
Panggilan tiba-tiba terputus begitu saja. Sementara Nisa tercengang setelah mendengar rintih kesakitan pria yang dianggapnya aneh itu. Dia beranjak dari tempatnya dan setelah itu segera membuka almari untuk mengambil kotak hitam titipan dari Ardi.
"Aku harus membukanya sekarang," gumam Nisa sambil melepas kain tutu itu dari kotak persegi berwarna hitam yang ada di atas pangkuannya.
Nisa termenung setelah melihat isi kotak tersebut. Ada kotak bludru berwarna merah, beberapa lembar foto, selembar kertas berwarna putih serta kartu ATM di sana. Sebelum membaca tulisan di kertas tersebut, Nisa membuka kotak bludru berwarna merah itu untuk melihat isinya. Ternyata ada cincin permata yang sangat indah di dalamnya.
"Cincin siapa ini?" gumam Nisa sambil mengamati keindahan cincin tersebut.
Lantas, dia mengambil beberapa lembar foto usang yang ada di sana. Dia terkejut setelah melihat ada foto kedua orang tuanya bersama anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Serta ada beberapa pria berseragam tentara yang ikut foto di sana.
"Apa ini maksudnya? Kenapa Ibu dan Bapak foto sama mereka? Lalu di mana aku dan mbak Fina ya?" gumam Nisa sambil mengamati foto yang ada dalam genggaman tangannya.
Tak ingin terlalu lama merasa penasaran, Nisa meletakkan foto tersebut di atas tempat tidur. Dia segera membuka kertas putih itu untuk mengetahui apa sebenarnya isi dari surat tersebut.
Surat ini ku tulis untukmu, Khairunnisa.
Akhir-akhir ini aku rasa kamu sedang bingung dan mungkin saja kesal karena kehadiranku di sekitarmu. Mau tidak mau kamu harus menerima semuanya, karena aku telah mengambil sumpah dan berjanji kepada ayahmu di saat masih hidup. Aku bersumpah untuk selalu menjagamu dari segala bahaya.
Aku tahu, jika kamu pasti bingung dengan semua penjelasan ini. Akan tetapi, aku tetep akan menjelaskan sebisaku. Entah kamu paham atau tidak dengan yang aku tulis ini.
__ADS_1
Jika kamu sudah membaca surat ini, tandanya aku sudah tidak ada di sampingmu. Jika memang ada keajaiban mungkin aku masih selamat. Tolong datanglah ke alamat yang aku tulis di bawah surat ini untuk meminta pertolongan. Katakan pada sang pemilik rumah agar mencari 'Cacing merah' di pulau xxx.
Tidak penting bagimu mengetahui apa pekerjaanku saat ini. Aku akan membahas semuanya jika aku sudah bertemu denganmu. Satu hal yang pasti, pekerjaanku terlalu bahaya untuk diketahui orang lain. Aku mengemban amanah dan misi yang harus diselesaikan. Aku janji padamu, jika memang kita ditakdirkan bersama, maka semua tugas ini telah selesai. Aku ingin hidup seperti ayahmu, sederhana dan bahagia bersama keluarga.
Mungkin hingga detik ini kamu belum tahu, jika dulu ayahmu adalah orang yang hebat. Ibumu tak semudah itu menceritakan semua kisah di masa lalu. Sekarang sudah saatnya aku menceritakan semua ini kepadamu, tentang rahasia ayahmu yang dulu pernah diceritakan kepadaku.
Aku lahir di Surabaya dan dibesarkan di Jakarta. Ayahmu sangat berjasa kepada keluargaku, karena berkat ayahmu, kami sekeluarga bisa hidup layak. Setelah aku dewasa dan sekolah di salah satu institusi di negara ini, aku mencari keberadaan ayahmu. Berbekal alamat yang pernah ditinggalkan kepada keluargaku, aku mencari ayahmu di kota Mojokerto. Aku menemukan ayahmu berjualan tempe di pasar tradisional. Saat itu aku sedih karena melihat kondisi ayahmu. Sosok yang dulu terlihat gagah, ternyata berubah menjadi layu setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Aku sempat ingin memboyong kalian sekeluarga ke Jakarta, tetapi ayahmu tidak mau dan bersikukuh tinggal di kota kecil itu. Beliau hanya menitipkan dua anak gadisnya kepadaku. Ayahmu memintaku untuk selalu mengawasi kalian berdua. Tak lama setelah aku kembali ke Jakarta, aku mendengar kabar jika ayahmu meninggal. Asal kamu tahu, Pak Hasanuddin Ibrahim adalah salah satu TNI hebat di Surabaya. Aku tidak tahu pasti apa alasan ayahmu memilih berhenti dari sana. Satu hal yang pasti, ayahmu diberhentikan dengan tidak hormat.
