
Dua bulan kemudian,
"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Benny setelah bangun dari tidur nyenyaknya. Dia melihat jarum jam sudah berada di angka dua dini hari.
Fina membuang napasnya kasar dengan mata yang terlihat sayu. Wanita yang tidak lama lagi akan melahirkan itu hanya bisa menatap wajah tampan suaminya tanpa berniat untuk menjawabnya.
"Apa kontraksi palsu lagi?" tanya Benny setelah duduk di samping Fina. Dia pun mengusap perut buncit itu dengan gerakan lembut.
"Enggak, Mas. Aku gak bisa tidur karena merasa begah. Kek sesak gitu di ulu hati. Nyari posisi enak belum nemu juga." Akhirnya Fina mengeluarkan keluh kesahnya.
"Sabar ya, Sayang. Nanti setelah melahirkan pasti kamu bisa tidur nyenyak," tutur Benny tanpa menghentikan usapan lembut di perut buncit itu.
Hari perkiraan lahiran kemungkinan tinggal menghitung hari saja. Semua perlengkapan Fina dan bayinya nanti pun sudah disiapkan dan disimpan di mobil. Benny sengaja melakukan ini agar tidak ada yang ketinggalan di saat waktunya tiba.
"Aku tuh gugup tahu gak sih mas. Aku takut saat membayangkan perjuangan itu dimulai," gumam Fina dengan suara yang lirih.
"Jangan takut, Sayang. Aku pasti akan menemanimu. Kita akan berjuang bersama-sama." Benny memberikan semangat kepada istrinya itu agar tidak down.
"Wajib itu, Mas! Masa iya bikinnya berdua giliran panen hasilnya aku gak ditemenin!" ujar Fina dengan tatapan yang tak lepas dari Benny.
"Bagaimana kalau sekarang kita bikin adonan? Kata dokter bagus dilakukan lebih sering di saat hamil tua gini loh," usul Benny sambil mengerlingkan mata.
Benny menundukkan kepala hingga bisa menyentuh perut buncit Fina. Lantas, dia mendaratkan kecupan beberapa kali di sana tanpa menghentikan usapan lembut di bagian bawah perut itu.
"Dedek Sayang. Kangen Papa gak nih? Mau ditengok Papa gak?" tanya Benny tepat di sisi perut sang istri.
"Mau banget Papa," gumam Benny dengan suara yang lirih.
"Tuh kan, Sayang! Dia mau aku tengok," ujar Benny seraya menatap Fina penuh arti.
__ADS_1
Sementara sang empu hanya mengulum senyum setelah melihat kekonyolan Benny. Lagi dan lagi Fina hanya bisa menghela napas karena merasa tidak nyaman dengan kondisinya saat ini.
"Ayolah, Sayang. Boleh ya nengok dedek bayi? Sebentar lagi kan jalannya ditutup lama, otomatis aku puasa dong! Jadi ... sekarang anggap saja aku sedang sahur," bujuk Benny seraya menatap Fina penuh arti.
"Bisa aja sih, Mas! Aku tuh udah susah gerak, masih aja harus kerja keras nyenengin si sanca," keluh Fina dengan bibir yang mengerucut sempurna.
"Gak usah kerja keras, Sayang. Kamu cukup diam dan menikmati saja. Jangan lupa keluarkan suara-suara manja yang membuatku semakin semangat memompa," ujar Benny.
Rayuan demi rayuan telah dilayangkan Benny untuk mendapatkan kebutuhan batinnya. Dia memberikan kenyamanan untuk istrinya yang semakin gemoy dan menggemaskan itu. Suara-suara manja mulai menggema di dalam kamar temaram itu seiring dengan penyatuan yang baru saja dimulai.
"Pelan-pelan saja, Mas! Perutku bisa kram." Fina memberi peringatan kepada suaminya saat merasakan guncangan yang cukup hebat.
*****
Pagi telah tiba bersama dengan hilangnya kegelapan malam. Suara kicauan burung terdengar saling bersahutan saat menyambut hadirnya sang mentari. Semilir angin mulai menerpa sosok yang sedang duduk di bangku yang ada di tepian kolam koi.
