
"Suster, sakit, Sus!" rintih Fina setelah terbaring di atas bangkar IGD.
Tenaga medis yang bertugas di IGD terlihat panik setelah Fina sampai di sana. Tentu mereka bukan panik karena ada beberapa anggota kepolisian di sana, melainkan karena melihat kondisi ibu hamil dalam keadaan darurat.
"Sabar ya, Bu. Sekarang kami harus memindahkan Ibu ke PONEK agar segera mendapatkan penanganan," ucap salah satu suster yang sedang memberikan pertolongan pertama kepada Fina.
PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehemsif) adalah layanan yang disediakan untuk menangani pasien ibu hamil yang akan melangsungkan persalinan dengan status gawat darurat.
Dua perawat mendorong bangkar yang ditempati Fina menuju PONEK untuk diperiksa lebih lanjut bagaimana kondisinya. Setelah sampai di sana, Fina langsung mendapatkan perawatan intensif dari tenaga medis. Selang infus mulai dipasang di punggung tangan dan beberapa luka telah dibersihkan.
"Ibu namanya siapa?"
"Fina,"
"Ibu sedang hamil berapa bulan?"
"Saya mau melahirkan, Dok. Saya sudah kontraksi sejak tadi pagi,"
Dokter tersebut melayangkan beberapa pertanyaan hanya untuk memastikan jika Fina dalam keadaan sadar. Lantas, pemeriksaan lanjutan segera dilakukan untuk memastikan bagaimana kondisi bayi yang ada dalam kandungan. Serta bagaimana kesiapan Fina dalam melahirkan.
"Ibu sudah waktunya melahirkan. Air ketuban sudah pecah. Apakah ibu sanggup melahirkan normal atau ibu mau caesar? Mengingat tinggal satu langkah lagi Ibu bisa melihat kondisi bayi ibu," jelas dokter tersebut setelah melakukan pemeriksaan lengkap.
"Saya siap melahirkan normal! Saya kuat!" jawab Fina dengan tegas. Dia tidak peduli meskipun tidak ada Benny yang menemaninya karena kondisi ini benar-benar darurat.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan mempersiapkannya," ucap dokter tersebut.
Fina terus merintih merasakan rasa sakit di perutnya. Dia tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang ada di bagian tubuh yang lain. Satu hal yang pasti, dia harus berjuang sendiri dalam situasi ini, mengingat dia tidak tahu bagaimana kondisi Benny saat ini.
Setelah semua persiapan selesai, dokter mulai memandu Fina berjuang untuk bayinya. Suara tangisan dan teriakan Fina terdengar di sana. Hanya tenaga medis yang menemaninya saat ini. Dia tidak tahu tangan siapa yang dicengkram saat dokter memberikan interuksi agar Fina mengejan kuat.
"Alhamdulillah ...."
Tim medis yang menangani Fina bergumam setelah bayi laki-laki telah lahir. Mereka saling pandang karena bayi tersebut tidak menangis layaknya bayi pada umumnya. Mereka segera memutus tali pusar dan segera membawa bayi tersebut ke ruang observasi.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Fina karena tak kunjung mendengar suara tangisan bayi di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Selamat anak ibu laki-laki. Sekarang sedang dibersihkan di ruang observasi. Sekarang Ibu berjuang sekali lagi ya untuk mengeluarkan ari-arinya," ucap dokter tersebut seraya menatap Fina penuh arti.
Tubuh lemas serta keadaan tubuh yang remuk redam membuat Fina tak bertanya lagi. Dia fokus pada interuksi dokter agar tahapan ini segera selesai. Kini pikiran wanita yang baru melahirkan itu tertuju pada suami tercinta.
"Bu, ari-ari nya sudah berhasil keluar. Sekarang Ibu harus dijahit ya, Bu," ucap dokter tersebut setelah selesai mengeluarkan ari-ari dalam perut Fina.
Fina hanya bisa menganggukkan kepala karena tenaganya terkuras habis. Wanita cantik itu hanya bisa menatap plafon ruangan saat merasakan sakitnya jarum yang menusuk bagian inti tubuhnya.
Sementara itu di dalam ambulance Benny terus mengerang kesakitan karena kaki yang terluka. Air mata mengalir deras bukan karena rasa sakit yang terasa. Air mata penyesalan telah membasahi bangkar yang dia tempati saat ini. Pikirannya tertuju pada istri tercinta yang tidak tahu bagaimana kondisinya.
"Koper saya tidak ketinggalan 'kan?" tanya Benny pada seorang pemuda yang ada di sampingnya. Seorang pemuda baik yang bersedia membantunya hingga di titik ini.
"Sudah, Pak. Semua yang ada di dalam mobil Bapak sudah saya kumpulkan di dalam koper, termasuk tas wanita dan tas kulit hitam," jawab pemuda tersebut.
Pasca kecelakaan itu terjadi, ada beberapa orang yang berusaha mencuri kesempatan dengan mengambil barang yang ada di dalam mobil Benny. Pemuda inilah yang menolong Benny menyelamatkan semua barang berharga. Jika dilihat dari postur dan gaya rambutnya, bisa dipastikan jika pemuda itu adalah seorang tentara atau polisi.
