
"Aku pulang dulu, Fin," pamit Aris setelah penunjuk waktu berada di angka setengah sepuluh malam.
"Hati-hati, Kang," tutur Fina sebelum Aris berlalu dari hadapannya.
Fina tak melepaskan pandangan dari sosok yang sedang duduk di atas motor sport dan memakai helmnya. Kedua sudut bibir itu melebar sempurna saat Aris menganggukkan kepala ke arahnya. Gadis berhijab itu bersandar di pilar dengan pandangan lurus ke depan.
"Mbak Fina, ayo kita masuk!" ajak Elza saat menarik pergelangan tangan Fina.
Tanpa banyak bicara, gadis berhijab itu mengekor di belakang Elza. Sesampainya di ruang keluarga, dia mengempaskan diri di atas sofa empuk yang ada di sana bersamaan dengan Elza, "mau tidur sekarang?" tanya Fina setelah menoleh ke samping.
"Sebentar lagi, Mbak.Aku masih berkeringat," jawab Elza.
Fina beranjak dari tempatnya setelah melihat kantong putih yang ada di meja samping televisi. Dia teringat pesan yang disampaikan Benny beberapa puluh menit yang lalu, jika kantong itu adalah miliknya. Fina membawa kantong putih itu kembali ke sofa untuk melihat isinya.
"Itu apa, Mbak?" tanya Elza setelah melihat Fina membawa kantong berwarna putih.
"Kita lihat sama-sama yuk," ucap Fina sambil membuka kantong tersebut.
Ternyata di dalam kantong tersebut ada dua kotak berwarna cokelat dan putih. Fina membuka kotak berwarna cokelat dan ternyata isinya setelah sarung dan atasan lengan panjang untuk anak-anak, "ini ternyata pakaian muslim untuk Elza. Wah ... Elza dibelikan Papa baju baru," ucap Fina setelah mengeluarkan setelan tersebut.
"Waw! Aku suka warnanya! Hijau ...." Mata bocah kecil itu seketika menunjukkan binar bahagia, "aku mau coba dong, Mbak!" ujar Elza setelah berdiri di hadapan Fina.
Fina segera melepas sakral yang dipakai Elza dan menggantinya dengan pakaian baru pemberian dari Benny. Setelah setelan itu melekat di tubuh, Elza segera meraih gadgetnya. Dia membuka aplikasi chat berwarna hijau dan mencari kontak ayahnya. Tak berselang lama panggilan video itu pun terhubung kepada Benny.
"Papa! Aku suka bajunya! Terima kasih!" teriak Elza saat wajah ayahnya terlihat di layar ponsel.
"Oke, Papa turun sebentar lagi. Papa masih pup di kamar mandi," ucap Benny sebelum panggilan terputus.
__ADS_1
"Ih! Papa jorok ya, Mbak. Masa pup bawa hape," gerutu Elza setelah meletakkan gadgetnya di atas meja.
Fina mengulum senyum ketika mendengar Elza menggerutu. Dia segera membuka kotak berwarna putih yang tersisa di sana. Seketika mata indahnya terbelalak melihat kain putih yang terlipat di sana.
"Indah sekali mukenahnya!" gumam Fina dengan mata yang berbinar. Pasalnya mukenah berwarna putih tulang itu terlihat indah dan glamour dengan variasi bordil berwarna cokelat tembaga.
Fina benar-benar kagum melihat mukenah yang biasa dipakai di kalangan keluarga pesantren dan orang-orang ekonomi menengah ke atas itu. Mukenah dengan merk dan model terkenal di Indonesia. Kainnya halus dan tentunya tidak panas. Bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah seperti Fina, membeli mukenah itu harus berpikir dua kali, karena harganya setara dengan emas dua gram.
"Ya allah, ini bagus sekali," gumam Fina saat mengamati detail mukenah tersebut.
"Bagaimana? Kamu suka dengan mukenahnya?" tiba-tiba saja terdengar suara bariton duda satu anak pemilik rumah ini.
"Ini mukenah untuk saya, Pak? Bapak tidak salah 'kan?" tanya Fina kepada Benny yang baru saja duduk di sofa tunggal.
"Iya itu untuk kamu. Kebetulan tadi waktu aku lewat di kawasan Ampel, melihat mukenah itu, jadi aku beli saja," ucap Benny tanpa berpikir panjang.