"Huuh. Kenapa agak mules gini ya," gumam Fina dengan tangan tak henti mengusap perut buncitnya, "masa iya aku mau melahirkan? HPL nya kan masih dua hari lagi," lanjutnya.
"Ma, aku mau berangkat dulu. Tolong doakan aku biar menang ya, Ma," pamit Elza setelah mengecup punggung tangan Fina dengan takdzim.
"Pasti, Nak. Mama yakin kamu menang dalam lomba kali ini. Tetap berusaha semaksimal mungkin dan konsentrasi penuh, biar tidak gugup dan tetap hafal ayat-ayatnya," tutur Fina sambil mengusap rambut tipis putranya.
"Terima kasih, Ma." Elza mengecup pipi Fina beberapa kali dan setelah itu, dia menyentuh perut buncit Fina dan mendekatkan wajahnya di sana, "Dedek bayi, kak Elza mau lomba dulu. Dedek jangan nakal ya. Doakan kakak menang," gumam Elza dengan suara yang lirih.
Fina hanya bisa mengulum senyum setelah melihat aksi putra sambungnya itu. Dia benar-benar tidak menyangka jika Elza akan tumbuh menjadi anak yang dewasa dan pengertian. Fina sampai terharu setiap kali melihat Elza begitu perhatian kepadanya.
"El, ayo Papa antar ke rumahnya Uti. Biar tidak terlambat," ujar Benny setelah menghampiri putranya di teras belakang.
"Aku tinggal sebentar. Jangan pergi ke mana-mana sebelum aku kembali," pamit Benny sebelum meninggalkan Fina di teras belakang seorang diri.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Jangan tergesa-gesa," tutur Fina dengan diiringi senyum tipis.
Setelah kepergian Benny dan Elza dari sana, Fina beranjak dari tempat duduknya. Dia kembali merasakan sakit di perut bawah, tetapi untuk kali ini rasa sakitnya cukup kuat dan lama.
"Pasti ini kontraksi palsu," gumam Fina dengan tangan tak henti mengusap perut tersebut.
"Udak gak sabar ya, Dek?" Fina bergumam lagi saat merasakan sakit yang lebih kuat hingga keringat dingin mulai terasa di kulit.
Wanita berbadan dua itu terus berjalan kaki mengelilingi halaman belakang untuk meredakan rasa sakit di perutnya. Beberapa kali dia berhenti karena tidak kuat menahan rasa sakitnya. Napasnya mulai terengah karena rasa sakit itu tak kunjung reda.
"Wah, ini pasti bukan kontraksi palsu," gumam Fina sambil mengusap perutnya.
Fina melanjutkan langkah setelah rasa sakit itu tiba-tiba saja hilang. Wanita berbadan dua itu memutuskan menunggu Benny pulang di ruang keluarga. Dia pun bimbang kapan kiranya waktu yang tepat untuk memberi kabar kepada Badiah.
"Haruskah aku menelfon ibu sekarang?" gumamnya setelah berpikir beberapa menit, "tapi HP ku ada di atas." Fina membuang napasnya kasar karena tidak sanggup lagi pergi ke kamar.
Beberapa puluh menit kemudian, suara derap langkah Benny terdengar dari depan. Bersamaan dengan itu, rasa sakit kembali terasa. Fina sampai mencengkram sofa yang dia tempati saat ini.
"Sayang, kamu kenapa? Apakah kontraksi palsu lagi?" tanya Benny setelah sampai di ruang keluarga dan melihat wajah pucat Fina.
"Sepertinya aku akan melahirkan, Mas," jawab Fina dengan suara yang lirih. Air mata tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk mata karena tidak tahan dengan rasa sakitnya.
Benny mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi bidan yang membuka praktek tak jauh dari kompleknya. Tentu semua ini sudah dipersiapkan Benny jauh-jauh hari. Dia ingin Bidan tersebut memeriksa keadaan Fina sebelum dibawa pergi ke rumah sakit.
"Tahan ya, Sayang. Bidan Anik sebentar lagi datang," ucap Benny setelah menghubungi Bidan tersebut.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Siapkan kadonya ya onti🤣semoga othor gak oleng dan gak menambah konflik😆...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...