Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Ditekan Rasa Bersalah


__ADS_3

Demi detik telah berlalu, langit terang berubah menjadi gelap gulita setelah sang surya kembali ke peraduan. Tepat pukul tujuh malam, Fina keluar dari ruang ICU dan dipindahkan ke ruang rawat inap asal karena kondisinya sudah stabil. Wanita cantik yang masih berkabung setelah kepergian putra pertamanya itu terlihat sedih dan kacau.


"Akhir-akhir ini duniaku terasa gelap setelah mimpi buruk itu datang. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Rasanya, Aku tidak sanggup, Mas." Fina bergumam setelah berada di dalam ruangan hanya berdua dengan Benny karena Nisa sedang keluar untuk membeli makanan.


Setelah kondisi Fina membaik, Benny menyuruh semua keluarga pulang untuk beristirahat. Hanya Nisa yang tinggal di sana untuk membantu kedua kakaknya itu. Benny sendiri masih dirawat di sana karena belum pulih total. Buang air kecil pun harus melalui cateter agar tidak banyak bergerak.


"Sayang. Jangan seperti ini. Aku minta maaf karena sudah membuat keadaan kita semua seperti ini," gumam Benny karena merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi saat ini.


"Ini bukan salah Mas. Semua ini adalah salah Allah karena sudah memberikan kita semua masalah ini. Aku sudah taat dan mematuhi semua perintahnya, tetapi apa yang aku dapat? Allah membuat kita terbaring seperti ini dan mengambil anak kita," ujar Fina tanpa menatap suaminya yang terbaring di bednya. Suaranya bergetar karena sedang menahan tangis.


Perlahan, ayah dari Elzayin itu menggeser tubuh meski rasa sakit begitu terasa di bagian punggungnya. Dia berusaha meraih tangan Fina karena tahu jika jiwa istrinya itu sedang terguncang.


"Sayang. Jangan bilang seperti itu. Istighfar," ujar Benny setelah menggenggam tangan istrinya itu, "Allah memberikan semua ini kepada kita bukan karena Allah jahat, tetapi karena Allah tahu jika kita pasti bisa melewati semua ini. Kita pasti kuat menghadapi semua yang ditakdirkan Allah kepada kita. Kamu jangan berpikir seperti ini ya." Benny mencoba memberikan pengertian kepada istrinya itu.


Fina terisak setelah mendengar tutur kata suaminya. Kesedihan yang mendalam telah dirasakan ibu muda yang kehilangan putranya itu. Penantian selama sembilan bulan seakan tidak ada artinya setelah anak yang dinanti kehadirannya telah pergi dengan membawa rasa sakit yang diderita.


"Apalagi yang tersisa dari seorang ibu ketika putranya pergi untuk selamanya. Separuh jiwaku rasanya hilang bersama putra kita," gumam Fina dengan suara yang lirih.


Rangkaian kata hilang begitu saja dari mantan duda itu setelah mendengar ungkapan kehancuran dari sang istri. Tentu keadaan ini semakin membuat Benny hancur karena ditekan rasa bersalah yang besar.


"Kita masih bisa bangkit dan menyusun masa depan, Sayang. Waktu masih panjang untuk mendapatkan buah cinta kita lagi. Kamu harus semangat," ujar Benny tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sembab sang istri.


Tak lama setelah itu, pintu ruangan terbuka lebar dan Nisa masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa kantong kresek berisi roti dan makanan yang lain. Dia salah tingkah setelah melihat kedua kakaknya sedang mengusap air mata.


"Emm ... Mbak Fina mau makan roti?" tawar Nisa setelah meletakkan barang belanjaan di atas kulkas.


"Tidak. Aku masih kenyang," jawab Fina dengan suara yang terdengar bergetar karena menahan tangis.


"Mas Benny saja bagaimana? Mungkin mau makan roti cokelat?" Gadis yang mirip dengan Fina itu beralih menatap kakak iparnya.

__ADS_1


"Boleh," jawab Benny seraya mengembangkan senyum tipis. Meski mantan duda itu sudah kenyang, tetapi dia tidak mau membuat Nisa kecewa karena tawarannya ditolak.


Gadis berhijab itu segera mengambil roti cokelat yang dia beli dari mini market. Tak lupa dia membawakan minuman untuk Benny. Lantas gadis cantik itu duduk di kursi yang ada di sisi bed pembaringan Benny.


