Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Berselimut Kebahagiaan


__ADS_3

"Hamil, Dok? Saya tidak salah dengar kah?" Sekali lagi Fina meyakinkan jawaban dokter Hana.


"Iya. Ibu sedang hamil saat ini. Usia janinnya sudah memasuki minggu ke empat," jawab dokter Hana dengan diiringi senyum manis, "mari kita bicara di sana." Dokter tersebut memberikan kode agar Fina dan Benny duduk di tempat konsultasi.


Hasil pemeriksaan malam ini benar-benar membuat sepasang suami istri itu shock, karena Fina sendiri belum merasakan tanda-tanda kehamilan. Pasca melahirkan, siklus menstruasinya pun belum normal seperti sebelumnya. Maka dari itu dia tidak curiga meski telat menstruasi beberapa minggu dari tanggal biasanya.


"Silahkan duduk," ucap dokter Hana seraya menatap pasiennya itu.


Sesi konsultasi akhirnya dimulai. Beberapa pertanyaan tentang riwayat penyakit Fina telah dilayangkan oleh dokter Hana. Banyak hal yang mereka bicarakan di sana. Fina pun sangat aktif bertanya tentang kehamilannya. Beberapa keresahan yang hadir dalam pikiran telah tercurahkan kepada dokter tersebut.


"Dari pemeriksaan malam ini, tidak ada kondisi medis yang mengganggu kehamilan Ibu. Saya berikan obat dan vitamin ya, Bu. Jangan over thingking yang bisa membuat setres karena nanti bisa mempengaruhi kondisi Ibu," jelas dokter Hana sebelum menulis resep untuk Fina.


Sepasang suami istri itu akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan dengan membawa resep obat. Mereka menuju apotek sekaligus kasir. Keduanya duduk di ruang tunggu setelah menyerahkan resep obat ke Apoteker.


"Mas, kita ini sedang di kehidupan nyata 'kan? Kita enggak sedang mimpi kan, Mas?" tanya Fina setelah duduk di bangku panjang yang ada di sana.


"Ini nyata, Sayang. Allah sedang menunjukkan kuasanya. Mungkin ini adalah buah dari kesabaran kamu setelah diterpa musibah hingga kita merasakan sakitnya kehilangan," jelas Benny seraya menggenggam erat tangan istrinya.


Air mata tak terbendung lagi. Fina menangis dalam dekapan Benny karena merasa bahagia. Dia tidak pernah menyangka jika akan menerima rezeki besar ini. Tentu tangis ibu sambung Elzayin itu bukanlah tangis kesedihan, melainkan tangis haru karena bahagia.


"Atas nama Nyonya Fina Imaniyah."


Benny segera beranjak dari tempatnya saat mendengar nama Fina dipanggil Apoteker. Pria tampan itu mengambil obat di apotek dan setelah itu membayar semua biaya pemeriksaan dan obat di kasir.


Kebahagiaan tak terkira telah dirasakan sepasang suami istri yang baru masuk ke dalam mobil hitam itu. Fina masih sibuk mengusap air mata yang tak henti mengalir dari pelupuk mata.


"Kita mampir ke Ibu Ani ya Mas setelah Elza pulang latihan," ucap Fina dengan suara yang berat.


"Iya. Kita harus memberitahu kabar bahagia ini kepada Ibu," jawab Benny tanpa menatap Fina. Dia fokus dengan kemudinya.

__ADS_1


Benny mengarahkan mobilnya menuju pedepokan tempat Elza latihan. Mantan duda itu mengendarai mobilnya kecepatan di bawah rata-rata karena tidak mau kejadian di masa lalu terulang. Dia sengat berhati-hati dan tetap tenang agar Fina merasa nyaman.


****


"Kenapa kita ke rumahnya uti dulu, Pa?" tanya Elza setelah tahu jika mobil yang dikendarai ayahnya memasuki halaman luas rumah Sukirman. Bocah kecil itu baru selesai latihan tepat pukul sembilan malam dan setelahnya langsung diajak mampir ke rumah neneknya.


"Papa kangen sama Uti," jawab Benny sambil melepas seatbeltnya. Tak lama setelah itu, mereka bertiga pun keluar dari mobil.


"Assalamualaikum, Uti ...." teriak Elza saat masuk ke dalam rumah neneknya. Kebetulan ada Dita dan suaminya yang sedang bersantai di ruang tamu.


