Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Family Gathering 2


__ADS_3

Senin, selasa, rabu, kamis, jumat dan sabtu. Ya ... akhirnya waktu telah membawa semua orang sampai di hari libur yang sudah ditunggu semua karyawan Industri AlasKa. Ada dua bus yang membawa mereka menuju Situbondo. Keluarga besar Benny membawa mobil pribadi sama halnya dengan pemiliki AlasKa tersebut.


Setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Surabaya selama berjam-jam lamanya, tepat pukul sebelas siang rombongan AlasKa sampai di tempat tujuan. Raya Utama Beach adalah destinasi yang dituju oleh rombongan tersebut. Pantai dengan pemandangan indah yang tak jauh dari kawasan PLTU Situbondo. Ada hotel, villa dan cottage tersedia di sana sebagai pelengkap pariwisata.


"Wah ... indah sekali!" Elza berdecak kagum setelah keluar dari mobil dan melihat keindahan alam yang ada di hadapannya. Dia menarik tangan Fina agar mengikuti langkahnya.


"Tunggu, Sayang. Kita istirahat dulu. Nanti mainnya kalau sudah sore. Sekarang masih panas," cegah Fina karena cuaca di sana cukup panas. Apalagi, sebentar lagi memasuki waktu dzuhur.


"Elza. Ayo ikut Papa dulu!" Kali ini Benny ikut menginteruksi agar putranya mengurungkan niat untuk pergi kesana.


Kedatangan rombongan tersebut disambut hangat oleh manager hotel Utama Raya. Mereka diberikan kunci akses kamar sesuai dengan pesanan perusahaan. Sementara Benny dan keluarganya mendapat kamar spesial dengan pemandangan pantai yang indah.


"Kunci kamar saya mana, Pak?" tanya Fina karena dia belum mendapatkan kunci akses kamar.


"Loh kita satu kamar, Fin," ucap Benny dengan ekspresi wajah serius.


"Gak mau!" sergahnya, "lebih baik saya tidur di luar dari pada harus tidur satu kamar sama Pak Ben!" sungut Fina.


Benny tertawa lepas setelah melihat ekspresi wajah gadis pujaannya itu, "nih kartu kamarmu. Begitu saja cemberut," ujar Benny sambil menyerahkan kartu akses untuk Fina.


"Benny!" Duda tampan itu mendapat peringatan dari ibunya karena terus menggoda Fina, "Elza tidur sama Uti saja ya," ucap Ani seraya menatap Elza dengan lekat.q


"Gak mau, Uti! Aku mau bobo sama Mama Fina saja!" tolak bocah kecil itu. Dia tak melepaskan genggaman tangan Fina.


"Iya, Bu. Elza biar sama saya saja." Fina meyakinkan Ani jika dirinya tidak masalah tidur bersama Elza.


"Hmmm ... kalau Elza saja boleh satu kamar, tidur bareng. Kalau aku kok gak boleh, padahal aku ini bapaknya loh!" protes Benny tanpa tahu malu. Padahal mereka sedang bersama keluarga yang lain.

__ADS_1


Fina terbelalak setelah mendengar ucapan itu. Tentu dia merasa malu di hadapan keluarga besar Ani karena protes dari Benny, "sinting!" gumam Fina seraya menatap sinis ke arah Benny.


"El, kita istirahat saja yuk!" Fina mencoba mencari alasan agar bisa kabur dari sana, "saya pamit ke kamar dulu," ucapnya sambil menatap Ani dan yang lain.


Benny tidak tinggal diam melihat calon istrinya pergi begitu saja. Duda tampan itu dengan sigap membawakan koper kecil berisi pakaian Elza dan Fina menuju kamar yang ada di lantai dua. Dia mengantar Fina sampai di depan kamar hotel, "yakin nih kita tidur terpisah? Gak nyesel gak bobok bareng sama aku?" Benny kembali menggoda Fina yang sedang membuka akses pintu kamarnya.


"No!" ujarnya dengan tegas. Gadis cantik itu segera membawa Elza masuk dan tak lupa merebut koper yang ada di tangan Benny.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Detik demi detik telah berlalu begitu saja, waktu makan siang telah lewat. Setelah mengisi energi di hotel dengan makan siang dan istirahat yang cukup. Semua orang berhamburan keluar menuju tepi pantai. Pemandangan langit dengan gradasi jingga semakin memanjakan mata. Mungkin kurang satu jam lagi matahari akan kembali ke singgasananya. Semua orang tertawa bahagia di tepi pantai untuk menunggu sunset di sana.


