Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kangen Papa!


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Benny ketika masuk ke dalam rumahnya.


Setelah empat hari tiga malam berada di Jakarta, akhirnya Benny kembali ke Surabaya. Segala urusan di Jakarta telah selesai dan pria bernama Gatot Pujo telah dibebaskan. Pemilik industri sepatu itu akhirnya bisa bernapas lega setelah barangnya kembali ke gudang tanpa ada cacat sedikitpun.


"Papa!" teriak Elza ketika melihat kehadiran Benny di ruang keluarga. Bocah kecil itu berlari menyambut kepulangan ayahnya, "aku kangen banget sama Papa!" ujar Elza setelah berada dalam gendongan Benny.


"Papa juga kangen sama Elza. Kemana Mama dan yang lain?" tanya Benny karena tidak menemukan Shazia, Fina dan Nisa di sana.


"Mama dan tante Nisa pergi ke dokter. Adek Shazia lagi demam, Pa," jelas Elza, "Papa gak bawa oleh-oleh untukku?" tanya Elza dengan sorot mata penuh harap.


"Tentu bawa dong. Sekarang turun dulu deh, Papa bawa mainan untuk Elza," ucap Benny seraya membungkukkan badan agar Elza bisa turun dari gendongannya.


Ayah dan anak itu duduk di atas sofa sambil membuka koper yang dibawa Benny. Ada banyak barang yang tersimpan di sana, termasuk mainan untuk putranya itu.


"Waw! Robotnya keren!" Mata Elza berbinar bahagia setelah menerima oleh-oleh dari ayahnya, "aku suka ini! Ini keluaran terbaru kan, Pa?" tanya Elza tanpa mengalihkan pandangan dari mainannya itu.


"Iya, dong. Elza belum punya kan seri terbarunya? maka dari itu Papa belikan untuk Elza," jelas Benny sambil mengusap rambut putranya.


Benny tersenyum simpul ketika melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putranya. Ada perasaan lega di dalam hati ketika bisa membuat orang terkasih tersenyum bahagia karena hal kecil saja. Namun, senyum ceria itu seketika pudar ketika teringat jika Shazia sedang sakit. Benny segera mengeluarkan ponsel dari tas kulitnya untuk menghubungi Fina.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Benny setelah panggilan terhubung bersama istrinya.


"Ini baru sampai di halaman rumah, Mas. Ada apa?"


Benny memutus panggilan tersebut setelah mendengar suara motor di depan. Dia mengayun langkah keluar dari rumah untuk menyambut istri dan anaknya yang baru pulang. Dia merasa khawatir dengan kondisi putrinya.


"Loh sudah pulang, Mas?" Fina terkejut setelah melihat kehadiran suaminya di teras rumah. Dia tidak mendapat kabar apapun dari suaminya itu jika pulang hari ini.


"Beberapa menit yang lalu baru sampai rumah. Shazia katanya sakit ya, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Benny sambil menyentuh kening putrinya. Balita menggemaskan itu sedang tidur pulas dalam gendongan Fina.


"Lagi demam aja, Mas. Sejak pagi tadi," jawab Fina seraya melangkahkan kakinya, "ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam saja," ajak Fina sambil berjalan memasuki rumahnya.


Mereka bertiga duduk di ruang keluarga karena Elza sedang berada di sana. Bocah kecil itu pamer mainan terbarunya kepada Nisa. Gurat bahagia terlihat jelas dari wajah tampan Elza.

__ADS_1


"Aku ada oleh-oleh untuk Shazia," ucap Benny sambil mengeluarkan mainan yang biasa digunakan untuk anak balita, "oh ya, ada titipan untukmu, Nis dari Mas Blonteng," gumam Benny setelah membongkar isi koper dan menemukan paper bag kecil titipan dari Johan.


"Ih, Mas! Kok blonteng sih!" protes Nisa karena tidak terima sang pujaan hati dipanggil seperti itu.


"Makasih, Mas. Aku ke kamar dulu!" pamit Nisa seraya berlari menuju kamarnya.


"Hei! Aku kepo!" teriak Fina hingga membuat Shazia kaget hingga membuat kelopak matanya terbuka. Tangisnya pun pecah sehingga membuat ruang keluarga menjadi berisik.


Fina pun dibuat kerepotan lagi kalau sudah seperti ini. Sejak tadi Shazia tidak bisa tidur dan membuatnya rewel selama seharian. Entah itu efek dari demam atau karena hal lain. Satu hal yang pasti, setelah ini Fina akan menggendong balita menggemaskan itu sampai tenang.


"Duh, kenapa nangis lagi, Dek! Dari tadi kan sudah nangis, masa iya sekarang lanjut lagi," protes Elza seraya menatap ibu sambungnya.


"Cup, cup, cup. Anak cantik kenapa nangis terus sih," gumam Fina sambil mengeluarkan kendi miliknya untuk menenangkan Shazia. Akan tetapi Shazia malah menjauhkan wajahnya dari kendi tersebut. Pertanda balita lima bulan itu tidak mau minum ASI.


"Sebaiknya Mas mandi dulu terus istirahat. Aku mau menenangkan Shazia dulu," ucap Fina sambil membawa Shazia ke ruang tamu.