"Waalaikumsalam," jawab Dita dan Dani serempak, "tumben, Mas?" tanya Dita karena tidak biasanya Benny datang di jam-jam seperti ini.


"Iya, ada perlu sama Ibu. Udah tidur kah Bapak sama Ibu?" Benny bertanya balik kepada adiknya itu.


"Belum, Mas. Mungkin di dalam. Masuk aja," ujar Dita.


Benny mengajak anak dan istrinya untuk menemui kedua orang tuanya. Suara acara TV terdengar dari ruang keluarga, pertanda jika kedua orang tuanya masih terjaga. Benar saja, begitu sampai di ruang keluarga, Elza berlari menuju sofa, di mana ada kakek dan neneknya.


"Iya dong, Mbah Kong. Tadi aku habis latihan jurus tiga! Mbah Kong mau lihat gak bagaimana jurusnya?" ujar Elza dengan bangganya.


Sementara Benny dan Fina memilih duduk di sofa yang ada di sisi Ani. Mereka masih menyimak interaksi kakek dan cucu itu. Sesekali gelak tawa terdengar di sana karena kelucuan Elza.


"Tumben, Ben? Ada sesuatu yang penting kah?" tanya Ani setelah mengalihkan pandangan ke samping.


"Kami ingin menyampaikan kabar bahagia, Bu," ucap Benny dengan diiringi senyum ceria.


"Wah, apa itu?" Ani mengubah posisi hingga bisa menghadap anak dan menantunya.


Benny memberikan kode agar Fina mengeluarkan buku KIA dan hasil USG. Lantas, Benny memberikan semua itu kepada Ani, "Fina hamil lagi, Bu," ucap Benny dengan tatapan mata penuh arti.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ujar Ani dengan suara cukup keras hingga membuat Sukirman dan Elza mengalihkan pandangan ke arahnya, tak hanya itu ... Dita pun sampai masuk ke dalam ruang keluarga setelah mendengar suara ibunya.


"Ada apa, Bu?" Dita ikut penasaran.


"Mbakmu hamil lagi, Dit. Alhamdulillah ... Elza mau punya adek lagi," ujar Ani dengan binar bahagia yang terpancar dari sorot matanya.


Tentu semua orang yang ada di sana bahagia setelah mendengar kabar baik itu. Begitu pun dengan Elza. Bocah berusia enam tahun berteriak kegirangan setelah tahu jika akan memiliki adik lagi. Dia melompat-lompat di sisi sofa yang ditempati Sukirman.


"Ye ... ye ... ye ... Aku punya adik lagi!" teriak bocah kelas satu SD itu.


"Adonan dedek bayinya cepat jadi, ya! Padahal, baru tadi sore Papa bilang mau periksa ke dokter! Wah hebat sekali!" celetuk Elza hingga membuat semua orang ternganga.


Tentu hal ini berhasil membuat wajah Fina bersemu merah karena malu. Dia menepuk kening setelah tahu bagaimana respon putra sambungnya itu. Begitu pun dengan Benny, mantan duda itu hanya tersenyum kecut saat menanggapi ucapan putranya.


"Selamat ya, Mbak. Semoga kali ini sesuai harapan ya, Mbak," ucap Dita sambil memeluk kakak iparnya. Dia bahagia karena kabar baik ini.


"Makasih ya, Dit," jawab Fina dengan diiringi senyum manis.


Keluarga besar Sukirman tengah diselimuti rasa kebahagiaan yang sangat besar. Cikal bakal penerus keluarga telah tumbuh di rahim menantu cantik keluarga ini. Mereka bercengkrama di sana dengan membahas hal-hal membahagiakan lainnya sampai tidak sadar jika penunjuk waktu sudah berada diangka dua belas malam.


"Pa, ayo pulang. Aku udah ngantuk banget, Pa! Besok kan harus sekolah," ajak Elza setelah beberapa kali menguap, "sudah jam dua belas!" ujarnya hingga membuat semua orang beralih menatap jam dinding yang ada di sana.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Fina yang hamil, othor yang bahagia πŸ˜†...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya super duper keren dari sahabat othor. Kuy kepoin karya author Komalasari dengan judul The Bodyguard 😍Serius kalian gak bakal nyesel deh. ...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2