Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Drama Ice Cream


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu tanpa henti. Tak terasa waktu telah membawa semua insan melewati hari penuh warna dan kenangan sampai dua tahun telah berlalu begitu saja. Perubahan demi perubahan telah terjadi meski tak semuanya harus berubah karena waktu. Kehidupan terus berjalan tanpa mau berhenti. Sedih dan bahagia telah dirasakan semuanya selama dua tahun ini.


"Ma, aku mau berangkat les dulu," pamit Elza seusai melaksanakan sholat ashar.


"Loh besok kan liburan, Kak? Masa lesnya masuk?" tanya Fina seraya menatap putra sambungnya dengan lekat.


"Oh iya ... ya! Besok kan liburan." Elza bergumam seraya menghempaskan diri di samping Fina. Terlalu bersemangat membuat Elza lupa jika dia sudah memasuki masa liburan semester genap.


Bocah yang dulu dianggap liar dan nakal, kini ... sudah berumur delapan tahun. Dia baru naik kelas empat di sekolahnya dengan nilai terbaik. Beberapa medali telah diraihnya saat mengikuti kompetisi pencak silat. Dukungan penuh dari orang tua membuat Elza semangat belajar dan mencetak prestasi yang membanggakan.


"Memangnya mau les apa? Buku kelas empat juga belum dibagikan toh!" Fina menatap putra sambungnya itu dengan lekat.


"Kalau begitu aku main ke rumah Putra boleh gak, Ma?" Elza bertanya balik kepada Fina.


"Ini sudah sore, jangan main, Kak. Papa sebentar lagi pulang loh," tutur Fina sambil menepuk bahu Elza, "kalau main ke rumahnya Zahra boleh deh," ucap Fina seraya menaikturunkan satu alisnya.


"Ck. Mama! Kenapa harus selalu Zahra sih! Malas banget aku sama dia. Bawel, cerewet, cengeng!" gerutu Elza karena merasa tidak suka setiap kali Fina menyuruhnya bermain bersama Zahra.


Terkadang gadis kecil itu sendiri yang datang ke rumah ini untuk mengajak Elza bermain. Padahal, dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari putra sambung Fina itu, tetapi sepertinya Zahra sendiri yang tidak mau terlepas dari Elza.


"Kalau dia datang ke sini, bilang saja aku pergi, Ma. Aku gak suka main sama dia!" ujar Elza dengan tegas, "oh ya, Zia kemana? Kok tumben sepi?" Elza mengedarkan pandangan karena tidak mendengar suara celotehan adik tercintanya.


"Adik ikut Mbok Jum ke toko depan komplek. Minta ice cream," jelas Fina.


Bersamaan dengan itu, suara Shazia terdengar dari pintu penghubung garasi dan ruang keluarga. Bocah berumur dua tahun delapan bulan itu berlari dengan membawa dua ice cream contong. Suara teriakannya terdengar menggema di sana.


"Akak Eza, ini cream untuk Akak," ujar Shazia sambil menyodorkan satu ice cream yang ada di tangan kanannya.


"Waw! Terima kasih." Elza sangat antusias saat menerima pemberian Shazia.


Sementara Fina hanya bisa tersenyum ceria ketika melihat interaksi Elza dan Shazia. Dia bahagia melihat anak-anak tumbuh dengan baik dan rukun. Ya ... meski Elza sering dibuat kesal ketika mendengar Shazia menangis.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Terdengar suara bariton dari arah ruang tamu. Derap langkah kaki Benny terdengar menggema di sana, "aduh, anak-anak Papa pada makan apa ini?" tanya Benny setelah sampai di ruang keluarga. Dia duduk di sofa, di mana Shazia sedang berdiri saat ini.


"Aku punya ice cleam, Pa." Shazia menunjukkan ice cream contong cokelat yang ada dalam genggaman tangannya.


"Waduh, enak sekali ini. Papa mau dong!" Benny sangat antusias saat menanggapi jawaban putrinya, "Papa boleh minta?" tanya Benny seraya menatap Shazia dengan penuh kasih.


"No! Papa beli sendiri!" sergah Shazia dengan tatapan tak suka.


Tanpa diduga, Benny melahap begitu saja ice cream tersebut. Ekspresi Shazia pun berubah menjadi sedih karena ujung ice creamnya hilang ditelan Benny. Tangis bocah berusia hampir tiga tahun itu akhirnya pecah dan menggema di sana.


"Mama ... Papa nakal! Ice creamku diambil! Huaaaaa ...." Shazia menghampiri Fina dan menunjukkan ice cream di tangannya.


"Papa!!" geram Fina sambil menatap Benny yang sedang tertawa lepas melihat putrinya yang menangis.


