Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Lamaran Resmi


__ADS_3

Mojokerto


"Fin, rombongan dari Surabaya datang jam berapa?" tanya Badiah setelah masuk ke dalam kamar putri sulungnya itu.


"Kemungkinan jam sepuluh, Bu," jawab Fina tanpa menoleh ke samping, karena dia sedang dimake-up oleh MUA ternama di Mojokerto.


Setelah melalui hari-hari penuh warna di Surabaya, kini tiba saatnya acara resmi tersebut digelar. Sejak tiga hari yang lalu, Fina sudah kembali ke Mojokerto meski sebelumnya ada drama bersama Elza. Bocah kecil itu tidak mau ditinggalkan Fina. Akan tetapi setelah dibujuk Fina dan Benny, dia melepaskan Fina pulang ke Mojokerto.


"Alisnya gak usah dicukur ya, Mbak," pinta Fina seraya menatap MUA tersebut lewat pantulan cermin di hadapannya.


Semua biaya acara ini ditanggung oleh Benny. Mulai dari dekorasi, makeup hingga keperluan yang lain, karena acara ini tidak sesuai rencana awal. Benny sengaja mempercepat acara lamaran


agar semakin cepat menuju pernikahan.


Acara lamaran mewah yang sedang dipersiapkan ini tak luput dari desas-desus tetangga sekitar, karena di sana baru Fina yang menyelenggarakan acara lamaran seperti pesta pernikahan. Ada dekorasi minimalis dengan hiasan bunga hidup dan satu tenda pernikahan di luar rumah. Bukan tanpa sebab Benny menginginkan semua ini, karena semua keluarga besarnya akan ikut dalam acara ini. Tentu rumah Badiah tidak muat jika tamu yang datang sebanyak itu.


Detik demi detik terus berlalu hingga sampai di angka setengah sepuluh pagi. Fina baru selesai bersiap setelah hampir dua jam di kamar bersama MUA yang bertugas. Dia keluar dari kamar dan duduk di ruang keluarga. Tentu semua orang kagum melihat kecantikan gadis itu semakin bertambah. Padahal MUA tersebut hanya mengaplikasikan make-up tipis.


"Masyaallah cantik sekali Mbakku!" Nisa sampai tak berkedip melihat penampilan kakaknya, "aku sampai panggling Mbak," ujar Nisa dengan tatapan kagum.


"Jangan begitu, Nis! Aku malu," jawab Fina dengan kepala yang tertunduk.


Beberapa keluarga yang hadir di sana pun ikut memuji kecantikan Fina. Apalagi setelah melihat pakaian elegan yang melekat di tubuh gadis itu, sungguh penampilannya kali ini sempurna. Balutan brokat berwarna hijau ingus yang dipadukan dengan bawahan batik warna senada semakin mempercantik penampilannya saat ini.


"Rombongan sudah datang," ucap tetangga Fina saat masuk ke dalam ruang keluarga. Tentu keadaan ini membuat jantung Fina berdegup kencang. Dia merasa gugup hingga keringat dingin keluar dari telapak tangannya.


Sementara itu, di sepanjang gang masuk ke rumah Badiah, telah berjajar rapi mobil rombongan dari Surabaya. Tentu di deretan paling depan adalah mobil yang membawa Benny dan Elza. Lebih dari lima belas mobil pribadi yang turut hadir di sana. Keadaan ini semakin membuat para tetangga penasaran dengan calon suami Fina.

__ADS_1


"Ya Allah, seserahannya banyak banget ya,"


"Iya lah, Bu. Orang kaya calon suaminya Fina,"


"Halah, tapi kan duda anak satu,"


"Yakin gak tuh pria baik-baik? Secara calon suaminya kan orang kota, katanya punya pabrik lagi,"


"Eh, jangan-jangan itu suami orang,"


Ya, begitulah sebagian l desas-desus tetangga yang sedang berkumpul tak jauh dari rumah Fina. Mereka penasaran seperti apa jalannya acara lamaran mewah tersebut. Mewah bagi mereka karena di desa ini belum ada yang seperti itu.


Kedatangan Benny dan keluarga besarnya disambut hangat oleh Badiah sekeluarga dan ustadz yang ditunjuk Badiah sebagai wakil keluarga. Keluarga inti Benny pun memakai pakaian yang sama, seperti Fina sekeluarga.


"Silahkan dipanggil calon wanitanya," ucap Ustadz tersebut setelah semua 'peningset' diserahkan di depan. Semua rombongan sudah duduk di tempat yang sudah disediakan.


(Peningset adalah kata lain dari seserahan yang biasa disebutkan di Mojokerto. Peningset merujuk pada barang-barang yang diberikan seorang pria kepada wanita saat lamaran.)


