Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Sholat berjamaah


__ADS_3

Satu minggu setelah resepsi pernikahan telah berlalu begitu saja. Kini, sepasang suami istri itu telah kembali ke Surabaya. Tadi pagi keluarga besar Badiah ikut mengantar mereka berdua, selain dari silaturahmi ke rumah besan, Badiah pun ingin mengetahui bagaimana kehidupan putrinya di sana. Selama ini baik Badiah ataupun keluarga besarnya belum ada yang tahu bagaimana keadaan mereka di Surabaya.


Setelah mengetahui semuanya, Badiah merasa lega karena omongan para tetangga tidak terbukti. Dia hanya takut jika semua yang dilakukan Benny hanya sebuah pencitraan, seperti obrolan tetangganya. Mereka berdalih jika semua yang diberikan Benny adalah hasil hutang ataupun penipuan. Banyak yang belum percaya jika Fina benar-benar mendapatkan duda tampan dan mapan.


"Rumah sepi banget rasanya," gumam Fina setelah merasakan kekosongan di rumah besar ini. Semua keluarganya sudah pulang, Elza pun tidak mau tidur di rumah karena sudah terlanjur suka tinggal di rumah Ani selama satu minggu ini.


"Ya, mau bagaimana lagi. Kamu melihat sendiri 'kan bagaimana jawaban Elza tadi," timpal Benny.


"Mbak Dewi sampai kapan pulang kampungnya Mas?" tanya Fina setelah tahu jika teman seperjuangannya itu pulang kampung. Pantas saja saat dirinya menikah dia tidak ada di sana.


"Dia sebenarnya enggak pulang kampung, tapi aku pecat sejak dua minggu sebelum kita menikah," ucap Benny hingga membuat Fina tercengang. Tentu dia terkejut karena berita ini.


"Kenapa harus dipecat? Bukankah selama ini kerja Mbak Dewi bagus?" tanya Fina karena penasaran.


"Aku sedang tidak ingin membahas Dewi. Nanti saja jika ada waktu yang tepat aku cerita. Intinya dia sudah membuat kesalahan fatal," ucapnya dengan datar, "besok ada ART baru. Tapi aku gak ambil ART yang nginep di sini. Pagi datang sore pulang," jelas Benny seraya menatap Fina.


"Kenapa harus begitu?" tanya Fina penasaran.


"Karena aku ingin menikmati waktu berdua dengan kamu tanpa ada yang mengganggu," jawab Benny dengan diiringi senyum yang manis.


Suara adzan isyak terdengar di segala penjuru perumahan tempat tinggal Benny. Bersamaan dengan itu, Fina dan Benny baru saja selesai menikmati makan malam berdua. Tidak ada menu spesial ataupun hidangan lengkap layaknya dinner romantis, karena belum ada persiapan apapun malam ini.


"Mau kemana?" tanya Benny setelah Fina beranjak dari tempatnya.


"Mau cuci piring dan setelah itu sholat isyak lah," jawab Fina sambil membereskan piring kotor.

__ADS_1


Benny menatap Fina penuh arti setelah mendengar jika istrinya itu akan menunaikan sholat isyak. Pikirannya langsung tertuju pada malam-malam indah yang harus tertunda karena datangnya tamu bulanan seusai percobaan pertama yang gagal. Selama berada di Mojokerto, tidak ada kegiatan panas seperti yang sudah dia bayangkan sebelumnya. Gangguan terbesar itu datang tanpa tahu kondisi. Mau tidak mau mantan duda itu harus membuang jauh niatnya untuk membuka sarang sanca, karena tidak mau berakhir menjadi sanca berlapis selai strawberry.


"Yes! Malam ini akan aku pastikan misi itu berhasil! Masa bodo meskipun dia berteriak kencang karena tidak ada yang akan mendengarkan jeritannya!" gumam Benny sambil dengan diiringi senyum smirk.


Ayah dari Elzayin itu segera beranjak dari tempatnya. Dia menghampiri Fina yang sedang berkutat di dapur dengan cucian piring, "Sayang, kita sholat berjamaah yuk! Aku tunggu di mushola," ucap Benny setelah berada di samping Fina.


"Serius, Mas?" Mata indah itu berbinar karena terkejut mendengar ajakan Benny.


"Iya serius. Aku ambil wudhu dulu," pamit Benny sebelum meninggalkan dapur.