"Bapak tenang dulu, setelah ini pasti bisa bertemu istri Bapak." Pemuda tersebut mencoba menenangkan Benny.
"Kita pergi ke rumah sakit yang dikatakan polisi tadi 'kan?" Benny memastikan jika mobil ini tidak salah alamat.
Sirine ambulance terus menggema di jalanan kota hingga sampai di depan IGD salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Rumah sakit di mana Fina sedang berada saat ini. Beberapa perawat membantu mengeluarkan bangkar Benny dari mobil ambulance.
"Saya ingin bertemu istri saya!" ujar Benny setelah berada di salah satu bilik IGD.
"Saya tidak tahu istri Bapak," jawab perawat yang sedang membersihkan luka di tangan Benny.
"Istri saya bernama Fina Imaniyah, dia pasien kecelakaan yang akan melahirkan. Antarkan saya sekarang! Jangan dibersihkan luka saya!" ujar Benny sambil berusaha bangkit dari bangkar.
"Tapi Pak—" Perawat tersebut menghentikan ucapannya saat Benny mulai berbicara dengan nada tinggi.
"Jangan banyak protes! Antar saya bertemu istri saya karena saya harus memastikan kondisinya!" teriak Benny karena sudah tidak bisa menahan rasa sesak di dada.
Pada akhirnya perawat tersebut menyanggupi permintaan Benny dengan syarat jika pria penuh luka itu bersedia untuk dibersihkan terlebih dahulu. Perawat tersebut berdalih jika masuk PONEK harus dalam keadaan bersih.
"Mari saya antar, Pak. Bisa duduk di kursi roda?" tanya Perawat tersebut setelah memberikan pertolongan pertama kepada Benny.
__ADS_1
"Bisa!" ujar Benny sambil mendesis karena menahan rasa sakit di kepala, tangan dan kakinya. Semua itu harus dibuang jauh demi memastikan kondisi anak dan istrinya.
Helaan napas berat terdengar di sana setelah Benny berhasil duduk di kursi roda. Dia pamit kepada pemuda yang masih setia menunggunya sebelum menemui Fina. Lantas, perawat tersebut melanjutkan langkahnya mendorong kursi roda yang ditempati Benny saat ini.
"Bu, ini suami pasien kecelakaan yang akan melahirkan tadi. Namanya Fina Imaniyah," ujar perawat yang mengantar Benny setelah masuk ke dalam PONEK.
Perawat tersebut langsung mengantar Benny menuju bilik yang ditempati Fina. Degup jantung ayah Elzayin itu tak beraturan karena takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada istrinya.
"Silahkan, Pak," ucap Perawat tersebut setelah membuka tirai berwarna merah itu.
"Fin ... Fina. Sayang," ucap Benny setelah melihat Fina terbaring di atas bangkar, "barang-barang istrinya saya ada di IGD. Koper hitam yang dibawa pemuda gagah. Itu berisi pakaian bayi dan pakaian istri saya. Tolong diambil," jelas Benny setelah melihat pakaian kotor Fina ada di lantai karena tim medis baru selesai melakukan perawatan pasca melahirkan.
"Mas." Suara Fina terdengar lirih. Tangannya melambai kepada Benny.
Mantan duda itu berusaha berdiri dari kursi roda dengan bantuan perawat yang mengantarnya. Beberapa kali Benny mengerang kesakitan karena luka di kakinya. Dia berhasil berdiri di sisi bangkar Fina meski kakinya gemetar.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Katakan padaku mana yang sakit? Mana yang terluka?" cecar Benny sambil merengkuh tubuh istrinya. Pria tampan itu pun tergugu ketika melihat beberapa luka di tubuh sang istri.
"Aku baik-baik saja, Mas. Jangan khawatirkan aku," jawab Fina dengan suara yang lirih, "cari anak kita, Mas, aku belum bertemu dengannya," lanjut Fina dengan mata kelopak mata yang tertutup. Dia tidak sanggup melihat kondisi Benny saat ini.
"Baiklah. Aku akan mencari anak kita. Kamu harus kuat agar kita bisa merawat anak kita." Benny menangkup kedua pipi Fina. Mantan duda itu benar-benar takut saat melihat kondisi istrinya.
"Aku pasti pulih setelah ini. Jangan khawatir, Mas." Fina mengembangkan senyum tipis, "setelah ini Mas harus dirawat agar cepat sembuh. Aku tidak tahan melihat luka di tubuh kamu, Mas," lanjut Fina dengan kelopak mata yang masih tertutup rapat.
"Aku minta maaf, Sayang. Semua ini gara-gara aku." Benny tergugu di sisi Fina karena rasa bersalah yang begitu besar dalam diri.
Suami istri itu saling menguatkan hingga beberapa menit kemudian, seorang perawat masuk ke dalam bilik. Perawat tersebut berdalih jika waktu Benny sudah selesai. Dia harus segera ke IGD agar mendapat penanganan.
"Sebelum ke IGD. Saya ingin melihat anak saya dulu. Tolong berikan saya waktu lagi untuk mengumandangkan adzan di telinga anak saya," pinta Benny dengan sorot mata penuh harap, "setelah ini saya janji akan mengikuti segala prosedur rumah sakit," ujar Benny lagi.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Duh othor sedih😭...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1