"Mas, kemarin aku udah minta kontak yang nolong Mbak dan Mas waktu kecelakaan. Namanya Ardi kalau gak salah," ucap Nisa setelah teringat dengan pemuda baik hati yang sudah menolong kakaknya.


"Ah iya aku hampir lupa dengan pemuda itu. Dia sangat baik," ucap Benny sambil mengunyah roti pemberian Nisa.


"Suruh datang ke sini saja, Mas. Aku mau berterima kasih sama dia," sahut Fina seraya menatap adiknya.


"Bukannya lebih baik nunggu Mbak pulang saja ya? Masa iya kita nyuruh dia ke sini, Mbak. Gak enak sih kalau menurutku." Nisa mengutarakan pendapatnya.


"Aku setuju dengan pendapat Nisa. Alangkah baiknya jika kita menghubunginya setelah kita pulih. Kita bisa menyiapkan hadiah sebagai tanda terim kasih," jelas Benny seraya menatap Fina.


"Ya sudah kau begitu telfon saja sekarang. Setidaknya kita menanyakan kabar dia dan tanya alamat rumahnya. Setelah semua normal kita datang saja ke rumahnya," usul Fina dan sepertinya disetujui oleh Benny.


"Telfon saja kalau begitu, Nis," ujar Benny setelah menatap adik iparnya itu.


"Hallo Assalamualaikum," ucap Nisa setelah panggilan terhubung, "Apa benar ini kontak atas nama Ardi?" tanya Nisa setelah mendengar suara sapaan dari seberang.


"Ini saya Nisa. Keluarga korban kecelakaan beberapa hari yang Anda tolong beberapa hari yang lalu." Nisa memberitahu siapa dirinya setelah mendapat pertanyaan dari Ardi.


"Tidak ada masalah kok. Cuma ini kakak saya mau bicara. Katanya ada yang penting," ujar Nisa setelah Ardi bertanya tentang keperluannya menghubungi pemuda tersebut.


Nisa segera memberikan ponselnya kepada Benny setelah Ardi bersedia bicara dengan Benny. Tak lama setelah itu, dia beranjak dari tempatnya setelah melihat Fina memberikan isyarat agar dia datang mendekat.


"Bantu aku ke kamar mandi. Aku pengen pipis," pinta Fina sambil berusaha bangkit dari tempatnya.


"Aww," keluh Fina setelah kakinya berpijak di lantai rumah sakit. Dia merasakan perih di pusat tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa, Mbak? Mana yang sakit?" Nisa panik setelah melihat ekspresi wajah kakaknya.


"Ini ku yang sakit. Aduh perih," keluh Fina lagi setelah berusaha melangkahkan kakinya.


Fina berjalan ke kamar mandi dengan kaki yang gemetar karena tenaganya belum pulih sepenuhnya. Nisa sampai harus memapahnya karena takut Fina jatuh.


"Aku tunggu di luar ya, Mbak," ucap Fina setelah membantu Fina masuk ke dalam kamar mandi.


"Jangan! Tunggu aku di sini saja," sergah Fina. Dia takut jatuh di kamar mandi.


"Ya ampun Mbak! Aku malu kali lihat Mbak Pipis!" ujar Nisa.


"Ngapain malu sih? Sama aja kan bentuknya!" ujar Fina dengan ketus.


"Ya gak lah! Masih bagus punyaku, masih original!" cibir Nisa karena tidak terima dengan ucapan kakaknya.


Fina berdecak kesal setelah mendengar jawaban adiknya karena merasa kena telak. Tanpa banyak bicara lagi, Fina segera menuntaskan sesuatu yang sejak tadi mendesak keluar.


"Aduh! Kenapa masih perih banget sih!" teriak Fina saat bagian inti itu terkena air.


"Nisa! Ada apa? Kenapa Mbak mu kesakitan? Apa dia jatuh?" teriak Benny setelah mendengar keluhan Fina.


Nisa menghela napas setelah mendengar suara teriakan Benny, "lebay banget sih!" batin Nisa ketika membuka pintu kamar mandi. Dia mengeluarkan kepala saat menjawab pertanyaan kakak iparnya itu.


"Mbak baik-baik saja. Hanya perih karena terkena air," ucap Nisa sebelum menutup kembali pintu kamar mandi.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Kehilangan emang menyakitkan, apalagi kehilangan isi ATM pas lagi butuh-butuhnya😝...

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2