"Gak boleh cengeng gitu, Dek! Gak boleh pelit!" sahut Elza dengan tegas karena tidak suka setiap melihat Shazia menangis.


"Kenapa, Sayang?" Fina mengulurkan tangannya untuk menyambut Shazia yang menangis.


"Nah, ini masih ada kan cokelatnya? Tuh masih banyak. Lagi pula Shazia gak boleh pelit. Kalau ada yang minta ya dikasih, okey?" Fina memberikan pengertian kepada Fina.


"Aku gak mau makan ini lagi!" tolak Shazia di sela-sela isak tangisnya saat Fina memberikan ice cream itu lagi kepadanya.


"Ya sudah kalau gak mau makan. Setelah ini Shazia gak boleh beli ice cream lagi. Mama gak mau membelikan Shazia lagi!" Fina menatap Shazia dengan tegas.


Bukan karena tega ataupun tidak sayang kepada anak. Fina hanya ingin mendidik Shazia agar tidak tumbuh menjadi anak yang seenaknya sendiri, pelit ataupun suka menghamburkan makanan. Dia menatap lekat Shazia yang masih meraung di atas pangkuannya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Ayo dilanjutkan makan ice creamnya. Mau beli lagi atau tidak?" tegas Fina sambil menatap lekat bocah kecil yang masih beruraian air mata.


"Mau, Ma. Mau," jawab Shazia tanpa menghentikan tangisnya.


"Jangan menangis lagi, okey?" Fina menatap lekat bola mata putrinya.

__ADS_1


Shazia hanya bisa menganggukkan kepala sambil menerima ice cream tersebut. Sementara Fina sibuk menghapus air mata yang membasahi pipi menggemaskan bagai bakpao itu. Lantas, Fina mencium pipi gembul putrinya dengan penuh kasih.


"Maaf ya, Nak. Mama bukan bermaksud jahat kepada kamu. Mama hanya ingin yang terbaik," batin Fina sambil menatap Shazia yang sedang menikmati ice cream di atas pangkuannya.


"Shazia ... Papa boleh minta gak?" Benny kembali menggoda putrinya yang baru tenang.


Tentu hal ini berhasil membuat Fina melebarkan matanya. Dia mendadak kesal melihat sikap suaminya itu karena suka sekali menggoda Shazia hingga menangis. Benny hanya terkekeh melihat ekspresi wajah pawang hebat yang ada di rumah ini.


"Papa kalau pengen, minta punyaku saja lah! Ini, Pa." Elza beranjak dari tempatnya dan menghampiri Benny, "jangan bikin Shazia nangis lagi deh, Pa. Bisa pecah gendang telingaku kalau terus terusan mendengar Shazia menangis," gerutu Elza setelah berada di sisi ayahnya.


Benny mengusap rambut putranya beberapa kali karena merasa bangga dengan sikap yang ditunjukkan Elza. Tentu Benny tahu jika Elza akan tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab di masa depan.


"Papa gak minta. Habiskan saja," jawabnya dengan senyum yang manis. Rasa lelah yang sempat terasa setelah menghabiskan waktu di pabrik, kini hilang sudah setelah bertemu dengan anak dan istri di rumah.


Drama ice cream telah berakhir. Keduanya sibuk menikmati ice cream masing-masing tanpa ada yang berbicara. Elza beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju sudut ruangan untuk membuang bekas ice cream yang sudah habis. Dia kembali ke tempat semula yaitu di sisi ayahnya.


"Pa, sekarang kan sudah liburan. Jadi, kapan aku sunat, Pa?" tanya Elza setelah teringat pembahasan beberapa bulan yang lalu tentang keinginannya untuk segera khitan.


"Elza yakin sudah berani sunat? Enggak nunggu kelas enam saja?" tanya Benny sekali lagi.


"Yakin, Pa. Aku sudah berani kok. Lagi pula teman-teman juga udah banyak yang sunat, Pa. Masa iya tinggal aku doang yang ketinggalan. Satu lagi, Pa! Aku gak mau ada pesta di rumah. Pokoknya aku gak mau seperti teman-teman yang lain. Aku malu nanti!" ujar Elza seraya menatap ayahnya.


Benny tak segera menjawab pertanyaan tersebut. Dia sedang memikirkan kapan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan putranya. Mengingat beberapa hari lagi Nisa sendiri akan melangsungkan pernikahannya.


"Setelah pernikahan Tante Nisa saja ya. Minggu depan deh Elza sunatnya. Nanti Papa bicara sama Uti dan Akong dulu." Benny menyanggupi keinginan putranya. Bukankah keinginan baik harus disegerakan?


...🌹To Be Continued 🌹...


...Yaaa si Elza dah mau sunat aja😎...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2