijau muda. Lantas, tanpa berpikir panjang, Ardi pun naik ojek pengkolan yang ada di sana. Pandangan matanya tak lepas dari motor matic yang baru keluar dari stasiun.


"Ikuti motor itu, Pak," ucap Ardi sambil menunjuk motor yang membawa Nisa.


Tidak ada yang tahu tujuan pemuda itu hingga membuntuti Nisa sampai gadis berhijab itu sampai di rumahnya. Entah karena penasaran atau karena hal lain. Satu hal yang pasti, pemuda itu terus mengamati Nisa hingga turun di depan toko kelontong Badiah.


"Pak, ini namanya desa apa ya?" tanya Ardi kepada tukang ojek yang mengantarnya.


"Ini desa Kedawung Bicak, Mas," jawab tukang ojek tersebut.


"Apa Bapak bisa membantu saya mencarikan tempat kos di sekitar sini?" tanya Ardi.


"Wah saya kurang tahu, Mas, kalau di sini. Kalau di dekat pasar atau rumah sakit umum banyak, Mas. Mungkin sepuluh sampai lima belas menit dari sini," jelas tukang ojek tersebut.


"Kalau begitu tolong antar saya ke sana," pinta Ardi sambil memasang helmnya kembali.


Ardi belum sadar jika keberadaannya diketahui oleh Nisa. Tiba-tiba saja gadis berhijab itu sudah sampai di depan motor tukang ojek itu. Dia berkacak pinggang dengan wajah masam. Sepertinya gadis cantik itu merasa kesal.


"Aku sedang mencari kontrakan atau tempat kos. Aku sudah bilang 'kan sebelumnya jika aku pendatang di sini," jelas Ardi dengan santainya.


"Terus kenapa kamu harus mengikutiku?" tanya Nisa.


"Karena hanya kamu yang aku kenal." Ardi bersikap biasa saja meski dia sedang berada di kampung orang lain. Sekali Nisa berteriak, maka keselamatan Ardi pun terancam. Dia bisa dianggap perusuh di kampung ini.


"Di sini tidak ada kontrakan! Udah pergi sana, jangan ngikutin aku terus!" Nisa sengaja mengusir Ardi agar segera pergi karena merasa risih.


"Mari kita pergi, Pak," ajak Ardi tanpa menatap menatap Nisa. Dia pergi tanpa pamit kepada gadis yang masih berkacak pinggang itu.


Tentu hal ini semakin membuat Nisa kesal bukan main. Dia membalikkan badan dan bergegas masuk ke dalam toko kelontong ibunya. Wajah cantik itu masih tertekuk karena rasa kesal yang masih memenuhi diri.

__ADS_1


"Dasar orang aneh!" umpat Nisa setelah duduk di kursi yang ada di sana.


"Ada apa, Nis? Baru datang kok udah cemberut gitu?" tanya Badiah seraya mengamati wajah putri bungsunya.


"Tadi aku ketemu pemuda yang dulu nolong Mas sama Mbak itu loh. Dia ngikutin aku sampai depan situ, Bu. Kesel aku lihatnya, gak jelas banget!" gerutu Nisa.


"Lah kenapa gak diajak masuk? Kasihan loh dia, jauh-jauh dari Surabaya tapi diusir." Bukannya membela putrinya, Badiah malah menyuruh untuk mempersilahkan Ardi mampir ke rumah.


"Ibu kok malah belain dia! Kita tidak tahu dia seperti apa orangnya, Bu. Kalau ternyata dia orang jahat bagaimana? Orang dia tertutup banget, alamat rumah saja dirahasiakan. Aku curiga deh, Bu, jika dia adalah mata-mata atau mafia penjual organ manusia!" ujar Nisa dengan serius.


"Kamu ini terlalu banyak nonton drama korea, Nis. Punya pikiran itu diatur untuk berpikir positif saja, jangan terlalu berburuk sangka kepada orang lain. Lain kali jangan seperti itu. Bersikap yang baik, jangan ketus di hadapan seorang pria dan jangan centil juga!" tutur Badiah sambil mengamati wajah putrinya.


Sementara itu, kendaraan yang mengantar Ardi tiba-tiba saja berhenti di depan rumah kosong dengan tulisan 'dikontrakkan'. Rumah tersebut ada di desa sebelah tempat tinggal Nisa. Ada di pinggir jalan dan dekat dengan perlintasan kereta api.


"Mas, coba ditelfon dulu nomor yang di situ, siapa tahu cocok harganya," ucap tukang ojek tersebut setelah Ardi turun dari motor untuk melihat situasi yang ada di rumah tersebut.


"Sebentar, Pak. Saya cek dulu," jawab Ardi sebelum pergi. Dia berjalan memasuki halaman rumah tanpa pagar itu hingga sampai di teras rumah.


"Sepertinya rumah ini cocok untukku," gumam Ardi setelah melihat bagian dalam rumah tersebut lewat jendela yang ada di bagian depan.


Setelah mengamati kondisi rumah tersebut, Ardi kembali ke tempat tukang ojek yang sudah menunggu di bahu jalan. Ardi pun sudah mencatat nomor yang tertulis di banner untuk dihubungi besok pagi.


"Pak, sekarang tolong antar saya ke hotel atau penginapan. Lalu, besok siang tolong antar saya ke sini lagi. Saya minta kontak Bapak agar nanti bisa menghubungi Bapak di saat saya butuh bantuan," ucap Ardi seraya menatap tukang ojek tersebut.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Jadi menurut emak-emak gimana? Nisa dan Ardi dibikinin rumah sendiri atau dibuat selingan di sini?kuy komen, 😎...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Hallo ada rekomendasi karya super keren untuk kalian. Kuy baca karya author Mommy Ghina dengan judul Dijual Ayahku Dibeli Bosku. Jangan sampai ketinggalan yaak😍...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2