Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Lahir Dengan Selamat


__ADS_3

"Ketubannya sudah pecah, Bu, sebentar lagi mari kita berjuang bersama untuk menyambut kehadiran ananda ke dunia ini," ucap Bidan yang memeriksa Fina.


Semua perlengkapan melahirkan mulai disiapkan beberapa tim medis yang ada di sana. Fina dan Benny sudah berada di ruang bersalin. Wanita berbadan itu tak henti berjuang dari pagi hingga sore hari. Dia melawan rasa sakit itu dengan mengikuti semua saran dari dokter. Dia berusaha keras duduk bersila, tidur miring kiri, jalan kaki dan beberapa cara lain yang bisa mempercepat pembukaan jalan lahir.


"Sayang, kamu pasti bisa! Kamu pasti kuat!" bisik Benny saat memberikan semangat untuk Fina.


Meski sudah memiliki anak sebelumnya, tetapi rasa takut mantan duda itu tak sebesar hari ini. Dulu saat Nurmala melahirkan Elza, Benny tidak bisa masuk karena Elza lahir melalui proses Caesar. Sementara hari ini, dia melihat sendiri bagaimana perjuangan wanita saat melahirkan. Benny seperti ikut merasakan sakit yang luar biasa ketika melihat bagaimana kondisi Fina selama seharian ini, hingga dia kehilangan nafsu makan selama seharian ini.


"Mas, jangan ninggalin aku ya, Mas," pinta Fina sambil menggenggam erat tangan Benny.


"Tidak mungkin. Aku pasti akan menemanimu, Sayang. Kamu pasti bisa melewati semua ini! Kamu wanita kuat!" ujar Benny dengan kedua sudut bibir tertarik ke dalam.


Benny hanya bisa meringis ketika merasakan cengkraman erat di tangannya. Tak hanya berhenti sampai di situ, ayah dari Elzayin itu harus menahan sakit ketika Fina tiba-tiba saja meraih rambutnya dan ditarik begitu saja. Rasanya rambut hampir terlepas dari kulit kepala.


"Aduh, Mas. Rasa sakitnya semakin menjadi," rintih Fina dengan suara lirih.


"Sabar, Sayang. Kamu pasti bisa." Hanya itu saja yang bisa Benny ucapkan atas keluhan Fina.


Suara jeritan Fina terdengar di sana ketika proses melahirkan itu dimulai. Benny tak henti memberikan semangat kepada istrinya itu meski dia sendiri merasakan sakit di kepala dan di tangannya karena terus menjadi sasaran Fina.


Semua rasa membuncah di dalam dada. Semua kesalahan yang dulu seringkali dia lakukan hingga membuat Ani menangis mulai muncul di kepala. Rasa sesal hadir dalam hati ketika melihat betapa menyakitkannya perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Air mata tak dapat tertahan lagi karena semua rasa sesak yang memenuhi dada. Benny menelusupkan wajah di bahu Fina karena malu dengan tim medis yang ada di sana.


Hingga beberapa menit kemudian suara tangisan bayi menggema di sana bersamaan dengan adzan ashar yang berkumandang di segala penjuru rumah sakit. Benny mengembangkan senyum bahagia ketika melihat bayi yang diangkat oleh dokter itu.


"Selamat Pak, Bu, bayinya perempuan. Kondisinya sehat dan normal," ucap dokter yang menolong Fina.


Fina menangis bahagia karena pada akhirnya bisa mendengar suara tangisan bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan ini. Rasa sakit seperti hilang begitu saja setelah melihat bayi yang sedang menangis di tangan dokter yang menolongnya. Dia merasa lega karena perjuangannya telah selesai.


"Alhamdulillah ...."

__ADS_1


Sementara itu di luar ruangan, Badiah tersenyum haru setelah mendengar suara tangisan bayi dari kamar bersalin. Janda dua anak itu menangis karena rasa yang bercampur aduk di dalam dada. Sejak beberapa menit yang lalu Badiah merasa gusar karena tak kunjung mendengar suara tangisan bayi. Pikirannya fokus pada keselamatan anak dan cucunya. Kini, dia merasa lega karena pada akhirnya Fina bisa melewati semua perjuangan itu.


"Ya Allah, semoga saja Fina dan bayinya baik-baik saja," gumam Badiah dengan suara yang bergetar. Janda satu anak itu tak henti menangis karena rasa haru yang membelenggu.