"Tidak masalah. Untuk ibadah tidak masalah 'kan jika memakai yang terbaik?" tanya Benny dengan diiringi senyum yang tipis. Duda tampan itu beralih menatap putranya, "duh anak Papa cakep bener pakai setelan itu! Besok pakai ke rumah uti ya! Biar uti senang," puji Benny setelah melihat bagaimana penampilan putranya.
Fina tak henti tersenyum melihat mukenah yang ada di atas pangkuannya. Selama ini dia hanya bisa melihat dan menahan keinginannya itu, tetapi malam ini dia bisa memilikinya. Rasa syukur yang begitu besar memenuhi hati gadis cantik itu. Namun, senyum manisnya seketika pudar tatkala ada satu hal yang hadir dalam pikirannya.
"Pak tapi tunggu dulu deh," gumam Fina seraya menatap Benny dengan lekat. Duda satu anak itu pun mengalihkan pandangan ke arahnya, "ini tidak ada udang di balik batu 'kan?" tanya Fina sambil memicingkan mata.
"Apaan sih! Gak ada, Fin! Kalau udang di balik tepung ada! Besok minta Dewi masak rempeyek!" jawab Benny asal. Sepertinya pria itu cukup kesal dengan pertanyaan Fina.
"Ih! Saya ini serius nanya, Bapak! Siapa tahu aja Pak Ben lagi menyuap saya!" Fina berdecak seraya menatap Benny dengan tatapan aneh.
"Astaghfirullah! Kamu ini gak percayaan banget sih, Fin! Itu saya tulus ingin membelikan kamu loh! Gak ada maksud yang lain!" ujar Benny tanpa melepaskan pandangan dari wajah pengasuh cantik itu.
__ADS_1
"Biasa aja, Pak! Jangan ngegas dong." Fina memperingatkan Benny.
"Kamu sih!" Benny berdecak kesal dengan kelakuan pengasuh putranya itu.
"Ikhlas gak nih?" Fina masih saja berusaha menggoda Benny.
"Ini anak bawel banget sih!" umpat Benny karena kesal dengan Fina.
Sementara gadis itu hanya terkekeh melihat kekesalan di wajah majikannya itu. Elza pun ikut menertawakan ayahnya, entah dia tahu atau tidak permasalahan yang sedang diperdebatkan Fina dan Benny, "kalau begitu terima kasih, ya, Pak Benny yang terhormat," ucap Fina setelah menghentikan tawanya.
"Nah, gitu dong! Dari tadi kek bilang begitu, jadi gak bikin emosi!" ujar Benny sambil menyilangkan kakinya, "eh tapi bilang makasihnya diganti kan enak. Jadi begini, 'terima kasih, Sayang.' Coba deh, Fin! Pasti di telinga rasanya adem banget," kelakar Benny hingga membuat Fina mendengus kesal.
"Pak Benny!" geram Fina dengan bibir yang mengerucut sempurna.
Elza tertawa setelah mengamati interaksi dua orang dewasa itu. Apalagi, setelah melihat bagaimana ekspresi wajah pengasuhnya, dia semakin tertawa lepas. Ada rasa bahagia yang merasuk dalam jiwa bocah yang belum genap lima tahun itu.
"Mbak Fina kita tidur, yuk! Aku udah ngantuk!" ujar Elza sambil menguap lebar. Bocah kecil itu segera melepas setelan baru yang dibelikan oleh Benny.
Elza segera berlari ke kamar Fina meski hanya memakai kaos k*tang putih dan segitiga putih bergambar robot kesukaannya. Dia meninggalkan Fina yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya dan Elza yang ada di ruang keluarga. Setelah itu dia naik ke lantai dua untuk mengambilkan Elza piyama tidur.
"Duh jadi Elza enak kali ya. Tidur sama Fina terus. Apalagi pakaiannya seperti itu aja! Boleh gak sih, Nak, tukeran satu malam aja sama Papa! Nanti Papa pakai segitiga motif robot juga deh," gumam Benny setelah Elza hilang dari pandangan.
...πΉTo Be Continue πΉ...
...Nih othor kasih visualnya Mbak Finaπ Kalau gak cocok boleh ngebayangin visual lain dehπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...