
Bulan purnama terlihat indah di langit Situbondo. Pantulan cahayanya membuat air laut nampak berkilau di malam hari. Deburan ombak terdengar saling bersahutan bersama angin yang berhembus mesra. Udara di sekitar pantai cukup dingin, tetapi semua itu tidak membuat langkah seorang gadis terhenti. Ya, gadis itu adalah Fina. Dia berjalan menyusuri tepian pantai untuk mengusir kerisauan hatinya. Dia tidak peduli meski suasana di sana cukup sepi.
"Apa aku tidak salah memilih pasangan hidup?" gumamnya dengan tatapan lurus ke depan. Cukup lama dia termenung di sana sambil mengamati pemandangan alam yang ada di hadapannya.
Fina melanjutkan langkahnya setelah cukup lama berada di sana. Dia menyusuri hamparan pasir putih yang ada di bibir pantai hingga pada akhirnya dia harus berhenti karena ada sepasang kaki yang menghalangi jalannya. Fina menegakkan kepala untuk melihat siapa gerangan yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" Ternyata sepasang kaki itu adalah milik Benny. Dia bertanya kepada gadis pujaannya itu dengan nada bicara yang kalem.
Hanya sorot mata kekecewaan yang menjawab pertanyaan itu. Helaan napas berat terdengar di sana. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Fina memilih pergi dari hadapan ayah Elzayin itu. Dia melanjutkan langkahnya hingga sampai pada bangku panjang yang ada di dekat resort.
Benny mengerti jika gadis yang dianggapnya sebagai kedelai hitam malika itu sedang tidak baik-baik saja. Dia hanya bisa diam sambil menunggu sang empu mengeluarkan keresahannya. Duda tampan itu sempat khawatir karena Fina tak kunjung kembali ke aula. Dia memutuskan keluar dari acara tersebut untuk mencari keberadaan calon pendamping hidupnya itu. Setelah berkeliling di dalam hotel, ternyata Benny menemukannya di pinggir pantai.
"Katakan, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Benny setelah duduk di sisi Fina. Dia menatap wajah cantik itu dari samping.
"Saya mendadak ragu dengan semua ini," jawab Fina dengan pandangan lurus ke depan. Suaranya terdengar bergetar.
"Maksudnya kamu ragu telah memilihku?" tanya Benny untuk memastikan arah dan tujuan ucapan Fina.
"Ya. Saya mendadak ragu dengan Bapak, setelah apa yang saya lihat beberapa waktu yang lalu," jawab Fina seraya menatap Benny sekilas. Tidak lama setelah itu tatapannya kembali lurus ke depan.
"Fin, jangan berpikir buruk dulu," sanggah Benny.
"Lalu apa yang Bapak harapkan dari pemikiran saya? Saya tidak terbiasa melihat seperti yang Bapak lakukan tadi. Di depan saya saja, Bapak tanpa malu melakukan saweran bersama biduan, apalagi nanti jika di belakang saya." Fina menatap Benny dengan lekat. Sorot matanya menampakkan kilat amarah yang membaur bersama rasa kecewa.
"Justru karena ada kamu aku berani melakukannya, Fin. Aku sengaja melakukan ini di depanmu. Jika di belakangmu aku tidak berani, karena takut akan terjadi salah paham, apabila kamu tahu dari orang lain. Pasti akan ada cerita yang ditambahkan dari orang tersebut," jelas duda tampan itu.
__ADS_1
"Apa seperti ini cara Pak Ben mendapatkan Mbak Renata dulu? Apakah situasi seperti ini tidak akan terulang jika kita menikah?" cecar Fina.
"Kamu salah jika berpikir seperti itu. Aku dan Renata tidak pernah melakukan seperti yang kamu lihat tadi. Sudahlah kita tidak perlu membahas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kita harus tetap melangkah menuju masa depan. Sekarang begini saja, Apa lagi yang membuatnya resah begini?" tanya Benny dengan lekat.
"Bisakah kita menunda hubungan ini sampai saya yakin jika Pak Benny adalah yang terbaik?" Tatapan gadis cantik itu terlihat serius.
"Kenapa harus begitu?" tanya Benny. Duda tampan itu belum mengerti kerumitan apa yang sebenarnya membelenggu pikiran gadis yang ada di sampingnya itu.
Fina beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju batu karang besar yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Benny pun mengikuti langkah Fina hingga gadis cantik itu menyandarkan pinggulnya di batu karang raksasa itu.
"Saya hanya takut merasakan patah hati sebelum jatuh cinta. Bapak tahu sendiri 'kan jika saya belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Masa iya harus kecewa sebelum merasakan betapa indahnya jatuh cinta," ucap gadis cantik itu dengan suara yang bergetar.