Fina tersenyum bahagia ketika melihat sang suami pergi ke belakang. Keinginan yang selama ini dia inginkan akhirnya bisa terwujud, sholat berjamaah bersama suami. Dia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan setelah itu menyusul benny ke belakang.


****


"Sayang, dua hari lagi kita akan berangkat ke Bali," ucap Benny setelah masuk ke dalam kamar. Berita yang dia sampaikan membuat Fina menghentikan aktivitasnya. Wanita cantik itu sedang merapikan tempat tidur sebelum istirahat.


"Kita hanya perti berdua saja. Elza ikut Ibu dan Bapak ke Malang. Ada acara di rumahnya bude selama beberapa hari," sahut Benny ketika mendengar istrinya bergumam.


"Ya, kenapa harus ikut Ibu dan Bapak? Lebih baik ikut kita saja lah, nanti di sana merepotkan loh," sanggah Fina.


Benny berkacak pinggang karena istrinya itu belum paham dengan tujuan pergi ke Bali. Tentu semua ini sudah direncanakan Benny dan Ani, agar Elza tidak ikut ke Bali. Mantan duda itu ingin menghabiskan waktu liburan berdua dengan Fina. Ya ... anggap saja ini adalah bulan madu.


"Elza sendiri yang gak mau ikut. Kalau tidak percaya besok kamu tanya sendiri deh," ucap Benny seraya duduk di tepian ranjang.


"Hilih! Bisa aja kalau nyari kesempatan!" cibir Fina tanpa menatap Benny. Dia masih sibuk mengganti sarung bantal.

__ADS_1


"Sayang, sejak kapan tamumu pulang?" Pertanyaan ini berhasil membuat Fina menghentikan kegiatannya. Dia menatap Benny sekilas dan setelah itu melanjutkan kembali kegiatannya.


"Sejak kemarin aku udah sholat sih," jawab Fina dengan entengnya.


"Apa? Kemarin? Kenapa kamu tidak memberitahuku? Ya ampun kita membuang waktu dengan sia-sia!" cecar Benny seraya menatap Fina dengan tatapan tak percaya.


"Buru-buru amat sih! Sabar dong!" Fina sepertinya semakin berani meledek suaminya itu.


"Hmmm ... rupanya tengil sekali ya kamu!" ujar Benny seraya berdiri tempatnya. Dia menghampiri Fina dan segera mendekap tubuh itu dari belakang.


Suara gelak tawa wanita cantik itu menggema di sana saat Benny menggelitik perutnya. Fina berusaha keluar dari dekapan itu dan pada akhirnya terhempas di atas tempat tidur. Tanpa membuang kesempatan emas ini, Benny segera mengukung tubuh itu. Tatapannya tak lepas dari sosok yang masih tertawa lepas di bawah kungkungannya.


"Malam ini aku tidak mau gagal lagi. Kita harus melakukannya, Sayang," ucap Benny seraya menatap wajah cantik itu, "tidak ada siapapun di rumah ini, jadi jika kamu ingin berteriak, lakukanlah," ucap Benny sebelum mendaratkan kecupan di kening mulus itu.


"Jangan terlalu keras," pinta Fina tanpa berani beradu pandang dengan suaminya itu.


"Tentu. Aku akan melakukannya dengan kelembutan yang bisa membuatmu merasa nyaman dan bisa terbang ke awan," jawab Benny dengan diiringi senyum yang manis.


Hembusan napas berat terdengar di sana meski permainan belum dimulai. Merasakan bibir tipis itu adalah yang pertama kali dilakukan oleh Benny. Setelah satu minggu membimbing Fina dalam hal ini, nyatanya membuat permainan cukup imbang. Kedua lidah itu menari-nari dengan indahnya. Bibir saling bertautan hingga suara decapan terdengar di sana.


"Aku milikmu, Mas," gumam Fina dengan kelopak mata yang tertutup rapat kala merasakan sentuhan lembut di tubuhnya.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Sabar yess, othor mau nyari inspirasi nulis dua satu plusnya🤣masalahnya udah hampir tobat nih😆kalau pengen yang dua satu plus yahut baca aja karya othor yang judulnya Jerat Cinta Jessica, Suamiku CEO Cilok, Belenggu Benang Kusut. Yang paling seru Jessica sih🤣...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2