Detik demi detik terus berlalu begitu saja. Hingga satu jam lamanya Shazia belum bisa tenang. Fina sendiri sampai bingung harus melakukan apa lagi. Padahal dia sudah berusaha mencari cara agar putrinya cepat tenang. Dia memutuskan masuk ke dalam kamar untuk melepas pakaian yang dikenakan Shazia, siapa tahu ada semut ataupun hewan micro lainnya yang bersarang di baju.


"Mas minta tolong ambilkan baju sama pampers baru dong," ucap Fina setelah masuk ke dalam kamar. Dia merebahkan Shazia di atas tempat tidur. Balita menggemaskan itu berguling ke kiri dan ke kanan dengan tangis yang tak kunjung selesai.


"Gak ada apa-apa juga," gumam lagi. Buru-buru Fina memakaikan pakaian baru untuk Shazia agar tidak merasa kedinginan.


Helaan napas berat terdengar di sana. Fina semakin bingung karena tangis Shazia tak kunjung selesai. Dia hanya diam saja sambil mengamati putrinya yang ada di atas tempat tidur.


"Sini biar aku coba menenangkan dia." Akhirnya Benny sendiri ikut turun tangan karena kasihan melihat Fina.


"Cup, cup, cup," gumam Benny sambil mengangkat tubuh Shazia. Ayah dua anak itu mengayun tubuh sang putri dan tak lupa memberikan usapan lembut di punggung Shazia. Suara tangisan balita lima bulan itupun perlahan reda.


Shazia mendadak tenang saat Benny menimangnya. Bahkan, beberapa menit kemudian dia bisa berceloteh dan tertawa ketika Benny mengajaknya bicara. Fina sendiri merasa heran melihat situasi ini. Dia tidak percaya jika Benny bisa menenangkan Shazia hanya dengan cara seperti itu.


"Apa mungkin Shazia rewel karena kangen kamu, Mas?" tanya Fina ketika menghampiri Benny yang sedang berdiri di depan almari.


"Sepertinya iya. Lihat saja, tuh dia ceria," jawab Benny tanpa mengalihkan pandangan dari Shazia, "iya, Nak. Zia kangen Papa ya, empat hari gak digendong Papa ya makanya rewel begini, hmmmm." Kali ini Benny mengajak Shazia berkomunikasi.

__ADS_1


Fina mengembangkan senyumnya ketika melihat bagaimana respon putrinya. Balita lima bulan itu terus menatap Benny sambil berceloteh dan sesekali dia tertawa. Rasa lelah yang dirasakan Benny mendadak hilang setelah melihat kelucuan putrinya. Dia semakin gemas saja dengan Shazia.


"Ternyata Shazia sama dengan kamu ya," ucap Benny seraya menatap Fina.


"Sama gimana maksudnya?" Fina belum paham kemana arah dan tujuan pembicaraan suaminya itu.


"Sama-sama gak bisa jauh dari aku. Baru ditinggal empat hari saja sudah seperti ini. Andai Shazia bisa mainan handphone, sudah bisa aku pastikan dia bakal mengirim pesan ratusan kali dan terus menelfonku," jelas Benny dengan senyum penuh arti.


"Ih apa sih, Mas!" Fina merasa malu karena ucapan suaminya itu.


Tak berselang lama, balita menggemaskan itu tertidur pulas dalam dekapan hangat ayahnya. Fina pun merasa tenang karena akhirnya ada pawang yang bisa menaklukkan putrinya itu. Benny merebahkan putrinya di atas tempat tidur dengan hati-hati.


"Sekarang waktunya nenangin Mamanya Shazia yang kangen nih," ujar Benny saat menghampiri Fina yang sedang duduk di sofa.


"Halah! Kalau ini Papanya Shazia yang kangen," sanggah Fina seraya menatap Benny dengan senyum yang sangat manis.


Benny meraih tubuh Fina ke dalam dekapannya karena dia memang merindukan wanita hebat yang sedang bermanja dalam dekapannya. Beberapa kali Benny mendaratkan kecupan mesra di puncak rambut itu.


"Apa ada kesulitan selama di Jakarta, Mas?" tanya Fina setelah menegakkan tubuh.


"Alhamdulillah semuanya lancar dan dimudahkan oleh Allah. Tidak ada kendala apapun yang menghalangi jalanku," jawab Benny dengan wajah sumringah.


"Apa Johan selalu membantu Mas dalam hal ini?" tanya Fina lagi.


"Ya. Tentu saja karena ada dia jalan ini lebih mudah. Terlambat sedikit saja, barangku sudah dikirim ke luar jawa. Tentu ini lebih sulit lagi melacaknya," jelas Benny tanpa menatap Fina, "oh ya, kenapa kamu gak cerita kalau Johan itu Ardi?" tanya Benny setelah teringat identitas pemuda gagah itu.


"Lah Mas juga gak nanya kok," jawab Fina. Dia masih enggan membuka masalah tersebut karena bisa menyeret kisah ayahnya.


Obrolan suami istri itu harus terhenti setelah terdengar ketukan pintu selama beberapa kali. Fina beranjak dari tempatnya karena sudah bisa dipastikan jika itu adalah Elza, "iya, Nak. Ada apa?" tanya Fina setelah pintu terbuka lebar dan muncullah Elza dengan wajah murung.


"Aku sudah menunggu lama Papa dan Mama keluar dari kamar. Aku lapar, Ma! Apa kita tidak makan malam!" protes Elza sambil menghentakkan kakinya di lantai.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Waduh keterlaluan mereka😎melepas rindu sampai lupa anak belom makan malam🤣...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2