"Saya tidak siap merasakan sakit akibat apa yang Bapak perbuat di masa depan. Bahkan, saat ini saja saya belum mengerti bagaimana perasaan saya kepada Bapak. Bagaimana rasanya mencintaipun saya tidak tahu." Air mata gadis cantik itu mulai luruh karena perasaan yang membuncah di dada.
Benny hanya diam saja setelah mendengar keresahan hati gadis pujaannya itu. Tentu dalam hal ini Benny bisa memahami bagaimana keraguan gadis cantik itu.
"Lalu bagaimana saya bisa yakin jika Bapak mencintai saya dan sedang tidak bermain-main, seperti bersama dua wanita yang pernah saya lihat?" Suara Fina meninggi setelah melihat Benny.
"Kamu hanya belum merasakan, Sayang. Kamu belum tahu bagaimana besarnya perasaanku kepadamu. Ayolah ... jangan tutup hatimu dengan statusku. Cobalah menerima aku dengan tulus agar kamu bisa merasakan bagaimana besarnya rasa cintaku kepadamu," jelas Benny seraya menyentuh pipi mulus itu.
Fina tergugu setelah mendengar semua ungkapan hati dari pria yang sedang berdiri di hadapannya itu. Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Benny, jika dirinya masih ragu dan masih membentengi diri dari pria yang dianggapnya buaya itu. Gadis itu seperti kehilangan kata-kata untuk menyanggah penjelasan panjang itu. Dia hanya bisa menangis untuk mengeluarkan semua rasa yang menyesakkan dada.
"Sudah jangan menangis seperti ini. Jangan pernah merasa takut saat berada di sampingku karena aku akan melindungimu sekuat tenagaku," ucap Benny seraya meraih kedua tangan Fina dan setelah itu digenggam dengannya erat.
Fina semakin menangis setelah Benny mendaratkan kecupan mesra di punggung tangannya dan setelah itu, tiba-tiba saja Benny mendekap tubuhnya dengan erat. Entah karena khilaf atau karena suasana yang terasa di sana, duda tampan itu mendaratkan kecupan berkali-kali di kepala yang tertutup kerudung itu.
__ADS_1
"Setelah ini kamu harus percaya dan yakin dengan hubungan ini. Jangan mendengarkan berita buruk dari orang lain bagaimana diriku. Mungkin saja setelah menikah nanti ada seseorang yang mencoba menghancurkan kita," ucap Benny dengan tangan yang tak henti mengusap punggung gadis cantik itu.
Tangisan Fina semakin terdengar kencang. Tentu hal ini berhasil membuat Benny merasa heran. Dia mengurai dekapannya dan setelah itu mengecup sebagian kening yang tertutup iner itu. Tangis Fina pun semakin menjadi setelah mendapatkan perlakuan manis dari Benny.
"Ada apa, Fin? Apa yang membuatmu menjadi seperti ini?" tanya Benny dengan heran.
"Huaaa ... Bapak sudah membuat dosa saya semakin besar. Bagaimana kalau malaikat mencatat semua ini sebagai perbuatan buruk!" ujar Fina di sela-sela isak tangisnya.
"Dosa? Memangnya apa yang sudah saya lakukan?" Benny semakin bingung melihat gadis yang ada di hadapannya itu.
Fina memukul beberapa kali dada Benny dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti. Tentu keadaan ini membuat Benny semakin pusing. Niat hati ingin menenangkan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Pak Benny harus buru-buru menikahi saya! Bapak sudah melakukan sesuatu hal di luar batas! Bapak sudah memeluk dan mencium saya beberapa kali. Dasar buaya darat! Nyari kesempatan saja! Ini tidak benar, Pak Ben! Tidak benar! Astagfirullah, ingat Pak! Kita bukan muhrim!" sungut Fina sambil mengusap air matanya.
Benny tercengang setelah mengetahui alasan yang membuat Fina histeris. Dia tidak menyangka jika apa yang sudah terjadi beberapa menit yang lalu adalah pemicu tangisan Fina. Sungguh, Fina telah berhasil memporak-porandakan hatinya.
"Astaga! Gadis ini ternyata sangat kuno. Hanya karena hal itu, dia sampai histeris seperti kehilangan kesucian saja!" batin Benny dengan tatapan yang tak lepas dari Fina.
...🌹To Be continued 🌹...
...Othor pengen ngakak nulis part ini😆Entahlah karena apa🤣...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Sambil nunggu othor up, kuy baca juga karya author Hilmiath dengan judul Atmosphere😍Jangan sampai gak baca ya...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...