Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tutur Kata Menenangkan,


__ADS_3

Waktu liburan di Mojokerto telah usai. Sejak pagi Fina sibuk menyiapkan barang-barang yang harus dibawa pulang ke Surabaya. Sebenarnya dia enggan untuk pulang ke Surabaya karena tidak tega melihat Badiah. Sudah bisa dipastikan jika setelah dirinya pulang, Badiah dan Nisa pasti kesepian. Kerisauan hatipun semakin menghantui.


"El, ambilkan bajunya adek Zia yang ada di atas meja dong," pinta Fina tanpa menatap Elza. Dia sibuk mengemas beberapa pakaian ke dalam koper.


"Semuanya, Ma?" tanya Elza sebelum mengambil tumpukan pakaian bayi itu.


"Iya, Nak," jawab Fina, "terima kasih ya." Fina mengembangkan senyum manis setelah menerima pakaian tersebut, "sekarang Elza mandi dulu, biar bisa pulang cepat," ucap Fina sambil mengusap rambut putra sambungnya itu dengan penuh kasih.


"Baik, Ma." Elza mengacungkan jempolnya kepada Fina sebelum pergi dari kamar.


Setelah selesai mengemas semua barang, Fina keluar dari kamar. Dia mengayun langkah menuju teras rumah untuk menghampiri Benny yang sedang menjaga Shazia. Ayah dua anak itu menggendong putrinya sambil menyiapkan mobil. Mulai dari menyalakan mesin, membuka pintu bagasi dan memeriksa mesin di bagian depan. Shazia anteng dalam gendongan ayahnya. Sesekali dia ikut menyentuh apa yang disentuh oleh Benny.


"Lah, si bayik malah diajak meriksa mesin mobil. Gak beres ini bapaknya!" Fina bergumam setelah melihat Benny sibuk di bagian depan mobil.


"Shazia kok diajak lihat mesin, Mas. Kotor loh itu!" protes Fina saat mengambil Shazia dari Benny.


"Dia anteng dan gak nangis kok," kilah Benny sambil menatap putrinya dengan senyum manis, "Iya kan? Zia suka main mesin sama Papa ya." Benny mengajak putrinya yang sedang tersenyum itu berkomunikasi, meski Shazia sendiri belum bisa bicara.


"Aku mau mengurus Shazia dan Elza dulu. Mas buruan mandi deh, biar nanti gak terlalu siang pulangnya," pesan Fina sebelum pergi meninggalkan Benny.


"Papanya gak diurus juga nih? Dah lama gak keurus loh ini," seloroh Benny hingga membuat Fina menghentikan langkahnya.


Fina hanya menjulurkan lidah ke arah suaminya sebagai jawaban atas selorohan Benny. Dia mengayun langkah menuju dapur untuk menyiapkan air hangat yang dipakai mandi Shazia.

__ADS_1


"Masak apa ini? Aromanya gurih banget loh," tanya Fina saat menghampiri Badiah yang sedang sibuk berkutat di depan kompor.


"Bikin serundeng daging kesukaan adikmu," jawab Badiah tanpa menoleh ke arah Fina.


Sejak Wiratama dan istrinya datang ke rumah ini, Nisa dan Badiah seperti mengibarkan perang dingin. Ekspresi wajah ceria yang biasa terlihat dari putri bungsu Badiah itu, kini hilang seketika. Dia lebih sering mengurung diri di kamar dari pada bercengkrama dengan keluarganya. Mungkin gadis cantik itu sedang merasakan rasa kecewa yang begitu dalam karena restu ibunya.


"Bu, jangan terlalu keras sama Nisa. Dia itu berbeda denganku. Dia itu keras kepala," tutur Fina sambil menepuk bahu Badiah.


"Ibu biasa saja, Fin. Adikmu sendiri yang menghindar dan gak mau banyak bicara. Maka dari itu Ibu membuatkan dia serundeng daging ini. Tidak ada ceritanya seorang ibu yang mau menjerumuskan anaknya. Sudah, lebih baik kamu tidak perlu memikirkan masalah ini, biar Ibu yang mencari jalan keluarnya," pungkas Badiah dengan tegas.


"Jangan terlalu banyak pikiran, nanti ibu bisa vertigo," tutur Fina sebelum membawa Shazia ke kamar mandi karena air hangat sudah siap.


Detik demi detik terus berlalu begitu saja. Tepat pukul sepuluh pagi, Fina dan keluarga kecilnya sudah siap kembali ke Surabaya. Semua barang-barang bawaan pun sudah masuk ke dalam mobil. Tak lupa sebelum pulang, Fina meninggalkan uang jajan untuk Nisa dan uang belanja untuk ibunya sesuai dengan yang diberikan oleh Benny.