Badiah mondar-mandir di depan ruang bersalin. Meski dia yakin jika semuanya baik-baik saja, tetapi belum bisa tenang sebelum melihat sendiri kondisi anak dan cucunya. Bahkan, sampai saat ini janda dua anak itu belum tahu jenis kelamin cucu pertamanya. Fina merahasiakan tentang jenis kelamin bayinya meski sudah diberitahu dokter saat USG.


"Mbah Bad!" Suara teriakan Elza terdengar di koridor rumah sakit. Bocah kecil itu berlari ke tempat Badiah dengan membawa medali emas. Sementara Nisa dan Dita berjalan di belakang Elza. Nisa membawa piala kemenangan Elza.


"Mama di mana?" tanya Elza setelah berhenti di sisi Badiah.


"Masih di dalam, Nak. Adek bayinya baru keluar," jawab Badiah seraya duduk di bangku panjang.


"Yeeee ... aku mau lihat adek bayi boleh ya, Mbah!" ujar Elza dengan antusias.


"Kalau sekarang belum boleh karena masih dirawat di dalam. Nanti kalau Mama sudah dipindahkan ke ruangan, baru kita semua boleh melihat adek bayi.


"Wah ... jadi Elza menang?" tanya Badiah dengan antusias, "Hebat sekali cucunya Mbah ini!" puji Badiah setelah Elza menganggukkan kepala. Wanita paruh baya itu meraih tubuh Elza ke dalam dekapan.


"Bagaimana kondisinya Mbak?" tanya Dita setelah duduk bersebelahan dengan Badiah.


"Belum tahu. Dari tadi Ibu juga nunggu orang keluar dari situ, tetapi tidak ada satu pun yang keluar." Badiah menghela napasnya karena masih gusar.


"Sabar, Bu. Mungkin belum selesai perawatan pasca melahirkannya," tutur Nisa.


Mereka berempat menunggu di sana hampir satu jam lamanya hingga pada akhirnya pintu ruangan terbuka lebar. Dua orang perawat mendorong bangkar yang ditempati Fina keluar dari ruangan diikuti Benny yang sedang mendorong box berisi bayi yang sudah dibersihkan dan dibedong.


"Ayo kita ke ruangan," ajak Benny dengan senyum sumringah.


Mereka semua berjalan menuju ruangan Fina yang ada di lantai tiga. Elza sengaja berjalan di sisi box bayi yang didorong Benny. Dia terlihat bahagia melihat bayi yang sedang tertidur pulas itu.

__ADS_1


"Pa, adek bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Elza setelah mereka masuk ke dalam lift.


"Dedek bayinya perempuan," jawab Benny sambil mengusap rambut tipis Elza.


"Ya ... kok perempuan, Pa! Gak bisa diajak gelut dong!" Elza kecewa setelah tahu bukan adik laki-laki yang dia dapatkan.


"Loh, gak papa meskipun perempuan, El. Buktinya Mama perempuan tapi bisa gelut tuh!" sahut Nisa ketik melihat ekspresi wajah keponakannya itu.


"Oh, iya ya! Perempuan juga bisa gelut ya!" Binar bahagia terlihat jelas di wajah bocah kecil itu.


"Eits! Tapi gak boleh jahat sama adiknya nanti. Elza gak boleh mukul adik loh!" Benny memberi peringatan kepada putra sulungnya itu.


"Iya, Pa! Aku pasti akan menjaga dedek bayi. Tetapi ... aku tidak suka kalau dia berisik! Semoga saja dedek bayi kalau besar enggak berisik seperti Zahra!" ujar Elza sambil menatap bayi yang ada di dalam box itu.


Semua orang yang ada di sana tersenyum simpul mendengar celotehan Elza. Setelah berada di dalam lift selama beberapa puluh detik, pada akhirnya mereka keluar. Fina dan Bayinya berada dalam lift yang berbeda.


"Pa, nanti aku mau gendong adek bayi boleh gak, Pa?" tanya Elza saat berjalan menuju ruang rawat inap Fina.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Alhamdulillah Fina lahiran dengan selamat. Jan lupa kadonya onti😍...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya untuk kalian. Sambil nunggu othor update episode terbaru, jan lupa mampir ke karya author Komalasari dengan judul The Bodyguard. Serius ini bacaan bagus banget deh😎...



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2