Hingga bertahun-tahun kemudian, aku telah menyelesaikan pendidikanku. Aku diberikan tugas pertama di luar Jawa. Ternyata benar apa kata ayahmu, semua ini terlalu berat untuk dilalui. Aku semakin yakin jika semua yang aku lakukan saat ini tidak cocok untukku. Setelah tugas pertama selesai, aku mengemban tugas untuk yang kedua. Kali ini aku ditugaskan di Surabaya dan sekitarnya. Aku tidak menyangka jika aku bertemu kalian sekeluarga pasca aku menolong kecelakaan. Aku terkejut ketika melihat kehadiran ibumu di rumah sakit kala itu. Setelah sekian tahun lamanya, ibumu sudah tidak mengenaliku lagi. Ingin sekali aku menyapa kalian, tetapi aku sedang dalam tugas dan tidak ada satupun yang boleh mengenaliku. Aku tidak memiliki tempat tinggal tetap di Surabaya karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain sampai akhirnya aku harus pindah ke Mojokerto.
Aku menemukan banyak hal baru selama mengemban tugas di dua kota ini. Maaf bila selama ini aku sudah membobol semua media sosialmu demi menjaga keselamatanmu. Aku tidak mempunyai tugas menjaga Kakakmu karena sudah ada pria hebat yang ada di sisinya. Tinggal kamu, putri bungsu Bapak Hasanudin Ibrahim yang perlu aku jaga semampuku.
Ada kartu berisi beberapa uang yang bisa kamu pakai untuk ongkos pergi ke Jakarta. Pin kartu tersebut 728469. Aku percaya jika hanya kamu yang bisa menyampaikan pesan ini ke Jakarta. Aku tidak bisa berkomunikasi lewat telefon karena semua koneksiku sudah disadap banyak orang. Satu lagi, jangan menyebut nama Ardi di sana, karena mereka tidak mengenali nama itu. Ardi adalah nama samaran yang aku pakai selama mengemban misi ini.
Aku sudah lelah menulis sebagian kisah ini. Bila aku masih ditakdirkan hidup, maka kamu bisa bertanya saat kita sudah bertemu. Simpan cincin permata ini dengan baik. Kamu bisa memakainya bila saatnya tiba.
Ardi.
"Apalagi ini?" gumam Nisa setelah selesai membaca surat panjang yang ditulis oleh Ardi. Dia masih belum percaya dengan semua ini, "siapa sebenarnya Bapak? Apa yang dirahasiakan Ibu dan Bapak dariku dan Mbak Fina?" Nisa kembali bergumam.
__ADS_1
Nisa termenung beberapa detik lamanya sambil memikirkan alasan yang tepat kepada Badiah. Entah mengapa, ada dorongan yang sangat kuat di dalam hati untuk pergi ke alamat tersebut. Dia harus berpikir matang agar Badiah tidak curiga.
"Ya Allah, berilah kemudahan untuk hamba. Semua ini memang tidak benar, Ya Allah. Akan tetapi ada seseorang yang meminta bantuan hamba. Tolong tunjukkan jalannya Ya Allah," gumam Nisa sambil mondar-mandir di kamarnya.
Tak berselang lama, sebuah ide terbesit di kepala. Nisa segera merapikan isi kotak hitam itu. Dia memasukan satu set pakaian ganti dan kotak hitam itu ke dalam ransel. Lantas, dia merapikan diri sebelum berangkat ke tempat yang sangat jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Jakarta.
"Bu, Aku mau ke Surabaya lagi untuk menemui dosen bahasa di sana. Mungkin, aku akan menginap selama beberapa hari di rumah teman karena harus menyelesaikan tugas. Aku baru tahu hari ini, Bu. Jadi, kemarin selama libur ternyata teman-teman sudah menyelesaikan tugasnya. Tinggal aku saja yang belum, Bu." Alasan inilah yang diucapkan Nisa kepada Badiah, sehingga wanita paruh baya itu memberikan izin tanpa rasa curiga sedikitpun.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Udah mulai paham belum siapa dan apa kerjaan Ardi?...
...βββββββββββββββ...
...Rekomendasi karya super keren untuk kalian. Kuy baca karya author Mommy Al dengan judul Hot Duda VS Janda Perawan. Jangan sampai gak baca yaπ...
...π·π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1