"Elza, gak boleh lari! Ingat, tangannya belum sembuh." Fina memberikan peringatan kepada Elza yang aktif bermain bersama Benny di tepi pantai. Bocah kecil itu terlihat sangat bahagia karena bisa bermain di tepi pantai, ya ... meski sesekali harus menahan rasa nyeri di bahunya.


"Kalau aku sudah sembuh, kita ke sini lagi ya, Pa, aku mau naik semua itu!" tunjuk Elza pada deretan perahu, banana boat dan wahana yang lain.


"Pasti, Sayang," jawab Benny sambil mengusap rambut putranya.


***


Semua orang sudah berkumpul di aula seusai menikmati makan malam di restoran hotel. Panggung kecil sudah disiapkan di sana sebagai penunjang untuk acara malam ini. Benny pun ikut mengisi acara tersebut sebelum acara dangdutan bersama yang ditunggu semua orang.


"Apa saya harus ikut? Ini kan acara karyawan Bapak. Lebih baik saya ke kamar saja ya," ucap Fina karena merasa tidak nyaman berada di sana.


"Tidak. Kamu harus menemani aku di sini, lagi pula nanti juga ada hiburannya. Nikmati saja," ucap Benny.


Tempat duduk paling depan di isi Benny dan keluarganya. Tepat pukul delapan malam acara pun dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan beberapa sambutan. Tak lama setelah itu, Benny pun dipanggil untuk memberikan sambutan sebagai pemilik perusahaan ini.

__ADS_1


"Kalau sedang serius begitu, kok kelihatan berwibawa ya. Makin keren saja ini orang," batin Fina tatkala mengamati Benny yang sedang berdiri di atas panggung, sambil memberikan sambutan dan mengucapkan rasa terima kasih kepada semua karyawan yang sudah bekerja keras selama ini.


Beberapa menit kemudian, duda tampan itu turun dari panggung dan setelah acara game bersama semua karyawan. Acara yang ditunggu pun akhirnya dimula. Ada tiga biduan dangdut yang akan mengisi acara terakhir malam ini.


"Kepada pak Benny selaku pemilik AlasKa diharap naik ke atas panggung untuk ikut bernyanyi," ucap salah satu petinggi yang ada di industri milik Benny.


Duda tampan itu menatap Fina sekilas, sebelum memutuskan kembali naik ke atas panggung. Semua karyawan bertepuk tangan ketika melihat Benny menerima microfon dari MC. Duda tampan itu duet bersama biduan cantik yang memakai pakaian cukup sopan.


"Pak Benny ... Pak ... sawerannya jangan lupa, Pak," ucap Biduan tersebut dengan manjanya di sela-sela dia bernyanyi. Duda tampan itu pun mengeluarkan beberapa lembar rupiah berwarna biru dari sakunya. Dia berjoget sambil memberikan satu persatu lembaran berwarna biru itu kepada sang Biduan.


Sementara itu, di deretan kursi paling depan ada sosok yang sedang menahan tangis di tengah hebohnya acara tersebut. Ada rasa sakit yang menjalar dalam hati gadis cantik yang duduk di sisi Ani itu, ketika melihat apa yang dilakukan oleh calon suaminya. Dia merasa tidak tahan dengan semua ini karena untuk yang pertama kalinya dia melihat sisi lain dari duda beranak satu itu. Dia tidak suka atas apa yang dilakukan Benny saat ini.


"Bu, saya titip Elza sebentar ya. Saya mau ke toilet dulu," pamit Fina kepada Ani yang asyik melihat putranya, "El tunggu di sini saja sama Uti. Jangan nakal," ucap Fina saat beralih menatap Elza.


Benny hanya bisa mengamati kepergian Fina dari atas panggung. Pandangannya tak lepas dari sosok yang perlahan menghilang dari balik pintu masuk aula. Dia mencoba menerka kemana Fina akan pergi, mau meninggalkan panggung pun acara belum selesai. Dia tidak enak hati dengan yang lain.


"Apa mungkin dia marah setelah melihatku bernyanyi di sini?" batin Benny sambil menggerakkan badan di mengikuti musik yang mengiringi.


...🌹To Be continued 🌹...


...Dasar si Duda cari perkara mulu🀣...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Ada rekomendasi bacaan yang wajib kalian kepoin nih😍Kuy baca karya author Delima Rhujiwati dengan judul I'm Not A Floozy. Jangan sampai gsk baca ya😍


__ADS_1


...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2