"Nak Fina, ayo tamunya disambut dulu, Salim sama ibu mertua," ucap Ustadz tersebut.


Fina pun melakukan apa yang disuruh oleh ustadz tersebut. Dia bersalaman dengan satu persatu tamu wanita yang ada di sana. Dia hanya mengangguk dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada kepada semua tamu laki-laki. Lantas, dia kembali duduk di sisi Badiah.


"Rangkaian acaranya saya serahkan kepada MC yang bertugas," ucap Ustadz tersebut.


Meski menyelenggarakan acara lamaran secara modern, Fina tidak mau melupakan adat dan kebiasaan yang ada di desanya. Badiah tetap memanggil ustadz seperti orang-orang di sekitarnya ketika lamaran.


Serangkaian acara telah dilaksanakan. Kini tibalah waktunya pihak keluarga Benny meminta langsung kepada Badiah. Perwakilan yang ditunjuk pun segera melakukan tugasnya. Membuka pembicaraan atas hubungan resmi ini.

__ADS_1


"Sekian dari saya selaku perwakilan dari keluarga Bapak Sukirman. Mungkin, Nak Benny mau menambahkan?" Pria tersebut menatap Benny sambil menyerahkan microfon kepada duda tampan itu.


"Terima kasih atas waktu yang sudah diberikan kepada saya. Hari ini saya datang ke Mojokerto menghadap Ibu Badiah sekeluarga, ingin meminang langsung putri cantik Ibu yang bernama Fina Imaniyah untuk menjadi istri saya sekaligus ibu dari anak saya."


"Saya sangat mencintai putri Ibu dan di hadapan semua orang saya berjanji akan selalu membahagiakannya. Saya sangat berharap jika Ibu sekeluarga bisa menerima saya sebagai calon menantu di keluarga ini," ucap Benny seraya menatap Badiah dan Fina.


Badiah terharu setelah mendengar langsung permintaan Benny kepadanya. Janda dua anak itu sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Dia menolak microfon pemberian dari ustadz yang duduk tak jauh darinya. Hanya anggukan kepala yang menandakan jika Badiah menerima Benny sebagai calon menantunya. Badiah menatap ustadz tersebut penuh arti sebagai tanda jika Badiah butuh perwakilan untuk menjawab permintaan Benny.


"Saya Zainuddin, selaku perwakilan yang ditunjuk keluarga Bu Badiah, menerima permintaan dari Nak Benny. Kami sekeluarga membuka pintu untuk Nak Benny menjadi calon suami anak kami, Fina. Tentu kami berharap Nak Benny bisa menjaga Fina dengan baik. Untuk lebih jelasnya mari kita dengarkan sendiri bagaimana jawaban Nak Fina," ucap Ustadz tersebut seraya menatap Fina.


Degup jantung gadis cantik itu semakin tak beraturan. Tentu dia tidak tahu apa yang harus diucapkan karena sebelumnya tidak ada rencana seperti ini. Mau tidak mau dia harus menerima microfon itu untuk menjawab pertanyaan tersebut.


"Saya menerima lamaran dari Pak Benny. Saya bersedia menjadi calon istri beliau sekaligus ibu dari putranya," ucap Fina dengan tegas.


"Alhamdulillah," ucap Semua orang yang ada di sana.


Acara tukar cincin pun berlangsung setelah keduanya saling menerima satu sama lain. Semua orang berdiri dari tempatnya sebagai penghormatan atas keadaan yang berlangsung. Alunan sholawat nabi terdengar di sana saat mengiringi proses tukar cincin. Suasana semakin terasa sakral karena alunan merdu sholawat yang terdengar di sana. Pada akhirnya cincin lamaran tersemat di jari manis kedua calon suami istri itu. Tanpa diduga Ani mengeluarkan satu kotak bludru dari tasnya. Ternyata isinya kalung emas yang sengaja diberikan untuk Fina. Wanita paruh baya itu memakaikan kalung tersebut di leher Fina.


"Ya Allah, andai saja Ayah ada di sini bersamaku, pasti beliau akan bahagia. Ayah ... semoga saja Ayah senang melihat Fina bahagia," batin Fina saat mengingat mendiang ayahnya. Mata gadis itu berkaca-kaca karena rasa yang membuncah di dada.


...🌹To Be continued 🌹...


...Inget yaa dresscodenya pakai warna ijo ingus🤣Othor gak tahu itu warna ijo apa🤣...


...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...


...Rekomendasi karya super keren untuk kalian😍Kuy baca karya author Nia Sumania dengan judul Cinta Kedua🌺...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2