"Sudah ibu bawa saja. Kalau gak dipakai mending disimpan saja, Bu. Suatu saat Ibu pasti butuh," ucap Fina sambil memberikan kembali uang tersebut kepada Ibunya.


"Terima kasih ya, Nak," ucap Badiah. Dia terharu melihat perhatian anak dan menantunya itu.


Setelah berbincang bersama Badiah untuk sesaat, Fina menghampiri Nisa yang sedang bersiap di kamar. Gadis cantik itu baru saja selesai mandi setelah bermalas-malasan di dalam kamar. Fina duduk di tepian ranjang sambil mengamati Nisa yang sibuk di depan meja rias.


"Jangan terlalu keras dengan Ibu, Nis. Semua ini beliau lakukan dengan banyak pertimbangan. Cobalah bicara dari hati ke hati dengan Ibu. Mungkin nanti Ibu bisa luluh dan memberikan restunya," tutur Fina tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Aku juga sebenarnya tidak mau seperti ini, Mbak. Gak tahu kenapa sepertinya hidupku terasa hampa. Apalagi dia belum menghubungiku sampai saat ini. Ibu juga bersikap dingin denganku. Apa Mbak pikir aku gak takut gitu melihat sikap Ibu kepadaku?" Helaan napas berat terdengar di sana. Gelisah galau dan merana, mungkin inilah yang dirasakan Nisa saat ini.

__ADS_1


"Nis, kamu harus ingat, jika jodoh itu rahasia Allah. Seharusnya kamu tidak seperti ini. Serahkan semua ini kepada Allah. Jangan berhenti berdoa. Minta yang terbaik untuk hidupmu, bukan Johan yang menjadi jodohmu. Terkadang apa yang kita nilai baik bukan berarti baik untuk hidup kita loh. Paham 'kan apa maksudku?" tutur Nisa seraya beranjak dari tempatnya. Dia berdiri di sisi Nisa sambil menatap pantulan cermin.


"Mbak sih gak pernah ada di posisiku. Hubungan Mbak dan Mas berjalan mulus tanpa ada rasa takut, trauma dan khawatir yang menghalangi jalan restu dalam hubungan Mbak. Lah sedangkan aku? Belum pacaran saja gak dapat restu dari ibu," ujar Nisa sambil memakai kerudungnya.


"Satu hal yang Mbak minta sekarang. Apapun uang terjadi, kamu harus tetap fokus kuliah dan mengenyampingkan masalah asmara ini. Gak lama lagi kamu akan magang, Nis. Jangan sampai masalah ini mengganggu kuliahmu. Jangan kecewakan Mas Benny yang sudah membiayai selama ini," Fina menepuk bahu adiknya dengan lembut saat memberikan nasihat.


"Ini uang saku untukmu," Fina memberikan beberapa lembar pecahan seratus ribu kepada adiknya, "Mbak mau pulang sekarang. Ayo keluar dari kamar," ajak Fina sebelum meninggalkan kamar Nisa.


Setelah semua urusan selesai, Fina berpamitan kepada ibu dan adiknya. Matanya berembun ketika berpamitan kepada Badiah, karena tidak tega membiarkan ibunya memikirkan masalah perjodohan ini sendiri.


"Hati-hati ya, Ndok ... Le," ucap Badiah sambil menepuk bahu anak dan menantunya itu.


"Iya, Bu. Pasti saya akan hati-hati dalam mengendarai mobil. Ibu tidak perlu khawatir," jawab Benny dengan diiringi senyum tipis.


Badiah meneteskan air mata setelah Fina dan keluarganya masuk ke dalam mobil. Rasa sepi mulai dirasakan saat mobil hitam itu mulai pergi dari halaman rumah. Wanita paruh baya itu melambaikan tangan hingga mobil hilang dalam pandangan. Selama satu minggu merasakan keramaian di rumah ini, kini Badiah kembali merasakan sepi. Tidak ada suara tangisan Shazia dan teriakan Elza yang saling bersahutan. Hiburan Badiah untuk melupakan sejenak masalah perjodohan, telah kembali ke Surabaya.


"Haaaah ... sepi sekali rasanya setelah mereka pulang," gumam Badiah seraya duduk di kursi yang ada di sana. Sementara Nisa memilih masuk ke dalam rumah karena tidak mau mendekat kepada Badiah untuk sementara waktu.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Kira-kira Nisa dan Ardi bisa bersatu gak nih? Hayo tebak dulu deh mereka bakal jodoh atau kagak😀?...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2